My Future Is You?

My Future Is You?
22. Gue nggak mau Lo kecewa.



Embusan angin menerpa kulit wajah Vanya membuat gadis yang menggerai rambutnya tersebut memejamkan mata.


Sedangkan laki-laki yang berada di sampingnya menatap Vanya tanpa berkedip, enggan rasanya untuk melewatkan hal itu sedetik saja.


Perlahan lahan gadis itu membuka matanya diiringi dengan hembusan nafasnya. Dia kini beralih menatap cowo yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangan darinya.


“Kenapa? ” tanya Vanya yang sejak tadi merasakan bahwa dirinya ditatap oleh laki-laki itu.


“Kamu cantik, ” ucap Vanno langsung pada intinya.


“Hah? ” Vanya menatap bingung ke arah laki-laki yang menjulang tinggi di hadapannya itu.


“𝚈𝚘𝚞 𝚕𝚘𝚘𝚔 𝚜𝚘 𝚋𝚎𝚊𝚞𝚝𝚒𝚏𝚞𝚕, ” ucap Vanno sekali lagi.


Vanya merona. “Thanks.”


“Cie, nge-blush lagi, ” goda Vanno dengan mencubit pipi Vanya.


“Sakit, ih! ”


Vanno malah tertawa. “Oh iya, aku mau bilang, kita manggilnya aku kamu ya, ” ucap Vanno tegas.


“Kok gitu? ”


Vanno menghela nafasnya, dia memutar tubuh Vanya agar gadis cantik di depannya itu menatap dirinya. “Aku mau bilang sama kamu, mulai sekarang kamu manggil aku pake aku kamu ya, ” ulang Vanno.


“Emang kenapa, sih? Lo gue juga sama aja, kan? ” protes Vanya.


“Ya enggak lah, sayang, kita kan udah pacaran jadi harus beda. Hargai aku sebagai pacar kamu, ” jawab Vanno lembut menatap manik mata Vanya.


Sedangkan Vanya yang di tatap menahan nafasnya. Sumpah Demi Tuhan jantungnya sekarang berdetak lebih kencang dari biasanya.


“I—iya, kak. ”


“Makasih, ” Vanno kemudian memeluk Vanya.


𝙰𝚍𝚞𝚑 𝚓𝚊𝚗𝚝𝚞𝚗𝚐 𝚐𝚞𝚎 𝚛𝚊𝚜𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚖𝚊𝚞 𝚌𝚘𝚙𝚘𝚝, batin Vanya sambil tersenyum di pelukan Vanno.


Tapi, bayangan kakak kelasnya yang melabrak dirinya tadi membuatnya was - was kalau laki-laki di hadapannya itu akan meninggalkan dirinya.


“Kak, janji jangan pernah tinggalin aku, ya? ” Vanya merasakan tubuh Vanno menegang sehingga dia langsung melepaskan pelukan nya dari tubuh Vanya.


“Kak? ” Panggil Vanya.


𝙳𝚒 𝚜𝚒𝚜𝚒 𝚕𝚊𝚒𝚗 𝚐𝚞𝚎 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚋𝚎𝚛𝚑𝚊𝚛𝚊𝚙 𝚜𝚊𝚖𝚊 𝚜𝚎𝚜𝚎𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚓𝚊𝚞𝚑 𝚍𝚒 𝚜𝚊𝚗𝚊, 𝚅𝚊𝚗𝚢𝚊, batin Vanno.


Ada rasa sakit saat laki-laki di depannya itu tidak merespon ucapannya tadi.


𝙶𝚞𝚎 𝚑𝚊𝚛𝚞𝚜 𝚋𝚎𝚛𝚏𝚒𝚔𝚒𝚛 𝚙𝚘𝚜𝚒𝚝𝚒𝚏, batin Vanya.


Vanya menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan lahan.


“Kita jalan kesana yuk? ” ajak Vanno mengalihkan pembicaraan.


Vanya tersenyum getir saat cowo itu tidak merespon nya. Terus hubungan macam apa yang dijalaninya sekarang?


“Eh iya, yuk kak, ” Vanya langsung berdiri dengan cepat, dia berjalan sedikit mendahului Vanno. Dia tidak ingin air matanya jatuh di hadapan laki-laki itu.


Vanno menatap punggung Vanya dengan sedih, dia tidak berani memberikan janji apa pun kepada gadis itu sekarang. Dia takut ketika waktu itu tiba, dia membuat kecewa Vanya.


“Gue nggak mau buat lo kecewa. Lo perempuan yang gue cintai, Van. ” Vanno kemudian mengejar Vanya yang sudah berjalan lebih dulu.


★ ★ ★ ★ ★


Di tengah tengah taman banyak anak kecil yang berlarian kesana kemari sehingga tak jarang juga Vanya ditabrak oleh mereka.


“Aduh, ” tiba-tiba ada seorang anak kecil menabrak nya dengan sedikit kencang.


“Kamu nggak apa apa? ” Vanno langsung merengkuh tubuh Vanya agar gadis itu tidak terjatuh.


“Enggak! ” jawab Vanya.


“Ketus banget? ” tanya Vanno.


“Kak Vanya? ” suara anak kecil yang memanggil Vanya tersebut membuat gadis itu langsung menatap ke arahnya.


“Astaga, 𝘿𝙖𝙧𝙚𝙡 kamu kesini sama siapa? ” tanya Vanya khawatir.


Jelas saja khawatir, bayangkan anak kecil yang berumur lima tahun itu berlari larian di taman. Vanno yang bingung mendengar pertanyaan yang di lontarkan kekasihnya itu langsung menaikan sebelah alisnya bingung.


“Sama kak 𝘿𝙖𝙧𝙚𝙣, ” jawab Darel.


“Terus kak Daren nya mana? ” tanya Vanya.


“Enggak tahu, ”


“Ini adiknya Daren? ” Vanno bertanya kepada Vanya tapi gadis itu mendiamkan nya. Vanno mendesah pasrah.


“Kakak macam apa itu? ” ucap Vanya geram.


“Ya udah, kamu ikut kakak aja ya? ” tanya Vanya dengan berjongkok menyejajarkan tinggi nya dengan Darel.


Vanno melotot.


“Apa melotot- melotot? Nggak terima?” semprot Vanya.


“Siapa bilang aku nggak suka? Malah aku mau. Nggak biasanya cewe ngedate mau diikutin anak kecil, ” tutur Vanno panjang lebar.


“Ternyata lo—eh, kamu maksudnya, cerewet ya. Tapi kok cewe cewe banyak yang suka ya? ” pikir Vanya.


“Soalnya aku ganteng, ” Vanno menatap Vanya menyeringai.


“Idih, muka pas passan aja belagu, ” Vanya pergi meninggalkan Vanno sambil mengajak Darel ikut bersamanya.


“Sayang, tunggu! ” teriak Vanno. Sejutek dan sedingin apa pun Vanno terhadap orang lain, tapi tidak berlaku bagi gadisnya dan juga sahabat serta keluarga nya.


Ketiga orang itu seperti layaknya sebuah keluarga kecil yang bahagia. Ditambah lagi, Vanno sekarang menggendong Darel. Pujian pujian banyak terlontar untuk Vanno karena laki-laki itu sejak tadi tidak melepas kan Vanya dari sisinya sedikit pun, sebelah tangan kanannya merangkul pinggang Vanya dan tangan kiri nya dia gunakan untuk menggendong Darel.


Ibu - ibu rumpi sekaligus wanita disana menatap iri ke arah Vanya. Bayangan wajah Vanno tegas walaupun masih SMA dan juga Darel yang seperti ke bule- bulean menambah kesan perfect.


“Aduh, mbak, anaknya umur berapa? ” Tiba-tiba ada seorang ibu- ibu muda menghampiri mereka berdua.


“Ini buk—” ucapan Vanya terhenti karena Vanno memotong nya.


“Anak kami berumur sekitar lima tahun? ” jawab Vanno dengan kesan bertanya.


Wanita itu manggut-manggut. “Lucu banget sih, ” tanpa diduga, wanita tadi mencubit pipi gembul milik Darel dengan gemas.


“Anaknya wajahnya bule bule gitu. Bikin gemas, ”


“Oh iya, Mbak sama Mas nya juga wajahnya masih imut imut gitu nggak, sih? Padahal anaknya udah umur lima tahun, ” tanya wanita tersebut.


“Kalau saya man imut imut masih pantes, Mbak. Lah ini—” ucap Vanya dengan melirik sekilas Vanno dan kemudian melanjutkan ucapannya. “Amit-amit.”


Vanno menaikkan satu alisnya, kemudian Vanya dan mbak - mbak itu tertawa.


“Awas ya, Ma. Nanti Papa kurung Mama di dalam kamar! ” ucap Vanno pura-pura mengancam.


“Kalian pasangan terlucu yang pernah saya temui. Jangan sampai cerai, ya. Ya udah, saya pergi dulu ya, ” ucap wanita itu kemudian pergi.


Masalah mereka berdua tadi seakan menghilang begitu saja digantikan dengan kebahagiaan.


𝙽𝚒𝚔𝚊𝚑 𝚊𝚓𝚊 𝚋𝚎𝚕𝚘𝚖, batin Vanya.


“Kak Vanya, mau es krim, ” pinta Darel sambil menunjuk ke arah pedagang es krim itu.


“Mau es krim? ” tanya Vanya.


Darel mengangguk. “Rasa cokelat. ”


“Oke, tunggu sini, ” saat Vanya akan pergi, tangannya ditahan oleh Vanno.


“Biar aku aja yang beliin,” cegahnya.


“Darel tunggu sini ya sama kak Vanya,” ucapan Vanno dibalas anggukan oleh Darel. Setelah itu Vanno menurunkan nya di samping Vanya.


“Jaga kak Vanya, jangan sampai digodain cowo lain, oke boy? ” seru Vanno.


“Siap, kak. ”


Vanya tersenyum ketika Vanno begitu perhatian dan peduli dengan orang orang yang dia sayang. Seperti Darel, cowo itu mau melakukan apapun untuk anak kecil itu. Biasanya cowo yang di ganggu anak kecil langsung marah tapi dia tidak, dia malah menyebut Darel anaknya.


Ketika mengingat hal tersebut, dirinya seperti keluarga kecil bahagia.


“Ya Tuhan, Darel! Kakak cariin kamu di mana - mana ternyata kamu sama kak Vanya, ” Daren langsung memeluk adiknya khawatir.


“Lo juga! Kenapa nggak ngabarin gue kalau lo lagi sama Darel? ” cerca Daren.


“Sengaja.”


“Astagaa, nih bocah! Gue tuh jantungan tahu nyariin adik gue! Eh lo malah leha-leha disini! ” semprot Daren kepada Vanya dengan berbagai macam kalimat.


Daren mendudukkan bokongnya di samping Darel dan menatap Vanya tajam.


“Gue aduin mak, lo, ” ancam Daren.


“Gue bilangin mami lo juga, soalnya lo teledor jagain Darel! ” jawab Vanya tak kalah ketus.


“Eh, jangan! ” jawab Daren spontan.


“Bodoh amat, ” Vanya memeletkan lidahnya ke arah Daren yang menatap dirinya melas.


Kemudian kedua orang itu tertawa bersama, Vanno yang melihat tawa Vanya yang lepas bersama dengan Daren merasa hatinya seperti di garuk garuk.


“Inget adik lo? ” sindir Vanno.


“Ngapain lo disini? ” tanya balik Daren.


“Gue jalan sama pacar gue lah, ” Vanno langsung menarik Vanya untuk berdiri di samping nya.


“Biasa aja. Nggak usah sok romantis! ” ucap Daren.


“Kita selalu romantis kan, sayang? ” tanya Vanno dengan menaik - turunkan alisnya.


“Iyain, ” jawab Vanya asal seketika membuat Daren tertawa dengan keras.


“Diem lo, ” ketus Vanno.


“Kak Daren nggak boleh ngetawain Papa Vanno sama Mama Vanya! ” sontak Daren yang tertawa langsung berhenti dan menatap melongo ke arah Darel. Vanya menatap Darel horor, sedangkan Vanno senyum senyum sendiri seakan memberikan ucapan terima kasih kepada Darel karena telah membelanya.


“Pinter anak Papa, dimakan lagi es krim nya, ” Vanno langsung mengelus rambut Darel gemas.


“Anak kita udah besar ya, Van? ” goda Vanno.


“Gila.” Daren geleng kepala.


Vanno dan Darel ber-high five bersama.


★ ★ ★ ★ ★


Vanno mengantar Vanya pulang tepat jam lima sore, tatapan mengintimidasi Nata membuat Vanya menelan ludahnya susah payah. Dia ingin pergi dari hadapan kakaknya itu tapi sangat mustahil mengingat ada Vanno di samping nya.


𝙿𝚊𝚜𝚛𝚊𝚑 𝚊𝚓𝚊 𝚕𝚊𝚑 𝚐𝚞𝚊, batin Vanya menyerah. Karena kakaknya itu ingin sekali diakui kakak oleh dirinya.


“Hai, Dek, ” sapa Nata dengan menampilkan senyum lima jarinya.


“Eh, ada calon adik ipar. Apa kabar, Bro? ” sapa Nata tak kalah antusias kepada Vanno.


“Anak alay diem deh! ” ketus adiknya.


Vanno berdehem untuk menginterupsi bahwa masih ada dirinya disana. Dan Vanno ingin Vanya mengenalkan nya kepada Nata sebagai pacar walaupun hatinya belum terlalu yakin akan hubungan nya.


“Nggak mau ngenalin aku ke kakak kamu? ” tanya Vanno.


“Eh, udah manggil aku kamu aja, ” Nata tergelak.


“Kan kamu udah kenal sama ini orang? ” tanya Vanya bingung.


Ingin rasanya Vanno menggigit Vanya karena tingkah polosnya tersebut.


“Ya maksud aku itu, kenalin aku sama kakak kamu secara official, ” ucap Vanno penuh harap.


“Hmm. Kenalin kak, dia Vanno Christian, anak kelas 12 IPA 1. Pacar Vanya Callista, adiknya Nata Vlarentino. Sudah kan? Oke sekarang you out, ane mau bocan, eh enggak deh, aku mau ngerjain tugas dulu. Udah, kan? Sekian, ” setelah mengucapkan kalimat panjang kali lebar dengan satu kali tarikan nafas itu Vanya langsung pergi meninggalkan dua orang cowo ganteng itu.


“Wew, ” Nata geleng-geleng kepala.


“Adik lo lucu, makanya gue suka, ” Vanno terkekeh.


“Emang. Kakaknya aja lucu apalagi adiknya, ya kan? Hahaha, ” tawa jahat keluar dari mulut Nata.


“Jijik, najis! ”


“Bodo amat yang penting ganteng. ”


“Iyain biar seneng. ”