
Vanya keluar dari kamarnya dengan memakai kaus oblong berwarna putih dan rok pendek hitam selutut. Dia berjalan hendak Keluar dan melewati kakaknya di ruang tamu. Di sana ada Riko dan Darrel, teman Nata. Mereka bertiga sedang leha-leha di kursi sambil memainkan ponsel masing-masing.
“Eh, Vanya, ” sapa Raka dan hal itu membuat Nata dan Darrel menatap gadis itu.
“Mau kemana? ” lanjut Raka dengan nada bertanya.
“Mau ke teras nyiram bunga, ” jawab Vanya.
Raka menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Oh, eh denger denger lo masuk SMA pelita, ya? ”tanya Raka lagi.
“Iya, kenapa emang? ” Vanya balik bertanya.
“Wih, selamat ya, bisa dong gue main - main ke kelas lo? ” tanya Raka dengan nada menggoda.
Darrel dan Nata yang melihat bahwa sahabat mereka menggoda Vanya hanya menahan tawanya.
“Boleh, gue kelas 10 IPA 5. Gue mau ke depan dulu, ya, ” pamit Vanya, gadis itu melenggang pergi dari hadapan cowok - cowok itu.
“Eh, masa adik gue kenal sama Vanno, ” celetuk Nata dengan wajah tidak percaya.
“Jelas lah kenal. Orang Vanno 𝚖𝚘𝚜𝚝 𝚠𝚊𝚗𝚝𝚎𝚍-𝚗𝚢𝚊 SMA pelita kalau lo lupa, ” cibir Darrel.
“Yeee, bukan gitu maksud gue. Kalau itu mah nggak usah di tanya lagi. Anak kecil umur satu tahun aja pasti tahu. Tapi yang gue heranin tuh si Vanno kemarin nganterin Vanya pulang ke rumah! ” tutur Nata panjang lebar.
“Serius lo? Wih, hebat tuh Vanno ketemu Vanya bisa lupain Darra, ” Raka tertawa. Darrel yang mendengar hanya mendesah lega. Setidak nya Vanno sudah melupakan Darra.
“Siap - siap aja lo jadi kaka iparnya, ” ucap Darrel asal.
“Kakak ipar matamu! ” Nata menoyor kepala Darrel.
𝙺𝚊𝚕𝚊𝚞 𝚊𝚍𝚒𝚔 𝚐𝚞𝚎 𝚋𝚎𝚗𝚎𝚛𝚊𝚗 𝚓𝚊𝚍𝚒𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚖𝚊 𝚅𝚊𝚗𝚗𝚘, 𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚖𝚘𝚐𝚊 𝚍𝚒𝚊 𝚗𝚐𝚐𝚊𝚔 𝚍𝚒𝚓𝚊𝚍𝚒𝚒𝚗 𝚝𝚎𝚖𝚙𝚊𝚝 𝚙𝚎𝚕𝚊𝚛𝚒𝚊𝚗 𝚊𝚓𝚊, batin Nata.
“Emang Vanno nggak tahu ya kalau lo kakak nya Vanya? ” tanya Raka dengan wajah penasaran.
Nata mengangkat bahunya tak acuh. “Nggak tahu, tapi harusnya dia tahu karena dia kan pernah kesini, ” jawab Nata sedikit tidak yakin.
“Iya juga sih, ” sahut Raka dan Darrel bersamaan.
★ ★ ★ ★
Ketika Vanya tengah menyiram bunga milik mamanya di halaman rumah, tiba-tiba dia melihat Kenzo berdiri di depan pagar rumahnya.
“Vanya! ” panggil Kenzo. Kebetulan lelaki itu adalah tetangga komplek nya juga.
“Bentar Ken, ” Vanya berlari untuk mematikan keran air kemudian dia berjalan membukakan gerbang rumahnya untuk Kenzo.
“Iya, biasalah si Raka sama Darrel, ” ucap Vanya sambil menyingkirkan selang yang berada di hadapannya.
Tidak disadari ucapan Vanya saat menyebutkan nama Raka dan Darrel tidak diberi embel-embel ‘𝚔𝚊𝚔’ tadi didengar oleh kedua orang itu.
“Muka lo kenapa, Ken?” tanya Vanya saat melihat ekspresi temannya itu.
“Ha? ” Kenzo gelagapan.
“Durhaka lo manggil kita gitu! ” ucap Darrel dan bersedekap dada.
𝙼𝚊𝚖𝚙𝚞𝚜 𝚐𝚞𝚎, pekik Vanya dalam hati.
Vanya memutar tubuhnya dengan gerakan 𝚜𝚕𝚘𝚠 𝚖𝚘𝚝𝚒𝚘𝚗 dengan senyum tak berdosanya.
“Eh, udah di situ aja. Sejak kapan, kak? ” tanya Vanya sok sopan.
“Nih anak gue saranin lo nanti ngambil ekstra teater deh, emosi gue. Manggil yang sopan dong. Ada maupun nggak ada orang nya, ” tutur Raka.
“Ya maaf, dari pada gue panggil kambing sama ayam? Kan mending nama lo berdua, ” ucap Vanya tak mau kalah.
“Sampai hari raya badak Vanya itu nggak mau ngalah, mending gue pulang terus tidur, ” ucap Raka sebelum dia memakai helm nya.
“Nat, gue pulang dulu, ” pamit Raka.
“Yoi.”
“Cih, ngambekan, ” gerutu Vanya.
“Gue juga pulang, Nat. Eh, si Raka kayaknya cemburu sama lo deh, Ken, ” pamit Darrel kemudian dia menatap Kenzo.
“Baper-an dia, ” jawab Kenzo santai.
“Hati-hati bro, ” ucap Nata.
Setelah kepulangan sahabatnya, Nata kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan Vanya dan juga Kenzo yang sedang asyik berbicara di teras depan rumahnya.
“Lo ngapain kesini? ” tanya Vanya.
“Biasa, minjem catetan biologi lo, ” jawab Kenzo santai.
“Lo males kayak gitu kok bisa masuk SMA Pelita ya? Apalagi lo sekelas sama gue. Kurang apes apa gue coba? ” tanya Vanya dramatis.
“Kita itu jodoh, beb, ” goda Kenzo.
“Idih, udah tunggu sini dulu, ” Vanya memasuki rumahnya untuk mengambilkan buku catatan biologinya.