
"apa kamu akan berkencan dengan berkas-berkas itu untuk malam ini, Presdir Kuro" Nana berjalan masuk dan memeluk Kuro dari belakang.
" hahh, bukankah presdir yang sebenarnya tengah bercinta dengan selimut dan bantal?" Kuro masih fokus dengan berkas-berkas yang ada didepannya, dia bahkan tidak menengok ke arah Nana sedikitpun.
" do you want a Coffee?" Nana berjalan keluar dan berniat untuk kembali ke dapur.
Nana kembali dengan Coffee yang berada didalam mug berwarna hitam polos. dia segera menuju ke ruang belajar dan memberikan Coffee yang Kuro inginkan.
TAK
Nana meletakkan mug hitam disampingnya kemudian bergegas menuju ke kamarnya. akan tetapi saat dia akan pergi Kuro menahan lengannya dan menariknya ke pangkuan Kuro.
" ouch, apa yang?" Nana menggerang kesakitan. sedangkan Kuro hanya menjatuhkan kepalanya diantara ceruk leher Nana. dia memeluk Nana dengan sangat erat, Nana bahkan merasakan ada sesuatu yang membasahi bahunya.
" hahh..." Nana hanya memeluk balas Kuro, kemudian mengusap lembut surai kakaknya itu.
" kumohon sebentar saja" Kuro mempererat pelukannya dan Nana hanya terdiam. setelah dirasa cukup bagi Nana, dia mendorong tubuh kakaknya itu.
" sudah?" Nana menatap kesal pada Kuro, dia yang mau tidur saja kenapa harus repot-repot seperti ini?
" haha" Kuro tersenyum kemudian mencium pucuk kepala Nana.
" hm.." Nana mencium pipi kanan Kuro kemudian kembali menuju ke kamarnya. sedangkan Kuro kembali menlanjutkan kencannya dengan tumpukan berkas dan laptopnya.
keesokan harinya Nana terbangun sangat pagi, dia bangun pukul 6 pagi, dan keributan sudah terdengar jelas dari bawah. Nana memutuskan untuk memeriksa apa yang terjadi di bawah, dia bahkan mendengar Kuro tengah berteriak.
Nana keluar dengan kemeja yang membalut tubuhnya. dia berjalan kebawah dengan santai seperti biasa namun yang membuatnya terkejut adalah...
BRAKK
" Nana!" Kuro yang mendapati adiknya terjatuh langsung menghampirinya. tubuh Nana gemetaran, matanya membelalak, ada sebelit ingatan yang tersirat dalam otaknya.
Kuro langsung menggendong Nana, kemudian meminta Luciffer mengurus sisanya.
Nana mencengkram erat kaos yang dikenakan oleh Kuro, Kuro bisa merasakannya, adiknya kini tengah ketakutan. Kuro menggendong Nana ala bridal style menuju ke kamarnya, setibanya di kamar Nana. Kuro langsung mendudukkan Nana disisi tepian ranjang.
" apa kamu baik-baik saja, Nana?" Kuro berjongkok didepan Nana agar dia bisa menatap wajah adiknya yang tengah gemetar itu.
"..." diam, hanya tatapan yang mengerikan dari Nana.
" hahhh...." Kuro menghela nafas panjang , dia menangkup wajah adik kecilnya itu kemudian tersenyum.
"hm, aku.. tidak baik!" Nana mulai mengangkat suaranya, terdengar dia sangat ketakutan.
" tidak apa, aku disini!" Kuro mencium dahi Nana dengan lembut.
Nana menumpahkan tangisnya pada Kakak tercintanya itu, kini dirinya hanya ingin kenyamanan, dia hanya ingin rasa takut itu hilang.
sedangkan itu, diluar... Ryoma, Alan, dan Louis sudah tiba disana. mereka mencoba menenangkan anggota keluarga Yuuki dan Rose, dan meminta mereka untuk keluar secara baik-baik sebelum mereka kehilangan kesabaran.
setelah mencoba berkali-kali, mereka masih saja gagal. para tetua dari kedua keluarga ini tetap bersikukuh untuk bertemu dengan Nana dan Kuro lebih dulu.
" ayo kita turun" Nana mengumpulkan semua tekadnya kemudian mengajak Kuro turun.
" apa kamu yakin?" Kuro menatap Nana yang hanya mengenakan Kemeja putih dan tidak mengenakan apapun ditubuhnya.