
~ Jika bahagiaku bukan lagi dengan nya haruskah aku memiliki kamu untuk bahagiaku~
.
.
.
Setelah hakim mengetuk palu keadilan, kini Vanno dan juga Angel resmi bercerai, pernikahan yang selama ini mereka pertahankan ternyata harus berakhir dengan sebuah perpisahan.
Angel yang masih berharap terhadap Vanno pun harus rela menerima keputusan itu. Meskipun hak asuh jatuh ketangan Angel tapi berat bagi Angel untuk menjadi single parent apalagi harus hidup jauh dari keluarga, karena setelah sidang perceraian nya dengan Vanno selesai dia kembali ke Australia, sedang kan orang tua yang selama ini tinggal diaustralia kini sudah kembali ketanah air.
Kini Vanno kembali bekerja diperusahaan papa nya, dan meninggalkan pekerjaan nya diaustralia, bahkan Vanno seolah tidak lagi memperdulikan wanita yang sudah melahirkan buah cinta nya itu setelah putusan hakim. Kiran yang begitu syok mengetahui keputusan Vanno untuk bercerai sempat jatuh sakit beberapa waktu lalu.
Kiran merasa bersalah dengan keluarga Angel, karena sikap anak laki-laki nya itu. Perjodohan yang digadang-gadang akan membawa kebahagiaan kepada anak dan dua keluarga itu, ternyata hanya khayalan semata karena pernikahan itu hanya Bertahan 2 tahun saja.
Kata orang CINTA itu tidak menjamin kebahagiaan seseorang,tapi bukankah disaat 2 hati yang terpisah yang bersatu dalam sebuah pernikahan harus memiliki CINTA sebagai pondasi untuk membangun kebahagiaan
Siang itu Vanno keluar untuk makan siang disebuah restaurant dekat dengan kantor nya. Dia pergi dengan beberapa rekan kerja nya sekaligus untuk membahas sebuah projek.
Setelah memesan makanan mereka sedikit berbual sebentar sambil menunggu makanan datang. Setelah beberapa menit kemudian makanan yang dipesan datang, mereka lalu menikmati makan siang dengan bualan seputar pekerjaan dikantor dan
Setelah selesai makan siang, Vanno pamit kepada rekan kerjanya untuk kekamar kecil.
Sepanjang Jalan menuju toilet, Vanno terlalu sibuk sampai-sampai dia menabrak seseorang yang baru saja keluar dari toilet, ponselnya terjatuh dilantai dengan segera orang itu meraih hp Vanno untuk dikasih kedia.
Saat Vanno mengangkat kepalanya dan melihat orang itu kedua matanya tidak berkedip mulutnya mengangga hp yang sudah ditangannya hampir terjatuh lagi, saat Vanno mengetahui orang itu adalah Vanya.
"Vanya...," bisik Vanno lirihh menyadarkan Vanya yang masih berdiri mematung dihadapan Vanno.
"Van..?" Lirih Vanha tanpa berkata-kata, Vanno langsung memeluk Vanya begitu erat sampai dia susah untuk bernafas.
"Van, Vanno, lepasin Van!" Ucap Vanha dengan sedikit memberontak tapi Vanno tidak bergeming sama sekali dia justru makin mempererat pelukannya dan menenggelamkan kepalanya ke bahu Vanya.
"Nggak Van, ijinin aku sebentar saja untuk peluk kamu, Van!" Lirih Vanno dengan suara parau membuat Vanya mematung entah apa yang harus dia lakukan.
"Please Van, lepasin, nggak seharusnya kamu seperti ini ditempat umum Van!" Desis Vanya supaya Vanno melepaskan pelukannya itu.
"Maaf, Vanya, aku nggak Ada maksud!" Ucap Vanno sambil melepaskan pelukannya, Vanga lalu tersenyum dan merapikan rambutnya yang berantakan.
Mereka lalu bertatapan dan bertukar senyuman, ada sedikit kerinduan yang tersirat dari mata keduanya sejak perpisahan itu, meskipun bibir mereka tidak saling berucap tapi tatap mata mereka mengutarakan segala nya.
"Aku duluan ya, Van!" Pamit Vanya tapi Vanno menghentikan langkah Vanya.
"Tunggu Vanya!" Ucap Vanno sambil meraih tangan Vanya.
"Aku harap akan ada pertemuan Kita lagi Van!" Bisik Vanno membuat Vanya bingung, namun Vanya tidak mau mengambil pusing dia hanya tersenyum dan berlalu dari hadapan Vanno.
------------
Satu minggu berlalu sejak pertemuan mereka saat makan siang, hari ini Vanno dan Vanya berniat untuk bertemu ditaman dimana cinta mereka berawal dan berakhir.
Entah apa yang dipikiran Vanya setelah apa yang Vanno lakukan dia masih saja berbaik hati untuk meladenin Vanno, apalagi pertemuannya dengan Vanno tanpa sepengetahuan suaminya Dion, karena Dion sedang bertugas keluar kota dalam beberapa hari.
Vanno sudah berada ditaman itu sesekali membolak balikan ponselnya sambil menunggu, rasa was-was muncul dipikiran Vannk, takut kalau Vanya berubah fikiran untuk membatalkan niatnya menemuinya karena sudah hampir 1 jam Vanya tak muncul-muncul. Vanno semakin gelisah saat Vanya tidak menjawab panggilan darinya, dia lalu berdiri dan berjalan mengitari taman itu sampai pada akhirnya dia menemukan sosok wanita yang tengah duduk sendirian disebuah bangku taman, dengan ragu Vanno menghampiri wanita itu langkahnya melambat saat sudah berada dibelakang bangku dimana wanita itu tengah duduk.
"Iiisshhhh mana sih, Katanya janji jam 10, ini udah hampir jam 11 aja belum dateng, aku tinggal pulang juga nih!" Celetuk wanita itu sambil beranjak bangun dari tempat duduknya, namun saat dia mau pergi seseorang memeluknya dari belakang, lalu dengan sigap dia langsung mengeluarkan jurus beladiri yg membekalinya.
Bruuggg
"Kamu ni ya, dari dulu nggak berubah, main hantam aja!" Oceh Vanno.
"Kamuuu...., ngapain juga kamu main peluk-peluk aku segala!" Protes Vanya kemudian duduk disebelah Vanno dengan muka cemberut.
"Kok cemberut gitu muka nya?" Goda Vanno namun Vanya hanya melirik kearah Vanno.
"Ohh iya, udah berapa bulan?" Tanya Vanno lagi.
"Apa nya?"
"Ya, hamil nya lah masa nikahnya sih!"
"Ouuhh, 5 Jalan 6!" Jawab Vanya singkat.
"Semoga lancar ya, sampai lahiran nanti!" Lagi-lagi Vanya Cuma menganggukkan kepalanya, kedua lalu membisu sejenak membuat suasana semakin sunyi.
"Kamu apa kabar?" Ucap Vanya memecahkan suasana.
"Kabar aku baik tapi hati aku yang nggak baik!" Jawab Vanno mengagetkan Vanya, Vanya yang sudah mengetahui masalah Vanno langsung bertanya ke point nya tanpa bertele karena, dia juga tidak mau berlarut didalam taman itu apalagi Vanya juga sadar pertemuan nya itu dengan Vanno secara sembunyi-sembunyi.
"Kenapa kamu memilih bercerai dengan Angel, bukankah hidup kalian sudah bahagia dengan hadirnya Vannia?"
"Darimana kamu tau soal Vannia? Aku belum pernah cerita sama kamu sebelum nya!"
"Aku bertemu Angel beberapa bulan yang lalu saat aku dan Dion liburan ke Australia dan Angel menceritakan semua nya kepada kami!" Jelas Vanya.
"Lalu apa menurut kamu aku salah dengan keputusan ku ini?" Tanya Vanno membuat Vanya bingung.
"Aku nggak bisa komen apa-apa Van, ini masalah kamu dan kamu sendiri yang tahu cara untuk menyelesaikannya, tapi kenapa kamu nggak kasih kesempatan Angel sekali lagi, apa kamu nggak kasian melihat anak kamu yang masih bayi, dia butuh kasih sayang dari kamu dan juga Angel, Van..!"
Vanno lalu tersenyum tipis mendengar kata-kata Vanya
barusan.
"Van, jika bahagiaku bukan lagi dengan nya, apa aku harus memiliki kamu kembali untuk bahagiaku yang sudah aku sia-sia kan dulu?"
"Apa Van?" Ucap Vanya kaget.
"Tatap mata aku Van, dan bilang sama aku kalo kamu udah nggak cinta lagi sama aku!"
Vanya semakin bingung dengan kata-kata Vanno yang makin nggak Masuk akal itu, dia lalu tertawa sinis.
"Hah? Cinta Van? Aku emang cinta, aku sayang sama kamu Van, mungkin rasa itu jauh lebih besar dari rasa cinta kamu ke aku, sampai-sampai disaat kamu sudah menghancurkan hati dan segenap rasa, itu pun aku masih mau Bertahan dan menjaga cinta ituu tuh, lagi dan berharap suatu saat kamu kembali lagi buat aku, sampai aku nggak bisa menerima laki-laki yang sekarang jadi suami aku, sampai aku lupa bahwa ada orang yang sedang berjuang mengobati luka atas perbuatanmu itu,.Cuma karena apa? Karena kamu Van, tapi sekarang rasa itu udah nggak Ada Van, cinta dan sayang aku udah buat laki-laki yang selama ini selalu berjuang dan setia mendampingi aku bahkan disaat aku cacat sekalipun dia selalu ada buat aku!
Jadi, kalau kepulangan kamu dan pertemuan ini bertujuan untuk mengungkit masa lalu kita, maaf Van, aku sudah melupakan dan mengubur semua tentang masalalu itu, makasih udah mau bertemu dengan aku, aku pamit dulu ya Van!" Pamit Vanya yang tidak ingin berlama-lama berduaan dengan Vanno.
Vanya lalu pergi meninggalkan Vanno yang masih duduk mematung ditaman itu sendirian, sesekali dia menoleh kearah Vanno yang terus memperhatikan langkah Vanya. Saat Vanya sudah berjalan beberapa meter dari dia, Vanno lalu berdiri dan mengejar Vanya, dia menarik tangan Vanya sampai Vanya jatuh kedalam pelukan Vanno.
"Maafin aku Van, maafin kata-kata aku barusan, aku nggak Ada maksud, maaf juga sudah membuat kamu terjerumus dengan masa lalu Kita, mungkin ini yang disebut karma dulu aku menyianyiakan kamu begitu saja padahal aku tahu kamu adalah sumber bahagia aku, dan sekarang disaat kamu sudah bahagia aku masih bermimpi untuk bisa memilikimu lagi, maafkan keegoisanku ini Van," ucap Vanno sambil mendekap Vanya, dan tanpa terasa bulir bening hangat membasahi pipi Vanno, dia lalu merenggangkan pelukannya ditatapnya wajah Vanya yang sendu matanya seolah mengisyaratkan sesuatu tapi Vanno dia tidak banyak berkata. Mereka saling bertatapan seakan sama-sama sedang menyalurkan rasa satu sama lain, Vanno mendekatkan wajahnya dengan wajah Vanya sampai berjarak beberapa centi dan saat bibir Vanno hampir mengecup bibir Vanya, tiba-tiba tangan Vanya melayang dan mendarat dengan mulus tepat dipipi Vanno, dengan wajah yang memerah dan mata berkaca-kaca, Vanya mendorong tubuh Vanno lalu dia berlari meninggalkan Vanno bahkan dia sampai lupa dengan keadaan perutnya yang besar itu.
-----
Setelah drama yang barusan terjadi ditaman kini Vanya sudah berada didalam Mobil untuk pulang kerumah, pikirannya masih berkecimpung dengan kejadian tadi, entah apa yang sebenarnya terjadi kenapa dia bisa terbawa perasaan dengan Vanno, laki-laki yang sudah menghancurkan hatinya dan sekarang datang kembali kedalam hidupnya untuk menghancurkan kebahagiaan keluarga kecil nya bersama Dion.
.
.