
.
.
Siang itu Vanya dan rekan kerjanya akan makan siang disebuah cafe, kalau biasanya mereka selalu makan di j'aime cafe kali ini berbeda, Ratna salah satu rekan kerjanya merecommend sebuah cafe dengan bernuansa paris yang romantis.
"pokoknya Van, lo harus nyobain makan dicafe itu,tempatnya gila romantis banget kalo buat anak muda kayak lo, itu beuuhhh cucok Van!" oceh Ratna dengan mantap.
Vanya hanya menyimak ocehan Ratna dan sesekali menganggukan kepalanya.
"Masih jauh gak sih na?" Ucap Vanya sambil memandu mobilnya.
Ya pagi ini Vanya berangkat kekantor sendiri mengendarai mobil favorite nya.
Sebuah mobil Ferrari merah hadiah ulang tahun Vanya yang ke 23 dari papa nya.
"Lo lampu merah depan itu terus belok kiri kira-kira seratus meter sampai Van!" Jelas Ratna memberi intruksi.
20 menit berlalu akhirnya mereka sampai dicafe yang Ratna maksud.
Mata Vanya menatap sebuah papan besar yang tertuliskan "LA PETITE CAFE". Dia melihat sekeliling bagian luar cafe kalo dilihat sih unik romantis.
"Udah ayo masuk Van malah bengong disini ngapain sih." celetuk Ratna lalu menarik tangan Vanya masuk kedalam cafe.
Cafe itu tidak seperti kebanyakan cafe lain nya. Dengan cahaya lampu temaram,dipenuhi benda-benda klasik ala prancis dengan alunan lagu yang romantis. Pantas saja Ratna bilang kalau cafe nya romantis banget.
"Van kita duduk disana yuk!" Ratna menunjuk sebuah meja berada ditengah-tengah cafe.
"Enggak, disitu yang 2 kursi aja, kita kan berdua." Protes Vanya.
Padahal dia memilih meja yang tidak bisa terpantau oleh banyak orang karena dihalangi sebuah lemari hias dengan berbagai barang antik.
Mereka memilih beberapa makanan yang baru saja dilihat dari buku menu. Sembari menunggu pesanan datang mata Vanya masih begitu penasaran ingin melihat seisi ruangan cafe. Terdapat sebuah piano diujung sebelah kasir dan ada sebuah meja dengan 2 kursi yang mungkin dikhususkan untuk sepasang kekasih karena didepan nya sebuah patung seorang cowo dan cewe yang tengah berdansa. Belum puas dengan penelitian nya tiba-tiba seorang waitress datang dengan makanan ditangan nya.
"Here you order miss?" ucap nya dengan sopan.
Rena dan ratna menatap makanan itu dengan nafsu. Dua piring pasta dan dua gelas jus, mereka sengaja memesan makanan yang sama biar bisa mencoba menu yang lain.
"Thank you." Ucap Vanya lalu meraih jus nya.
Keduanya melahap makanan itu dengan nikmat bukan karena kali pertama mereka makan tapi memang terlalu enak. Sesekali Vanya mengibaskan rambutnya yang terurai itu, tiba-tiba matanya terhenti pada seseorang yang sedang duduk disebelah lemari hias yang ada didepan Vanya.
"Van, kenapa rambut lo masuk kemulut?" celetuk Ratna sambil mengunyah.
Tapi mata Vanya masih tertuju pada dua orang itu yang tidak lain adalah angel dan Vanno kekasih nya.
"Vanyaa! Kebiasaan kalo lagi makan tiba-tiba bengong." Kali ini suara Ratna kembali seperti biasanya yang cetar.
"Apaan sih lo berisik banget, ngomong nya pelan-pelan dong!" Protes Vanya sambil mengunyah makanan yang sedari tadi terdiam dimulutnya.
"Lo lihatin apa sih? Gue panggil sampe nggak denger." Tanya Ratna dengan mata yang ikut mencari spot yang bikin Vanya menganga.
"Cepetan kita harus balik ngantor lagi tau Rat! Lo mau dipecat sama pak bos?"
Makan siang mereka selesai Vanya berjalan menuju kasir untuk membayar, tanpa disengaja ketika Vanya membalikan badan untuk menuju pintu keluar seseorang menabrak tubuh Vanya.
"Sor—" Belum sempat melanjutkan ucapan nya,keduanya tertegun ternyata orang itu adalah Vanno.
"Vanya, kamu disini juga?" ucap Vanno gugup.
Vanya hanya menatap devin sendu lalu tersenyum.
"Vanno, tunggu semua undangan sudah dicetak dan kamu harus—" bibir angel menganga begitu tahu bahwa Vanya tengah bersama Vanno.
Vanya menatap Vanno dengan nanar dia tidak mengerti dengan apa yang barusan angel katakan.
"Sorry Vanno, aku harus kembali kekantor." Pamit Vanya lalu meninggalkan Vanno begitu saja. Tanpa mendengarkan kata-kata Vanno.
Beberapa hari belakangan sikap Vanno berubah, dia yang kadang mellow dan dramatis seolah tengah menyimpan sesuatu yang teramat fatal.
Sepanjang jalan menuju kantor Vanya sama sekali tidak memperdulikan Ratna yang ada disebelahnya. Bahkan dia membawa mobil dengan kecepatan yang lain dari biasanya.
****************
~france~
.
.
.
"lorsque vous revenez à l'Indonésie?" tanya Gabriel kepada sahabatnya.
"Ce dimanche à venir gab."
"Je vais manquer rei." Dengan kesedihan yang tersirat dari wajahnya Gabriel lalu memeluk sahabatnya itu.
"Ne sois pas triste, Je vais aussi te manquer."
mereka nampak begitu sedih karena setelah 6tahun bersahabat tapi harus berpisah, Gabriel adalah gadis asal paris,sedangkan sahabatnya itu berasal dari indonesia yang kebetulan satu kampus dengan dia. Mereka bersahabat sudah 6 tahun sehingga perpisahaan itu sungguh menyakitkan untuk keduanya. Hubungan mereka sudah sangat dekat bahkan mereka sudah seperti keluarga dan apartment mereka bersebelahan.
"Sayang kamu yakin akan pulang keindonesia?" ucap wanita paruh baya yang tengah memerhatikan anaknya memasukkan baju kedalam koper.
"Mah keputusan aku sudah bulat, mama gak usah khawatir soal aku nanti kalau udah dijakarta."
"Tapi bagaimana dengan pekerjaan kamu sayang?"
"Aku udah resigned kontrak kerja aku mah." ucap nya dengan tersenyum.
"Semoga ini keputusan terbaik kamu yah sayang. Mama bakalan susul kamu pulang setelah urusan kakak kamu selesai." Bisik sang mama sambil memeluk dirinya.
****************