
aku tidak akan pernah seenaknya lagi, karena aku akan ....per...gi...
Nana menangis dalam hati, tiba-tiba suara kembang api memecah keheningan. Nana dan Kuro melepas pelukannya kemudian menikmati indahnya pemandangan malam. langit gelap yang sebelumnya hanya dihiasi oleh cahaya rembulan kini menjadi penuh warna, bahkan keindahannya membuat sang bintang tak sanggup menampakkan sinarnya.
" can...tik...." Semua menatap ke arah langit, bintang-bintang yang menghiasi gelapnya malam, warna kembang api yang bertebaran diatas cahaya putih sang rembulan.
" ahhh..." Nana menghempaskan tubuhnya, cairan merah mulai mengalir dari hidungnya.
"Nana!" Raymond langsung menangkap tubuh Nana yang hampir jatuh ke tanah. mendengar teriakan Raymond. Kuro, Alan dan Louis langsung menoleh ke arahnya.
" kita kembali sekarang!" Kuro langsung memutuskan seenaknya, Nana menahan lengan baju Kuro.
" aku ingin tetap disini" Nana tersenyum lembut, dia melihat wajah Kuro yang sangat khawatir.
" Tidak! kita kembali sekarang!" Kuro langsung mengangkat tubuh Nana, namun Nana lebih memilih menjatuhkan dirinya.
"Nana!" Louis sangat terkejut Nana menjadi begitu keras kepala. Nana hanya tersenyum menatap langit, darah masih terus mengalir dari hidungnya, pandangannya mulai memudar dia tidak bisa melihat degan jelas.
" hei, hapus air mata kalian!"
pandangannya mungkin kabur, tapi dia tahu dari air mata Louis jatuh diatas wajah Nana, Nana hanya bisa tersenyum. Louis membaringkan kepala Nana diatas lututnya sambil terus terisak. Ryoma dan Alan menundukkan kepalanya, mereka berharap Nana tidak melihat air mata mereka.
" kak" Nana menoleh ke arah Kuro, dia menatap lembut iris merah yang ada disampingnya.
" tolong beritahu Tris, kalau aku sangat mencintainya, dan beritahu dia. aku tidak menyesal karena dia tidak ada disini, aku juga tidak marah karena dia melanggar janjinya."
" Alan, bisa kamu mengambil cetak biru dilaci yang ada dikantor ku di Queen! paswordnya dua ke kiri, empat ke kanan dan lima ke kiri. " alan hanya meanggukan kepalanya lemah.
" Alan, Ryu mulai sekarang kekuasaan naga merah dan Queen akan jatuh ke tangan kalian, dan perintah terakirku untuk kalian adalah...hiduplah dan tolong.... jaga kakakku!" Nana tersenyum, kristal bening mulai turun dan membasahi wajah Kuro. bahkan diakhir hayatnya, Nana masih memikirkan orang lain.
" Louis..." Nana menatap ke manik yang ada diatasnya, Louis hanya mengangguk dan memandang wajah indah Nana.
" tolong jaga K7 " Nana menghapus air mata Louis, Louis hanya mengangguk dan tersenyum mendengar kata-kata Nana.
" dan tolong, berhenti menangis. kalian boleh menangis dalam hati, tapi tidak didepan orang-orang. kalian adalah tubuh dan jiwaku, jadi bagaimana mungkin seorang Nathlia Yuu menangis didepan umum?"
Nana terkekeh ketika mengucap kata-kata itu, sungguh lucu.... tapi, Nana tidak ingin perpisahan yang menyedihkan. mendengar kata-kata Nana tangis mereka pecah, isakan terus keluar dari mulut mereka, buliran air mata telah membentuk anak sungai diwajah mereka.
" hahh...senang betemu dengan ka..li...an...." Nana menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Louis, Kuro langsung memeluk tubuh dingin adiknya. Ryoma dan Alan menangis semakin menjadi, dan Louis. dia kini terpaku tidak percaya nonanya tewas dipangkuannya.
10 tahun setelah kejadian itu...
"Papa! Papa! " seorang gadis kecil berlari menuju ke arah pria tinggi dengan rambut perak yang tidak jauh darinya.
" ada apa, Lia?" pria itu berjongkok dan menyamakan tingginya dengan gadis kecil itu, dia menorehkan senyum manis diwajahnya.
" Papa lihat, aku menemukan liontin yang sangat cantik!" gadis itu menunjukkan sebuah liontin emas dengan motif bunga mawar. sang pria sangat mengenal liontin itu, liontin yang sangat berharga milik seorang gadis muda yang sudah lama menghilang dari bumi.
" eh, bukankah ini milik Tris?" seorang wanita muncul dari belakang pria itu, dia menatap ke arah liontin yang dipegang oleh putrinya.
" ah, Nana!" pria itu, ya Kuro. dia membuka liontin itu dan mendapati foto mendiang adik kembarnya itu.
" ada apa, Pa?" gadis kecil itu menatap bingung pada ayahnya, dia tidak mengerti tapi, tiba-tiba mimik wajah ayahnya berubah, senyum lembut yang tadi menghiasi wajah sang ayah kini menghilang.
" tidak apa, Papa hanya mengingat gadis cantik ini!" Kuro menunjukkan foto Nana yang ada diliontin itu.
" wah, cantiknya!" gadis kecil itu terpesona dengan kecantikan wanita yang ada difoto itu, sebuah bingkai kecantikan yang sempurna dan senyum yang begitu indah menghiasi lukisan sempurna itu.
" Pa, siapa ini?"tanya gadis itu sembari menatap ke dalam manik mata ayahnya, ada banyak pertanyaan yang terlintas didalam pikirannya.
" dia.... bibimu" Kuro menorehkan sebuah senyum diwajahnya. Yora dapat merasakan hati Kuro yang tengah teriris.
" lalu dimana bibi?" tanya gadis itu penuh rasa penasaran, tiba-tiba kristal bening mengalir dari wajah Kuro.
" papa apa papa baik-baik saja?" Gadis itu terkejut mendapati air mata mengalir di wajah ayahnya, dia tidak pernah melihat ayah tercintanya ini bersedih. apalagi sampai meneteskan air mata di wajah tampannya.
" ah, Papa baik sayang" Kuro menghapus air matanya dan menenangkan dirinya. dia ingat kalau dia sudah pernah berjanji, dan dia tidak bisa melanggar janjinya.
Nana sekarang aku akan membawa keponakanmu untuk bertemu dengan mu.
" ayo kita bertemu dengab bibi!" Kuro mengangkat tubuhnya kemudian menggendong gadis.
mereka menaiki setiap anak tangga yang akan membawa mereka ke makam Nana. setibanya di area makam mereka mendapati Tris ada disana, dia tengah berdoa dengan khidmat.
" Paman Tris!!" gadis itu turun dari gendongan Kuro kemudian berlari kearah paman kesayangannya itu.
" eh, Nathalia!!" Tris terkejut mendapati gadis kecil itu melompat ke pelukannya.
" paman apa yang kamu lakukan disini?" Tris menurunkan gadis itu dan menyamakan tingginya dengan tinggi gadis kecil itu.
" ah, paman sedang mengunjungi seseorang" jawab Tris sambil menengok ke arah makam Nana.
" hei, kamu menghilangkan ini!" Kuro melempar Liontin milik Tris yang tadi hilang.
" ah, thanks!"
Tris menangkap Liontin yang tadi dilempar oleh Kuro, dia membuka Liontin itu dan menatapi Foto Nana. tunangannya yang tidak akan pernah bisa ia nikahi, gadis cantik yang telah berjanji bahwa mereka akan selalu bersama tapi gadis itu mengingkarinya.
" paman, apa kamu mengenal bibi?" gadis itu menatap ke iris merah milik Tris. Tris terkejut mendengar gadis kecil itu menyebut Nana dengan nama bibi.
" apa Nathalia tahu siapa gadis cantik ini?" Tris menatap lembut ke iris biru shapire yang ada didepannya.
" Papa bilang itu bibi, apa paman tahu dimana bibi?" Gadis itu menatap wajah Tris dengan pandangan bingung, dia mengharap sebuah jawaban dari paman tersayangnya itu.
" ya paman mengenalnya, dia adalah wanita tercantik yang pernah paman lihat, dia adalah seorang gadis yang sangat kuat, tak kenal takut, gigih, dan seorang pejuang yang berani. dia adalah Nathalia Yuu, jiwa dari Tristhan Rose" Tris menatap makam itu dengan sebuah senyuman menghiasi wajahnya.
" Nathalia Yuu? kenapa namanya sama dengan nama Lia?" gadis itu semakin bingung dengan kata-kata pamannya itu.
"sayang bisa kita berdoa lebih dulu?"
Kuro membawa putri kecilnya itu menuju ke dekat makam Nana. gadis itu berdoa dengan khidmatnya walau dia tidak tahu siapa yang telah terbaring disana.
" jadi dimana Bibi sekarang pa?" tanya Lia penuh penasaran. gadis itu sudah tidak sabar ingin menanyakan seribu pertanyaan pasa sang ayah.
" ini makam bibi, hari ini papa ingin mengenalkan Lia pada bibi!" ucap Kuro yang membuat Lia bingung, kenapa sang papa mengatakan bahwa bibinya adalah sebuah makam? apa yang bisa ia mengerti kecuali sang ayah ingin mengatakan kalau bibinya sudah meninggal?
" ah, bibi maaf Lia tidak mengenali bibi! lia minta maaf, lia telah bersikap tidak sopan pada bibi!!" ucap Lia yang membuat Kuro tersenyum.
Kuro, Yora, dan Tris hanya tersenyun kecil melihat tingkah manis Nathalia. Kuro dan Yora kembali dengan doa mereka, setelah selesai mendoakan Nana. Yora membawa Nathalia pergi di ikuti dengan Tris yang mengekori mereka.
" Nana" Kuro menyentuh ujung makam Nana, dia menatap nanar ke arah nisan itu.
" kamu melihatnya bukan, dia adalah putriku. namanya Nathalia, aneh bukan? padahal aku tidak pernah mau gadis lain menyandang nama adik kesayanganku. tapi, apa kamu tahu kenapa aku tetap melakukannya?" Kuro merebahkan dirinya disamping makam Nana, manik matanya menatap langit biru yang begitu indah. dia teringat akan Nana.
" hahh....Yora yang memaksaku memberinya nama itu. padahal aku berencana memberi nama Yuko untuk anak manis itu. apa kamu tahu apa yang dia katakan?"
" dia bilang, dia melihatmu didalam diri gadis kecilku. Yora bilang ada aura hangat dan lembut yang sama seperti aura mu, dan aku akui itu. gadis kecilku memang sangat mirip sepertimu. " Kuro tersenyum lembut memandangi langit cerah. butiran bening jatuh dan membasahi wajahnya.
" ah, maaf! aku benar-benar tidak bisa menahannya. aku hanya menangis didepanmu kok! "
" Nana, aku tahu mungkin ini sudah terlambat. tapi, kemarin Ryoma, Alan dan Louis memberiku sebuah kertas. aku sudah membukannya, dan aku sudah membaca pesanmu! tapi, kenapa setelah 10 tahun dan kamu baru mengizinkannya terbuka? "
" aku benar-benar putus asa. aku pikir aku sudah bisa melupakan masa lalu, tapi setelah membaca pesamu, aku ingat. hidup bukan hanya mengenai diri kita. aku akan berusaha memperbaiki hubungan kedua keluarga. aku akan kembali ke sana" Kuro menggenggam erat kepalan tanganya, walau sangat menyakitkan baginya harus kembali ke tempat yang sudah membuangnya tapi, itu adalah permintaan terakhir sang adik tercintanya.
Kuro sudah memikirkan hal ini ribuan kali, dan akhirnya memutuskan untuk melakukan permintaan terakhir adiknya itu. walau sangat tidak percaya tapi yang dia baca itu benar-benar tulisan tangan milik Nana.
" Nana, sebelum aku pergi...aku mohon padamu! seperti kamu yang selalu melindungiku sejak dulu, aku mohon! tolong...lindungi keluarga kecilku, tolong lindungi Lia ( panggilan Nathalia ). aku mohon padamu...Nana, jangan pernah meninggalkanku, jangan pernah pergi dariku. aku....aku sudah cukup kehilangan dirimu, dan kini Lia yang menyandang namamu...dan menjadi cahayaku yang baru."
" karenannya....lindungi dia. jangan sampai dia memikul beban yang dulu kita bawa, jangan sampai dia menderita . jangan sampai dia merasakan rasa sakit ataupun kesedihan. "
" dia memang sama sepertimu, tapi...dia memiliki sesuatu yang tidak kita punya. dia lahir dibawah nama Yuu yang memiliki kekuasaan di dunia ini. dia lahir dengan kekuasaan, nama, kehormatan, tahta, kekayaan, kecantikan, kecerdasan, dan perlindungan yang luar biasa. selalu ada ribuan bodyguard yang mengikutinya selalu ada ribuan pelayan yang melayaninya. selalu ada ratusan dokter yang menjaganya, dia tumbuh dengan penuh kebahagiaan dan kehangatan keluarga. "
" ya, walau aku gila kerja tapi, aku selalu meluangkan waktuku untuknya. aku selalu menyimpan sedikit waktu untuk melihatnya tumbuh dan aku memasang sikap overprotektif yang tidak pernah aku berikan padamu, tapi aku memberikan sikap itu padanya. aku telah memutuskan untuk menjadikan dirinya sosok wanita hebat sepertimu, yang hanya tumbuh dibawah sorot lampu yang sangat terang bukan sinar bulan yang menghangatkan tetapi tidak bisa mencerahkan sang langit. aku akan membuatnya menjadi matahari yang terus bersinar menyinari langit biru, membawa kehangatan dan kebahagiaan. tanpa ada kejahatan apapun yang mengikutinya."
" selamat tinggal, Nana"
VICTOR_WRITE