My Future Is You?

My Future Is You?
37. [ S2 ] Aku Tidak Pengecut Seperti Kamu!



.


.


Setelah menempuh perjalanan yang begitu amat melelahkan akhirnya pesawat yang dinaikinya mendarat dengan selamat dibandara international soetta,dia lalu berjalan keluar menelusuri pintu exit pesawat kemudian menuju tempat pengambilan bagasi. Dia lalu merogoh ponsel yang ada disaku celana nya,dan langsung men dial nomor seseorang yang sudah berada diairport untuk menjemputnya. Dia menunggu sesaat sampai panggilan terhubung.


"Hello?" Terdengar suara seseorang diujung telepon.


"Hei bro, where are you?" sahut dia dengan tersenyum ketika mendengar suara sahabatnya.


"Hei broo, gue di starbucks,lo udah kelar gue tunggu lo disini yah!" Ucap sahabatnya sambil menyeruput coffee yang dipesan.


Dia lalu mematikan sambungan telepon nya. Dan mengambil luggage bawaan nya,ditarik sebuah troli lalu menaruhnya semua barang bawaan nya. Dia lalu mendorong troli dan berjalan menuju sebuah Starbucks tempat dimana sahabatnya tengah menunggu. Setelah sampai didepan coffee shop dia memiringkan sedikit kepalanya,untuk memastikan laki-laki dengan shirt putih yang tengah membaca koran dan secangkir kopi ditangannya apakah dia sosok sahabatnya yang tengah ia cari. Lama memperhatikan sosok itu sampai pada akhirnya laki-laki itu mengangkat kepalanya,meskipun tidak menoleh kearah nya,tapi dia paham kalo itu sosok sahabatnya. Dia lalu menepikan troli yang ia bawa kemudian menghampiri sahabatnya itu.


Sahabatnya kaget ketika melihat sesosok laki-laki berhenti didepan nya dia lalu mendongakan kepalanya, spontan mereka tertawa lalu berjabat tangan dan berpelukan.


"Gilaa lo bro keren banget sekarang." Ucap sahabatnya sambil geleng-geleng kepala.


"Lo bisa aja,thanks ya udah mau jemput gue."


sahabatnya itu masih memperhatikan dirinya dari atas sampai kebawah,maklum hampir 6 tahun lebih mereka tidak pernah bertemu,paling cuma lewat chat.


"Eh lo mau pesen sesuatu gak sebelum cabut?" ucap sahabatnya itu.


"Nggak usah kita cabut aja sekarang!" mereka berdua lalu berjalan menuju tempat parkir. Obrolan demi obrolan terurai dari bibir kedua nya rasa kangen yang telah lama terpendam kini sudah menyeruak setelah pertemuan itu.


Mereka adalah Andra dan Reinard sepasang sahabat sejak mereka sekolah dibangku SMP,namun sejak mereka lulus SMA mereka berpisah kalo Andra meneruskan kuliahnya di New York, sedangkan Reinard di Paris. Bukan kampus didalam negeri nggak bagus, tapi mereka meneruskan kuliah diluar negeri karena ingin mengejar cita-cita mereka. Andra yang ingin menjadi chef handal makanya dia sampai ke New York sedangkan Reinard memilih Paris untuk membawa dirinya menjadi seorang chef. Iya keduanya memiliki cita-cita yang sama yaitu jadi chef,dan cita-cita itu sudah mereka raih hanya saja Reinard belum sesukses Andra yang sudah mempunyai cafe sendiri dan mempunyai 5 cabang di ibukota, setelah lulus kuliah Reinard hanya bekerja disebuah cafe di Paris, dan kembalinya dia ke Jakarta juga akan bekerja dicafe Andra.


"Bro..apa kabar nya Vanya?" Tanya Reinard kepada Andra. Dia yang sedang fokus membawa mobilnya sedikit kaget. Nama itu sudah lama tidak terdengar sejak kepergianya ke New York.


Maksud lo Vanya Callista?" jelas Andra sambil melirik Reinard.


Lalu Rei menganggukan kepalanya.


"Sejak hari kelulusan itu aku udah gk pernah ketemu dia, tapi denger-denger dia nerusin kuliahnya di nanyang Rei."


"Hah? Nanyang singapore maksud lo ndra? terus sekarang dia dimana?


Andra hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya.


Dulu waktu mereka satu Universitas mereka adalah 3 serangkai, mereka selalu bersama saat suka atau duka. Tapi sejak di pertengahan tahun mereka berpisah  sampai sekarang belum menemukan Vanya. Dulu waktu mereka berdua akan kuliah diluar negeri tidak ada satupun diantara mereka yang pamit kepada Vanya, keduanya pergi begitu saja, bukan karena ada masalah, tapi mereka tidak mau melihat sahabatnya sedih karena perpisahan itu.


Setelah menempuh jalanan yang sangat padat akhirnya mereka sampai di "Hanandra's cafe".


Iya cafe itu adalah milik Andra, kedua pria itu turun dari mobil  lalu masuk kedalam cafe, pengunjung cafe yang tengah menikmati makanannya seolah terpanah melihat kedatang Reinard sebagai orang baru yg belum pernah mereka lihat. Siapa yang nggak terkesima coba melihat sosok Reinard.


Rei dan Andra memasuki sebuah ruangan yang diketahui adalah ruang kerja Andra, nampak seorang wanita cantik tengah duduk fokus kesebuah laptop di depan nya, wanita itu adalah Hanna istri Andra mereka menikah beberapa bulan yang lalu.


"Sayangg..." Ucap Andra lalu menghampiri istrinya.


Hanna yang tadi sangat fokus, dia berdiri ketika melihat Reinard yang sudah ada didepan nya.


"Sayang itu beneran Rei?" tanya Hanna memastikan.


Andra yang mendengar pertanyaan dari istrinya menganggukan kepalanya. Hanna lalu mendekati Reinard dan berjabat tangan.


"Rei, lo keren banget sekarang pantes aja gk mau pulang keindonesia." goda Hanna.


Mendengar kata-kata Hanna, Reinard terkekeh.


"Eh lo kan anak ingusan kemarin sore,sekarang lo udah jadi istri sahabat gue?" celetuk Reinard mengingatkan dulu waktu sekolah mereka yang selalu menjadikan Hanna bahan bullyan.


"iya, gue juga gak tahu Rei kenapa bisa suka ama tu cewe, padahal dulu kita kan suka bully dia." sahut Andra dengan senyumannya.


Mendengar ucapan Rei dan suaminya Hanna merasa kesal dia mengerucutkan bibir nya lalu mencubit lengan kedua lelaki itu.


Suasana terasa begitu hangat dengan obrolan yang mengingatkan masa-masa mereka dulu. Masa dimana mereka mengenakan seragam putih abu-abu. Mereka yang selalu mem-bully Hanna, karena Hanna selalu berbahasa indonesia medok, maklum Hanna bukan asli dari jakarta dia berasal dari yogya hanya saja ayahnya ditugaskan ke jakarta dan sampai membawa keluarga nya ke Jakarta juga. Disaat kedua laki-laki itu meneruskan kuliahnya keluar negeri Hanna hanya masuk ke Universitas ternama di yogya yaitu UGM(universitas gajah mada).


………


****************


.


.


Luka dihatinya masih basah kesedihan juga masih tersirat jelas diwajah cantiknya, dia kembali bekerja seperti biasanya meski terkadang suka melamun tapi kali ini dia mencoba untuk profesional. Dion yang mengetahui berakhirnya hubungan Vanya dan Vanno selalu berusaha untuk menghibur Vanya, dari mulai mengantar dia pulang atau hanya sekedar makan siang.


Dion adalah bos sekaligus pria tampan yang di jodohkan dengan Vanya oleh papanya. Tapi Dion yang waktu itu mengetahui kalo Vanya sudah punya kekasih mencoba untuk menerima dan tidak memaksa Vanya untuk meninggalkan kekasihnya untuk dirinya. Sedangkan Vanya yang keras kepala dia membantah perjodohan itu, bahkan sempat terjadi pertengkaran diantara ayah dan anaknya itu. Dan Vanno yang berstatus kekasih Vanya dia tidak pernah tau akan masalah itu, yang Vanno tau orang tua Vanya menerima dia dengan baik. Padahal dibalik semua itu ada Vanya yang berkorban untuk dirinya, kini disaat dia sudah mengorbankan segalanya dan menjadi anak durhaka kini lelaki yang ia perjuangkan justru meninggalkan Vanya tanpa tahu seberapa sakit yang Vanya rasakan. Laki-laki yang dulu sangat ia cintai, kini sebaliknya, Vanya bahkan tidak mau melihat wajah laki-laki itu lagi. Semua kenangan tentang Vanno sudah dia kubur dalam-dalam meski belum sepenuhnya, tapi Vanya berjanji untuk tidak mengingat laki-laki itu.


Vanya yang biasanya pergi kekantor membawa mobil sendiri, tadi pagi papanya berkutat ingin mengantar Vanya. Perbincangan kedekatan Vanya dengan Dion pun tersebar disetiap corner tempat kerjanya, mungkin tidak banyak yang tau tentang perjodohan Vanya dan juga Dion.


Dion membawa mobil fortune hitamnya membelah jalanan yang macet, perbincangan diantara mereka jarang terjadi, Vanya yang selalu memilih diam tapi terkadang Dion yang selalu berusaha memecahkan keheningan.


"Dion nanti kamu turunin aku di gang depan rumah aja yah!" Ucap Vanya sebelum Dion mengantarnya sampai kerumah.


"Tapi Van, kan cuma tinggal dikit doang masa turun ditengah jalan?" Protes Dion dengan permintaan Vanya.


"Gak apa-apa kok, kasihan kamu udah kesorean, kalo aku turun di gang, kamu kan gak usah muter balik."


Dion hanya menganggukan kepalanya menyetujui pernyataan Vanya.


Setelah hampir 45 menit Dion sampai didepan gang yg Vanya maksud, Vanya melepas seatbelt yang masih menempel dibadanya lalu turun dari mobil Dion.


Dion memperhatikan langkah Vanya tapi ditengah-tengah langkah Vanya, Dion melihat seorang pria dengan setelan kemeja rapi seolah tengah menunggu Vanya. Dion masih belum pergi dan tetap memperhatikan apa yang terjadi dengan Vanya. Vanya yang seolah ingin menghindar dari pria itu tapi pria itu menahan lengan Vanya sampai pada akhirnya Dion memutuskan untuk turun karena merasa khawatir.


Vanno? Batin Dion setelah ada dibelakang Vanya


Dion lalu menepis tangan Vanno lalu menarik tangan Vanya sampai Vanya berada disamping nya.


"Anda siapa? Saya tengah berbicara dengan Vanya." Ucap Vanno.


"Saya calon suami Vanya, anda siapa berani pegang-pegang tangan Vanya?" Ucap Dion sambil melingkarkan tangan nya kepinggang Vanya.


"Suami? Apa maksudnya Van? Apa benar dia calon suami kamu? Tanya Vanno penuh penekanan.


Vanya masih mengamati wajah Dion yang begitu tenang dia lalu memandang wajah Vanno yang seolah mengisyaratkan kekecewaan.


"Jawab Van, apa benar dia calon suami kamu?" kini suara Vanno mulai meninggi.


"Iya, dia calon suami aku,kenapa kamu nggak terima? Sulut Vanya dengan suara marau.


Mata Vanya seakan memanas tapi dia berusaha untuk tidak meneteskan air matanya untuk laki-laki itu.


"Jadi selama kita pacaran kamu sudah berhubungan dengan laki-laki ini Van?"


Vanya menyulutkan semua emosinya, ditatap mata Vanno dengan lekat, air mata yang sejak tadi Vanya tahan serasa tidak betah berada disana.


"Kamu denger baik-baik ya Vanno Crishstian, dia adalah laki-laki yang udah papa aku jodohkan sama aku sejak aku masuk ke Universitas, tapi aku,aku tidak pengecut seperti kamu yang hanya bisa tunduk dengan perintah mama kamu, aku sudah berani membangkang sama papa aku atas perjodohan itu. Cuma buat siapa? Kamu Vann, laki-laki yang benar-benar aku percayai tidak akan pernah mematahkan hati aku, tapi apa balesan kamu? Kamu tidak pernah melihat perjuanganku mempertahankan hubungan kita dan kamu sudah mematahkan kepercayaan itu, aku juga udah nggak mau lihat muka kamu lagi Vanno, karena sekarang semuanya sudah berakhir dan aku lebih memilih dia daripada KAMUU!" Ucap Vanya sambil mendorong tubuh Vanno.


Vanya menarik tangan dion lalu pergi meninggalkanan Vanno seorang diri.


Vanno masih berdiri mematung melihat kepergian Vanya dengan lelaki pilihan nya itu. Hati Vanno begitu hancur saat mendengar ucapan Vanya, tapi itu tidak sebanding dengan luka yang Vanya alami. Setelah Vanno tidak melihat sosok dua orang itu, dengan langkah yang lunglai dia berjalan meninggalkan lorong itu. Hatinya masih belum terima tapi itu lah kenyataannya.


Dion dan Vanya sudah berada didalan rumah nya, Niken yang tengah duduk santai diteras menyambut kedatangan mereka berdua.


"Mah." Ucap Vanya lemas.


Niken sedikit mengernyitkan dahi melihat wajah putrinya begitu lesu.


Dion makasih yah udah mau nganterin, aku masuk duluan yah."


Vanya lalu berjalan menuju kamarnya, setiap langkah anak tangga ia lalui dengan begitu berat, dengan mengingat kejadian tadi.


"Dion ada apa dengan Vanya kok mukanya lesu kaya gitu?" Tanya Niken kepada Dion.


"Gak apa-apa kok tante, tadi cuma ada sedikit problem di gang depan." Jelas Dion kepada Niken.


Problem apa Dion? Kok sampe Vanya murung kayak gitu."


"Vanno, tadi dia menemui Vanya tante."


Mendengar kata-kata Dion barusan Niken mengerti keadaan putrinya, wanita mana yang tidak sakit hati jika lelaki yang dulu menjadi alasan untuk tersenyum kini malah sebaliknya.


Niken menuju kamar Vanya, diketuknya daun pintu itu untuk memastikan putrinya baik-baik saja, sejak putus dengan Vanno dia sering mengurungkan diri dikamarnya, bahkan keceriaan yang ada pada diri Vanya tidak terlihat lagi.


"Sayang...Kamu nggak apa-apa? Buka pintu nya sayang!" Terdengar suara Niken dibalik pintu kamarnya.


Vanya yang tidak mau membuat mamanya khawatir pun bangun dari tempat tidurnya lalu membuka pintu kamarnya.


"Hei, kamu kenapa sih kok lesu gitu? Kalo ada masalah cerita dong sama mama." ucap Niken seraya membelai rambut putrinya.


"Vanya nggak apa-apa kok mah, Vanya cuma kecapeaan aja."


"Sayang kamu nggak boleh kayak gini terus, kamu buktiin sama Vanno kalo kamu bisa bahagia walau tanpa dia. Tadi dia nemuin kamu kan?"


Vanya tidak menjawab dia menatap mamanya sendu, rasanya dia ingin memeluk mamanya dan menangis didekapan nya.