
Sejak tadi Vanno dan Vanya yang berada di dalam kamar inap Vanya hanya saling diam. Tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun.
Kecanggungan antara mereka membuat jam seakan-akan berhenti berputar. Waktu yang mereka rasakan terkesan lama sekali.
"Vanya?" panggil Vanno dengan tidak mengalihkan pandangannya dari gadis yang berada di hadapannya itu.
"Iya?" Jawab Vanya lirih. Mengingat Vanno tertawa dengan perempuan lain membuat hatinya sakit, apalagi orang itu ada di sini bersama dengan Vanno. Ya, walaupun dia tidak di dalam kamar
" Kenapa bisa kayak gini?" Tanya Vanno menatap gadis yang terkulai lemah di hadapannya.
"Enggak kenapa-kenapa, cuma sesak nafas aja," kata Vanya.
Gue kok ngerasa ada yang di tutup-tutupi ya? pikir Vanno.
"Bener?"
"Iya, kak."
Vanno menghela nafasnya, dia tidak bisa memaksa Vanya untuk jujur padanya mengingat gadis itu baru saja sadar. Dia tidak mau terjadi hal yang tidak di inginkan lagi pada Vanya.
"Ya udah kamu istirahat dulu aja, aku jagain kamu di sini," Ucap Vanno sambil mengelus kepala Vanya dengan sayang.
Saat Vanno hendak beranjak dari kursi yang ia duduki, dengan cepat Vanya menahan pergelangan tangan Vanno. Hal itu membuat Vanno menolehkan kepalanya ke arah gadis itu.
"Aku mau bicara sama kakak," Ucap Vanya.
Vanno menaikkan sebelah alisnya bingung. " Mau bicara apa?" Tanya Vanno.
"Kakak duduk lagi," pinta Vanya menunjuk kursi yang tadi di duduki laki-laki itu dengan pandangan matanya.
Vanno menuruti ucapan Vanya yang membuatnya bingung.
Entah kenapa saat Vanya menatap dirinya, darahnya berdesir seakan-akan Vanya tidak boleh menatap siapa pun seperti itu, hanya khusus kepada dirinya.
"Kenapa, sayang?" Tanya Vanno lembut.
"Aku mau bilang sesuatu sama kamu, tapi aku mohon kamu janji jangan marah ya?" pinta Vanya menatap laki-laki di depannya itu dengan penuh harap.
"Maksudnya?" Vanno mengerutkan dahinya bingung. Dia sungguh tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Vanya.
"Kakak janji dulu jangan marah?" Vanya mengulangi ucapannya tadi.
"Tergantung. "
Vanya menghela nafasnya, mau berdebat sampai kapan pun dengan cowok di hadapannya itu, dia tidak akan bisa menang.
Sekali lagi Vanya menarik nafasnya dalam-dalam , setelah itu dia menghembuskannya secara perlahan. Matanya terpejam mengingat beberapa kenangannya dengan lelaki itu.
Vanno semakin bingung dengan apa yang dilakukan kekasih nya itu,
"Vanya kam—" ucapan Vanno terhenti ketika Vanya memotongnya.
" Aku mau putus," pelan tapi tajam. Vanya terdengar seperti menahan suaranya yang bergetar.
Vanno yang mendengarnya pun menatap Vanya tajam, dia merasa wajahnya mengeras, tubuhnya menegang, buku-buku tangannya memutih karena dua menahan marah saat kalimat laknat itu keluar dari mulut seseorang yang telah dia cintai itu.
"Kamu nggak serius, kan?" Tanya Vanno.
"Lebih dari serius. Pintu keluar ada di samping Kakak. Kakak bisa keluar." Ucap Vanya yang setelah itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tidak ingin Vanno melihatnya lemah.
"Tapi kenapa kamu minta putus? Apa aku punya salah sama kamu? Bilang kalau iya. Jangan kamu sembunyiin!" bentak Vanno.
Mendapat bentakan itu, Vanya menatap Vanno dengan air mata di pelupuk matanya. Penglihatannya menjadi buram. Vanya menahan mati-matian supaya air matanya tidak jatuh di hadapan Vanno. Dia tidak ingin dilihat lemah oleh laki-laki itu.
"Keluar!"
"Apa salah aku? Kalau kamu bisa jelasin aku bakal iyain kemauan kamu!" tantang Vanno.
Vanya menghindari pandangan Vanno, kemudian dia menarik nafasnya. "Aku udah nggak cinta lagi sama kamu!" jawaban itu keluar bersamaan dengan embusan nafas Vanya.
"Oh, karena Daren?"
Vanya langsung menatap Vanno dengan mata memicing.
"Ini nggak ada hubungannya sama Daren! Dia itu cuma temen," Jawab Vanya tidak terima karena Vanno menuduhnya bahwa dia menyukai Daren. Padahal perasaan Vanya kini semakin besar terhadap laki-laki itu.
Alasan Vanya memutuskan Vanno itu karena dia mendengar bahwa Vanno bertahan dengannya itu karena penyakit yang dia derita. Padahal sia hanya sakit sesak nafas. Apakah itu penyakit yang mematikan? Seakan-akan umurnya tidak lama lagi, dan dengan gentle-nya Vanno akan selalu ada di sampingnya. Mulai sekarang, dia tidak mau jatuh terlalu dalam kepada Vanno, karena semakin lama terjebak dalam yang namanya cinta, maka semakin sakit juga dirinya saat melepaskan.
"Kalau itu emang keinginan kamu, oke, kita putus!" Setelah itu Vanno benar-benar pergi dari hadapan Vanya.
Vanya menatap punggung laki-laki itu dengan bahu yang bergetar. Dia menangis, kenapa mudah sekali Vanno mengiyakan? Mungkin memang dia sudah tidak mencintainya lagi, atau bahkan benar yang dikatakan oleh Ikky dulu, bahwa Vanno hanya menjadikannya pelarian saja.
Aku mau kamu mertahanin aku.
"Apa ini yang terbaik?" isak Vanya.
...****************...
Malam harinya Vanno berdiri di balkon kamar dengan bertelanjang dada. kegemaran Vanno saat malam hari memang seperti itu, alasannya supaya tidak gerah saat dia tidur, padahal AC kamarnya tidak pernah dimatikan.
"Masa mereka berdua selingkuh? Vanya itu tipe cewek setia," gumam Vanno. "Aghhh! Kenapa sih, ada masalah lagi saat satu masalah udah selesai?" Vanno mengacak - acak rambutnya dengan tangan.
Laki-laki itu sangat bingung, apa yang harus dua lakukan? Saat dia sudah memilih masa depan dan tujuan hidupnya, gadis itu malah meminta putus darinya. Apakah dia salah dalam pilihannya? Apakah seharusnya dia tetap bersama Darra? Dan melupakan Vanya? Semua itu terlalu sulit ketika adik kelasnya itu tanpa seizinnya telah mencuri hatinya.
Tok,tok,tok
Suara ketukan dari luar membuyarkan lamunan Vanno, tatapan laki-laki itu beralih ke arah pintu kamarnya, tampak disana Kiran berdiri dengan wajah masamnya. Hal itu jelas membuat Vanno mengerutkan dahinya bingung.
"Mama kenapa?" Tanya Vanno.
"Tuh, ada trio cacing," Ucap Kiran malas.
"Siapa?"
"Ya temen kamu lah," Jawab Kiran.
"Siapa?"
"Ih, kamu ya, ya siapa lagi?" Tanya Kiran dengan lebih sebal.
"Hallo, ketua suku!" teriak Cello menampilkan cengiran andalannya.
"Eh, kita ketemu lagi, Tan. Jangan-jangan kita jo—" Ucapan Cello terhenti karena semua tatapan terarah kepada laki-laki itu, kecuali Vanno.
"Kita jomblo! HAHAHAHA," tawa Cello meledak, membuat mereka yang semula menampilkan wajah serius menjadi datar dengan menatap Cello yang tertawa garing.
"Receh," desis semuanya.
Cello kaget mendengar respon tersebut. "Fix, lebih horor dari pada teletubbies!"
"Gue putus sama Vanya, " Ucap Vanno setelah semua sahabatnya berkumpul.
Seperti dejavu, Deo yang tengah meminum jus mangga yang di buat Kiran hampir saja menyembur Cello yang berada di depannya. Tapi Cello dengan cepat langsung mencegah Deo.
"Sampai lo nyembur gue lagi. Gue penggal pala lo!" ketus Cello.
"Nggak seru lo!" Deo mencibir.
"Bodo amat, bisa kesemutan nanti lo nyembur gue!" Ucap Cello.
" Ya itu tandanya lo manis! Gimana sih?" Timpal William .
"Serah lo,lah."
Cello mengalihkan pandangannya dari dua manusia itu ke arah Vanno. "Kenapa putus sama Vanya?" tanyanya.
"Dia udah nggak suka sama gue," Jawab Vanno sambil mengangkat bahunya tak acuh. Memang sih, responnya seperti tidak peduli, padahal sejujurnya dia menahan amarahnya, dia sangat penasaran kenapa pacarnya bisa berubah seperti itu.
" Ngaco deh lo, orang Vanya cinta mati gitu sama lo," Jawab Cello.
"Jangan sok tau lo, Cell. Gue aja pacarnya nggak segitunya sok tahu," cibir Vanno.
"Ralat Van. mantan pacarnya," koreksi William.
Deo yang ingin tertawa langsung membekap mulutnya saat dia melihat kalau William telah mendapat tatapan membunuh dari Vanno. Ingin rasanya Deo izin keluar untuk melepaskan tawanya.
"Mukanya William pengen gue tabok pakek pancinya nyokap lo yang gosong, deh!" celetuk Cello.
Setelah tawar dari ketiga orang itu berhenti, Deo menegakkan badannya untuk memberi pengertian kepada Vanno.
"Jangan ambil kesimpulan sendiri, siapa tahu ada hal lain yang membuat Vanya menghindar dan memutuskan buat jauh dari lo," tutur Deo. Deo memang pakarnya nasihat, selain mempunyai kata bijak, penasihat yang baik, pendengar yang selalu setia, dia juga bermulut pedas. Deo sampai dijuluki dengan sebutan King of the killing with a greeting dimana pun berada.
"Ingat Van, lo itu bukan tuhan yang bisa tahu perasaan setiap manusia. Jadi saran gue mending lo cari tahu dulu kebenarannya, " lanjut Deo.
"WAW."
"Setuju."
"Mantap, Bos."
"Deo aku like sama kamu." goda Cello.
"Jijik!" semprot Deo.
Vanno terdiam sejenak, apa yang diucapkan Deo tadi ada benarnya juga. Dia tidak boleh egois, dia harus mencari tahu apa penyebab Vanya memutuskannya dengan sebab yang tidak jelas.
Untungnya punya temen penasihat, Pikir Vanno.
...****************...
Jangan lupa like+Votmen yaaa.
agar Author lebih semangat dalam up nya😊.
jujur gara² jarang upload dan update. gua jadi lupa nama panjang Vanno, lupa juga nama bapak nya siapa 😊🙂.
kalau ada yang tau, silahkan komen ya, gua malas baca ulang 😞