
~aku mungkin bisa lupa akan semua janjimu,tapi aku tidak akan pernah lupa dengan perasaan yang sudah kamu tanamkan dihati ini~
****************
.
.
.
Vanya keluar dari kamar nya beberapa saat setelah Dion pulang. Niken yang masih duduk diruang tamu melihat putrinya yang sudah rapi memakai sweater dengan hot pants dan juga bag kecil yang menggantung dipundaknya.
"Sayang kamu mau kemana?" Tanya Niken.
Vanya tidak menghiraukan mamanya dia langsung menyambar kunci mobil nya yang menggantung didekat buffet. Dia lalu menuju bagasi dikeluarkan mobil merahnya itu lalu keluar dari halaman rumah nya. Niken hanya melihat mobil itu keluar dari teras rumahnya. Batin nya teriris, ibu mana yang tega melihat putrinya tersakiti secara bertubi-tubi, luka yang dulu saja masih belum kering sekarang dia menambah luka yang baru. Apa yang salah dengan cinta mereka sampai-sampai harus Vanya yang tersakiti.
Vanya membawa mobilnya dengan kecepatan yang laju. Entah kemana Vanya akan pergi, pikirannya benar-benar tidak terkontrol, yang dia ingin saat ini hanya ketenangan agar bisa sedikit melipur hatinya yang kini sudah hancur.
Niken yang cemas akan kepergian Vanya sesekali dia menelpon nomor Vanya, panggilan tersambung namun Vanya tidak menjawab bahkan dia menonaktifkan ponselnya.
Bulir bening hangat yang sangat tidak ingin Vanya teteskan akhirnya mengalir lembut dipipinya. Bibirnya terkatup dia menangis tanpa suara, Vanya meminggirkan mobilnya dia lalu mengaktifkan kembali handphone nya kemudian menelpon nomer seseorang.
"Hello oma." Ucap Vanya dengan suara maraunya.
"Vanya, ini kamu sayang? Oma kangen banget sayang sama kamu!" Terdengar suara seorang diujung telepon.
"Oma, Vanya kerumah oma yah?" Gumam Vanya.
mendengar ucapan cucunya Anita ( Nenek Vanya) langsung mengiyakan niat Vanya, bagi Anita, sejak Vanya meneruskan kuliahnya disingapore dia sudah jarang menemuinya. Dulu waktu Vanya masih duduk dibangku SMP dia tinggal dijakarta bersama oma nya, dan mama papa nya tinggal dibandung.
Setelah beberapa jam kemudian akhirnya Vanya sampai didepan gerbang rumah oma nya, rumah itu terlihat sepi, kalau dulu rumah itu selalu ramai karena Vanya yang selalu membawa sahabat-sahabatnya kerumah, tapi sekarang hanya oma dan tante nya saja yang menempati rumah itu.
Vanya lalu membunyikan klakson mobilnya, beberapa saat kemudian seorang pria renta yang sudah lama tidak Vanya lihat membukakan pintu gerbang. Dia adalah pak Darmo yang sudah berpuluh tahun dipercaya oma untuk menjaga rumahnya.
Vanya lalu memarkirkan mobilnya dibagasi, butuh waktu beberapa saat untuk Vanya buat menemui oma nya sampai pada akhirnya dia turun dan masuk kedalam rumah.
Vanya melihat oma nya yang tengah tersenyum didepan pintu menyambut kedatangan nya. Dia berlari kecil lalu memeluk tubuh omanya yang terlihat semakin renta, garis keriput diwajah nya sudah terlihat jelas bahkan rambutnya yang dulu hitam legam kini hampir putih semua.
"Omaa, Vanya kangenn sama omaa. Oma baik-baik saja kan?" Ucap Vanya sambil memeluk oma erat.
Anita pun ikut menyalurkan kerinduannya lewat pelukan itu, pelukan yang sudah lama dia rindukan pelukan yang dulu selalu Vanya berikan sebelum terlelap tidur saat masih tinggal bersama oma nya.
"Kamu sekarang cantik banget Van, oma kangen banget sama kamu, sering-sering main ya Van, biar oma nggak kesepian." Desis Anita dengan mata berkaca-kaca.
Vanya lalu memeluk oma nya lebih lama lagi, kali ini dia menyalurkan tentang perasaan nya. Tanpa Vanya sadari air mata nya membasahi bahu omanya, dia lalu meregangkan pelukannya, Anita yang melihat Vanya menangis, menjadi bingung.
"Kenapa kamu nangis, kamu dimarahin sama mama papa sayang?" Tanya Anita sambil mengusap air mata Vanya.
"Nggak oma, Vanya kangennn banget sama oma." Jawab Vanya.
Anita Tidak mudah percaya begitu saja, apalagi sejak kecil dia tahu bagaimana Vanya.
"Ya udah kita kekamar kamu yuk!" Celetuk Anita mengalihkan pembicaraannya.
Mereka lalu menaiki tangga kelantai atas, dibukanya pintu kamar yang dulu Vanya tempatin, semuanya masih sama, Vanya lalu berjalan mengelilingi kamar itu dipandang setiap potret dirinya yang dulu waktu masih remaja. Ada foto dia waktu masih Bayi, dan saat mulai sekolah. Mata Vanya lalu melihat sebuah bingkai yang cukup besar yang didalam nya ada foto dia dan juga Nata waktu masih kecil. Bibirnya tersenyum kecil dia lalu menatap oma nya, Anita lalu tersenyum.
"Bagaimana kabar Nata, Van, kapan dia akan pulang?" Tanya Anita
Vanya menggelengkan kepala nya lalu meletakan bingkai itu kembali. Dia lalu membuka laci meja belajarnya, disitu masih tersimpan semua coretan tangan nya sewaktu masih sekolah. Vanya lalu mengeluarkannya lalu melihat kertas itu perlembar, ada surat ungkapan kekecewaan karena tidak dapat nilai tertinggi, ada juga gambar yang Tidak jelas, namun tangan Vanya terhenti ketika melihat sebuah amplop berwarna biru tua, didepan amplop itu terdapat huruf kapital "VR" dengan lambang hati disebelahnya. Vanya membolak balikan amplop itu lalu dengan ragu membuka isi amplop nya.
**Dear Vanya Callista**
"_Van, aku nggak tahu harus memulai darimana. Karena buat aku ini adalah sisi tersulit selama aku mengenalmu.
Van, mungkin aku tidak bisa menjagamu tapi aku janji aku akan menjaga namamu disetiap doaku.
Jangan benci aku jika suatu saat nanti aku menghilang dari hidup kamu yah Van, aku pergi hanya untuk sementara, dan aku mau setelah aku pulang kita akan bersatu untuk selamanya.
Mungkin ini terlalu drama tapi begitulah aku, dan mungkin disaat kamu baca surat ini kita memang sudah terpisah Van, maafkan aku yang telah menyelipkan surat ini dilaci kamu. Karena lewat surat ini aku ingin menyampaikan perasaanku Van kalau sebenernya Aku cinta sama kamu"_
**sahabat kamu❤**
Vanya tertegun setelah membaca isi surat itu. Dia sama sekali tidak tahu kalau sahabatnya menuliskan sebuah surat untuk dia. Anita yang melihat sikap aneh Vanya berjalan mendekati Vanya.
"Kamu kenapa Van?" Tanya Anita mengagetkan Vanya.
"Oma inget nggak, dulu diantra Andra dan juga Reinard siapa yang terakhir kali masuk kekamar Vanya?" Tanya Vanya ragu.
Anita tertawa mendengar pertanyaan Vanya.
"kamu ini ada-ada saja, gimana oma inget ini udah lama banget sayang udah hampir 6tahun lebih, lagian ada apa sih, itu surat apaan?"
"Nggak kok oma."
"Ya udah kamu mau disini aja, apa turun kebawah, oma mau masak buat kamu, kamu belum makan kan?"
"Vanya disini aja oma."
Lalu Anita meninggalkan Vanya dan turun kebawah untuk memasak.
Sementara Vanya masih bergelut mencari semua benda kenangannya dulu waktu masih sekolah.
Dia meraih sebuah foto album yang ada dilemari, dibukanya satu persatu setiap halaman itu, foto waktu pertama kali bertemu dengan Reinard waktu masih kelas 3 SD sampai waktu SMP bersama Reinard dan juga Andra, dan terakhir foto dimana mereka sudah terbebas dari seragam putih abu-abu, mereka kelihatan begitu bahagia, sampai pada akhirnya mereka kehilangan satu sama lain.
~
Langit telah berubah menjadi gelap Vanya sudah tidak lagi di rumah oma nya, dia membawa mobilnya mengelilingi jalanan ibukota yang padat itu, meski sudah mencoba untuk melupakan tentang Vanno tapi pikiran nya masih saja bergelut tidak mau henti. Sampai pada akhirnya dia membelokan mobil kesebuah cafe yang terlihat cukup ramai. Setelah memarkirkan mobilnya dia masuk kedalam cafe itu. Ini kali pertama Vanya masuk kedalam bar cafe, entah apa yang ada dipikiran nya sampai-sampai bisa membawa dirinya ketempat terkutuk itu.
"Mas satu lagi mas!" Ucap Vanya sambil menyodorkan gelas nya. Namun gelas Vanya ditolak karena bartender itu melihat Vanya sudah sangat lemas dibawah pengaruh alkohol.
"Nona, kelihataan nya nona sudah mabuk berat." Ucap sang bartender. Namun Vanya ber sikukuh masih kuat.
"Nggak mas saya masih bisa kok, satu gelas lagi yah mas!"
Bartender itu hanya menatap Vanya yang sudah mulai,tersungkur diatas meja.
Sampai beberapa menit kemudian Vanya tersadar.
"Mas toilet dimana?"
"Diujung sana nona." Ucap bartender sambil menunjukan arah toilet.
"Mas aku nggak bisa lihat jelas mas." Ucap Vanya sambil sempoyongan.
"Nona lurus lalu belok kiri."
Tanpa bertanya lagi Vanya langsung menuju toilet itu dengan langkah terseret-seret.
Saat Vanya mau belok kekiri, Vanya tidak sengaja menabrak seorang laki-laki.
**Bruuukkkk**
"maaf mas nggak sengaja."
Vanya yang hampir jatuh kelantai lalu berusaha untuk berdiri, sementara laki-laki itu berusaha memahami wajah
Vanya. Laki-laki itu terus menelusuk wajah Vanya yang hampir tidak terlihat karena ditutupi oleh rambut, sampai Vanya benar-benar mendongakan kepalanya kearah laki-laki itu dengan mata yang menyipit.
"Vanya kan?" Celetuk laki-laki itu membuat Vanya membuka matanya.
Vanya lalu menatap kembali wajah pria itu dia lalu menggoyang goyangkan kepalanya yang terasa sangat pusing, belum sempat melihat dengan jelas wajah laki-laki itu Vanya sudah terkulai lemas, dengan panik laki-laki itu lalu membawa Vanya kesebuah ruangan, dia lalu membaringkan tubuh Vanya diatas sofa.
"Bro itu kenapa kok lo bawa kesini?"
"Ndraa lo lihat ini siapa ndra!"
Andra yang penasaran lalu mendekati Reinard.
Astaga Vanya, kenapa dia bisa kayak begini Rei, kamu ketemu dia dimana?" Oceh Andra yang mulai panik juga.
"Dia tamu dicafe ini dan sepertinya dia tadi mabuk berat ndra," jelas Reinard yang masih berusaha menyadarkan Vanya.
"Lo bawa aja keruangan sebelah Rei biarin dia tidur disana dulu sampai sadar!" Desis Andra.
Reinard lalu menggendong Vanya kekamar yang ada disebelah. Andra tau ruangan itu adalah ruangan yang biasa dibooking oleh orang tertentu. Hanya saja Andra tidak mau Vanya menjadi bahan tontonan makanya memutuskan untuk membawanya kedalam.
Reinard masih setia menunggu Vanya, dia memperhatikan wajah sahabatnya yang sudah lama begitu dia rindukan.
_Kenapa kamu sampai kayak gini Van, kenapa kamu berubah apa kamu udah nggak kayak dulu lagi? Vanya yang tidak pernah mengenal tempat hiburan malam sama alkohol. Apa yang sebenernya terjadi Van?_ Gerutu Reinard dalam hati.
Malam sudah semakin larut tetapi Vanya masih tertidur pulas oleh efek alkohol, sementara Andra sudah pulang dan membiarkan Reinard untuk menunggu Vanya sampai dia bangun.
Reinard yang masih tidak percaya dengan perubahan Vanya, dia duduk disebelah Vanya, entah apa yang ada dipikiran nya tapi pertemuannya dengan Vanya membuat Reinard bertanya-tanya.
Lama Reinard menunggu, sampai pada akhirnya dia tertidur disamping Vanya.
Vanya yang baru saja terbangun dia kaget ketika mendapati seorang laki-laki yang sedang tidur disamping nya. Tanpa membangunkan dan melihat laki-laki itu Dia lalu menyingkirkan selimutnya lalu masuk kekamar mandi untuk mencuci mukanya.
apa yang udah dia lakukan sampai-sampai bisa berada satu kamar dengan ku. Siapa laki-laki itu? Apa dia sudah meniduriku semalam? Desis Vanya dalam hati.
Semua pikiran Vanya mulai berkecamuk dia lalu keluar dari toilet dan menyambar tas kecil yang terletak diatas meja.
Reinard yang menyadari kepergian Vanya dia lalu terbangun, dengan cepat dia meraih tangan Vanya yang hampir membuka pintu.
"Vanyaaa tungguu!" Ucap Reinard sambil menahan tangan Vanya.
Vanya kaget ketika nama nya disebut oleh laki-laki itu.
Darimana dia tahu nama aku, apa dia mengenaliku?
Dengan ragu Vanya membalikan badan nya lalu menatap wajah itu.
Bibir nya menganga ketika melihat sosok itu, dia tidak percaya kalo laki-laki itu adalah sahabatnya.
"Rei?" Ucap Vanya gemetar.
"Iya, ini aku Van, Reinard." Ucap Rei sambil menggoyang-goyangkan pundak Vanya.
Vanya hanya diam membeku mulutnya seperti terkunci sangat rapat sampai-sampai tidak bisa bersuara.
Tanpa menunggu lama Reinard lalu memeluk tubuh Vanya, meski tanpa balasan dari Vanya tapi dia tetap memeluknya sangat erat. Sulit bagi Vanya untuk mempercayai pertemuan ini setelah sekian lama berpisah, kenapa disaat seperti ini dia datang. Vanya lalu memberontak dari dekapan Reinard kemudian membuka pintu dan berlari keluar dari kamar.
"Van, tunggu Van!" Teriak Reinard yang berusaha mengejar Vanya sampai keparkiran mobil Vanya.
"Vanya, tunggu!" Ucap Rei sambil memegang tangan Vanya. Dia lalu menarik Vanya kedalam pelukan nya lagi.
"Van, ini aku Van sahabat kamu!"
"Lepasin aku, aku nggak tahu siapa kamu! Aku nggak pernah punya sahabat kayak kamu! Lepasinnnn!" Teriak Vanya dalam tangis lalu masuk kedalam mobilnya.
Kali ini Reinard hanya diam mematung setelah mendengar ucapan Vanya dan menyaksikan kepergian sahabatnya itu.
"Aku memang salah Van, tapi aku cuma nggak mau melihat kamu sedih saat tahu kalo aku akan pergi ninggalin kamu. Apa kamu sudah tidak mau menganggap aku sahabat kamu lagi? Padahal aku pulang cuma untuk satu tujuan, yaitu buat kamu Van.
****************