My Future Is You?

My Future Is You?
19. Sweet. lV



“UHUK.. UHUK! ” hampir saja sepotong besar bakso tertelan oleh Dania karena dia merasa kaget saat Vanya memberitahunya mengenai hubungan perempuan itu dengan ketua OSIS SMA Pelita.


“Hampir aja ini bakso gue telan! Nggak kira kira banget deh lo kalau ngomong! ” ketus Dania sambil meminum jus miliknya.


“Ya habis gimana lagi? Gue mau bilang dari pagi tadi, tapi lo sibuk ngomongin Martin Garix lah, Robin Thick, sama siapa tadi yang satu? ” tanya Vanya dengan malas.


“Calon tunangan gue, Andrew The Chainsmoker! ” Dania menjawab dengan tampang nyolot sambil menaik turunkan alisnya.


“Ngimpi lo! ”


“Ye, biarin, selagi kita masih punya mimpi, maka gunakan mimpi kita sebaik baiknya! ” jawab Dania sambil menggerakkan tangan layaknya seseorang yang sedang membaca puisi dengan penuh penghayatan.


“Gue mau cerita, Dan! Kenapa jadi lo yang pidato, sih? ” tanya Vanya tajam ke arah Dania yang melanjutkan acara makannya itu.


“Hehehe, maaf ya, Van. Gue terbawa suasana. Lanjut gih sambil gue nerusin makan nih bakso, you know lah, baksonya menggoda iman bangett. Eh by the way, lo beneran pacaran sama kak Vanno? ” ucap Dania panjang lebar sambil menatap sahabatnya itu penuh dengan harapan.


“Iya. Tapi gue ngerasa pengen putus sama dia, ” jawab Vanya. Gadis itu menopanngkan dagunya di atas tangan.


Dania berfikir, “Kenapa lo pengen putus sama dia? Secara dia kan cowo famous di sekolah! ” Dania menatap Vanya dengan kening berkerut.


Vanya menghela nafasnya, baginya bercerita kepada Dania tidak ada manfaat nya. Bukannya mendapatkan solusi, dia malah mendapat pertanyaan lagi. “Gue nggak butuh cowo famous! Yang gue pingin adalah cowo yang bisa sayang tulus sama gue dan pintar! ”


“Hello, Vanya, lo emang belum tahu kepintaran seorang Vanno Christian? ” tanya Dania kaget. Dengan polosnya Vanya menggeleng kan kepalanya.


“Vanno itu juara umum ke-2 se- DKI Jakarta waktu lomba MIPA! ” ucap Dania. Vanya yang mendengarnya pun menatap Dania tidak percaya.


Dania mengangguk saat Vanya bertanya dengan nada tidak percaya. “Tahu darimana lo? ” tanya Vanya dengan wajah bingung.


“Inget Van, gue itu stalker. Semua berita gue tahu. Mau yang terkuno sampai yang terbaru pun gue paham! ” ucap Dania dengan mengangkat dagunya bangga.


Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk dari ponsel Vanya, dia langsung mengambil ponselnya itu dan mulai membaca pesan itu.


𝙑𝙖𝙣𝙣𝙤𝘾𝙝𝙧𝙨𝙩𝙣 : 𝘒𝘦 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨.


Kedua bola mata Vanya membulat dengan sempurna saat membaca pesan itu. Dengan cepat dia bergegas pergi meninggalkan kantin.


“Gue duluan, Dan! ” Vanya berjalan meninggalkan kantin. Sebelum benar-benar meninggalkan kantin, dia membeli beberapa air mineral untuk dia bawa ke lapangan. Anggap saja kalau Vanya itu sok tahu. Tapi memang benar kan kalau lapangan itu tempat untuk berolahraga? Jadi dari pada Vanya dimarahi Vanno lebih baik dia membawakan minuman sekalian. Kalau kata pepatah, sedia payung sebelum hujan.


★ ★ ★ ★


“Nah itu dia, ” gumam Vanya. Gadis itu kemudian berjalan ke arah laki-laki yang sedang duduk selonjoran di lapangan.


Tapi Vanya melihat banyak siswi yang mengerubungi Vanno. Vanya ingin pergi tapi Vanno malah menghampiri nya.


“Kenapa mau pergi? ” tanya Vanno mencekal pergelangan tanya Vanya.


“Udah nggak butuh gue, kan? Itu banyak yang bawain minum jadi gue mau ke kelas lagi, ” ucap Vanya berusaha melepaskan cekalan tangan Vanno.


Siswi yang mengerubungi Vanno itu pun menatap Vanya tidak suka, tapi Deo langsung berucap pedas kepada mereka. “Biasa aja itu mata. Copot baru tau rasa lo pada! ” ketua Deo dan semua gadis itu mencibir.


“Iya sih cogan, tapi omongan lo selalu nyelekit! ” ucap salah satunya.


“Gue bilang apa adanya sama cewe yang kelihatan kegatelan! ” Deo pun pergi dari tempat itu dan berjalan ke arah Cello yang sedang bermain bola.


“Kata siapa? ” tanya Vanno menatap pacarnya itu.


“Gue lihat sendiri kalau kakak diem aja dideketin cewe yang cantik- cantik itu. Dan kakak nggak nolak dipegang pegang! ” ketus Vanya.


Vanno tersenyum. “Cemburu? ”


“Enggak.”


“Ya udah, duduk sini,” Vanno menatap pacarnya itu gemas.


“Nggak mau. ”


“Duduk sendiri apa mau dipangku? ” tawar Vanno dengan senyum miringnya.


“Kenapa jauhan? ” tanya Vanno.


“Lo bau. ”


Vanno terkekeh, alasan yang di pakai Vanya itu sangat tidak masuk akal, padahal semua cewe itu malah dengan gemblangnya berbicara bahwa Vanno itu wangi.


“Gue wangi, kalau bau nggak mungkin mereka tadi deket deket sama gue, ” ucap Vanno menggenggam tanya Vanya.


“Ehem, aduh ini keselek batako, gue, ” ucap William pura pura batuk.


Dengan polosnya, Vanya berucap.


“Ini kak, minum. Gue juga beliin buat lo pada kok. ”


“Eh, dodol, kalau lo bilang keselek bola basket masih nyambung, lah ini keselek batako. Suka gila lo! ” ucap Cello.


“Lo berdua gila, fix! ” ketus Deo.


“Tuh, ambil minumnya, ” ucap Vanno.


“Siap mas, ” jawab Cello.


Vanya menatap pacarnya itu, baju seragam yang dua kancing teratas nya dibuka, rambut acak acakan, keringat yang membasahi dahi dan kemudian meluruh dalam seragam Vanno.


“Terpesona lagi, heh? ” tanya Vanno dengan kerlingan matanya.


Dengan gugup, Vanya menggeleng.


“Gila, pacarnya Vanno malu malu kelinci. Pengen gue gebet kalau bukan pacarnya Vanno, ” timpal Cello. Cello pun diam ketika melihat tatapan tajam Vanno.


“Maafin gue kalau gitu, ya? ” ucap Vanno dengan memegang dagu Vanya untuk menghadapnya.


“Kakak genit terus sama cewe. ”


“Enggak lagi, sayang. ” Dan tanpa aba- aba, Vanno mencium kening Vanya membuat teriakan histeris dari para siswi yang sejak tadi masih memperhatikan Vanno dan Vanya terdengar. Tidak hanya siswi, tapi ketiga temannya itu menatap Vanno melongo.


“Gila, si Vanno ngegas aja itu bocah. Anaknya orang woi! ” teriak Deo.


“Aduh, adek di bawah umur, kakak! ” teriak William.


“Sumpah Demi ****** terbang gue nggak lihat kok, tadi,, ” teriak Cello dengan menutup telinganya.


Deo dan William menatap Cello aneh.


“Lo ngapain tutup telinga? ” tanya Deo.


“Biar nggak lihat adegan plus plus tadi, ” ujar Cello.


“Lo nutup telinga, gila. Harusnya yang lo tutup itu mata! ” ketus Deo.


William kemudian menggerakkan jari telunjuk nya di dahi dengan gerakan miring seperti berbicara, ‘Gila, lo. ’


“Jahat parah lo pada! ”


Di sisi lain, Vanya masih diam terpaku dan berfikir.


Seorang Vanno mencium nya. Beberapa hari yang lalu malah memberikan topinya agar dia tidak di hukum dan sekarang menciumnya ketika marah? Benar- benar laki-laki yang manis dan sulit di tebak.


“Ingetin gue kalau ada hal yang salah. Karena hubungan nggak bisa berjalan lancar kalau di antara kita nggak jujur dan saling tegur, ” ucap Vanno.


“Iya, kakak juga harus tahu kalau posisi lo itu cowo most wanted, gue nggak bisa langsung larang lo, ” jawab Vanya.


“Cukup dengan lo marah itu menyimpulkan kalau lo itu nggak suka gue yang kayak gitu, sayang, ” tutut Vanno.


Vanya mengangguk, entah kenapa hatinya menghangat ketika Vanno memanggilnya ‘𝙎𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜’.