My Future Is You?

My Future Is You?
21. Mau buka mulut apa gue Cium? ll



“Vanya ada? ” Vanno yang tiba-tiba datang ke kelas Vanya pun membuat ricuh seketika.


“A—ada, Kak, ” balas salah satu siswi dengan gugup.


Vanno tanpa banyak bicara langsung memasuki kelas Vanya diikuti Deo, Cello dan William. Keempat most wanted sekolah itu memasuki kelas 10 IPA 5 itu dengan santai nya. Semua aktifitas yang ada di dalam kelas itu langsung berhenti kecuali satu objek yang tengah sesekali tertawa dan cemberut saat membaca sesuatu di ponsel nya.


Di sisi lain, Ikky dan teman-temannya yang melihat Vanno memasuki kelas itu langsung mengurungkan niatnya.


Petrice dan Fanesa langsung menatap Ikky dengan kening berkerut.


“Kenapa berhenti? ” tanya Petrice.


“Mata lo dimana, hah? Tuh lihat, Vanno udah nyampe duluan disini! ” semprot Ikky.


“Lo sih, lelet! ” cibir Fanesa pelan.


Ikky menatap Fanesa dengan menyipitkan matanya.


“Berani ngatain gue. Awas lo! ” ancam Ikky.


Fanesa langsung diam tak berani lagi menyahuti perkataan Ikky.


“Hai, ” sapa Vanno yang membuat Vanya terlonjak kaget. Tidak hanya Vanya tapi Kenzo dan Dania juga.


“Astagaa! ” kaget Vanya sambil memegang dadanya.


“Bangke, ” celetuk Dania.


“Minggir, yuk. Ada yang di apelin pacarnya tuh, ” ucap Kenzo dengan cekikikan.


Vanya menolehkan kepalanya ke arah Kenzo dengan pandangan tajam. “Ngomong sekali lagi kembaliin buku biologi gue! ” ketus Vanya.


Kenzo menelan ludahnya, dia tidak berani menjawab, pasalnya buku biologi milik gadis itu hanya tinggal namanya saja. Karena semua akibat ulah dari kucil, kucing kecil. Kalau sampai Vanya tahu bisa habis dia di tangan gadis di depannya itu.


“Mending kita keluar, yuk, Dan? ” ajak Kenzo dengan merinding.


“Yuk lah kalau gitu. Btw, temenin gue beli air ya, Ken? Tiba-tiba disini jadi panas deh, ” ucap Dania.


“Apaan deh lo, Dan, ” Vanya malu malu.


“Hai, kita pasukan cogan-nya IPA 1 dataaaaang! ” teriakan nyaring itu mengalihkan godaan Dania kepada Vanya.


“Hello, ladies, eh ada Dandan, ” goda William.


“Nama gue Dania! Bukan Dandan! ” sewot gadis yang memakai kacamata bulat itu.


“Pede banget lo jadi cewe! Gue bilang Dandan karena ada temen lo yang Dandan tuh di pojok! ” celetuk William asal.


“Bisa aja lo ngelesnya! ” Deo memukul pelan bahu William.


“Bodoh lah. ” Dania dan Kenzo kemudian pergi meninggalkan kelas itu.


Vanno terkekeh kecil, dia kemudian menarik kursi di samping Vanya dan laki-laki itu duduk di samping pacarnya.


Teman-teman Vanno kini malah bermain flip botol di atas meja yang terletak di depan.


Siswi yang kursinya digunakan untuk Vanno duduk itu terpekik histeris.


“Oh my god! Itu kak Vanno duduk di kursi gue! ” pekiknya histeris.


“Enggak ke kantin? ” tanya Vanno lembut.


Vanya menggelengkan kepalanya. “Males. Gosip mulu disana, ” Vanya mengcurutkan bibirnya sebal karena dia malas mendengarkan ocehan- ocehan di kantin mengenai hubungan nya dengan Vanno.


“Gosip? Maksudnya? ” Vanno mengelus rambut Vanya penuh perhatian. “Cerita sama gue.”


“Nggak ah. Oh iya, lo ngapain kesini? ” tanya Vanya.


“Kangen.”


“Gombal! ”


“Beneran, deh. Gue kangen sama lo. Emm, gimana kalau nanti kita jalan- jalan? ” ajak Vanno.


Vanya tampak berfikir dengan menopang kan tangan di atas dagu. “Kemana? ”


“Ikut aja, ya? ” pinta Vanno melas.


“Ya udah, iya. Tapi jangan lama - lama ya? ” tanya Vanya.


“Iya, cantik. ”


Vanya lagi - lagi merona dan jantungnya berdetak kencang.


“Oke, jam tiga gue jemput ya. ”


“Siap.”


“Ke kantin yuk, gue tahu lo laper, ” Vanno menarik lembut tangan Vanya.


“Dasar curut, dia ngegas lagi sama anak orang! ” ucap Deo.


“Bye, Cecan. Kakak mau berkelana dulu ya, ” Cello kini melambai - lambaikan


tangannya ke arah siswi di kelas itu.


“Sok ganteng deh! ” cibir Deo.


“Emang gue ganteng lagi! ” balas Cello


★ ★ ★ ★ ★


“Buka mulutnya, ” perintah Vanno.


“Apaan sih, Kak? Dilihatin murid lain tuh, ” ucap Vanya malu malu.


“Itu mereka yang lihatin kita pada jomblo sih, ” ujar Vanno masa bodoh. Deo, Cello dan William yang juga melihat langsung pura pura batuk.


“Bagaikan tersayat sembilu, pahitnya menusuk kalbu, ” Cello bernyanyi, tapi tidak tahu lagu apa yang dia nyanyikan.


“Itu bukannya lirik lagu, ya? ” tanya William.


“Iya, tapi gue lupa apa judulnya, ” jawab Cello sambil tertawa.


Vanno tidak memperdulikan ucapan teman temannya, tapi sibuk dengan Vanya yang tidak mau membuka mulutnya itu.


“Mau buka mulut apa gue cium? ” Vanno menaik turunkan alisnya.


Mau tidak mau dia membuka mulutnya dan satu sendok penuh nasi goreng masuk ke dalam mulut Vanya.


“Pelan pelan, sayang, ” kata Vanno.


“Nanti sore aku jemput jangan lupa, ” ingat Vanno dengan tegas.


“Sekalian aja, Van tulis note di jidat Vanya, ” celetuk William.


“Spam chat aja, ” ucap Deo.


“Tungguin depan rumahnya aja! ” ujar Cello.


“Berisik lo pada! ” gerutu Vanno.


★ ★ ★ ★ ★


Vanya berlari menuju ke kamar mandi, dia sudah tidak bisa menahan tuntutan alam yang sekarang sudah berada di ujung tanduk. Akibat pelajaran kimia yang harus melihat angka statisika dan masih banyak lagi itu membuat Vanya mules sendiri.


Setelah dia menyelesaikan urusan nya, Vanya yang hendak keluar tiba-tiba terdorong hingga punggung nya menabrak dinding kamar mandi yang dingin. Vanya meringis kesakitan.


“Heh, dengar ya cewe nggak tahu diri! Gue peringatin lo untuk jauhin Vanno! Kalau bisa lo putusin dia! Karena Vanno masih punya pacar yang dia tunggu. Kalau lo nggak mau sakit hati mending turutin omongan gue. JAUHIN VANNO! ” Ikky, perempuan itu menjabak rambut Vanya kasar. Membuat gadis itu meringis kesakitan.


“Enggak akan! Emang lo siapa? ” Vanya berusaha melawannya.


Tarikan rambut itu semakin kencang mengakibatkan Vanya merintih kesakitan. “Turutin aja kemauan gue! Dan lo nggak bakal sakit hati kalau tahu Vanno bakal milih orang lama! Dari pada orang baru kayak lo! Lo itu cuma dijadiin PELAMPIASAN! ”


“Setidaknya gue udah masuk di kehidupan Vanno! Jadi nggak bakal Vanno itu ninggalin gue! ” jawab Vanya.


“WOW, PEDE BANGET LO! ” satu tamparan meluncur dengan bebasnya di pipi Vanya. Air mata gadis itu sudah tidak bisa dibendung lagi.


“Jauhin Vanno! Karena saingan lo itu nggak cuma Darra! Tapi gue juga! ” sinisnya, dan kemudian dia mendorong pundak Vanya keras.


Perempuan itu lalu meninggalkan Vanya.