MY CUTE BOY FRIEND ...

MY CUTE BOY FRIEND ...
Episode 27



" hah, kalau sudah tahu cepat bantu aku!" Ryoma memberi titah. Louis segera mengambil kunci mobil dan mengambil mobil.


" hei jangan lupa bawa dompet dan ponsel kalian!" Ryoma mengingatkan dan James langsung mengambil dompetnya.


" Alan hubungi tuan muda!" Ryoma memberi titah, hal ini membuat Mereka bertiga jengkel namun, dalam kondisi seperti ini menurutinya akan membuat semuanya lebih baik.


Ryoma segera membawa Nana menuju ke parkiran basement, tempat dimana Louis telah menunggu mereka ber-empat. kini mereka berada dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Ryoma memeluk erat Nana dan memberikannya kehangatan. setibanya dirumah sakit mereka membuat keributan, bagaimanapun Nana adalah yang paling penting jadi, mereka tidak begitu peduli dengan apa yang mereka lakukan.


Nana kemudian dibawa menuju ke salah satu kamar VVIP yang ada disana, dokter kemudian masuk dan memeriksa keadaannya. sementara itu ke-empat pria tampan itu kini tengah khawatir, mau bagaimana lagi? Nana sudah bagaikan jiwa mereka sendiri, jika terjadi sesuatu dengan Nana, maka mereka tidak bisa memaafkan diri mereka sendiri.


" ah, Dokter! bagaimana keadaan Nana?" Alan yang melihat dokter keluar dari ruangan segera memberikan segudang pertanyaan.


" nona baik-baik saja, dia hanya terkena demam ringan!" jawab dokter itu dengan tenang, hal ini membuat mereka berempat lega.


" kalau begitu bisakah kami membawanya kembali?" tanya James yang sudah tidak tahan dengan bau obat yang ada.


" hm, kalian boleh membawanya pulang!" jawab dokter itu dengan tenang, setelah kepergian dokter itu Kuro tiba disana.


" ah, dimana Nana?"tanya Kuro. dia terlihat sangat kacau, rasanya seperti dia telah melakukan marathon 10 kali.


" dia ada didalam!" jawab Ryoma dengan tenang.


" lalu bagaimana keadaannya?" Kuro masih mencoba mengatur nafasnya yang menderu berantakan setelah dia berlari.


" tidak apa-apa, hanya demam ringan!" jawab Louis yang baru keluar dan mengendong Nana dalam pelukannya.


" ah, Nana!" Kuro terkejut melihat adik tercintanya itu tengah terlelap dipelukan Louis, wajahnya terlihat begitu pucat, tubuhnya begitu lemah, rasanya dada Kuro sesak.


" kenapa dia begini?"tanya Kuro sembari menatap ke-empat pria yang ada disana dengan tatapan yang teramat dalam.


" ITU KARENA KAMI!!!" jawab mereka ber-empat secara bersamaan, Kuro sedikit terkejut mendengar jawaban yang keluar dari mulut mereka.


" hahh, kalau begitu kalian akan mendapat hukuman!" Kuro menunjukkan smirknya, tanda senyum licik penuh makna itu membuat mereka berempat sedikit terkejut.


" KAMI AKAN MENERIMANYA!" jawab mereka kompak bersamaan.


" kalau begitu kalian harus merawat Nana, dan jangan bawa dia ke Villa yang ada di gunung atau kediaman utama. saat ini kedua tempat itu digunakan untuk rehabilitasi anggota keluarga Yuuki!" kata Kuro yang terlihat serius


" eh, ta..tapi kami harus membawanya kemana?" Alan bingung dimana mereka bisa merawat Nana, tidak mungkin mereka membawanya menuju ke markas. hal ini mungkin membuat semua anggotanya panik.


" aku tidak peduli, kalian bisa memesan hotel atau membawanya ke markas!" Kuro mencium kening Nana kemudian pergi meninggalkan mereka.


" oi, tuan muda sialan! kemari kamu!!" Louis kesal dengan sikap seenaknya dari Kuro.


"...." Kuro hanya diam dan melambai membelakangi mereka sembari berjalan menjauh. terbesit sedikit ke khawatiran dihatinya, namun dia masih memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada menjaga Nana.


" heh, jadi kemana kita akan membawa nona?" Alan mengeluh, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan olehnya.


" kita tidak mungkin membawanya ke hotel, terlalu berbahaya!" James menyela.


" hm, tapi apa mungkin kita merawatnya di markas?" Ryoma mengingat kalau markas itu sangat berisik, setiap hari seluruh bawahannya harus berlatih, dan kadang akan ada uji coba senjata baru yang sangat berisik.


" hahh, sudalah! kita bawa saja ke tempatku" Louis menyerah dengan pikirannya. lebih baik dia mengorbankan apartemen kesayangannya untuk nonanya itu dari pada masalah menjadi lebih parah.


mereka kemudian segera menuju ke appartemen milik Louis, setibanya diparkiran basement apartemen, mereka segera membawa Nana menuju ke kamar appartemen milik Louis.


" Louis, apa paswordnya?" tanya Alan yang tiba didepan pintu lebih dulu dari yang lainnya.


" 272326" Teriak Louis yang berjalan dengan terburu-buru sambil menggendong Nana.


TIT TIT TIT ...PIP..


pintu terbuka, Alan dan James langsung masuk dan pergi menuju ke dapur. Alan membuat bubur untuk Nana dan James mengambil sewadah air dan handuk untuk mengompres Nana. sedangkan Louis dan Ryoma membawanya masuk ke kamar Louis.


**Author: maklum ya, ini apartemen singgel. jadi, cuma ada satu kamar tidur.


" aku membawakan kompres!" James masuk dan memberikan kompres untuk Nana.


" hahh, ini melelahkan!" Ryoma merebahkan dirinya ke sofa yang ada di dalam kamar Louis.


" urgh..maaf merepotkan kalian.." Nana membuka matanya, terdengar jelas suaranya sangat lemah. dia menatap langit-langit kamar Louis, plafon putih dengan kombinasi cat hitam dan putih menghiasi dinding ruangan tersebut.


" ah, maaf membangunkanmu" Ryoma berjalan menuju ranjang kemudian mengusap surai yang dicat hitam itu dengan lembut.


" ..." Nana menggeleng pelan, dia menatap sekitarnya. dia tengah mencari sesuatu disana.


" dimana Kakak?" tanyanya lemah, dia menatap Ryoma dengan pandangan penuh harap.


" dia tidak disini , ada hal yang perlu dikerjakan Kuro!" Ryoma hanya bisa tersenyum dan mengusap lembut kepala pemilik surai hitam itu.


" aku..."


" aku bawakan bubur!" Alan memotong kata-kata Nana, dia langsung masuk dan membawa bubur itu ke Nana.


" nonaku, saatnya makan!" Alan duduk di ranjang, dia meminta Ryoma untuk membantu Nana duduk.


"ehm.." Nana menggeleng, dia hanya ingin kakaknya sekarang. ya, sejak dulu memang hanya Kuro yang selalu menjaga dan merawatnya ketika sakit, kalaupun Kuro ada masalah mendadak paling tidak dia akan membuatkan bubur untuknya.


" sayang setidaknya makanlah dulu!" Louis sangat paham jelas dengan sikap nonanya, jadi dia memaksa Nana untuk makan walaupun sesuap.


" tidak, aku mau kakak!" Nana kembali menarik selimut dan menyembunyikan dirinya dibawah selimut. dia tidak mau semua orang melihat kesedihannya, dia tidak mau dikasihani. Nana menangis tanpa suara dibawah selimut, hanya dirinya dan butiran mutiara yang membasahi seprai putih dibawahnya.


" Nana..." Ryoma benar-benar sedih melihat nona kesayangannya seperti itu. Louis memberi kode pada semuanya untuk keluar.


setelah semua keluar dari ruangan, Louis meminta mereka duduk di sofa ruang tamu.


" jadi, bagaimana sekarang?" Tanya Louis yang menatap ke-tiga pria yang ada di depannya.


" kita hanya bisa berusaha, kita coba paksa dia makan. setidaknya.... Nana harus makan" Alan menyela keheningan, sekarang yang ada dipikiran  mereka hanya nonanya itu.


" hm, tapi bagaimana?" James mencoba memutar otaknya, dia bingung bagaimana memaksa nonanya untuk makan.


VICTOR_WRITE