
" hahhh, siapa suruh kamu tidak hati-hati?" Ryoma membersihkan luka diwajah Louis dengan sangat telaten dan hati-hati, sementara Kuro hanya bisa menepuk jidatnya melihat ulah Louis bisa berakibat seperti ini.
" memangnya apa yang terjadi?" Alan dan James yang sedari tadi tidak mengerti dengan apa yang terjadi mulai mencari informasi.
" Louis tidak sengaja mengintip nona yang tengah mandi!" ketus Ryoma yang telah selesai mengobati luka Louis.
" urgh..HAHAHHAHAHAHAHAHHAAA!!!!" Alan dan James menertawakan tingkah Louis. lebih tepatnya menertawakan apa yang terjadi dengan wajahnya.
" Kuro!" Suara lembut dari balik pintu kamar mandi memanggil keberadaan kakak laki-lakinya.
" ada apa?" tanya Kuro yang berdiri disisi lain pintu kamar mandi.
" apa kamu membawakan pakaian ganti untukku?" tanya nana dengan lembut, terdengar beberapa saat dia agak ragu karena malu.
" ah, ini!" Kuro membuka pintu sedikit kemudian memberikan sebuah kaos panjang milik Louis yang dia yakini kalau itu akan sangat besar untuk tubuh adiknya.
beberapa lama kemudian Nana keluar dari kamar mandi dengan memegang ujung kaos itu supaya tetap menutupi tubuhnya, dia terkejut mendapati semua laki-laki yang ada dikamarnya.
" ah!" Nana masih saja memegangi ujung kaos itu agar tidak naik, padahal saat ini wajahnya sudah sangat memerah karena malu.
~~
Author : gomenasai, Nana-chan T-T
Nana : thor, lu resek banget ama gue T-T, kan gue malu thor.
~~
" ah!" semuanya terkejut mendapati Nana keluar dengan memakai kaos, dia terlihat sangat manis sekarang. apalagi dengan wajah yang memerah itu, membuatnya semakin imut.
" kakak!!" Nana kesal dengan tingkah kakak laki-lakinya itu, bagaimana tidak kesal? Kuro hanya memberinya sebuah kaos panjang tanpa dalaman? WHAT!?
" maaf ya sayang, disini tidak ada pakaian untukmu!" Kuro menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menunjukkan senyumnya.
" urgh.." Nana berjalan menuju ke ranjang kemudian segera menyembunyikan dirinya dibawah selimut, dia sudah tidak kuat menahan malu.
" sayang apa kamu tidak jadi makan?" Kuro menyentuh selimut yang ada ditubuh Nana tanpa menggesernya.
" AKU MAU BAJUKU LEBIH DULU!!" Nana berteriak dari balik selimut, membuat para serigala yang tenang ini merasa lapar.
" haha, nona kamu sangat manis. jadi, jangan sembunyikan wajah imutmu itu!" Alan mencoba menyentuh dan menarik selimut yang menutupi tubuh nonanya itu. ya walau dia adalah tangan kirinya tapi tetap saja Alan adalah laki-laki.
" Alan, jika kamu berani menyibaknya maka, tanganmu akan dipotong!" ketus Nana dibalik selimutnya.
" semuanya keluar sekarang!" Kuro memberi titah, semuanya akhirnya keluar dan menyantap makanan mereka. Kuro mencoba menghubungi Yora dan memintanya membawakan pakaian ganti untuk Nana.
tidak lama kemudian Yora tiba dengan baju ganti untuk Nana, Kuro memintanya memberikannya sendiri pada Nana. dia tidak mau adiknya tambah kesal dengan dirinya.
TOK TOK
ketukan pintu membuat Nana beranjak dari selimutnya, kini dia masih berjalan pelan menuju pintu. Nana membuka pintu dan menunjukkan kepalanya, sedangkan tubuhnya berada dibalik pintu.
" kak Yora!" Nana sangat senang mendapati Yora ada disana. setidaknya yang dia temui bukan salah satu dari para serigala itu.
" apa kamu senang aku disini?" Yora mengangkat sebuah bingkisan dan ditunjukkan pada Nana. Nana kemudian menariknya masuk dan menganti pakaiannya, ya kini Nana tengah mengganti pakaiannya.
" ah, kakak kenapa membawakan aku ini?"
Nana kesal melihat isi bingkisan itu adalah sebuah Short Skrit dan kemeja putih. benar-benar style khas seorang Presdir Rose. Nana akhirnya memakai pakaian yang dibawakan oleh yora, namun dia hanya mengenakan pakaian dalam dan Rok setinggi lutut yang di bawakan oleh kakak iparnya itu, kemudian dia masih mengenakan kaos Louis sebagai atasannya.
Nana dan Yora kemudian langsung turun menuju ke arah dapur, setibanya disana Louis sudah menyambut kedatangan mereka.
" sayang, kenapa kamu masih memakai pakaianku?" Louis yang melihat kedatangan Yora dan Nana merasa terkejut mendapati Nana masih memakai pakaiannya.
" aku tidak mau memakai kemeja kantoran ala kak Yora!" jawabnya dengan acuh.
CKREKK CKREKK
suara potret keluar dari ponsel Alan, James, dan Ryoma.
" hei, apa yang kalian lakukan?" tanya Nana kesal dengan tingkah ketiga anak buahnya ini, yang seperti serigala bodoh yang baru menemukan kelinci untuk dimangsa.
" cih, buang jauh-jauh tatapanmu itu!" Nana hampir memukul Alan dengan tangannya.
" haha, sayang sepertinya kamu lebih baik sakit!" kata Yora yang terkekeh melihat tingkah mereka.
" TIDAK!!!!" kata mereka berempat serempak sambil menyilangkan kedua tangan didepan dada.
" huft" nada gusar muncul dari Nana.
" sayang cepat duduk dan habiskan makananmu" Kuro kesal melihat adiknya yang digoda oleh ke-empat bawahannya itu.
" hm.." Nana duduk dan segera menyantap makanannya, sedangkan Yora hanya duduk dan menikmati waktu bercengkrama dengan yang lainnya.
Nana mendapat godaan penuh dari anak buanya itu selama dia makan, terkadang suasana meja makan menjadi ricuh dan panas. tetapi akhirnya mereka memenuhi ruang makan dengan gelak tawa.
" sayang kita harus kembali!" Kuro menyentuh dan merapikan rambut adiknya yang terurai itu.
" jangan dikepang!" Nana geram jika Kuro mengepang dan menata rambutnya layaknya seorang gadis manis.
" tidak, aku hanya akan mengikatnya!" Kuro mulai mengikat rambut panjang Nana, dia merapikan rambut gadis manis itu.
" kenapa kita harus kembali?" tanya Nana menggerutu kesal.
" semuanya ingin bertemu dengan kita!" Kuro mengusap lembut surai perak milik Nana.
" ah, bisakah kita tidak kesana?"tanya Nana masih agak takut menemui anggota keluarganya setelah mereka mengetahui lukanya.
" tidak apa, aku bersamamu!" Kuro mencium pucuk rambut Nana dan memeluk tubuh Nana lembut.
" hm, sayang aku harus kembali!" Yora meminta izin untuk pamit.
" hati-hati, sayang!" Kuro memeluk tubuh Yora kemudian mencium bibirnya sesaat.
" HEI..HEI!!!" semua yang ada disana menutup matanya tidak mau mata mereka terkontaminasi adegan panas itu.
Yora bergegas pergi disusul dengan kepergiaan Kuro dan Nana, mereka pergi ke kediaman Yuuki.
" kak.." Nana menatap jelas pintu masuk kediaman itu, tersirat sedikit keraguan mucul diwajah Nana.
" semuanya akan baik-baik saja!" Kuro menggenggam erat tangan adik perempuannya itu.
" hm.." Nana tersenyum menyembunyikan keraguan tersebut.
kini mereka mencoba masuk kedalam dan disana semua orang telah menanti kehadiran mereka.
" kalian sudah datang?" Ayah dan ibunya menyambut kedatangan mereka.
" kami pulang" kata Kuro dan Nana bersamaan.
" Nana, Kuro, kalian duduklah disini!" Kata Kakek Yuuki yang meminta mereka duduk.
kini mereka duduk didepan semua orang yang tengah memperhatikan mereka.
" jadi ada apa kalian meminta kami kemari?" Nana menatap intens mata-mata yang ada didepannya, kini ketakutan terbesarnya adalah jika ada yang membahas lukanya maka dia akan gila. ya, hanya itu yang ia takutkan.
" hahh...kita langsung saja ke intinya!" kata Kakek Yuuki
" hm?" Kuro dan Nana saling menatap, mereka bingung dengan apa yang dimaksud kakeknya.
Kakek Yuuki memberi tanda pada pelayan untuk mengambil sebuah barang, pelayan segera mengambil barang tersebut dan segera memberikannya pada tuannya itu.
" jadi, Kuro dan Nana! kami ingin kalian memakai ini!" Kakek Yuuki menunjukkan sebuah benda yang sangat berharga milik keluarga Yuuki.
ya, itu adalah lambang kebanggaan keluarga Yuuki. The Silver Blood Moon and The Hearts of Ocean. ya itu adalah sebuah kalung dan anting yang menjadi tanda pewaris kekuasaan milik keluarga Yuuki. Nana dan Kuro sangat terkejut mendapati kakeknya menunjukkan kalung itu pada mereka. kini Nana dan Kuro masih ternga-nga tidak percaya.
" kalian harus memimpin keluarga ini!" kata Harry yang menatap mereka dengan padangan tajam penuh harap.
VICTOR_WRITE