MY CUTE BOY FRIEND ...

MY CUTE BOY FRIEND ...
Episode 34



" bagaimana dengan Nana?" Alan yang baru selesai dalam acara usir mengusirnya langsung menuju ke kamar Nana


" darahnya tidak berhenti!" Ryoma sibuk menganti tisu yang berada dihidung Nana. mereka semua menjadi sangat khawatir. Tris yang sejak tadi diam kini juga tengah berdoa berharap kalau Nana baik-baik saja.


tidak lama kemudian dokter pribadi Kuro dan Nana tiba disana, dia memeriksa kondisi Nana yang benar-benar buruk kemudian memberikan obat, tidak lama  setelah dokter pergi Nana tersadar dari pingsannya.


" Nana!!" semuanya memeluk erat Nana, mereka lega Nana baik-baik saja.


" apa yang?" Nana membersihkan tisu yang ada dihidungnya, dia melihat darah disana. kini dia menyadari apa yang terjadi, dia kelelahan kemudian mimisan dan setelahnya pingsan.


Nana akhirnya mendapat ceramah panjang lebar dari mereka ber-empat, kini telinganya sudah sakit mendengar suara keempat laki-laki itu. Nana hanya diam sambil memainkan ponselnya, sesekali tidak lupa dia bersandiwara dan akhirnya mendapat pukulan yang mendarat diatas kepalanya.


kini hari sudah senja, Nana  sudah bosan dengan tingkah keempat laki-laki itu. dia menatap ke arah jedela balkon nya, dia menatap keluar, disana angin tengah bertiup dengan kencang, pepohonan sudah menggugurkan semua daunnya, sebentar lagi musim dingin tiba.


" kak" Nana masih memandang ke arah jendela, dia berpikir. mungkin, sisa waktunya hanya sebentar lagi. musim dingin adalah hal terbesar yang harus dia hadapi, dengan sistem imun yang sangat lemah seperti itu, dia yakin dia tidak akan bertahan.


" ada apa?" Kuro menatap Nana dengan penuh kesedihan, terkadang nampak jelas laki-laki itu mengalirkan air matanya secara tidak sengaja,


" apa kakak bisa memanggilkan Tris?" Nana menatap kakak laki-laki kesayangannya itu, dia membuat sebuah senyum simpul di wajahnya. Kuro menyadari maksud senyum itu, pasti akan ada sesuatu yang terjadi.


" hm, aku akan memanggilnya" Kuro berjalan pergi menuju ke luar dan memanggil Tris yang ada diruang tamu dengan Ryoma.


" kenapa kamu mencari Tris?" Alan tidak mengerti dengan jalan pikiran Nana, bukankah Tris dan Yora yang membawa keluarga Yuuki dan Keluarga Rose menuju ke mansion Yuu?


" ada sesuatu yang harus ku bicarakan!" Nana hanya membuat sebuah senyum yang indah. Alan yang melihat senyum itu merasakan sakit yang teramat dalam, hatinya teriris melihat nonanya itu.


" apa kamu akan menghukumnya?" Louis mulai menatap Nana dengan pandangan yang tidak menyenangkan, raut wajahnya terlihat sangat khwatir, tersirat sedikit kesedihan dari sana.


" hm, sebuah hukuman yang bisa saja membuatnya bunuh diri" Nana kembali menatap ke luar jendela, dia tidak ingin mereka melihat kilauan mutiara dimatanya.


" tidak apa!" Ryoma tiba-tiba saja memeluk Nana dari belakang, Nana yang terkejut dengan hal ini malah menumpahkan air matanya, Alan dan Louis yang terkejut mendapati Nana menangis kini ikut memeluknya. hatinya merasa sakit, mereka tidak ingin melihat Nana yang lemah. mereka hanya ingin melihat senyum manis Nana, senyum  tanpa beban walau ada ribuan rintangan dan halangan yang terlihat jelas didepannya.


sedangkan itu disisi lain, Tris langsung bergegas pergi menuju ke kamar Nana. dia menjadi sangat khawatir dengan keadaan Nana. ya, mau bagaimana lagi? pacarnya pingsan didepan matanya dengan hidung yang terus mengalirkan darah sedangkan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.


" NANA!!" Tris langsung masuk kedalam kamar Nana. pintunya tidak dikunci bahkan pintu itu dibiarkan terbuka.


" Tris..." Nana tersenyum pasi mendapati keberadaan tunangannya itu, dia melepas pelukan ketiga laki-laki yang ada di depannya kemudian meminta mereka keluar.


" Nana, apa kamu baik-baik saja?" Tris mendudukkan dirinya di tepi ranjang king size milik Nana, kini dia memegang tangan Nana.


" ah, Nana kamu sangat dingin!" Tris berusaha mencari jaket yang ada didalam lemari pakaian milik Nana, setelah dia merasa mendapatkan jaket yang cukup hangat, dia meggantungkan jaket itu ke tubuh Nana. Nana hanya terdiam dan tersenyum mendapati tingkah tunangannya itu.


" Tris" Nana menahan tangan Tris, dia mencium punggung tangannya. Tris bisa merasakan tubuh Nana yang sangat dingin, kulitnya sangat pucat.


" maaf, aku ingin memutus benang merah ini" Nana menatap sedalam-dalamnya menuju ke manik mata merah yang ada didepannya itu. manik yang membara itu kini tengah menatap iris merah yang ada didepannya. tatapan mereka saling bertemu, dan terus menyantu. namun, nafsu tidak muncul diantara mereka. lebih tepatnya Nana tidak memiliki nafsu untuk melakukan apapun, sedangkan Tris, kini jantungnya berdetak tidak karuan.


" TIDAK! KAMU ADALAH MILIKKU, TIDAK ADA SIAPAPUN YANG BISA MENGAMBILMU DARIKU!!" Tris terus mengeratkan pelukannya, dia tidak ingin kehilangan gadis ini. Nana hanya terdiam, beberapa bulir mutiara turun dari matanya, kini pipinya mulai membentuk anak sungai yang indah.


" maaf, aku tahu! aku juga tidak ingin melepaskan ikatan ini tapi, kamu sudah mengetahui kondisiku saat ini dan aku tidak akan bisa bertahan dari musim dingin ini!" Nana melepas pelukan Tris, dia menatap intens menuju ke dalam iris merah itu. Tris sangat mengerti maksud kata-kata Nana, dia hampir saja membeku mendengar hal ini.


" Tris?" Nana tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Tris, kini dia menempelkan jari telunjuknya dibibir Nana dan bermaksud membuatnya diam.


" kalau begitu biar aku menemanimu hingga akhir musim dingin ini " Tris menampilkan senyumnya, gigi putih yang dia sembunyikan dibalik bibir tebalnya itu kini terlihat.


" tris" Nana memeluk laki-laki itu, ingin sekali dirinya dibawa pergi dari kematian. Nana masih memiliki mimpi yang ingin dia raih, dan mimpi itu adalah bisa hidup bahagia dengan Tris.


" tenanglah, semuanya akan baik-baik saja" Tris mengeratkan pelukannya, dia tidak akan pernah membiarkan gadis ini hilang begitu saja. dia akan melindunginya.


maaf, Tris. semuanya sudah berakhir..


" Nana!" Kuro dan yang lainnya masuk kedalam, mereka melihat kedua insan yang saling mencintai dengan teramat dalam.


" hm..." Nana melepas pelukannya, Ryoma membawa Tris pergi dan Nana mengistirahatkan dirinya.


hari-hari terus berlalu, kini musim dingin telah tiba. Nana sedang menikmati harinya, hanya duduk didalam kamar dengan menatap salju yang ada diluar. dia sudah meminta izin pada kakak laki-lakinya untuk membiarkannya bermain diluar. tapi, yang dia dapatkan adalah sebuah pukulan yang mendarat dikepalanya.


" hahh...aku bosan!" Nana menarik laptop yang tidak jauh dari jangkauannya, dia memutuskan untuk memainkan game online, dan pilihannya jatuh pada salah satu game MOBA terbaru.


" apa kamu mau terus bermain game?" Kuro tiba-tiba masuk entah dari mana dan membuat Nana terkejut.


" hm, memangnya kita mau kemana?" Nana menyunggingkan sebelah alisnya, dia bingung dengan Kuro. beberapa jam yang lalu Kuro melarangnya pergi bermain diluar dan kini dia memintanya untuk pergi dengannya keluar? WHAT?


" pondok yang ada dipuncak!!" Kuro menunjukkan smirknya, dia tahu Nana sangat suka ketenangan digunung. ya, walaupun dengan kondisinya yang seperti itu tapi Kuro yakin Nana pasti mau.


" TIDAK! LEBIH MENYENANGKAN BERMAIN GAME!!" Nana menolak mentah-mentah ajakan Kuro, dia tidak mau keluar dan merasakan dinginnya salju.


" a..apa? " Kuro sangat terkejut mendengar perkataan Nana.


" hahh..aku mau tidur!" Nana menutup laptopnya kemudian berjalan menuju ke ranjang.


" serius, ini baru pukul 7 PM " Kuro menunjuk jam dinding yang bertengger dengan anggunnya disudut kamar Nana.


" hm, aku serius!" Nana menarik selimut yang menghangatkan tubuhnya dan tidak akan membiarkan udara dingin menyakitinya.


" hahh" Kuro berjalan pergi dari kamar Nana dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruangannya sendiri.


Nana kini tengah meringkuh dibawah selimut, setelah seharian mencoba tetap tenang didepan Kuro tanpa membiarkan kakak tercintanya mengetahui kalau tubuhnya sudah tidak bisa bertahan lagi. Nana hanya mendekap erat tubuhnya, dia bahkan bisa merasakan kalau lututnya telah menyentuh  dadanya, tubuhnya yang sangat dingin dan selimut tebal yang tidak bisa menghangatkannya


VICTOR_WRITE