
" kak.." Nana menatap jelas pintu masuk kediaman itu, tersirat sedikit keraguan mucul diwajah Nana.
" semuanya akan baik-baik saja!" Kuro menggenggam erat tangan adik perempuannya itu.
" hm.." Nana tersenyum menyembunyikan keraguan tersebut.
kini mereka mencoba masuk kedalam dan disana semua orang telah menanti kehadiran mereka.
" kalian sudah datang?" Ayah dan ibunya menyambut kedatangan mereka.
" kami pulang" kata Kuro dan Nana berbarengan.
" Nana, Kuro, kalian duduklah disini!" Kata Kakek Yuuki yang meminta mereka duduk.
kini mereka duduk didepan semua orang yang tengah memperhatikan mereka.
" jadi ada apa kalian meminta kami kemari?" Nana menatap intens mata-mata yang ada didepannya, kini ketakutan terbesarnya adalah jika ada yang membahas lukanya maka dia akan gila. ya, hanya itu yang ia takutkan.
" hahh...kita langsung saja ke intinya!" kata Kakek Yuuki
" hm?" Kuro dan Nana saling menatap, mereka bingung dengan apa yang dimaksud kakeknya.
Kakek Yuuki memberi tanda pada pelayan untuk mengambil sebuah barang, pelayan segera mengambil barang tersebut dan segera memberikannya pada tuannya itu.
" jadi, Kuro dan Nana! kami ingin kalian memakai ini!" Kakek Yuuki menunjukkan sebuah benda yang sangat berharga milik keluarga Yuuki.
" kalian harus memimpin keluarga ini!" kata Harry yang menatap mereka dengan padangan tajam penuh harap.
" ta..tapi..kek?" Kuro mencoba membantah, namun kakeknya menatapnya lebih dalam.
" TIDAK KAKEK! SEBELUMNYA AKU JANJI BAHWA JIKA TAKDIR MENENTUKAN MAKA KALUNG DAN ANTING INI AKAN JATUH PADA KAMI DUA BERSAUDARA TAPI, KALI INI AKU MENOLAK TAKDIR ITU!!" tegas Nana menolak.
" Nana!" Pada dan Mamanya mencoba meyakinkan kedua anaknya itu.
" TIDAK! sekali TIDAK artinya TIDAK!! aku sudah janji pada kakek bahwa kalung itu akan berada ditangan orang yang tepat, namun orang itu bukan kami! kami akan berada dipuncak dengan nama kami, kami tidak akan membawa nama Yuuki ke atas sana, dan selain itu kami sudah pernah bilang bahwa kami telah membuang nama Yuuki! benarkan, Nyonya?" Nana mempertegas kata-katanya, kini matanya bagai elang yang menemukan mangsanya dan kini semua orang terkejut dengan apa yang dikatakan Nana.
" ya, kami permisi!" Nana menarik kuro pergi dan meninggalkan kediaman Yuuki. sedangkan semua anggota keluarganya mulai bertanya-tanya dengan apa yang terjadi pada keduanya. kakek Yuuki langsung saja mengintrogasi anak laki-laki dan menantunya ( ayah dan ibu Nana dan Kuro ), dan mereka mendapati bahwa Nana dan Kuro telah mendapat perlakuan buruk dari orang tuanya. Kakek Yuuki hanya bisa menghela nafas sambil mengontrol emosinya yang kian menggejolak.
" Nana apa kamu baik-baik saja?" Kuro menatap wajah Nana sekilas, nampak matanya kini tengah berkaca-kaca, beberapa bulir mutiara turun membasahi wajah manisnya. ya, kini Kuro berhenti dan menghapus air mata itu, dia tidak mau melihat adik kesayangannya menangis.
" tenanglah, semua akan baik-baik saja!" Kuro memeluk erat Nana kemudian menangkup wajah adik kecil kesayangannya itu.
" hm.." Nana hanya bisa tersenyum dan menghapus air matanya mencoba menguatkan dirinya sendiri, kalau Kuro saja bisa dirinya juga pasti bisa.
" ayo kita pergi ke taman bermain!" ajak Kuro menghibur Nana.
" kerumah hantu?" tanya Nana sambil menunjukkan senyum manisnya.
" urgh..kamu benar-benar manis!!" Kuro mencubit pipi Nana geram.