
" Nana!!" semuanya memeluk erat Nana, mereka lega Nana baik-baik saja.
" apa yang?" Nana membersihkan tisu yang ada dihidungnya, dia melihat darah disana. kini dia menyadari apa yang terjadi, dia kelelahan kemudian mimisan dan setelahnya pingsan.
Nana akhirnya mendapat ceramah panjang lebar dari mereka ber-empat, kini telinganya sudah sakit mendengar suara keempat laki-laki itu. Nana hanya diam sambil memainkan ponselnya, sesekali tidak lupa dia bersandiwara dan akhirnya mendapat pukulan yang mendarat diatas kepalanya.
kini hari sudah senja, Nana sudah bosan dengan tingkah keempat laki-laki itu. dia menatap ke arah jedela balkon nya, dia menatap keluar, disana angin tengah bertiup dengan kencang, pepohonan sudah menggugurkan semua daunnya, sebentar lagi musim dingin tiba.
" kak" Nana masih memandang ke arah jendela, dia berpikir. mungkin, sisa waktunya hanya sebentar lagi. musim dingin adalah hal terbesar yang harus dia hadapi, dengan sistem imun yang sangat lemah seperti itu, dia yakin dia tidak akan bertahan.
" ada apa?" Kuro menatap Nana dengan penuh kesedihan, terkadang nampak jelas laki-laki itu mengalirkan air matanya secara tidak sengaja,
" apa kakak bisa memanggilkan Tris?" Nana menatap kakak laki-laki kesayangannya itu, dia membuat sebuah senyum simpul di wajahnya. Kuro menyadari maksud senyum itu, pasti akan ada sesuatu yang terjadi.
" hm, aku akan memanggilnya" Kuro berjalan pergi menuju ke luar dan memanggil Tris yang ada diruang tamu dengan Ryoma.
" kenapa kamu mencari Tris?" Alan tidak mengerti dengan jalan pikiran Nana, bukankah Tris dan Yora yang membawa keluarga Yuuki dan Keluarga Rose menuju ke mansion Yuu?
" ada sesuatu yang harus ku bicarakan!" Nana hanya membuat sebuah senyum yang indah. Alan yang melihat senyum itu merasakan sakit yang teramat dalam, hatinya teriris melihat nonanya itu.
" apa kamu akan menghukumnya?" Louis mulai menatap Nana dengan pandangan yang tidak menyenangkan, raut wajahnya terlihat sangat khwatir, tersirat sedikit kesedihan dari sana.
" tidak apa!" Ryoma tiba-tiba saja memeluk Nana dari belakang, Nana yang terkejut dengan hal ini malah menumpahkan air matanya, Alan dan Louis yang terkejut mendapati Nana menangis kini ikut memeluknya. hatinya merasa sakit, mereka tidak ingin melihat Nana yang lemah. mereka hanya ingin melihat senyum manis Nana, senyum tanpa beban walau ada ribuan rintangan dan halangan yang terlihat jelas didepannya.
sedangkan itu disisi lain, Tris langsung bergegas pergi menuju ke kamar Nana. dia menjadi sangat khawatir dengan keadaan Nana. ya, mau bagaimana lagi? pacarnya pingsan didepan matanya dengan hidung yang terus mengalirkan darah sedangkan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
" NANA!!" Tris langsung masuk kedalam kamar Nana. pintunya tidak dikunci bahkan pintu itu dibiarkan terbuka.
" Tris..." Nana tersenyum pasi mendapati keberadaan tunangannya itu, dia melepas pelukan ketiga laki-laki yang ada di depannya kemudian meminta mereka keluar.
" Nana, apa kamu baik-baik saja?" Tris mendudukkan dirinya di tepi ranjang king size milik Nana, kini dia memegang tangan Nana.
" ah, Nana kamu sangat dingin!" Tris berusaha mencari jaket yang ada didalam lemari pakaian milik Nana, setelah dia merasa mendapatkan jaket yang cukup hangat, dia meggantungkan jaket itu ke tubuh Nana. Nana hanya terdiam dan tersenyum mendapati tingkah tunangannya itu.
" Tris" Nana menahan tangan Tris, dia mencium punggung tangannya. Tris bisa merasakan tubuh Nana yang sangat dingin, kulitnya sangat pucat.
" maaf, aku ingin memutus benang merah ini" Nana menatap sedalam-dalamnya menuju ke manik mata merah yang ada didepannya itu. manik yang membara itu kini tengah menatap iris merah yang ada didepannya. tatapan mereka saling bertemu, dan terus menyantu. namun, nafsu tidak muncul diantara mereka. lebih tepatnya Nana tidak memiliki nafsu untuk melakukan apapun, sedangkan Tris, kini jantungnya berdetak tidak karuan.
" A..APA?" Tris sangat terkejut begitu otaknya selesai memproses kata-kata Nana, dia memeluk erat gadis yang ada didepannya itu dan terus mendekapnya dengan hangat.
" TIDAK! KAMU ADALAH MILIKKU, TIDAK ADA SIAPAPUN YANG BISA MENGAMBILMU DARIKU!!" Tris terus mengeratkan pelukannya, dia tidak ingin kehilangan gadis ini. Nana hanya terdiam, beberapa bulir mutiara turun dari matanya, kini pipinya mulai membentuk anak sungai yang indah.