
~
Mereka telah masuk kedalam restaurant, Dion lalu bertanya kepada seorang pelayan bookingan.
"Atas nama pak Johannes."
Pelayan itu kemudian mengantar kesebuah ruangan yang mungkin memang sudah dibooking khusus oleh beliau.
"Makasih ya mba." ucap Dion sebelum memasuki ruangan itu.
Vanya dan Dion kemudian masuk kedalam terlihat lebih dari 10 orang tengah bersua.
"Selamat malam pak." Ucap Dion mendekati pak johannes, dibuntuti oleh Vanya.
Setelah bersalaman dan menyapa tamu undangan yang lain nya mereka lalu menikmati hidangan makan malam bersama.
Diskusi demi diskusi keluar dari bibir mereka masing-masing, sementara Vanya yang menjadi objek paling menarik diantra tamu yang ada, karena hampir dari mereka adalah laki-laki dan ada 2 perempuan yang sudah paruh baya.
Sesekali salah satu dari mereka yang masih seumuran dengan Dion menggoda Vanya.
"Pak Dion, ini calon istrinya kah? Nampak serasi aja, jangan lupa undang kita kalau menikah ya!" Gurau nya membuat semua yang hadir ikut meledek.
Dion tidak berkata banyak dia hanya menatap wajah Vanya yang mulai merah merona entah karena malu atau nervous.
"Doa kan saja secepatnya ya!" Jawab Dion dengan gaya yang paling cool.
Vanya yang mendengar ucapan Dion melebarkan matanya, seolah tidak setuju.
"Dion aku mau kebelakang sebentar ya." Bisik Vanya kepada Dion.
Vanya kemudian meninggalkan tempat itu dan mencari toilet.
"Mba toilet nya dimana ya?" Tanya Vanya kepada seorang pelayan.
"Lurus aja mba nanti ada disebelah kiri."
"Makasih." Ucap Vanya santun.
Ketika Vanya membalikan badannya, ia melihat sosok laki-laki yang beberapa waktu lalu dia temui.
_Reinard, kenapa dia ada disini._ bisiknya dalam hati.
_Apa maksud nya sih, emang dunia ini selebar daun kelor sampai-sampai aku harus bertemu dia lagi, gue cuma belum siap untuk bertemu sama dia, tapi kenapa tuhan selalu mempertemukan aku sama dia, aduhh._ Batin Vanya didepan kaca wastafle.
Setelah selesai Vanya lalu keluar dan kembali menemui para rekan bisnis nya itu, namun kejadian yang sangat diluar dugaan terjadi.
Orang yang belum siap ia temui itu tidak sengaja muncul didepan nya. Kedua nya saling bertatapan dan membisu, Vanya yang ingin cepat berlari pergi dari hadapan nya itu seolah kakinya tertahan dan berat.
"Vanya," lirih Reinard.
Tanpa tersenyum dan melihat wajah Reinard, dia langsung pergi namun lagi-lagi Reinard berhasil meraih tangan nya.
"Aku pengin ngomong sama kamu Van, sebentar saja, aku tahu aku salah tapi aku ngelakuin itu semua ada alasan nya Van."
"Lepasin tangan aku Rei!" Ucap Vanya sambil berusaha menepis cengkraman tangan Reinard.
"Nggak, aku nggak akan lepasin sebelum kamu ijinin aku untuk jelasin semuanya."
Vanya lalu meregangkan tubuhnya yang tadi tegang dia lalu membalikan badanya untuk menatap cowo itu.
"Nggak ada yang perlu dijelasin Rei, semua sudah berlalu lo pergi juga buat masa depan dan cita-cita lo, dan lo pergi begitu saja tanpa pamit ke gue itu juga hak lo, jadi lo nggak usah merasa bersalah akan kepergian lo yang tanpa pamit ke gue!"
"Tapi Van—."
"Gue lagi meeting disini sama client jadi maaf gue harus pergi!" Ucap Vanya lalu pergi meninggalkan Reinard begitu saja.
Reinard yang masih berdiri ditempat itu melihat kepergian Vanya, hatinya masih merasa bersalah tapi apa daya Reinard dia tidak bisa memaksakan kehendak.
"Wooy bro, lo lihatin apa sih berdiri disini kayak gini." Ucap seseorang yang tidak lain adalah Andra sambil menepuk pundak Reinard.
"Vanya, ndra, lagi disini tadi gue ketemu sama dia."
"Seriusan lo? Terus lo ada ngobrol sama dia?"
"Udah lah ndra, seperti nya dia memang udah benci dan ngelupain persahabatan kita dulu." Ucap Reinard mulai pasrah.
"Biar gue yang nemuin Vanya, lo nggak boleh nyerah begitu saja bro persahabatan kita udah lama banget masa lo relain hancur begitu saja?"
Mendengar ucapan Andra, Reinard hanya mengangkat bahunya.