My Future Is You?

My Future Is You?
36. [ S2 ] Maaf Vanya, Maaf



.


.


Hampir seminggu berlalu dari kejadian di la petite cafe hubungan Vanya dan Vanno masih berjalan meskipun tidak seperti biasanya. Vanno yang sudah bersusah payah meyakinkan Vanya atas ucapan angel tapi apalah daya keraguan sudah terselip dihati Vanya. Kebiasaan Vanno yang mengantar jemput Vanya kini jarang terjadi, Vanno lebih sibuk dengan pekerjaan nya dan juga desakkan mama nya untuk segera menjauhi Vanya. Mereka hanya bertemu diujung minggu atau makan siang. Vanya yang biasanya selalu pulang tepat waktu memilih untuk bergelut dengan kerjaan nya dikantor. Hubungan itu terasa hambar, kemesraan yang telah  mereka ciptakan selama 6 tahun sirna begitu saja.


"Van, Vanya." Ucap seorang pria yang sudah berada didalam ruang kerja Vanya. Tapi Vanya tidak menyadari kehadiran bos nya itu, sampai-sampai laki-laki itu sedikit memiringkan kepalanya lalu menggerak-gerakkan tangan nya kedepan wajah Vanya.


Vanya sontak kaget lalu dengan gugup merapikan rambut yg tidak berantakan.


"iiya ada yang bisa saya bantu pak?"


"Sejak kapan seorang Vanya bekerja sambil melamun?" Celetuk laki-laki itu sambil melipat tangan nya kedepan dada.


"Maaf pak,pasti ada yang penting yah sampai bapak datang keruangan saya."


"Gimana saya nggak keruangan kamu coba, saya chat nggak dibalas, telepon juga nggak diangkat. Nanti kamu temenin saya makan siang ya! Alamat nya sudah saya kirim." Ucap nya ketus.


"Hah? Makan siang berdua atau—" Vanya menggantungkan kata-katanya, ketika mengangkat kepalanya ternyata sosok yang ada didepannya sudah berlalu keluar dari ruangan nya.


Lelaki itu bernama Dion, dia adalah bos di perusahaan tempat Vanya bekerja. Dia begitu perhatian terhadap Vanya meskipun dia hanya sebagai assistantnya.


"Saya bawa mobil sendiri aja yah." Ucap Vanya kepada Dion ketika berpapasan dilobby.


"Gak usah naik mobil saya saja Van, kita kan searah." Ucap Dion.


Tanpa disengaja Dion menarik tangan Vanya lalu menggenggam tangan Vanya dan berjalan menuju mobil Dion.


Dion yang sadar akan sesuatu yang ganjil lalu menghentikan langkahnya dan menatap Vanya dengan wajah tegangnya.


"Maaf Van, nggak sengaja." Ucap Dion sambil melepaskan genggam tangan nya.


Vanya hanya tersenyum lalu mengekori langkah Dion.


Dion yang biasanya selalu diantar oleh supir pribadinya, siang itu dia memilih untuk menyetir sendiri. Vanya yang berada di samping Dion terlihat kaku, suasana begitu hening tiada satu katapun keluar dari mulut mereka, Dion hanya sesekali melirik kearah Vanya.


"Van...papa kamu apa kabar?" Tanya Dion menyadarkan Vanya. Vanya menatap Dion lalu tersenyum tipis.


"Baik pak."


"Nggak usah panggil pak kali Van, kalo cuma berduaan gini!" Protes Dion kepada Vanya.


Namun lagi-lagi Vanya tidak menggubris celoteh Dion, dia lebih memilih mengamati setiap kendaraan yang lewat disamping nya. 20 menit sudah mereka tempuh dan kini mereka telah sampai dicafe.


Mereka berjalan memasuki cafe mencari sosok yang sudah Dion kenal.


"Hai broo baru dateng?" ucap Robert yang tidak lain adalah teman Dion.


Dion pun membalas jabatan tangan Robert lalu memperkenalkan Vanya kepadanya.


"Oh iya kenalin ini Vanya."


Vanya dan Robert kedua saling tersenyum dan berjabat tangan.


"Oh iya meja pesanan aku yang mana?" tanya Dion kepada Robert.


Robert menunjuk sebuah meja yang kosong paling ujung dengan cahaya lampu yang temaram.


Dan setelah tau nomor meja, Dion dan Vanya menuju meja itu.


"Silahkan duduk Van." Ucap Dion sambil menarik sebuah kursi.


Vanya yang nampak begitu kaku hanya tersenyum dan kebingungan.


Kenapa dia harus seperti ini lagi setelah beberapa bulan yang lalu dia memperlakukan aku sama seperti  karyawan yang lain. Tapi hari ini dia sungguh berbeda. Desis Vanya dalam hati.


Tanpa memesan tiba-tiba Robert datang membawa 2 gelas hot chocolate, iya hot chocolate adalah salah satu orderan favorite nya Dion, makanya tanpa memesan Robert pasti akan menyuguhkan terlebih dahulu.


"Favorite lo bro." Ucap Robert sambil menyodorkan minuman nya.


"Van, semoga ini juga jadi minuman favorite kamu juga yah, selamat menikmati." Ucap Robert kepada Vanya.


"Terima kasih yah." Ucap Vanya tersenyum.


Dion yang langsung tanpa suara ketika minumanya datang, dihirupnya aroma cokelat lekat-lekat didekat hidung nya sebelum diminum, entah ritual apa yang Dion lakukan tapi membuat Vanya ingin mencoba yang Dion lakukan.


Dia lalu menyeruput sedikit demi sedikit minumannya, sedangkan Dion masih sabar untuk tidak menegak habis minuman nya melainkan menghirup asap yang masih berkabut diatas gelas.


"Pak, bapak nggak apa-apa?" Bisik Vanya pelan.


Dion yang tengah menikmati aroma hot chocolate nya itu lalu membuka mata dan tersenyum.


"Sorry Van, ini cara aku menikmati hot chocolate, oh iya kamu mau pesen makan apa?"


"Saya ngikut bapak aja."


Setelah mendengar ucapan Vanya, Dion memanggil  waitress lalu memesan BBQ beef steak dan ice lemonade.


"Van, gimana hubungan kamu sama Vanno ?sepertinya udah lama nggak lihat dia antar atau jemput kamu."


"Dia lagi sibuk pak." jawab Vanya singkat.


Mendengar jawaban Vanya, Dion seolah menerawang jauh kedalam sorot mata Vanya yang meredup. Garis halus mulai nampak disekitar mata Vanya bahkan kantong mata yang hampir tidak pernah dia jumpai kini nyaris terlihat jelas dibawah matanya.


Apa yang sedang terjadi dengan gadis ini, dia yang biasanya profesional dalam bekerja dan tidak pernah menunjukan dirinya dalam sebuah masalah tapi, belakangan ini sering memergoki dia melamun dengan pandangan yang kosong. Batin Dion sambil memandang wajah Vanya yang tengah sibuk membolak balikan buku menu didepannya.


Makan siang pun berlalu kini mereka sudah kembali kekantor dan sibuk dengan tugas masing-masing. Vanya masih saja merenungkan diri atas hubungan nya dengan Vanno, lelaki itu yang biasa nya selalu mengingatkan Vanya untuk makan dan menanyakan kegiatan nya, sekarang entah kemana. Sejak kejadian itu Vanno benar-benar berubah. Dan wanita itu terkadang juga menemani Vanno bekerja dan begitu dekat dengan Kiran.


Vanya melirik hp nya yang berbunyi, sebuah pesan singkat telah dikirim dari seseorang, dengan malas Vanya meraih hpnya lalu membuka pesan yang baru saja masuk.


"Vanno." ya pesan itu dari Vanno.


"Sayang besok siang kita ketemu ditaman biasa yah!" Tulis Vanno singkat.


Vanya pun hanya membaca dan membalas pesan Vanno, rasa nya untuk bertemu dengan lelaki itu tidak ada semangat lagi setelah kejadian itu. Vanya melemparkan hpnya begitu saja lalu menyandarkan tubuhnya dikursi. Mata nya melirik kearah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 17.00 meski masih banyak tugas yang belum selesai tapi Vanya sudah berniat ingin pulang lebih awal. Dia ingin menenangkan hati nya yang tengah gundah.


****************



Vanya telah sampai ditaman tempat mereka bertemu, dia duduk disebuah bangku yang tersedia ditaman. Hati Vanya bertanya-tanya, sebenarnya apa maksud Vanno ingin bertemu ditaman ini. Taman dimana Vanno menjelaskan tentang perasaan nya kepada Vanya dan tepat 3 hari lagi tepat 6 tahun mereka menjalin hubungan. Apa mungkin dia akan memberi Vanya surprise sebagai kado di hari anniversary nya?.


Setelah 10 menit menunggu Vanya melihat sosok Vanno dengan kemeja dan juga dasi yang masih menempel menghampiri dirinya. Vanya tersenyum menyiratkan kerinduan kepada Vanno. Mereka yang hampir tiap hari bertemu tapi kini sudah sangat jarang untuk bertemu.



"Hai sayang, maaf ya nunggu lama." ucap Vanno sambil mengecup kening Vanya.



Vanya menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. Kedua nya duduk dibangku taman, Vanno hanya terdiam tanpa kata, Vanya yang duduk disamping Vanno pun mulai gelisah melihat sikap Vanno yang tidak seperti biasanya. Kalau biasanya dia selalu membuka pembicaraan kali ini dia lebih memilih diam entah sedang merangkai kata-kata atau memang bingung untuk memulai percakapan nya.



"Van." Ucap Vanno sambil menatap Vanya.



dipandang wajah Vanya lekat-lekat sampai beberapa menit membuat Vanya semakin frustasi melihat sikapnya.



"Aa...aku minta maaf sebelumnya Van...Akuu nggak bisa lanjutin hubungan kita..maafiin akuu Vanyaa." Desis Vanno sambil menggenggam tangan Vanya.



Vanya yang mendengar ucapan Vanno diam mematung, mata nya mulai memanas seperti ada sesuatu yang tertahan, bibirnya kelu untuk mengungkapkan kata-kata, hanya menatap mata Vanno yang kosong, tanpa disadari air mata yang dari tadi tertahan mengalir dipipi keduanya.


Tidak ada kata yang terucap dari kedua nya.


Vanno lalu memeluk tubuh Vanya dengan sangat erat,disandarkan dagu nya kepundak Vanya untuk menyalurkan segenap rasa yang tengah dia rasakan,dengan air mata yang yang membasahi pundak Vanya. Vanno lalu melepaskan Vanya dari dekapan nya dia kemudian pergi meninggalkan Vanya sendiri ditaman  tanpa penjelasan.



Langkah Vanno sesekali terhenti dan membalikan badan nya menatap wanita yang sudah 6 tahun menemaninya masih duduk mematung disana.


Rasa bersalah dan tidak bertanggung jawab ada dibenak Vanno, mungkin bisa dibilang sebagai pengecut. Tapi Vanno tidak mampu untuk menjelaskan semuanya kepada Vanya.


Sementara Vanya dengan tatapan kosongnya menatap kepergian Vanno. Vanya tidak bisa menggambarkan bagaimana keadaan hatinya didalam sana. Orang yang benar-benar dipercayai tidak akan menghancurkan hatinya, justru malah sebaliknya,dia telah menciptakan kehancuran yang mungkin sangat sulit untuk mengutuhkan lagi.