My Future Is You?

My Future Is You?
57. [ S2 ] Terluka kembali oleh orang Yang Berbeda ll



Seminggu berlalu Dan Vany berusaha melupakan kejadian itu meski sebenarnya hatinya masih kecewa  kepada Dion, tapi Demi widia yang kondisinya sangat renta dia mengalah.


Malam itu Vanya masih terjaga dengan kondisi widia yang mulai drop dari siang, namun saat Vanya menawarkan untuk membawanya kerumah sakit widia menolak.


Dilirik jam dinding yang menempel ditembok kamar nya, Dan waktu menunjukkan pukul 00:30am, hati Vanya bertanya Tanya tentang ke beradaan Dion yang belum pulang, membuat Vanya cemas, dia lalu meraih Hp yang terletak dimeja, berharap Ada sms dari Dion, tapi saat Vanya menyalakan hp nya dia mendengus kecewa kalau ternyata Dion sama sekali tidak mengabarinya. Vanya lalu mengalah untuk menghubungi Dion, namun saat Vanya Mencoba menyambungkan panggilan ke no Dion, Vanya hanya mendengar suara operator yang memberi tahu kalau no itu tidak aktif, kekecewaan yang tengah Vanya sembunyikan kembali terlihat begitu jelas, atas apa yang Dion lakukan malam itu.


"Kenapa dia berubah sekarang, apa benar perempuan itu yang udah merubah sikap Dion? Tapi apa hubungan wanita itu sama Dion sampai-sampai dia mampu menguasai suamiku!" Ucap Vanya sambil menatap layar hp yg masih menyala.


Dia lalu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, sampai akhirnya tertidur.


Tapi selang beberapa menit kemudian terdengar suster mengetuk pintunya dengan panik, Vanya yang mendengar ketukan itu langsung bangun Dan membuka pintu kamarnya.


"Kenapa sus?" Tanya Vanya.


"Ibu Mba, ibu," jawab suster dengan gugup.


Vanya yang mendengar jawaban suster langsung berlari Turun menuju kamar widia.


"Mahhh, mamaahh, Kita kerumah sakit ya!" Ucap Vanya begitu sampai dikamar widia.


"Ddii-oo-nn," ucap widia lirih.


Vanya menggaruk keningnya Setelah mendengar ucapan widia.


"Dion Belum pulang ma, Vanya nterin mama kerumah sakit ya?" Jawab Vanya.


Tanpa menunggu lama, Vanya kemudian meminta bantuan suster untuk memindahkan widia kekursi roda, lalu meminta pak darno supir pribadi mereka untuk membawa kerumah sakit.


Tapi saat Vanya tengah menunggu Mobil yang Akan membawa widia, Vanya melihat sebuah Mobil berwarna hitam berhenti didepan pintu gerbang, nampak seorang laki-laki yang dia ketahui adalah suaminya itu keluar Dari Mobil tersebut lalu diikutin oleh seorang wanita keluar Dari Kursi penumpang, Vanya membelalakan matanya seketika saat dia tahu Bahwa suaminya dengan perempuan lain. Hatinya begitu teriris saat harus menelan kenyataan pahit itu, apa yang ia cemas kan sejak tadi ternyata benar, dia lebih memilih wanita itu dibanding ibu nya yang sedang sekarat.


"Van, mama kenapa?" Tanya Dion begitu melihat wajah widia yg pucat pasi.


Vanya melirik Dion dengan sinis lalu menyunggingkan bibirnya.


"Kamu masih inget pulang, hmmm Masih inget sama mama?" Jawab Vanya dengan nada suara yang bergetar.


Mendengar jawaban Vanya yang begitu ketus, Dion lalu meremas pundak Vanya, ditatapnya wajah Vanya yang begitu merah karena menahan amarah dan matanya yang dipenuhi dengan air mata namun dia berusaha tidak meneteskan.


"Apa maksud kamu!" Ucap Dion dengan nada lirih.


"Apa maksud kamu seharian nggak kasih kabar, Hp kamu mati, terus pulang pagi dengan wanita lain, apa maksud nya, lalo kamu emang udah nggak butuh aku disini nggak kayak gini Caranya, pulangin aku ke orang tuaku, aku cape kalau harus kayak gini, kamu laki-laki yang selalu aku Jaga perasaannya, tapi kamu tidak pernah menjaga perasaanku sama sekali dan aku, aku menyesal dengan pernikahan ini!" Ucap Vanya sambil menunjukan jari tangan nya kedada Dion.


Dia lalu berlalu dari hadapan Dion dengan air mata yang membasahi pipinya.


Dion hanya menatap kepergian Vanya, kaki nya mendadak lemas begitu mendengar ucapan Vanya barusan, seperti Ada sesuatu yang hilang Dari hatinya saat wanita yang dia cintai terluka seperti itu, apalagi orang yang melukai adalah dirinya sendiri.


 


Sesampainya dirumah sakit pak darno dan Dion langsung meminta bantuan kepada Petugas rumah sakit untuk membawa widia.


Didorongnya bangsal rumah sakit, sampai didepan pintu ruangan icu widia langsung ditangani oleh dokter yang selama ini menangani penyakit nya.


Dion kemudian duduk dikursi tunggu yang tersedia, lalu menghubungi Vanya, dia mencoba menghubungi Vanya untuk memastikan dalam keadaan baik baik saja. Lama dion menunggu Setelah panggilan tersambung namun sayang Vanya tidak menjawab telepon dari Dion, bahkan sms yang dia Kirim ke Vanya juga tidak dibaca Dan dibalas.


 


Setelah pertengkaran nya dengan Dion, Vanya mengunci diri didalam kamar, dia tidak mampu lagi menjelaskan tentang Perasaan hatinya. Disaat luka hati yang dulu mengangga mulai sembuh, kini harus tergores dengan luka yang lebih dalam lagi, laki laki yang dulu begitu dia kagumi dan dia percayai tidak Akan melukai hatinya seperti masa lalu nya dulu, justru malah sebaliknya, dia mampu menghancurkan hatinya berkeping-keping seperti gelas yg sudah pecah dan tidak bisa disatukan lagi.


Vanya kemudian mengangkat kepalanya dan menyeka wajah nya yang dengan air mata. Tanpa memperdulikan hp dari tadi berkelip-kelip menyala Vanya lalu keluar dari kamarnya dia berlari kecil menuruni anak tangga. Mbok Sri yang berada diruang tamu ikut panik saat melihat Vanya keluar rumah dengan terburu buru.


"Non Vanya, mau kemana non, ibu baik-baik saja kan non?" Tanya mbok Sri berentet, namun Vanya sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan itu, dia berjalan dengan langkah yang begitu cepat dan menenggelamkan wajah sembabnya.


Dikeluarkan mobil putih milik Dion yang jarang dipakai, Vanya lalu mengegas Mobil itu keluar dari halaman, dan menelusuri jalanan yang masih sepi, pikiran nya masih kalut hati nya masih penuh dengan emosi, bahkan dia sendiri tidak tahu mau kemana pergi.


Dengan pandangan kosong dan kecepatan yang tinggi, Vanya terus menerobos dan menyalip beberapa kendaraan yang melintas layaknya seorang pembalap, bunyi klakson yang sangat bising pun tidak Vanya hiraukan sama sekali.


Sampai pada akhirnya kecelakaan itu terjadi, saat Vanya masih dalam lamunannya dan mencoba menerobos lampu lalu lintas yang menyala merah sebuah truck tronton melintas dari arah yang berlawanan, bunyi klakson panjang bersautan untuk menyandarkan Vanya namun sayang saat Vanya mengetahui hal itu dia tidak bisa berbuat apa apa selain membanting stir sampai mobilnya menghantam badan truck.


BRUAAAKKK


Terdengar hantaman itu begitu keras, bagian Mobil yang vanya tunggangi masuk kedalam kolong truck, kaca Mobil nya hancur berserakan dijalan. Para pengendara yang melintasi jalur tersebut berhenti dan turun untuk memberi pertolongan. Mereka mencoba mengeluarkan tubuh Vanya yang masih terjebak didalam sana, ambulance Dan Polisi yang sudah datang langsung bertindak cepat, suara ambulance di jalanan mendadak ramai dan macet.


 


*Rumah Davi & Niken*


Prankkk


"Kenapa ma, kok bisa jatuh gitu?" Tanya Davi.


"Mama gak tau pa, tiba-tiba jatuh sendiri!" Jelas Niken.


Davi meninggalkan Niken yang masih membersihkan bekas tadi. Diraihnya remote yg tergeletak diatas meja, Davi kemudian menyalakan televisi dan menonton berita pagi. Davi dibuat termenung sesaat ketika sesi terakhir berita itu meliput kecelakaan sebuah Mobil berplat no. D 10 N yang menabrak truck tronton, dan saat Davi sadar Bahwa Mobil itu milik dion dia langsung memanggil Niken dengan histeris.


"Maa....mamaaaaaa!" Teriak Davi dari depan tv.


Niken yang merasa terusik dengan suara suaminya yang cukup keras itu, lalu berlari kecil menghampiri Davi.


"Ada apa sih pa, kok teriak-teriak gitu!"


"Ma, mama, lihat ini maa!" Ucap Davi sambil mencari channel tv yang meliput kecelakaan tadi.


"Liat ini ma, mama Kenal dengan plat no mobil itu?"


"Paa, ituu, itu mobil Dion pa, apa yang terjadi dengan mereka pa! Cepetan telepon Vanya atau Dion pa! cepeeeeett!" Ucap Niken mulai panik.


Davi kemudian menelpon Vanya, lama panggilan tersambung tapi tidak Ada jawaban dari Vanya, pikiran mereka mulai berkecamuk, Davi lalu mencoba menelpon nomor rumah Dion, sesaat Setelah panggilan tersambung terdengar suara wanita yang mereka ketahui adalah mbok Sri.


"Selamat pagi," ucap mbok Sri memberi salam, namun Davi tidak menjawab salam itu dia masih gelisah memastikan keberadaan Vanya dan juga Dion.


"Mbok, Vanya nya ada?" Tanya Davi.


"Non Vanya nya baru aja keluar pak, mungkin kerumah sakit, soalnya bu widia kambuh lagi penyakit nya," jawab mbok Sri.


"Mbok Vanya pergi dengan siapa? Dan pakai Mobil yang mana?" Tanya Davi semakin cemas.


"Sendiri pak, pakai mobil putih nya tuan Dion!"


Mendengar jawaban mbok Sri yang terakhir membuat kaki Davi terasa lunglai, telepon yang tadi msih menempel ditelinganya jatuh begitu saja, badannya lemas seperti tak bertulang, Niken yang dari tadi cemas menunggu kepastian itu menjadi semakin panik saat melihat suaminya lemas tak berdaya, hanya sorot kesedihan yang terlihat dari matanya mulutnya tidak mau terbuka saat Niken mencecah dengan seribu pertanyaan.


 


Setelah berhasil dikeluarkan, Vanya langsung dilarikan kerumah sakit dan sampai saat ini polisi belum berhasil menghubung pihak keluarga Vanya karena Vanya yang tidak membawa kartu identitas sama sekali.


Saat sampai dirumah sakit yang ternyata adalah rumah sakit yang sama dengan widia saat ini, mereka langsung membawa Vanya ke ruang IGD, wajahnya penuh dengan darah sampai tidak terlihat sama sekali.


Bahkan Dion yang tengah berjalan dikoridor rumah sakit tidak bisa mengenali wajah Vanya saat melintas didepannya. Dan masih terus berusaha untuk menghubungi Vanya sampai pada akhirnya muncul sebuah Nama dilayar hp.


"Hello pa," jawab Dion saat mengetahui Davi menelponnya.


"Dion, gimana keadaan Vanya? Kenapa kamu nggak kasih kabar papa soal Vanya?" Tanya Davi membuat Dion kebingungan.


"Pa, maksud papa apa? Dion nggak ngerti, dari tadi Dion nelponin Vanya tapi nggak diangkat pa!" Jawab Dion membuat Davi geram.


"SUAMI MACAM APA KAMU INI , ISTRI KAMU KECELAKAAN SAMPAI MASUK TV, KAMU BISA SAMPAI NGGAK TAU...!" Terdengar suara Davi dengan nada yang tinggi dari ujung sana.


Dion masih menyaring kata-kata Davi, namun sesaat kemudian terdengar suara reporter tentang sebuah kecelakaan dini hari tadi. Dion lalu menurunkan hp nya dan menatap layar Tv yang menempel didekat ruang tunggu.


Matanya terbuka lebar saat dia mengetahui plat nomor kendaraan yang tersorot kamera, hp yang tadi masih digenggamannya mendadak jatuh kelantai, keseimbangan Dion mulai goyah, kakinya tidak lagi mampu berdiri saat mengetahui bahwa Korban kecelakaan itu adalah istri nya, dengan kaki terseret dia lalu berjalan menuju meja receptionist untuk menanyakan kamar Vanya.


Setelah Petugas memberi tahu keberadaan Vanya, Dion langsung menuju keruangan IGD, dia melihat segerobolan suster dan juga dokter yang tengah berdiskusi.


"Do-dok, bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Dion langsung.


"Beruntung Anda datang tepat waktu karena pasien keadaan nya sangat kritis Dan harus ditindak lanjut secepatnya."


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya dok! Saya mohon selamatkan nyawanya dok!" Ucap Dion memohon.


kemudian suster yang Ada disamping dokter memberikan selembar Kertas persetujuan yang perlu Dion tanda tangani.


Setelah mendapat persetujuan dari Dion Tim medis lalu memindahkan Vanya keruangan operasi, patah tulang pada pinggang yang Vanya Alami cukup parah, dan pendarahan yang terjadi membuat Vanya membutuhkan banyak darah, percikan kaca Mobil yang pecah juga ada yang merusak kornea matanya.


Dion kini hanya duduk merenungi musibah yang menimpa dirinya, air mata yang tidak pernah ia teteskan kini meluncur mulus membasahi pipi nya, kedua wanita yang sangat berharga dalam hidup nya kini sama-sama tengah memperjuangkan hidup.


...****************...


🔛🔛🔛🔛🔛🔜


Hello semuanya ini lanjutan yang Terluka kembali dengan orang yang berbeda


Jangan lupa dibaca subscribe dan vote serta juga comment agar Author lebih semangat dalam up nya🥳.


Maaf kalo ceritanya terlalu muter-muter, hihihi hope you enjoy guys, happy reading and happy birthday ( bagi yang ulang tahun sekarang )