My Future Is You?

My Future Is You?
13. Jodoh atau Kebetulan? ll



Entah karena memang jodoh atau kebetulan, kini Vanya satu kelas dengan teman barunya yang tempo hari bersamanya waktu MOS, gadis yang diketahui bernama Dania itu sejak tadi berceloteh. Vanya sendiri jadi pusing sendiri karena gadis itu terus mengoceh membicarakan banyak hal mengenai gosip gosip terpanas sampai terkuno.


“Vanya, lo tahun nggak kalau Robin Thick itu ganteng banget, parah! ” ucap Dania sambil menggerakkan tangannya memeluk buku.


Vanya memutar ke dua bola matanya malas. “Dia udah beristri, Dan! Please deh. Lihat baik baik! ” ucap Vanya.


Dania mengcurutkan bibirnya. “Gue Sama Martin Garixx aja deh. Atau nggak sama Andrew The Chainsmoker! ” ucap Dania sambil memejamkan matanya.


“Mimpi lo ketinggian! Gue mau ke toilet dulu. Bisa gila gue lama lama di sini sama lo! ” Vanya kemudian pergi meninggalkan Dania yang cemberut.


Dania menatap teman barunya di dalam kelas. “Gue mau tanya dong, gue cocokan sama Martin Garixx atau Andrew The Chainsmoker? Jawab jujur dong! ” paksa Dania.


Tawa teman sekelas Dania terlontar begitu saja saat mendengar pertanyaan konyol Dania.


“Lo cocokan sama sapri, tahu nggak? ” ucap 𝙆𝙚𝙣𝙯𝙤, teman sekelas Dania.


“Heh, AwKenzo, lo diem deh! Gue tanya sama yang lain! ” jawabnya ketus.


“ Ups, lo nyuruh gue diem, tapi sayangnya enggak bisa! ” ucap Kenzo.


“Nama pasaran aja belagu lo! Dasar, Kenzo Juniro!” olok Dania.


“Siapa yang namanya pasaran? Gue itu Kenzo Juniro karena lahir gue bulan Juni. Kalau yang di televisi itu sih Kenzo Julio paling lahirnya bulan Juli! ” jawab Kenzo santai.


“Jangan sok tahu deh! ”


“Hoho, gue bukan sok tahu tapi itu memang realita! ” Jawab Kenzo.


“Muka pas pasan kayak papan kos aja belagu! Bagusan nama lo juga AwKenzo! Sana lo, pergi! ” ketus Dania.


“Gue ke sini mau nyari Vanya. Kemana dia? Tanya Kenzo.


“kepo lo! Sana pergi! ” usir Dania. Kalau kalian bingung kenapa Dania bisa dekat Dengan Kenzo, itu karena mereka berteman sejak TK.


Vanya berjalan menuju toilet sambil bersenandung kecil.


Gadis itu memasuki toilet dengan santai. Saat dia hendak mencuci muka, dia mendengarkan ocehan kakak kelasnya.


“Eh, lo denger gosip kalau Vanno udah jadian sama anak kelas sepuluh ( 10) , belum? ” tanya gadis yang diketahui kelas 12 itu. Vanya diam diam mendengarkan obrolan mereka.


“Belum. Emang beneran Vanno jadian? Bukannya dia masih nunggu pacarnya? Tanya gadis lainnya.


“Si Darra maksud lo? ” tanya gadis sebelum nya.


“Iya lah. Paling Vanno pacaran sama cewek itu cuma buat pelarian aja! ”


𝙹𝙻𝙴𝙱.


Sakit tak berdarah, itulah yang sedang di rasakan Vanya saat mendengar pembicaraan kedua kakak kelasnya itu. Ingin rasanya Vanya marah saat itu juga. Tapi, kenapa dia harus marah? Toh dia juga tidak merasa benar benar berpacaran dengan cowok itu.


“Vanya? ” suara bariton membuat gadis itu menghentikan langkahnya.


“Apa? ”


“Ngapain di sini? ”


“Mau arisan! ” ucap Vanya asal.


“Emang kalau orang mau ke toilet itu ngapain? ” lanjut Vanya kesal.


“Nggak usah monyong monyong gitu bibirnya. Mau gue cium? ” goda Vanno.


Vanya langsung menggelengkan Kepala nya kuat kuat.


“Dia dalem ada orang. ”


“Temen gue lagi di hukum, ” jawab Vanno.


Lo juga, kak? ” tanya Vanya.


“Enggak lah. Gue kan Ketos disiplin, ” bohong Vanno.


Vanya manggut-manggut. “Oh, ya udah gue masuk dulu, minggir! ” seru Vanya.


“Jangan!”


“Kenapa, sih?”


“Nggak aman, mending di toilet cowok aja, ” ucap Vanno santai.


Vanya langsung menampar pipi Vanno pelan.


“Modus pegang pipi gue lo, ” sindir Vanno.


“Modus gigi lo nungging! Lo kira gue bisa masuk toilet cowok? Bisa habis gue di sana! ” cerca Vanya panjang lebar.


“Gue temenin? ” tawar Vanno.


“Eh apaan sih! Gue mau masuk, elah! ” sentak Vanya.


“Jangan.”


“Minggir! ”


“Enggak! ”


𝘿𝙐𝙆!


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, untung hanya pelan jadi jidat Vanya tidak sampai benjol.


“Nggak apa - apa? ” Vanno menahan tubuh Vanya dengan tangannya.


“Sakit kepala gue! Muter muter ih, ” ucap Vanya lemas.


“Sialan lo, cewek gue kena, tahu nggak! ” semprot Vanno kepada teman temannya.


“Maaf, elah. Gue nggak tahu. Sakit, dek? ” tanya Deo dengan menyentuh jidat Vanya.


Vanno langsung menepis tangan Deo dengan keras sehingga laki-laki itu menatap Vanno cemberut.


“Jangan pegang - pegang! ”


“Lanjutin aja hukuman lo! ” Vanno kemudian menggendong Vanya lagi ke UKS.


𝚄𝙺𝚂 𝚕𝚊𝚐𝚒 𝚜𝚊𝚖𝚊 𝚍𝚒𝚊, 𝚝𝚊𝚙𝚒 𝚜𝚎𝚔𝚊𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚜𝚝𝚊𝚝𝚞𝚜𝚗𝚢𝚊 𝚋𝚎𝚍𝚊. 𝙳𝚒𝚊 𝚌𝚎𝚠𝚎𝚔 𝚐𝚞𝚊. Batin Vanno tersenyum manis ke arah Vanya yang menyembunyikan wajahnya di dada Vanno.


“Van, kita kan di hukum barengan! ” teriak William dengan wajah berkeringat.


“Tau tuh, cuma modal ngusir ondel-ondel aja, gue juga bisa! ” gerutu Cello sambil membuka seragamnya.


“Gue mau ngantin, bye! Capek gue! ” Cello berjalan meninggalkan kedua sahabat nya.


“Perasaan dia sama Vanno nggak ngapa ngapain deh. Cuma numpang ngaca sama buat 𝚜𝚗𝚊𝚙𝚐𝚛𝚊𝚖 aja kok capek? ”


Pertanyaan polos itu keluar dari mulut William. Deo yang melihat wajah cengo William langsung tertawa terpingkal pingkal.


“Parah! Lucuan lo daripada Raditya Dika, ” tawa Deo pecah seketika. William hanya menatap bingung.