
keesokan harinya Nana terbangun sangat pagi, dia bangun pukul 6 pagi, dan keributan sudah terdengar jelas dari bawah. Nana memutuskan untuk memeriksa apa yang terjadi di bawah, dia bahkan mendengar Kuro tengah berteriak.
Nana keluar dengan kemeja yang membalut tubuhnya. dia berjalan kebawah dengan santai seperti biasa namun yang membuatnya terkejut adalah...
BRAKK
Nana jatuh ke lantai, kakinya lemas ketika mendapati seluruh keluarga besar Yuuki dan Rose ada disana.
" Nana!" Kuro yang mendapati adiknya terjatuh langsung menghampirinya. tubuh Nana gemetaran, matanya membelalak, ada sebelit ingatan yang tersirat dalam otaknya.
Kuro langsung menggendong Nana, kemudian meminta Luciffer mengurus sisanya.
Nana mencengkram erat kaos yang dikenakan oleh Kuro, Kuro bisa merasakannya, adiknya kini tengah ketakutan. Kuro menggendong Nana ala bridal style menuju ke kamarnya, setibanya di kamar Nana. Kuro langsung mendudukkan Nana disisi tepian ranjang.
" apa kamu baik-baik saja, Nana?" Kuro berjongkok didepan Nana agar dia bisa menatap wajah adiknya yang tengah gemetar itu.
"..." diam, hanya tatapan yang mengerikan dari Nana.
" hahhh...." Kuro menghela nafas panjang , dia menangkup wajah adik kecilnya itu kemudian tersenyum.
"hm, aku.. tidak baik!" Nana mulai mengangkat suaranya, terdengar dia sangat ketakutan.
" tidak apa, aku disini!" Kuro mencium dahi Nana dengan lembut.
Nana menumpahkan tangisnya pada Kakak tercintanya itu, kini dirinya hanya ingin kenyamanan, dia hanya ingin rasa takut itu hilang.
sedangkan itu, diluar... Ryoma, Alan, dan Louis sudah tiba disana. mereka mencoba menenangkan anggota keluarga Yuuki dan Rose, dan meminta mereka untuk keluar secara baik-baik sebelum mereka kehilangan kesabaran.
setelah mencoba berkali-kali, mereka masih saja gagal. para tetua dari kedua keluarga ini tetap bersikukuh untuk bertemu dengan Nana dan Kuro lebih dulu.
" ayo kita turun" Nana mengumpulkan semua tekadnya kemudian mengajak Kuro turun.
" apa kamu yakin?" Kuro menatap Nana yang hanya mengenakan Kemeja putih dan tidak mengenakan apapun ditubuhnya.
" ah!" Nana bergegas menuju ke kamar mandi dan menganti pakaiannya.
setelah beberapa lama kemudian Nana dan Kuro turun menemui keluarga Yuuki dan Rose yang kini tengah berdebat dengan Alan dan Louis.
" ehm.." Kuro hanya berdehem agar perdebatan panas itu berhenti sejenak.
" bisa kita duduk lebih dulu?" Nana yang ada dibelakang Kuro mulai angkat bicara, semuanya mengangguki dan langsung duduk disofa yang disediakan.
keheningan melanda ruang tamu di mansion Yuu, kini mereka bingung bagaimana memulai pembicaraan ini, hingga...
" Nana ..Kuro.." Harry Yuuki membuka pembicaraan, semuanya langsung mengalihkan fokus padanya. tidak lupa dengan Kuro dan yang lainnya juga langsung mengembalikan fokusnya.
" tujuan kami kemari adalah kami ingin meminta maaf dan berterimakasih, selain itu kami ingin membicarakan prosesi pernikahan kalian dengan Tris dan Yora. " kakek Yuuki menatap intens pada manik merah milik kedua anak yang duduk diseberangnya.
" ah, tidak!" Nana berteriak dan membantah usulan tersebut.
ini adalah hari yang sangat buruk. ( Nana berbisik dalam hatinya, dia pikir hari ini mungkin akan sangat menyebalkan)
" Na..na.." Lisa menatap sedih pada anak perempuan semata wayangnya. dia menyesal karena telah memperlakukan Nana dan Kuro dengan sangat buruk.
" maaf, bisakah kalian pergi" Nana menundukkan kepalanya, dia tidak ingin melihat mereka.
"NANA CUKUP, BERHENTILAH MENJADI EGOIS!!" Raymond yang sejak dulu hanya diam dan tidak mengerti kali ini angkat bicara. dia tidak mau kejadian 3 tahun lalu terjadi kembali.
" ah!" Nana terkejut mendapati Kuro yang sudah berdiri didepannya, disampingnya ada Ryoma, Alan dan Louis yang siap melindunginya.
aku tidak sendiri~
kata-kata itu terngiang di dalam kepalanya, dia kembali mendapat keberaniannya lagi.
" hahh...maaf, aku tidak pernah egois" Nana mendorong pelan tubuh Kuro agar semua orang bisa melihatnya dengan sangat jelas.
" aku tidak pernah egois, aku tidak pernah seenaknya sendiri, aku selalu berpikir, aku tidak berbuat seenak jidat seperti yang kalian lakukan. "
"aku mengorbankan masa kecilku untuk belajar bisnis dan mengurus perusahaan, itu adalah keinginan keluarga Yuuki."
" Aku menghabiskan hidupku dibawah bayang-bayang Queen, apa kamu pikir aku tidak takut? aku melakukan itu demi melindungi keluarga Yuuki, demi mencari sosok kakak kesayangannku yang dulu hilang, dan mencari kakak iparku yang ditangkap disana."
" aku terus hidup dalam pelarian bukan karena keinginanku, setiap hari selalu penuh ancaman, setiap hari selalu terjadi perang, aku bahkan masih sempat memikirkan kalian disaat posisiku sendiri tidak menguntungkan!"
" aku membiarkan nama Yuuki menginjak-injak harga diriku dan aku hanya diam. ibuku setiap hari mengacuhkanku, ayahku hanya bisa pergi bekerja dipagi dan malam."
" hanya Kuro, hanya dia yang selalu bersamaku. hanya dia yang ada untukku, hanya dia harta yang ku miliki. apa kalian masih belum cukup menghancurkanku? "
" tubuh ini..tubuh ini sudah hancur! aku sudah mati, hanya bagaikan mayat hidup. apa kalian masih belum puas!" Nana melempar sebuah laporan kesehatan terbaru miliknya, disana tertulis.
" ah, " pada laporan itu tertulis, rusaknya jaringan syaraf pada otak membuat sistem imunnya rusak, dan dia akan mati tidak lama lagi.....
semua orang sangat terkejut mendapati hal itu, Kuro dan yang lain hanya tertunduk dan diam. mereka tidak ingin mengingat kalau sisa waktu Nana hanya sebentar, ya, sebentar.
" sekarang kumohon, kalian pergi dari sini dan biarkan aku hidup dengan damai" Nana menunjukkan pintu keluar pada mereka, semuanya terdiam. mereka tidak pernah berpikir Nana yang begitu kuat dan periang akan mengalami hal seperti ini.
" TIDAK! INI BOHONG, LAPORAN INI PALSU!!" Lisa tidak percaya dengan apa yang dikatakan anak perempuannya itu, ya naluri seorang ibu tidak pernah mau mempercayai bahwa anaknya akan mati.
" terserah kalian, kalian bisa percaya atau kalian bisa menghiraukannya. itu hak kalian!" Nana menatap tajam mata orang-orang yang ada didepannya, tatapan sedingin es dan setajam elang itu menghipnotis mereka, membuat mereka takut dan tidak berani beranjak dari sana.
" Nana!!" Kuro dan Ryoma terkejut, sebuah cairan berwarna merah mengalir keluar dari hidung Nana. Nana hanya terdiam begitu tetesan pertama dari cairan itu menetes ke lantai.
GYUUTT
Nana jatuh dan pingsan, dia mungkin kelelahan. perubahan emosi sungguh tidak baik bagi kesehatannya, semua orang yang ada disana sangat terkejut mendapati Nana mimisan hanya karena marah. ini bukan Nana, mereka pasti bermimpi. akan tetapi Ryoma dan yang lainnya sangat tahu akan hal itu, mereka langsung membawa Nana menuju ke kamarnya, sedangkan Alan masih bersikukuh mengusir tamu tidak diundang itu.
Kuro langsung mengambil tisu dan melipatnya, Louis pergi menelfon dokter dan Ryoma sibuk membersihkan darah yang mengalir ke tubuh Nana. ini sudah 10 menit dan mimisannya tidak berhenti, mereka semakin khawatir.
VICTOR_WRITE