Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #09



Tidak terasa, hari pernikahan pun tiba. Sejak tiba di gedung resepsi, tidak sekalipun Thalita merasa jantungnya berdebar indah. Yang ada seperti tidak nyaman di suatu tempat, dimana dia berharap semua yang dianggap sebagai kekacauan ini segera berakhir. Dia sudah sangat lelah. Dia ingin segera melepas gaun pengantinnya itu dan melemparkan diri ke atas ranjang apartemennya yang sangat empuk. Dia sudah sangat jatuh cinta dengan ranjang tersebut. 


"Tahan sebentar lagi. Biarpun nggak suka, tapi kamu tetap harus tersenyum di depan mereka,"


Perlahan, Thalita membuka matanya. Sedikit kabur, dia melihat Evan yang sejak tadi duduk di sisinya sambil terus memandang lurus ke depan mereka. 


"Dari tadi kamu menghelakan napas terus. Orang bisa tau dari muka kamu kalau sekarang, kamu lagi bosan."


Evan berbicara dengan arah pandang yang tidak melihat Thalita sama sekali. 


Sejenak, Thalita ikut melemparkan pandangannya ke depan. Kepalanya langsung sakit melihat lautan manusia yang berada tepat beberapa meter di depan pelaminan kita. 


"Aku sesak napas," bisik Thalita begitu pelan, seperti pada dirinya sendiri yang tanpa sadar menyentuh dadanya pelan. 


"Kamu mau minum es? Biar aku ambilkan,"


Thalita tidak begitu menyimak kalimat Evan. Dia juga seperti membiarkan pria itu meninggalkannya sejenak yang sudah kembali menundukkan kepalanya dalam. 


"Apa kita memang harus istirahat sekarang? Mama bilang, udah mesan satu kamar juga kalau tiba-tiba kamu mau nginap di hotel ini,"


Thalita masih memejamkan matanya, ketika dia mendengar suara Evan seperti bergumam di sebelahnya. Sejak dulu, Thalita yang memang punya masalah dengan keramaian orang, tidak suka berada di tempat yang menyesakkan seperti ini. Seolah udara yang ada di ruangan itu habis dihirup oleh kumpulan manusia yang sebenarnya 90 persen tidak Thalita kenal sama sekali. 


"Ini, minum."


Tidak berapa lama, Thalita merasa sesuatu yang dingin menyentuh bibirnya. Saat membuka mata, dia melihat segelas minuman berwarna hijau pucat sudah menanti untuk dia nikmati. 


Tidak berpikir panjang, Thalita menerima suapan dari gelas yang Evan sodorkan. Saat tinggal setengah, dia menjauhkan mulutnya dari gelas tersebut dan menggumamkan kalimat terima kasih pada pria itu. 


Evan hanya diam memandang Thalita yang masih menenangkan napasnya. Meskipun tidak melihat secara langsung, tapi wanita itu sadar dan merasa terganggu dengan tatapan Evan kepadanya. 


"Aku nggak bakal bikin masalah. Jadi, nggak usah khawatir,"


Evan mengedip mendengar ucapan Thalita. Pikirnya, mungkinkah Thalita mengira Evan itu cemas karena Thalita akan meninggalkan tempat acara? 


"Aku nggak ada bilang gitu. Justru, kalo memang butuh, kamu bisa istirahat sekarang di kamar," ucap Evan meluruskan, yang mana Thalita hanya mengangguk acuh mendengarnya. 


Lagi-lagi, pikir Thalita Evan hanya berbicara omong kosong, seolah tidak tahu kalau Thalita tidak mungkin melakukan hal tersebut meski tengah sekarat sekalipun.


"Karena kalau Mama sampai lihat, bisa-bisa Mama menuduh aku pura-pura sakit," batin Thalita menghembuskan napas panjang. 


"Udah, nggak perlu cemas. Kan udah dibilang, aku nggak papa," 


Pelan, Thalita mendorong dada Evan menjauh. Kemudian, dengan memasang senyum palsu di balik wajah pucatnya, Thalita mencoba menyelesaikan perannya sebagai ratu sehari siang itu. 


🍂


Menjelang malam, acara pun mulai memasuki waktu akhir. Baik Evan dan Thalita sudah tidak berada di pelaminan lagi, melainkan bersiap untuk masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di hotel tempat mereka menggelarkan pesta. 


"Kalian bisa nginap di sini aja, kalau memang capek. Mama juga bisa pesan satu kamar lagi buat Mama atau pulang diantarkan sopir," 


"Nggak perlu kok, Ma. Lita dan Kak Evan bisa ikut….pu…lang,"


Seiring dengan kalimat Thalita berakhir, gadis itu menolehkan badan serta wajahnya ke arah Evan. Melihat reaksi pria itu apakah ada memberikan sebuah kode tentang rencana mereka setelah ini atau tidak. Secara, saking fokusnya Thalita menenangkan diri hari ini dari hiruk-pikuk ballroom resepsi, membuatnya lupa bertanya apakah dia harus ikut pulang ke rumah Evan malam ini atau tidak. 


Sadar dengan tatapan mata Thalita padanya, Evan juga menoleh dan menjawab. 


"Kalo kamu emang mau tidur di rumah, kita bisa pulang bareng Mama," kata pria itu, tak sadar membuat Thalita membelalakkan matanya. 


"Pulang ke rumah….?"


Thalita menggantung kalimatnya dan menatap Evan dengan dahi yang mengernyit samar. Dia seolah berharap Evan akan memperjelas rumah yang dimaksud dalam percakapan mereka. 


"Ya, pulang ke rumah kita. Emang ke rumah siapa lagi?" balas Evan terlihat masa bodoh, sepertinya memang tidak tahu dengan arah pembicaraan orang yang baru menjadi istrinya tersebut. 


"Atau, kamu mau kita tinggal di rumah sendiri? Kita bisa bicarain hal itu besok," ujar Evan kemudian, semakin membuat Thalita terlihat kaget dan tergagap tidak jelas. 


"Oh? Bu—bukan itu maksudnya. A—aku,"


"Mbak Laila,"


Thalita yang tampak kebingungan di bawah tatapan suami dan mertuanya, seperti diselamatkan oleh suara Marlia yang muncul dari arah belakang mereka. 


Serentak, tiga orang yang sudah menjadi keluarga itu pun menoleh dan menyoroti Marlia serta suami dan anaknya yang mendekat ke arah mereka. 


"Orang Mbak jadi pulang sekarang?" tanya Marlia pada Laila, yang masih juga dibalas senyum kembang yang ceria oleh wanita tersebut. 


"Iya. Kayanya Lita dan Evan pengen malam pertamanya di rumah. Mereka sepakat buat nggak pake kamar yang udah disewa di hotel ini," jelas Laila gamblang, sambil tertawa menggoda khas calon nenek yang tidak sabar menantikan kehadiran cucu pertama. 


"Oh, begitu,"


Sedang Marlia yang tampak tidak peduli, jangankan untuk tertawa, tersenyum saja dia terlihat terpaksa. Dia bahkan tidak berusaha melirik putrinya yang terus menatapnya sejak tadi. 


"Kami juga mau pamit sekarang. Saya harap, kalau ada apa-apa, Mbak Laila bisa menghubungi saya untuk saling tukar pikiran," kata Marlia basa-basi, yang dibalas dengan tepukan pelan Laila di bahu Marlia sambil tertawa. 


"Semoga semuanya baik-baik aja. Jadi, nggak akan ada yang perlu kita khawatirkan," ucap Laila lembut, tampak begitu tulus berharap kelak rumah tangga anaknya akan terus baik-baik saja. 


Sementara itu, Marlia yang hatinya bisa sedingin es, tampak tersenyum kecil seolah mengisyaratkan hal yang sama, dengan tujuan yang berbeda. 


Mungkin, dia berharap semua baik-baik saja, semata agar dia tidak perlu lagi mendengar nama Thalita di telinganya. 


"Hm, saya harap juga begitu," gumamnya begitu pelan, lantas menyalam dan memeluk sekilas tubuh Laila. 


Demi menjaga sikap, Marlia juga berpura-pura terlihat ramah saat berpamitan dengan Evan. Dia memeluk sekilas menantunya tersebut, seraya mengatakan basa-basi yang menurutnya sangat tidak penting. 


...Bersambung...