
~jika kamu yang terbaik,maka aku akan menerimamu~
.
.
.
Setelah hampir 2 minggu mengunjungi anak lelakinya yang tengah melakukan pekerjaan di negeri kangaroo, akhirnya Davi ( Papa Vanya ) kembali ke jakarta.
Davi selalu menyempatkan waktunya untuk mengunjungi Nata setiap 2 bulan sekali, kadang dia mengajak Niken dan juga Vanya, tapi kali ini dia sendiri.
"Pa, gimana kabar Nata? Kapan dia pulang libur semester? tanya Vanya saat tengah sarapan.
"Akhir tahun kayaknya dia bakalan pulang, tapi dia juga nyuruh kamu untuk dateng kesana, kangen katanya."
"Vanya nggak bisa pa, Vanya lagi banyak kerjaan dikantor." Ucap Vanya sambil mengunyah roti.
"Oh iya, terus hubungan kamu sama Dion gimana Van? Mama lihat Dion makin akrab sama kamu." Celetuk Niken membuat kedua orang disampingnya sama-sama menatap dirinya.
"Masih pagi kali maa, masa udah bahas begituan." Desis Vanya dengan malas.
"Sayang, kamu jangan gantungin perasaan orang kayak gitu, setiap orang punya titik lelah Van, mungkin sekarang Dion masih sabar berjuang untuk masuk kedalam hati kamu, tapi nanti akan tiba masanya dia menyerah, dan kamu jangan buat hati kamu nyaman dengan seseorang tanpa sebuah ikatan, nanti saat orang itu ada perempuan lain kamu pasti akan patah hati, jadi berikan satu kepastian buat Dion dan juga hatimu sayang."
"Iya maa, nanti Vanya pasti beri kepastian, tapi nggak sekarang, hati Vanya masih belum siap maa, takut yang dulu terulang lagi."
Mendengar kata-kata Vanya, Niken lalu tersenyum dia menatap putri mungil nya itu sambil membelai rambutnya.
~
Konsentrasi Vanya saat menyetir terganggu oleh bunyi hp yang ada didalam tasnya, dia lalu merogoh hp nya ditatap layar hp sebuah panggilan masuk dari nomor yng tidak dikenal, dengan segera dia memasang headset Bluetooth ketelinganya.
"Hallo." Ucap Vanya pelan.
"Hallo Vanya," terdengar sesorang disebrang telepon menyebut nama Vanya.
"Maaf ini siapa?"
"Ini aku Van, Reinard."
Vanya membisu sejenak saat Mendengar nama yang disebut itu.
_Darimana dia tahu no hp aku, berani-beraninya dia telepon aku._ Gerutunya dalam hati.
"Van, Vanya.." panggil Reinard saat tidak ada respon.
Aku lagi nyetir, nanti aku telepon kamu balik." Ucap Vanya lalu memutuskan sambungan telepon nya.
Tangan nya mengepal mulutnya sambil komat kamit.
"Vanya, apa yang lo lakuin kejam Van, dia adalah sahabat lo yang dari dulu lo cariin, tapi kenapa saat dia kembali buat lo, malah lo kejam kayak gini, apa yang terjadi sama lo Van, sampai kapan lo jadi pengecut kayak gini nggak pernah mau ketemu apalagi kasih kesempatan dia buat bicara." Ucap Vanya mencaci dirinya sendiri.
Setelah bergelut dengan padatan nya lalu lintas dan pikirannya tentang Reinard akhirnya Vanya sampai dikantor. Dia langsung memasuki ruangan nya, Vanya melihat seorang wanita yang tengah duduk dikursi depan meja kerja nya dengan segunung file dihadapannya.
"Ratna, lo ngapain pagi buta udah ada diruangan gue." Celetuk Vanya.
"Van, ini udah jam berapa Van? masih aja bilang pagi buta, lo tu yang telat, tu kenapa pagi-pagi muka udah kusut kayak tissue habis diremas-remas."
Vanya lalu berjalan menuju tempat duduknya, disandarkan tubuhnya itu sambil menarik nafas panjang.
"Gue bingung sama hati gue Rat, Padahal gue cuma jadi pendengar doang tapi rasanya melihat dia aku tu benci banget Rat."
"Lo ngomong apa sih, Van, nggak jelas banget kayak gini, kalo lo masih bimbang dengan perasaan lo ke big boss ya lo ting—"
"Bukan itu masalahnya Ratna." Celetuk Vanya memotong pembicaraan Ratna.
"Sekarang mendingan lo balik ke ruangan lo, gue mau sendiri ngerjain tugas gue ini yang seambrek." Ucap Vanya sambil menuntun Ratna keluar dari ruangan nya.
Bibir Ratna terus membibil merasa kesal dengan tingkah Vanya.
"Kenapa sih tu anak, pagi ini nggak jelas,salah makan sarapan kali ya?" Gerutunya sambil berjalan.
Setelah Ratna keluar dari ruangan nya kini hanya Vanya seorang diri diruangan itu.
Dia meraih hp yang masih ada didalam tasnya, dibolak balik itu hp lalu dengan ragu dia nepatin janji nya untuk menelpon Reinard.
Setelah beberapa kali menghubungi Reinard, sayangnya dia tidak menjawab telepon Vanya, ada sedikit rasa kecewa muncul dihati Vanya saat Reinard tidak menjawab panggilannya itu.
Pagi itu Reinard dipercaya oleh Andra untuk mengecek perkembangan cabang restaurant nya yang dibuka beberapa bulan lalu, dan Setelah kunjungan nya dia berniat untuk menemui Vanya dikantornya. Berharap usahanya kali ini berhasil.
~
Jam sudah menunjukkan pukul 5 pm semua karyawan tengah berkemas untuk pulang kerumah termasuk Vanya, dia membereskan semua file yang dari tadi berserakan diatas meja nya.
"Van, belum pulang?" Ucap Dion yang ada dibalik pintu.
"Iya, bentar lagi pak," ucapnya datar.
Dion lalu melangkah masuk kedalam ruangan Vanya, dia memperhatikan wajah Vanya yang tidak seperti biasanya.
"Kamu nggak apa6 kan Van? Muka kamu kelihatan pucat."
"Ehh hmm, nggak kok pak, mungkin kecapekan aja soalnya tadi banyak kerjaan." Jelas Vanya untuk menghindari pertanyaan yang rumit dari Dion.
"Kamu aku anterin pulang ya?"
"Nggak, nggak usah pak, saya bisa pulang sendiri,"
"Beneran? Kamu jaga kesehatan ya, aku pulang duluan." Ucap Dion lalu berjalan keluar dari ruangan Vanya.
Setelah selesai membereskan file nya Vanya, dengan segera Vanya pulang, dia menelusuri koridor yang sudah mulai sepi, namun saat melewati meja receptionist langkah Vanya terhenti, matanya membelalak tidak percaya, laki-laki itu, untuk memastikan, Vanya lalu memejamkan mata nya sebentar lalu membuka nya kembali. Dan ternyata itu bukan halusinasi atau mimpi, laki-laki itu benar ada dihadapannya.
_Bagaimana bisa dia ada disini, siapa yang kasih tau alamat kantor Dion?_ gerutu Vanya dalam hati.
Reinard yang dari tadi masih sibuk dengan ponselnya lalu sadar akan kehadiran Vanya dibelakangnya, dia lalu berdiri menatap Vanya dengan senyum lalu menghampiri Vanya.
"Maaf aku nggak kasih kabar kalau mau kesini." Ucapnya memulai pembicaraan.
Dengan berat hati dan perasaan yang gugup, Vanya kemudian tersenyum dan mengajak Reinard untuk duduk disofa.
"Kamu apa kabar?" Kali ini giliran Vanya yang bertanya.
"Seperti yang kamu lihat, Van, qku baik-baik saja, bagaimana dengan kamu?" Tanya nya balik.
"Baik kok Rei." Keduanya saling membisu canggung entah dari mana mereka harus memulainya.
"Van, bisa kita jalan sebentar?" Celetuk Reinard memecahkan keheningan diruangan itu.
Tanpa berfikir panjang Vanya langsung mengiyakan ajakan Reinard, walau sebenarnya bibirnya ingin menolak, tapi hati dia seolah bahagia mendengar ajakan Reinard dan mungkin ini sudah waktunya Vanya untuk berdamai dengan hatinya. Keduanya lalu menuju kesebuah restaurant menggunakan mobil Reinard. Meski mereka sudah kenal dari dulu tapi perpisahan mereka selama beberapa tahun lalu membuat mereka seperti orang yang baru kenal, Vanya yang dulu dikenal begitu cerewet oleh Reinard, kini seolah berubah jadi gadis yang pendiam.
"Rei, kok kamu tahu tempat aku kerja?" Tnya Vanya menyidik.
"Ohh iya, minggu kemaren setelah kejadian direstaurant itu aku sama Andra kerumah oma, tapi kamu nya udah pulang,"
"Terus, maksud kamu oma yang kasih tahu?"
"Heemmm," ucap Reinard sambil manggut-manggut. Lalu menunjukkan kartu nama Vanya yang anita kasih.
"Kenapa sih, Van, kamu nggak ambil alih perusahaan papa kamu." Celetuk Reinard.
Iya seperti yang Reinard ketahui kalo ayah nya Vanya adalah seorang pengusaha yang sukses.
"Aku mau fight sendiri Rei, dari nol bukan cuma tinggal terima manisnya saja, sama halnya kayak kamu, bukannya hidup diluar negri itu lebih enak kenapa kamu kembali lagi kejakarta?"
Reinard diam sejenak menatap Vanya, lalu pandangan nya kembali kejalanan.
"Maaf ya, Van, soal itu."
"Maaf buat apa? Udah lah nggak usah dibahas, mungkin aku juga yang terlalu egois, aku tahu kamu pasti punya alasan tersendiri, dimana kabar mama kamu?" Tanya Vanya mengalihkan pembicaraannya.
Meski sebenernya dia pengin banget denger alasan sahabatnya itu pergi begitu saja.
_kalau hanya saja takut dia membuat ku sakit, tapi dia juga tahu sebelumnya kalo aku juga bakal nerusin kuliah aku diluar negeri. Tapi apapun itu alasannya yang penting saat ini dia tengah ada dihadapannya._ Desisnya.
"Mama baik, mama sama papa kamu apa kabar?"
"Baik juga, oiya nanti kamu mampir kerumah ya, mama papa pasti seneng tahu kamu dateng." Ucap Vanya kegirangan.
Mendengar ucapan Vanya, Reinard menoleh kearah Vanya lalu tersenyum menganggukkan kepalanya.