
" Tris" Nana menahan tangan Tris, dia mencium punggung tangannya. Tris bisa merasakan tubuh Nana yang sangat dingin, kulitnya sangat pucat.
" maaf, aku ingin memutus benang merah ini" Nana menatap dalam sedalam-dalamnya menuju ke manik mata merah yang ada didepannya itu. manik yang membara itu kini tengah menatap iris merah yang ada didepannya. tatapan mereka saling bertemu, dan terus menyantu. namun, nafsu tidak muncul diantara mereka. lebih tepatnya Nana tidak memiliki nafsu untuk melakukan apapun, sedangkan Tris, kini jantungnya berdetak tidak karuan.
" A..APA?" Tris sangat terkejut begitu otaknya selesai memproses kata-kata Nana, dia memeluk erat gadis yang ada didepannya itu dan terus mendekapnya dengan hangat.
" TIDAK! KAMU ADALAH MILIKKU, TIDAK ADA SIAPAPUN YANG BISA MENGAMBILMU DARIKU!!" Tris terus mengeratkan pelukannya, dia tidak ingin kehilangan gadis ini. Nana hanya terdiam, beberapa bulir mutiara turun dari matanya, kini pipinya mulai membentuk anak sungai yang indah.
" maaf, aku tahu! aku juga tidak ingin melepaskan ikatan ini tapi, kamu sudah mengetahui kondisiku saat ini dan aku tidak akan bisa bertahan dari musim dingin ini!" Nana melepas pelukan Tris, dia menatap intens menuju ke dalam iris merah itu. Tris sangat mengerti maksud kata-kata Nana, dia hampir saja membeku mendengar hal ini.
" Tris?" Nana tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Tris, kini dia menempelkan jari telunjuknya dibibir Nana dan bermaksud membuatnya diam.
" kalau begitu biar aku menemanimu hingga akhir musim dingin ini " Tris menampilkan senyumnya, gigi putih yang dia sembunyikan dibalik bibir tebalnya itu kini terlihat.
" tris" Nana memeluk laki-laki itu, ingin sekali dirinya dibawa pergi dari kematian. Nana masih memiliki mimpi yang ingin dia raih, dan mimpi itu adalah bisa hidup bahagia dengan Tris.
" tenanglah, semuanya akan baik-baik saja" Tris mengeratkan pelukannya, dia tidak akan pernah membiarkan gadis ini hilang begitu saja. dia akan melindunginya.
maaf, Tris. semuanya sudah berakhir..
" Nana!" Kuro dan yang lainnya masuk kedalam, mereka melihat kedua insan yang saling mencintai dengan teramat dalam.
" hm..." Nana melepas pelukannya, Ryoma membawa Tris pergi dan Nana mengistirahatkan dirinya.
" hahh...aku bosan!" Nana menarik laptop yang tidak jauh dari jangkauannya, dia memutuskan untuk memainkan game online, dan pilihannya jatuh pada salah satu game MOBA terbaru.
" apa kamu mau terus bermain game?" Kuro tiba-tiba masuk entah dari mana dan membuat Nana terkejut.
" hm, memangnya kita mau kemana?" Nana menyunggingkan sebelah alisnya, dia bingung dengan Kuro. beberapa jam yang lalu Kuro melarangnya pergi bermain diluar dan kini dia memintanya untuk pergi dengannya keluar? WHAT?
" pondok yang ada dipuncak!!" Kuro menunjukkan smirknya, dia tahu Nana sangat suka ketenangan digunung. ya, walaupun dengan kondisinya yang seperti itu tapi Kuro yakin Nana pasti mau.
" TIDAK! LEBIH MENYENANGKAN BERMAIN GAME!!" Nana menolak mentah-mentah ajakan Kuro, dia tidak mau keluar dan merasakan dinginnya salju.
" a..apa? " Kuro sangat terkejut mendengar perkataan Nana.
" hahh..aku mau tidur!" Nana menutup laptopnya kemudian berjalan menuju ke ranjang.
" serius, ini baru pukul 7 PM " Kuro menunjuk jam dinding yang bertengger dengan anggunnya disudut kamar Nana.
" hm, aku serius!" Nana menarik selimut yang menghangatkan tubuhnya dan tidak akan membiarkan udara dingin menyakitinya.
" hahh" Kuro berjalan pergi dari kamar Nana dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruangannya sendiri.
Nana kini tengah meringkuh dibawah selimut, setelah seharian mencoba tetap tenang didepan Kuro tanpa membiarkan kakak tercintanya mengetahui kalau tubuhnya sudah tidak bisa bertahan lagi. Nana hanya mendekap erat tubuhnya, dia bahkan bisa merasakan kalau lututnya telah menyentuh dadanya, tubuhnya yang sangat dingin dan selimut tebal yang tidak bisa menghangatkannya.