My Future Is You?

My Future Is You?
06. “Diam - diam kamu perhatian.” ll



𝚆𝚑𝚢 𝚌𝚊𝚗'𝚝 𝚢𝚘𝚞 𝚑𝚘𝚕𝚍 𝚖𝚎 𝚒𝚗 𝚝𝚑𝚎 𝚜𝚝𝚛𝚎𝚎𝚝?


𝚆𝚑𝚢 𝚌𝚊𝚗'𝚝 𝙸 𝚔𝚒𝚜𝚜 𝚢𝚘𝚞 𝚘𝚗 𝚝𝚑𝚎 𝚍𝚊𝚗𝚌𝚎 𝚏𝚕𝚘𝚘𝚛?


𝙸 𝚠𝚒𝚜𝚑 𝚝𝚑𝚊𝚝 𝚒𝚝 𝚌𝚘𝚞𝚕𝚍 𝚋𝚎 𝚕𝚒𝚔𝚎 𝚝𝚑𝚊𝚝


𝚆𝚑𝚢 𝚌𝚊𝚗'𝚝 𝚠𝚎 𝚋𝚎 𝚕𝚒𝚔𝚎 𝚝𝚑𝚊𝚝?


𝙲𝚊𝚞𝚜𝚎 𝙸'𝚖 𝚢𝚘𝚞𝚛𝚜


Vanya kemudian menyanyikan bagian 𝚛𝚎𝚏𝚏 lagu itu sambil memandang ke arah tempat duduknya. Tatapan matanya tidak sengaja jatuh ke arah laki-laki yang sejak tadi sedang menatap nya, Vanno.


𝚆𝚑𝚢 𝚌𝚊𝚗'𝚝 𝙸 𝚜𝚊𝚢 𝚝𝚑𝚊𝚝 𝙸'𝚖 𝚒𝚗 𝚕𝚘𝚟𝚎?


𝙸 𝚠𝚊𝚗𝚗𝚊 𝚜𝚑𝚘𝚞𝚝 𝚒𝚝 𝚏𝚛𝚘𝚖 𝚝𝚑𝚎 𝚛𝚘𝚘𝚏𝚝𝚘𝚙


𝙸 𝚠𝚒𝚜𝚑 𝚝𝚑𝚊𝚝 𝚒𝚝 𝚌𝚘𝚞𝚕𝚍 𝚋𝚎 𝚕𝚒𝚔𝚎 𝚝𝚑𝚊𝚝


𝚆𝚑𝚢 𝚌𝚊𝚗'𝚝 𝚠𝚎 𝚋𝚎 𝚕𝚒𝚔𝚎 𝚝𝚑𝚊𝚝?


𝙲𝚊𝚞𝚜𝚎 𝙸'𝚖 𝚢𝚘𝚞𝚛𝚜


𝚆𝚑𝚢 𝚌𝚊𝚗'𝚝 𝚠𝚎 𝚋𝚎 𝚕𝚒𝚔𝚎 𝚝𝚑𝚊𝚝?


𝚆𝚒𝚜𝚑 𝚠𝚎 𝚌𝚘𝚞𝚕𝚍 𝚋𝚎 𝚕𝚒𝚔𝚎 𝚝𝚑𝚊𝚝.


Vanya menyudahi lagu itu dengan senyumnya, tepuk tangan yang sangat riuh terdengar, membuat nya senang, berarti orang-orang menyukai penampilan nya kali ini. Dia melihat Nata yang mengacungkan kedua jempol ke arah nya, hal itu membuat Vanya tersenyum lagi. Vanno yang sejak tadi memperhatikan Vanya pun tidak sadar ikut tersenyum.


“Kalau gue belum punya pacar pasti dia udah gue gebet, ” goda pewara laki-laki yang sejak tadi hanya menatap ke satu titik di mana Vanya berada.


“Awas nanti ada yang cemburu, ” sindir sang pewara perempuan.


Vanya hanya terkekeh sebagai jawaban.


“Oke, kalau gitu, 𝚝𝚑𝚊𝚗𝚔𝚜 𝚢𝚘𝚞 Vanya. Suara dan permainan piano kamu bagus! ”


“Sama - sama, kak. ”


“Kamu boleh kembali ke tempat duduk, ” katanya.


Vanya mengangguk, lalu dengan perlahan dia menuruni anak tangga panggung aula dan kembali ke tempat duduknya.


“Minggir! ” Vanya berkata dengan ketus.


“Biasa aja dong! ” jawab Vanno tak kalah ketus, kemudian meninggalkan Vanya yang sekarang duduk dengan manisnya.


“Gila, Vanya! Suara lo bagus parah! Apalagi lo main piano! Lo tahu nggak kalau kak Vanno tuh dari tadi merhatiin lo? ” Tiba-tiba Dania menghampiri nya dengan berbagai macam kalimat yang ia lontarkan.


“Sumpah! Dia tuh lihatin lo nggak kedip, ” celoteh Dania.


“Gosip aja lo berdua! ” cibir Nata yang kemudian pergi dari hadapan mereka berdua.


“Siapa sih, dia? ” tanya Dania.


Vanya mengangkat bahunya tak acuh. “Gak tahu. ”


Di tempat lain tepatnya di ruang OSIS, Vanno menyandarkan punggung nya di sandaran kursi dan memejamkan mata. Lagu yang dibawakan gadis tadi membuat Vanno mengingat masa lalunya. Masa lalu yang hampir saja berhasil dia lupakan.


“Lo kenapa, elah? Kesambet jin baru tahu lo! ” celetuk Cello.


“Bisa diem, nggak? ” semprot Vanno.


“Mampus lo, hahaha, ” tawa William pecah seketika, tidak hanya tertawa, William pun kini melempar Cello dengan botol minum yang sudah kosong.


“Sialan, sakit tahu! ” ucap Cello


“Ada yang ngingetin gue sama masa lalu, ” ucap Vanno.


“Hah? Seriusan lo? ” tanya Deo sambil memakan risoles di kotak makannya.


Vanno mengangguk sebagai jawaban.


“Gara-gara yang tadi? ” tanya William.


“Iya.”


“Wah, gila!” pekik William histeris ketika tebakan nya ternyata benar.


“Masa lalu itu, lupain aja Van! Mending cari yang baru! ” tutur Deo.


“Iya Van, lo nggak bisa nutup hati lo kayak gini, dia aja bisa ninggalin lo! ” ujar Cello yang gemas dengan tingkah Vanno yang masih belum bisa 𝚖𝚘𝚟𝚎 𝚘𝚗.


Vanno mendesah kasar, kenapa dia harus pergi tanpa memberi tahu? Kalau saja orang itu memberi tahunya lebih dahulu, pasti Vanno tidak akan menjadi lelaki yang tertutup seperti ini.


𝙺𝚎𝚗𝚊𝚙𝚊 𝚢𝚊, 𝚍𝚒𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚒𝚗𝚐𝚐𝚊𝚕𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚞?


𝙰𝚙𝚊𝚔𝚊𝚑 𝚊𝚔𝚞 𝚑𝚊𝚛𝚞𝚜 𝚌𝚊𝚛𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚊𝚛𝚞?


𝚃𝚊𝚙𝚒 𝚋𝚊𝚐𝚊𝚒𝚖𝚊𝚗𝚊 𝚔𝚊𝚕𝚊𝚞 𝚍𝚒𝚊 𝚔𝚎𝚖𝚋𝚊𝚕𝚒?


Ucap dalam batin Vanno.