My Future Is You?

My Future Is You?
49. [ S2 ] Restu Mama.



~aku teguhkan hatiku untuk memilihmu,meski hati ini masih bergejolak~


.


.


Seminggu setelah acara makan malan dirumah Anita, Niken dan Davi berniat untuk meresmikan pertunangan putrinya dengan Dion minggu depan. Meskipun masih seminggu lagi tapi mereka terlihat begitu antusias untuk menyiapkan segala kebutuhan pesta, mereka cuma mengundang keluarga dan sahabat dekat tapi bagi Davi dan Anita ini adalah moment yang bahagia.


Sore itu Dion mengajak Vanya untuk bertemu ibunya, ini adalah kali pertama Vanya berkunjung kerumah Dion dan bertemu dengan mamanya. Sepanjang perjalanan Vanya nampak begitu gelisah, dia *******-***** tangan nya sesekali berdesih, digigitnya ujung jari kukunya sambil melihat kearah luar jendela.


"Van, amu nggak apa-apa kan?" Celetuk Dion tiba-tiba.


Vanya hanya negakan posisi duduknya sambil tersenyum kearah Dion.


"Nggak usah gugup gitu kali Van, mama nggak galak kok!" Ucap Dion seolah menangkap apa yang tengah Vanya rasakan.


Tanpa memperdulikan Dion, Vanya kembali menggosok-gosok kan telapak tangannya dan mulutnya sambil berkomat kamit.


Tidak butuh waktu lama untuk menempuh perjalanan kerumah Dion, kini mobil Dion sudah terparkir dihalaman rumahnya, Vanya merundukan kepala nya untuk mengintip rumah itu. Perasaan nya semakin tidak karuan ketika Dion mengajaknya turun dan menemui mamanya.


Dion yang sudah turun lalu membukakan pintu untuk Vanya, dia kemudian mengulurkan tangan. Vanya yang masih ragu untuk turun lalu meraih tangan Dion. Digenggam nya tangan itu dengan erat, untuk mengurangi perasaan gugupnya, bibirnya terkatup rapat tanpa bersuara sedikitpun, sampai akhirnya dia sampai disebuah taman yang berada belakang rumah, dia melihat seorang wanita paruh baya yang tengah duduk ditengah-tengah rumpunan bunga mawar.


"Mama kamu suka bunga?" Tanya Vanya secara tiba-tiba.


"Iya, mama suka banget tiap hari mama hanya menghabiskan waktunya untuk merawat bunga-bunga nya!" Jelas Dion.


Mereka lalu mendekat kearah wanita itu. Rambutnya disanggul rapi, dengan pakaian yang begitu rapi, wajahnya yang cantik meski sudah tidak muda lagi, wanita itu kelihatan begitu anggun.


"Mama," sapa Dion begitu sampai didepan mamanya.


Vanya yang masih mematung lalu  mengulurkan tangan nya dan tersenyum.


"Vanya, tante." Ucap Vanya sesopan mungkin.


"Kamu cantik, pantas saja Dion memilih kamu." Ucapnya sambil mengusap-usap punggung tangan Vanya.


"Vanya tersenyum malu mendengar pujian Didia ( mama Dion )


"Maa, kita masuk aja ya maa! Takut mama masuk angin, desis Dion.


"Kita nggak  apa-apa kan kalo ngobrol disini? Mama lagi pengin menikmati udara sore disini!"


Dion lalu duduk disebuah kursi didepan mamanya begitu mendengar ucapan Widia.


"Jadi kapan rencana kalian untuk menikah?" Celetuk widia membuat Vanya kaget.


Widia lalu memandang Dion dan juga Vanya bergantian.


"Jadi, tante merestui hubungan kami?" Ucap Vanya sedikit ragu.


"Kenapa nggak, buat tante apa yang udah jadi pilihan dDon, itu lah yang terbaik buat dia."


"Ma, kita aja belum bertunangan kok mama tanya kapan nikah sih!"


"Mama cuma ingin menjadi saksi hari bahagia kalian sayang sebelum mama pergi."


"Maksud tante?" Tanya Vanya dengan penasaran.


"Van, jangan panggil tante ya, panggil aja mama nanti kamu kan juga bakal jadi anak mama!" Ujar widia kepada Vanya.


"Iya, maa, maksud mama tadi apa? Kok mama bilang kayak gitu?" Ucap Vanya yang masih penasaran.


"Sayang, mungkin umur mama udah nggak lama lagi, mama sangat berterima kasih sama kamu karena kamu mau menjadi istri Dion, mama titipkan Dion sama kamu, kalau mama udah nggak ada tolong jaga dia, karena sebenernya Dion itu anaknya manja!" Ucap widia sambil berusaha tersenyum.


"Mama nggak boleh ngomong kayak gitu, mama pasti kuat melawan penyakit mama." Ucap Vanya menyemangatkan widia.


"Nggak Van, kamu nggak perlu menguatkan mama seperti itu, mama ikhlas kalo harus pergi asal mama sudah menjadi saksi dihari bahagia kalian!"


Mereka bertiga lalu bertukar pandangan, kesedihan terlihat dari wajah Dion mendengar apa yang mamanya ucapkan barusan, karena buat dion mamanya sangat berarti, sejak orang tua mereka berpisah Dion memilih untuk tinggal bersama mama nya, dulu widia masih bekerja di perusahaan yang sekarang Dion kelola, sebelum beberapa tahun yang lalu dokter memvonis widia mengidap penyakit kanker paru-paru stadum akhir, kondisinya yang terkadang naik turun membuat Dion selalu siaga, meski sudah berobat sampai keluar negeri tapi keadaan nya masih sama tidak ada perubahan sampai-sampai widia sendiri yang menolak jika Dion ingin membawanya keluar negeri lagi untuk berobat.


~


Rumah itu nampak dipenuhi dengan bunga mawar putih disetiap sudut halaman semua kursi sudah berbaris rapi, semua orang sangat begitu sibuk berlalu lalang untuk memastikan semua sudah siap, cahaya lampu temaram sudah menyinari setiap sudut, langit yang begitu hitam pekat seolah berubah menjadi begitu terang dengan cahaya rembulan dan kerlipan bintang-bintang yang menghiasi langit malam itu.


Niken dan Davi sudah rapi dengan pakaian yang senada. Sementara Vanya masih di dalam kamarnya bersama MUA yang tengah mendandaninya. Senyum selalu terukir di bibir Vanya, meski sebenernya ada sedikit perasaan yang mengganjal tapi dia menepiskan semua rasa itu dan menggantikan dengan rasa bahagia yang sebentar lagi akan menjadi Mrs. Divendra.


Reinard bersama rombongan nya telah sampai dirumah Vanya, mereka langsung mencari sosok tuan rumah yang tengah bahagia itu, Andra yang dari tadi tidak sabar untuk bertemu dengan sahabatnya itu, bibirnya terus membibil dengan seribu pertanyaan.


"Eh mana sicebong? Gue pengen ketemu dia tau!" Oceh Andra sambil berjalan.


Reinard yang berada disampingnya hanya diam dan meneruskan langkahnya ke dalam rumah, mereka sengaja datang lebih awal, karena sebenernya acara akan dimulai pada pukul 8pm.


"Reinard," ucap Niken ketika melihat Reinard.


Mereka kemudian mendekat kearah Niken lalu bersalam bergantian.


"Ini siapa?" Tanya Niken saat bersalaman dengan Hanna.


"Hanna, tante, istri nya Andra!" Ucap Hanna.


"Vanya nya dimana tan?" Tanya Hanna kepada Niken.


"Ada di atas, kamu naik aja!" Jelas Niken.


"Kalau Kita, boleh nggak tanten?" Ucap kedua cowo yang ada dibelakang Hanna.


"Nggak boleh, udah aku aja, iya kan tante!" Ucap Hanna melarang.


Reinard dan andra lalu mendengus kesal, mereka kemudian melihat- lihat sekeliling. Nampak tamu sudah mulai berdatang tapi tidak ada yang mereka berdua kenali.