
* Halo?* polisi itu mengambil ponsel yang ada didekat kemudi kemudian menjawab panggilan itu.
*Eh\, SIAPA KAMU? DIMANA ADIKKU?*
* ah\, syukurlah. tuan adik anda mengalami kecelakaan di jalan toll yang menuju ke pinggir kota!*
*A..Apa..?* saat itu Kuro hampir menjatuhkan ponselnya\, otaknya tidak bisa memproses apa yang tengah terjadi.
* halo? tuan?*
* DIMANA DIA SEKARANG?*
* saat ini korban dibawa menuju ke rumah sakit Pusat Kota!*
Kuro tidak peduli dengan ponsel Nana yang masih dibawa oleh polisi itu, dia tidak peduli dengan mobil yang rusak parah itu. dia hanya memikirkan Nana.
kini Kuro sedang menuju ke Rumah sakit pusat, dia sempat menelfon Louis agar Louis bergegas ke rumah sakit. dia juga tidak lupa menghubungi Ryoma dan Alan untuk memeriksa lokasi kejadian perkara.
hm, setibanya di Rumah sakit dia langsung menuju ke meja resepsionis. dia mencoba memanggil perawat yang kini tengah terlelap didepan komputernya, dia memanggilnya beberapa kali namun, tidak ada jawaban.
BRAKK..
Kuro akhirnya terpaksa menggebrak meja depan resepsionis dan akhirnya mengejutkan perawat itu. ya dia terkejut, akan ketampanan sosok yang ada didepannya.
( Author: bercanda ≧∇≦, perawatnya takut ama gebrakan mejanya. ditambah syok akan ketampanan Kuro ~_~ )
" a..apa ada yang bisa dibantu?"
" dimana pasien yang baru mengalami kecelakaan ?"
" gadis!*
* dia ada di ruang operasi no 5\, lantai 7\, koridor sebelah kanan setelah lift!"
Kuro langsung berlari menuju lift yang tengah kosong saat ini, dia segera menekan tombol lift yang akan membawanya menuju ke lantai 7. kini dia berada di depan ruang operasi, dia tengah duduk dikursi tunggu yang ada di sebrang pintu, matanya tengah fokus menatap ke arah jendela yang ada di pintu itu, sesekali matanya menatap ke arah lampu yang kini masih berwaran merah, tangannya saling mengait menjalin sebuah anyaman, hatinya kini terus berdoa dan memohon semoga adiknya baik-baik saja.
beberapa lama setelahnya Louis tiba disana, Louis menatap Kuro yang tengah duduk didepan ruang operasi hanya dengan kaos dan celana jeans hitam membalut tubuhnya.
" Kuro!" hanya sebuah panggilan biasa, namun panggilan itu membuyarkan fokusnya.
" Na..na.." itu kata pertama yang terucap dari mulutnya sejak dia duduk didepan ruang operasi.
GREPP..
sebuah pelukan hangat tiba-tiba mendekap tubuh Kuro, bola matanya mulai memanas, terlihat kristal bening mulai terpancar dimatanya, ingin sekali Kuro menumpahkan air matanya.
" semua akan baik-baik saja!" sebuah kata sederhana namun, air mata Kuro pecah. dia tidak bisa menahanya lagi, hatinya sakit, dadanya sesak, air matanya mulai membentuk sungai di wajahnya.
" hiks...lou..is..hiks...Na..na..dia..dia..huaa..."
Tangisnya pecah, buliran mutiara mulai membasahi bahu Louis, dia sangat tahu perasaan Kuro saat ini. ya, saat ini Louis juga merasakan hal yang sama dengan Kuro, hatinya hancur, ketakutan terus membayanginya.
"tenanglah, Nana pasti sedih jika kamu begini" Louis memeluk erat Kuro, dia juga ingin menangis. tapi, apa jadinya jika mereka berdua menangis disana. yang ada pasti kegaduhan terus terjadi, Louis mengalah dia sangat menderita namun, Kuro pasti jauh lebih menderita.
jam terus berdetak, waktu terus berlalu. Kuro dan Louis masih menunggu kabar tanpa kepastian didepan ruang operasi, Ryoma dan Alan tengah membantu polisi melakukan penyelidikan dan Nana, Nana tengah berjuang.