My Future Is You?

My Future Is You?
26. Kembalinya Orang di Masa Lalu lll



Niken dan Davin yang tiba-tiba mendapat telepon dari Nata dab diberitahu bahwa anak perempuan mereka mendapat perlakuan tidak baik langsung datang ke sekolah. Mereka berdua berjalan melewati siswi yang menatap bingung ke arah mereka. Karena semua murid SMA Pelita itu mengenal Davi dan Niken adalah orang tua Nata. Mereka bertanya-tanya apa yang di lakukan cowok itu sehingga membuat orang tuanya di panggil.


"Nata, gimana keadaan adik kamu?" Niken berlari ke arah anak laki-laki nya.


"Vanya drop, Ma," lirih Nata. Lelaki itu terlihat sangat berantakan sekali. Padahal jam pelajaran telah kembali dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu, tapi Nata, Daren, dan Raka dengan setianya menunggu Vanya hingga sadar. Tapi gadis itu sampai sekarang belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar, membuat orang-orang yang ada disana bingung.


"Memang adik kamu kenapa sih, nak? Kok bisa sampai drop lagi?" Niken mengelus bahu Nata dengan lembut.


"Van—" Saat ingin menjelaskan, tiba-tiba Daren menyikut lengan Nata sehingga membuat laki-laki itu diam.


"Vanya tadi pingsan di depan toilet, Tan." Jawab Daren.


Laki-laki itu tidak mau membuat kedua orang tua Vanya sedih atau pun menjadi terpuruk kalau mereka mengetahui anaknya di-bully.


Pintu UKS yang semula tertutup kini terbuka dengan lebarnya membuat semua pandangan beralih menatap ke arah orang yang berada di balik pintu itu.


Dokter Syeila berdiri sambil membawa catatan di tangannya.


" Ini orang tua Vanya?" Tanya dokter Syeila.


Davi dan Niken mengangguk. "Kami orang tuanya, DOK. Bagaimana keadaan putri kami?" Tanya Niken dengan harap-harap cemas.


"Begini, kondisi putri anda sangat drop, saya tidak bisa melanjutkan tindak medis karena peralatan di sekolah hanya sejenis P3K dan oksigen. Sebaiknya Vanya saya beri rujukan untuk dibawa ke rumah sakit saja. Bagaimana?" Tanya dokter Syeila sopan.


Niken mengangguk. "Iya, Dok."


"Nata, kamu ambil mobil Papa, bawa ke samping lapangan," suruh Davi menyerahkan kunci mobil kepada anaknya. Karena laki-laki paruh baya itu harus membantu memindahkan putrinya.


" Iya, Pa." Nata berlari secepat kilat menuju parkiran dimana mobil milik orang tuanya berada.


Setelah menemukan mobil papanya, Nata langsung melajukannya menuju lapangan samping UKS, tatapan bingung murid disana membuat Nata mendengus.


"Lo tahu? Cewek yang lo katain Cabe tadi itu, adik gue! Adik kandung Nata Vlarentino!" Katanya tajam sebelum dia berlari menuju UKS.


Mereka yang mendengar menatap Nata shock. Apalagi Ikky dan teman-teman nya yang mendengarnya langsung.


"Mati kita Ky." Keluh Vannesa menepuk jidatnya pelan.


" Selagi kita biasa aja, Nata sama temennya nggak bakal tahu apa yang sudah kita lakuin!" Ucap Ikky yakin.


"Hai." Tiba-tiba sebuah sapaan membuat Ikky dan kedua temannya menoleh.


"Eh,Darra," sapa Ikky balik dengan senyum terpaksa.


"Kalian kenapa?" Tanya Darra kepo. Satu lagi, Darra itu teman Ikky sejak kelas satu SMA. Mereka awalnya bersahabat baik tapi tiba-tiba orang yang disukai oleh Ikky itu menyukai sahabatnya sendiri, siapa lagi yang di maksud kalau bukan Vanno. Vanno adalah orang yang disukai Ikky, tapi dengan teganya Vanno menyukai sahabatnya yaitu Darra. Sejak saat itu, Ikky hanya menganggap Darra musuhnya. Luarnya saja menganggap teman, tapi di dalam dia memusuhinya.


"Enggak apa-apa, " Jawab Ikky.


"Muka lo kenapa, Ra?" Tanya Ikky bingung saat dia melihat Darra yang senyum-senyum sendiri sejak tadi.


"Ada deh," Jawab Darra lalu cekikikan.


"Oh, lo main rahasia-rahasiaan nih sama gue?" Tanya Ikky dengan nada merajuk.


"Apaan deh, nanti kalau gue udah ketemu Daren bakal gue jelasin," Ucap Darra.


"Daren?"


Darra mengangguk. Tapi ketiga gadis itu hanya mengangkat bahu mereka tak acuh kemudian terus memandangi samping lapangan yang ramai. Tatapan Darra terhenti di salah satu laki-laki yang tengah membopong tubuh seorang gadis. Tubuh Darra merasa menegang, pun jantungnya berpacu lebih cepat.


Daren, batin Darra.


...****************...


Sedangkan di tempat lain, Vanno menatap kekasihnya dengan hati yang serasa teriris, karena dia tidak tahu sama sekali bahwa Vanya sedang berapa di UKS. Mungkin kalau Deo tidak memberi tahunya, dia tidak tahu Vanya dibawa ke rumah sakit.


Tubuh Vanno menegang, hatinya sakit ketika melihat bukan dirinya lah yang menolong Vanya tapi Daren, sejak tadi laki-laki itu tidak meninggalkan Vanya sedikit pun. Hal itu membuat Vanno sedikit panas.


"Nat, adek lo kenapa?" Tanya Vanno khawatir.


Nata menatap Vanno tajam, dia ingin marah terhadap Vanno karena baru sekarang dia muncul saat Vanya sudah akan dibawa ke rumah sakit.


"Lo peduli?" Setelah mengucapkan itu, Nata memasuki mobil papanya.


"Nat, tunggu, gue ikut Nat!" teriak Vanno tapi Nata sudah melajukan mobilnya meninggalkan halaman sekolah.


Teriakan Vanno mencuri perhatian setiap orang yang melihat nya, tidak segan-segan mereka melihat Vanno penuh dengan minat.


"Deo, nanti tas gue bawain pulang!" Vanno kemudian berlari menuju parkiran motor, sesampainya di sana dia langsung merogoh saku celana untuk mencari kunci motornya.


Vanno mulai menaiki motornya, tidak lupa juga dia memakai helm full face miliknya. Vanno kemudian menyalakan motornya, setelah itu dia mengendarai motornya keluar dari halaman SMA Pelita. Saat Vanno melewati gerbang tiba-tiba Darra menghadang jalannya, membuat Vanno memberhentikan motornya secara mendadak.


Vanno langsung membuka kaca helmnya dan menatap tajam orang itu. "Kenapa sih, Ra?"


"Gue ikut!"


Laki-laki itu melajukan motornya tidak terlalu kencang mengingat Darra tidak memakai helm dan sudah dipastikan rambutnya akan terbang-terbang dan berakhir dirinya akan mendapat omelan gadis itu. Ya, walaupun Vanno tidak peduli dengan omelan yang selalu dilontarkan oleh Darra.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nata dan Daren yang tengah menunggu Vanya di depan pintu ruangan rumah sakit menjadi kaget karena kedatangan Vanno dan juga Darra. Kedua orang tua Vanya sedang berada di ruangan dokter untuk membahas kondisi Vanya.


"Gimana keadaan Vanya?" Tanya Vanno dengan keringat yang berada di wajahnya.


Nata dan Daren tidak menjawab melainkan malah menatap nya tajam dan dengan marah.


"Kenapa ada dia?" Nata balik bertanya.


Daren yang malas dengan drama itu mengalihkan tatapannya ke arah lain. Sedangkan Darra menatap Daren yang bersifat tak acuh itu.


"Wajarlah gue sama dia. Dia kan—" ucapan Vanno terhenti ketika Niken dan Davi tiba-tiba datang.


Pandangan dan suasana yang tegang itu mendadak rileks saat terdengar suara Niken.


"Kenapa, Ma?" Tanya Nata.


"Adik kamu belum boleh pulang. Kamu mau disini atau pulang? Kalau kamu pulang biar mama aja yang disini. " Ucap Niken.


"Mama sama papa pulang aja. Biar Nata sama Daren yang ada disini." Ucap Nata dan disetujui oleh Daren.


"Vanno juga" ucapan Vanno membuat kedua orang itu menatap Vanno kaget. Sejak kapan ada Vanno disana?


"Nak Vanno sejak kapan disini?" Tanya Niken lembut.


"Baru aja, Tante," Vanno mencium tangan Niken dan Davi bergantian. Diikuti oleh Darra.


"Ini siapa?" Tanya Davi dan Niken bingung.


"Temen saya, Tan, Om, namanya Darra." Jawab Vanno.


Daren yang semula tidak melihat Darra kini pandangannya langsung tertuju ke arah gadis dengan senyum manisnya itu.


Gila Vanno, pacar sendiri nggak diakuin! Batin Daren.


"Ya udah, kalau gitu tante pulang dulu. Vanno, Darra, Daren dan kamu, Nata, kami tinggal dulu ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi mama." Ucap Niken.


"Siap," Jawab mereka bertempat kompak.


"Om pamit ya," Ucap Davi.


Mereka semua mengiyakan dengan anggukan.


...----------------...


......................


Sudah dua jam Vanno, Nata, Daren, dan Darra duduk di sofa dalam ruang rawat Vanya. Setelah dokter membolehkan mereka menjenguk Vanya, mereka semua langsung masuk ke dalam sana.


" Ren, geseran ih," Ucap Darra.


"Lo ngapain sih nempel-nempel ke gue? Nggak malu sama Vanno?" sindir Daren.


Darra cemberut. "Ngapain juga harus malu sama Vanno?"


"Dasar cewek ganjen," gumam Daren.


"Enggh.....," erangan itu membuat keempat orang tadi menoleh ke arah yang sama.


Nata dan Vanno langsung berjalan ke arah Vanya.


"Hai, Dek," sapa Nata.


"Hai, Vanya," sapa Vanno.


Vanya menatap keduanya dengan senyum lemah yang masih terlihat cantik dimata Vanno. Gadis itu sudah menjungkir balikkan hidupnya secara tidak langsung. Berbeda halnya dengan Vanno yang menatap Vanya, gadis itu tidak sengaja melihat seorang gadis yang duduk disamping Daren.


"Kak, itu siapa?" Tanya Vanya kepada Nata.


Alhasil, kedua cowok itu menoleh ke arah yang sedang dilihat Vanya.


"Oh, dia Darra," Jawab Nata.


"Siapanya kakak?" Tanya Vanya lagi.


"Bukan siapa-siapa gue. Tapi dia datang sama Vanno,"


Vanya yang semula menatap kakaknya bingung kini malah bergantian menatap Vanno dengan tajam seolah-olah membutuhkan penjelasan dari cowok itu.


Jangan bilang itu cewek yang tadi, Pikir Vanya.