
"ITU KARENA KAMI!!!" jawab mereka berempat secara bersamaan, Kuro sedikit terkejut mendengar jawaban yang keluar dari mulut mereka.
" hahh, kalau begitu kalian akan mendapat hukuman!" Kuro menunjukkan smirknya, tanda senyum licik penuh makna itu membuat mereka berempat sedikit terkejut.
" KAMI AKAN MENERIMANYA!" jawab mereka kompak bersamaan.
" kalau begitu kalian harus merawat Nana, dan jangan bawa dia ke Villa yang ada di gunung atau kediaman utama. saat ini kedua tempat itu digunakan untuk rehabilitasi anggota keluarga Yuuki!" kata Kuro yang terlihat serius.
" eh, ta..tapi kami harus membawanya kemana?" Alan bingung dimana mereka bisa merawat Nana, tidak mungkin mereka membawanya menuju ke markas. hal ini mungkin membuat semua anggotanya panik.
" aku tidak peduli, kalian bisa memesan hotel atau membawanya ke markas!" Kuro mencium kening Nana kemudian pergi meninggalkan mereka.
" oi, tuan muda sialan! kemari kamu!!" Louis kesal dengan sikap seenaknya dari Kuro.
"...." Kuro hanya diam dan melambai membelakangi mereka sembari berjalan menjauh. terbesit sedikit ke khawatiran dihatinya, namun dia masih memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada menjaga Nana.
" heh, jadi kemana kita akan membawa nona?" Alan mengeluh, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan olehnya.
" kita tidak mungkin membawanya ke hotel, terlalu berbahaya!" James menyela.
" hm, tapi apa mungkin kita merawatnya di markas?" Ryoma mengingat kalau markas itu sangat berisik, setiap hari seluruh bawahannya harus berlatih, dan kadang akan ada uji coba senjata baru yang sangat berisik.
" hahh, sudalah! kita bawa saja ke tempatku" Louis menyerah dengan pikirannya. lebih baik dia mengorbankan apartemen kesayangannya untuk nonanya itu dari pada masalah menjadi lebih parah.
" kalau begitu, ayo cepat!" Ryoma menyeret Louis yang tengah menggendong Nana.
mereka kemudian segera menuju ke appartemen milik Louis, setibanya diparkiran basement apartemen, mereka segera membawa Nana menuju ke kamar appartemen milik Louis.
" Louis, apa paswordnya?" tanya Alan yang tiba didepan pintu lebih dulu dari yang lainnya.
TIT TIT TIT ...PIP..
pintu terbuka, Alan dan James langsung masuk dan pergi menuju ke dapur. Alan membuat bubur untuk Nana dan James mengambil sewadah air dan handuk untuk mengompres Nana. sedangkan Louis dan Ryoma membawanya masuk ke kamar Louis.
**Author: maklum ya, ini apartemen singgel. jadi, cuma ada satu kamar tidur.
" aku membawakan kompres!" James masuk dan memberikan kompres untuk Nana.
" hahh, ini melelahkan!" Ryoma merebahkan dirinya ke sofa yang ada di dalam kamar Louis.
" urgh..maaf merepotkan kalian.." Nana membuka matanya, terdengar jelas suaranya sangat lemah. dia menatap langit-langit kamar Louis, plafon putih dengan kombinasi cat hitam dan putih menghiasi dinding ruangan tersebut.
" ah, maaf membangunkanmu" Ryoma berjalan menuju ranjang kemudian mengusap surai hitam yang lembut itu.
" ..." Nana menggeleng pelan, dia menatap sekitarnya. dia tengah mencari sesuatu disana.
" dimana Kakak?" tanyanya lemah, dia menatap Ryoma dengan pandangan penuh harap.
" dia tidak disini , ada hal yang perlu dikerjakan Kuro!" Ryoma hanya bisa tersenyum dan mengusap lembut kepala pemilik surai hitam itu.
" aku..."
" aku bawakan bubur!" Alan memotong kata-kata Nana, dia langsung masuk dan membawa bubur itu ke Nana.
" nonaku, saatnya makan!" Alan duduk di ranjang, dia meminta Ryoma untuk membantu Nana duduk.
"ehm.." Nana menggeleng, dia hanya ingin kakaknya sekarang. ya, sejak dulu memang hanya Kuro yang selalu menjaga dan merawatnya ketika sakit, kalaupun Kuro ada masalah mendadak paling tidak dia akan membuatkan bubur untuknya.