
~Terima aku atau aku akan pergi~
.
.
.
.
Setelah pertemuanya dengan Vanya, hari minggu ini Reinard dan Andra sepakat untuk datang kerumah oma Anita untuk memastikan apa dia masih tinggal disana. Rumah itu adalah rumah dimana dulu mereka selalu menghabiskan waktu setelah pulang sekolah atau hari libur, karena Vanya dulu hanya tinggal berdua dengan omanya jadi dia sering banget mengundang mereka untuk datang.
"Ndra, lo masih inget kan alamat rumah oma?" Cetus Reinard sebelum memandu mobilnya.
"Iya, udah gue setting gps nya lo tinggal ngikutin aja!" Jawan Andra.
Mereka lalu menuju kealamat rumah Anita.
Reinard membawa mobilnya dengan laju, dia seolah ingin cepat sampai kerumah itu dan bertemu dengan Vanya. Jalanan yang hari itu lumayan lengah membuat Reinard semakin menjadi memandu mobilnya.
"Rei, kalau Vanya bisa maafin lo, apa yang bakal lo lakuin?" Celetuk Andra membuyarkan konsentrasi Reinard.
"Gue rasa gue cuma nunggu keputusan Vanya ndra, karena gue udah nulisin sepucuk surat buat dia sebelum berangkat keparis."
"Surat? Surat apaan Rei?" Tanya Andra kebingungan.
"Mungkin ini nggak boleh terjadi diantra kita ndra, tapi gue sudah memilikinya, dan gue nggak bisa bohobgin perasaan gue kalo gue cinta sama dia sejak kuliah dulu ndra."
Andra kaget begitu mendengar pengakuan Reinard.
"Pantas aja selama kita bareng gue selalu menangkap sinyal yang berbeda dari sorot mata lo bro, semoga cinta lo gak bertepuk sebelah tangan ya Rei." Ucap Andra memberi semangat.
Dulu waktu mereka masih satu Universitas, Reinard berperan layaknya sebagai malaikat dihidup Vanya, dia selalu menomor satu kan Vanya daripada dirinya, Vanya yang selalu manja sama Reinard membuat dia salah mengartikan. Tiada hari Vanya lewatin tanpa Reinard disamping nya bahkan mereka selalu pergi kuliah berdua menaiki motor, kadang Reinard sampai menginap dirumah Anita kalau lagi libur sekolah. Anita juga sudah menganggap mereka seperti cucu nya sendiri, bahkan kalau mereka lama tidak ngumpul dirumahnya Anita selalu menanyakan mereka kepada Vanya.
~
Kini mobil yang mereka naiki sudah berada didepan rumah yang besar namun terlihat sedikit tua, rumah itu tidak asing bagi mereka berdua.
"Ini rumah nya ndra bener, ayo kita turun!" Ucap Reinard sambil menanggalkan seatbelt nya.
Dia lalu memencet tombol bell yang ada dipojok pintu gerbang, sesaat kemudian sosok laki-laki tua yang dulu mereka kenal masih gagah membukakan pintu untuk mereka.
Mata Reinard dan Andra melebar ketika melihat pak darmo masih setia bekerja dengan Anita.
"Pak darmo." Ucap Reinard kaget.
Pak darmo pun ikut kaget ketika melihat sosok bocah yang dulu nakalnya gak ketulungan ada didepannya.
"Reinard sama Andra kan!" Seru pak Darmo.
Keduanya lalu memeluk laki-laki itu bergantian.
"Oma ada pak?" Tanya Reinard mempersingkat waktu.
"Ada mari masuk!" Setelah pak Darmo mempersilahkan masuk mereka langsung melangkahkan kakinya kedalam rumah itu.
Diketuknya daun pintu sebelum seorang nenek tua datang membukakan pintu. Wajah nya masih terlihat cantik meski sudah dimakan usia yang senja.
Anita yang masih mengumpulkan ingatan nya untuk mengingat sosok itu tercengang sesaat.
"Oma, ini Reinard sama Andra yang dulu sering main dirumah oma." Jelas Andra mengingatkan Anita.
Kalian sahabatnya Vanya kn? Yaa ampunn kalian udah besar ganteng." Ucap Anita sambil meletakan kedua tangannya ke pipi Reinard dan Andra.
"Mari masuk! Kalian lama banget nggak pernah main kerumah oma."
"Iya oma, kita dateng kesini juga karena mau ketemu oma sama Vanya, Vanya nya ada kan oma?" Tanya Reinard.
"Vanya nya baru aja dia pulang kebandung tadi pagi, apa kalian nggak kasih tau Vanya kalo mau dateng?"
Keduanya saling bertatapan, seolah bertukar pikiran.
"Niatnya sih mau bikin surprise Vanya, oma, tapi malah gagal." kali ini Andra yang bersuara, wajah Reinard semakin memucat karena tidak bisa bertemu dengan Vanya.
"Oma, bisa minta no hp atau alamat rumah Vanya yang dibandung?" Tanya Andra.
"Sebentar ya, oma ambilin kartu nama Vanya aja." Anita lalu pergi mengambil kotak yang berisi kartu Vanya.
"Ini kartu nama Vanya, ada no hp nya, kalo rumah nya masih yang dulu kok kalian dulu sering kesana kan?" Ucap Anita sambil memberi kartu itu.
"Makasih ya oma, nanti kalo kita free pasti main ke bandung." Ucap Reinard.
"Kerumah oma, nggak mau main juga? Kalian udah menikah apa belum?" Tanya Anita kepada Reinard dan Andra.
"Andra sudah oma, tapi Reinard belum, nggak tau nungguin apaan udah tua juga." Ledek Andra.
Kalau Vanya udah belum oma?" Tanya Reinard ragu.
"Vanya juga belum, tapi katanya sih papa nya udah jodohin dia." Ucap Anita datar.
Reinard yang sedang asik membolak balikan kartu nama Vanya, menjadi kaget, kartu nama yang sedang dia pegang jatuh, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat setelah mendengar ucapan Anita.
Andra yang mengetahui perubahan mimik wajah Reinard hanya menunduk sambil memijat keningnya yang tidak pusing itu.
Entah apa maksud dari semuanya apa benar Vanya bakal menerima perjodohan itu, lalu apa ini adil buat Reinard yang sudah mencintai Vanya terlebih dahulu.
~
Setelah mendapatkan info tentang Vanya, Andra dan Reinard pamit pulang, wajah Reinard nampak lesu dan sepertinya harapan itu akan sia-sia.
"Rei...are you ok?" Tanya Andra sambil menyetir.
Reinard tidak merespon pandangan nya kosong kearah luar jendela.
"Gue tau Rei, ini sulit buat lo, tapi lo gak boleh putus asa kayak gitu, next weekend kita kebandung ya!"
"Nggak perlu ndra, semuanya udah jelas mungkin memang ini kesalahan gue dan ini balasan atas apa yang udah gue lakuin sama Vanya."
"Tapi lo pergi karena sebuah alasan Rei, dan Vanya nggak berhak memusuhi lo sampai kayak gini, lo coba telpon dia, lo ngomong baik-baik sama dia, gue yakin Vanya nggak sekejam itu Rei." Ucap Andra menyemangatkan Reinard.
Tapi lagi-lagi Reinard hanya menghembuskan nafas pasrahnya.
Andai dia tau kalo kepergiannya hanya akan membuat dia kehilangan Vanya untuk selamanya, mungkin Reinard tidak akan pernah melakukan itu, tapi itu semua sudah terjadi dan waktu tidak bisa untuk diputar kembali. Apa yang sudah terjadi hanya tinggal kenangan dan kesempatan untuk memiliki wanita itu semakin jauh dari genggamannya.