Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #47



Mila sedikit menyipitkan matanya dan juga mengerutkan dahi, tatkala melihat sikap Rosalin yang canggung menyentuh pipinya.


"A— ah, ini…." bingung kalau ternyata pipinya jadi bengkak karena tamparan itu, Rosalin pun memutar otak.


"Jatuh."


"Jatuh?"


Rosalin mengangguk asal tanpa memperhatikan wajah Mila yang tidak percaya.


"Jatuh gimana? Kok bengkaknya cuma di pipi?"


Terlihat cemas, Mila meletakkan tas selempangnya di atas sofa dan berlutut di depan Rosalin untuk memeriksa keadaan ibunya itu.


"Iya, jatuhnya tadi cuma di pipi doang. Jadi, bengkaknya cuma di pipi aja," kilah Rosalin, mencoba menghindari sentuhan tangan Mila di wajahnya.


"Loh, kok bisa? Emang Mama jatuh di mana?" tanya Mila kemudian.


"Jatuh di jalanlah,"


"Iya, kok bisa jatuh, maksudnya? Kesandung, apa gimana?"


"Ditabrak anjing."


"Hah?"


Rosalin yang sedang malas menjelaskan apapun, menjauhkan kedua siku Mila yang bertumpu di atas pahanya.


"Udah, ini cuma bengkak ringan aja kok. Ntar dikasi salep juga baikan," ujar Rosalin kemudian berdiri, hendak meninggalkan Mila.


"Eh, apa sekalian besok aja kali, ya? Pas check up di rumah sakit,"


Mila yang baru saja berdiri, menatap Rosalin dengan heran.


"Kenapa mesti besok, sih? Diobatin sekarang aja kan bisa," kata anaknya itu, yang mana Rosalin langsung berdecak sedikit kesal.


"Ya, besok kan bisa sekalian tanya-tanya sama temen kamu itu, Mila. Kira-kira salep apa yang bagus buat ngilangin bengkak. Masa kamu nggak ngerti, sih?!"


Mendengar itu, sontak Mila terdiam. Ditatapnya wajah Rosalin yang semangat tersenyum ke arahnya.


"Ma," panggil Mila pelan, setelah memutus pandangannya dari ibunya kitu.


"Kita…. Pindah rumah sakit aja, ya?" bujuk Mila kemudian, tak ayal langsung membuat kedua mata Rosalin membola.


"Apa!?"


"Iya…. Kita pindah rumah sakit aja. Tadi, aku dapat rekomendasi rumah sakit dari temen kerja aku. Jadi—"


"Temen kamu yang mana? Emang kamu punya temen?" sambar Rosalin tiba-tiba, sukses membuat Mila kembali terdiam.


"Mama nggak tau apa yang lagi kamu pikirin sekarang. Yang jelas, Mama nggak mau pindah rumah sakit lagi. Mama udah cocok sama rumah sakit itu!" tegas Rosalin, melipat kedua tangannya di dada.


"Tapi, Ma, rekomendasi teman aku ini beneran bagus, kok. Lebih bagus dari rumah sakit yang sebelumnya. Jadi, kita check upnya ke sana aja, ya?" bujuk Mila lagi, kembali mendapat tolakan mentah dari ibunya.


"Enggak! Mama nggak mau! Mama tetap pengen berobat di rumah sakit itu, dan sama dokter teman kamu itu!"


"Ma!" bentak Mila akhirnya, lantas memijat dahinya yang mendadak pening.


"Kita pindah rumah sakit aja, ya?"


"Enggak!"


Untuk kesekian kalinya, bujukan Mila ditolak mentah-mentah oleh Rosalin. Membuat wanita muda itu kesal hingga mengepalkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan.


"Kamu ini apa-apaan sih, Mil?! Kenapa mesti pindah-pindah rumah sakit lagi?! Kemarin bukannya kamu yang bilang, kalau kita nggak bakal pindah-pindah rumah sakit lagi? Terus, kenapa sekarang jadi berubah? Kamu ada masalah sama temen kamu yang dokter itu?" ujar Rosalin mengomel, masih melipat kedua tangannya di dada.


"Ya, nggak gitu juga, Ma. Ini tuh beda! Rumah sakit ini benar-benar rekomendasi banget dari temen-temen aku. Ayolah, nggak usah keras kepala gitu!"


"Nggak! Semua rumah sakit sama aja! Dan Mama tetap nggak mau pindah!" tukas Rosalin lagi, kali ini benar-benar membuat kesabaran Mila sudah berada di luar batas.


"Kalau gitu apa bedanya sama obat salep buat bengkak Mama!? Bukannya semua salep itu sama?! Mama kan udah sering pakai obat lebam waktu sering dipukuli sama Papa!?" teriak Mila akhirnya, menghentikan langkah kaki Rosalin yang sudah sempat meninggalkannya.


Dengan sorot mata kaget, Rosalin menoleh pada Mila yang tampak mengatur napasnya berulang kali.


"Kamu…."


Sedikit membuang pandangan, Rosalin mengusap rambutnya ke arah belakang dan membasahi bibir bawahnya.


"Aku tau apa yang udah terjadi sama Mama dari dulu. Setiap bertengkar, Papa selalu main tangan sama Mama. Makanya aku berusaha bersikap sabar dengan semua tingkah laku Mama. Tapi,"


Mengabaikan raut wajah syok Rosalin yang tidak menyangka Mila mengetahui semuanya, wanita muda itu lantas mendekati Sang Ibu yang masih terbengong menatapnya.


"Dengarin permintaan aku kali ini ya, Ma? Kita pindah rumah sakit. Aku janji bakal cari rumah sakit yang paling bagus untuk kesehatan Mama," bujuk Mila sekali lagi, kali ini menggenggam kedua tangan Rosalin dengan erat.


🍂


Sore ini, sebelum kembali ke rumah, Thalita tampak menyempatkan diri untuk singgah di sebuah mall yang ada di pusat kota. Rencananya, dia ingin membeli beberapa stok produk kecantikan yang biasa dipakai.


Sambil berkeliling, Thalita yang kali ini ditemani oleh suaminya lewat telepon, tampak asyik bercerita.


"Tumben kamu cepat pulang, biasanya selalu malam," kata Evan dari seberang telepon, tidak sadar membuat Thalita meringis pelan.


Sebenarnya, alasan Thalita selalu pulang malam di awal pernikahan mereka adalah perasaannya yang tidak nyaman berada di rumah Evan.


"Hehe, iya. Kok tumben, ya?" kekek Thalita konyol, tidak disangka malah membuat Evan tertawa di seberang.


"Loh, kok malah bingung sendiri. Jangan-jangan, kamu emang sengaja menghindar makanya pulang lama," terka Evan tepat sasaran, sontak membuat Thalita menegakkan tubuhnya.


"Menghindar gimana? Kakak ngarang deh!" tuding Thalita sedikit keras, lagi-lagi mendengar suara Evan yang tertawa kecil.


"Loh, kok marah? Berarti bener dong, yang aku bilang," ledek Evan kemudian, tidak bisa melihat wajah istrinya itu cemberut.


Beberapa detik kemudian, Thalita yang malu sendiri karena tabiatnya terbaca oleh sang suami, malah ikut tertawa mendengarnya.


"Nah, tadi marah, sekarang ketawa. Emang ada yang lucu?" kata Evan lagi, hanya mendengar derai tawa Thalita yang renyah dari ujung panggilan.


Wanita itu mengulurkan tangannya untuk mengambil produk pembersih wajah yang ada di depannya dan memasukkannya ke dalam keranjang. Lalu, dia berjalan sedikit ke arah rak berikutnya untuk melihat jenis pelembab wajah yang dia perlukan.


"Abis Kakak lucu, sih. Aku jadi pengen ketawa," ujar wanita itu, membungkukkan sedikit tubuhnya untuk melihat produk itu lebih dekat.


"Oh, ya? Kalo emang lucu, terus kenapa kamu sering ketakutan kalo lagi ngomong sama aku?" tanya Evan, sekarang membuat Thalita terdiam.


Wanita itu tampak memutar otak. Dari raut wajahnya sih, dia tidak tertekan sama sekali dengan pertanyaan Evan yang barusan.


Buk!


"Aduh!" 


Thalita terpekik kaget, saat tiba-tiba saja seseorang menabrak pinggangnya yang masih setengah menunduk.


"Kamu kenapa?" tanya Evan refleks, terdengar kaget di ujung telepon.


"Ups, maaf. Anda baik-baik saja?"


Thalita diam memandang sengit pria dewasa yang ada di depannya sambil mengusap pinggangnya yang tadi ditabrak cukup keras oleh pria itu. Maksudnya dewasa di sini adalah lebih mendekati ke arah pria paruh baya, yang menatapnya dengan senyuman yang menurut Thalita cukup menjengkelkan.


"Kayaknya Anda benar-benar nggak tau, ya, cara minta maaf sama orang?" sindir Thalita pada pria itu, yang mana pria tersebut langsung menaikkan kedua alisnya seperti kaget.


"Maaf?"


Sedikit menarik napas panjang dan membuangnya, Thalita memutar bola matanya tanda malas.


"Hati-hati kalau berjalan," ujar Thalita masam, membalikkan tubuhnya lagi ke arah rak pelembab wajah dan mendekatkan kembali ponsel genggamnya ke telinga.


Mungkin dia berusaha untuk bersikap tak acuh, tatkala pria paruh baya itu tertawa melihatnya.


"Anda juga. Hati-hati kalau ingin membungkukkan badan,"


Mendengar itu, Thalita refleks menoleh. Menatap tajam pria itu, yang mana dengan entengnya dia mengedipkan sebelah ke arah Thalita.


Perasaan Thalita membungkukkan badan itu sedikit. Dan tidak menungging sama sekali. Tapi, kenapa pria itu malah berkomentar sinis terhadapnya seolah Thalita itu menghalangi jalan orang dengan bokongnya?


"Dasar orang gila!" maki Thalita tidak sadar, kalau suaminya bisa mendengar apa yang baru saja dia katakan.


"Siapa yang gila?" 


Thalita sontak terkejut mendengar suara Evan di ponselnya. Dia lupa kalau sudah menempelkan kembali benda pipih itu di telinga.


"A? A— ah, itu…. Tadi, ada orang yang nyenggol aku nggak sengaja. Bukannya minta maaf, malah ngomentarin hal yang nggak perlu," ujar Thalita terdengar badmood, yang mana Evan pun hanya diam saja menanggapinya.


"Ya udah, kalo gitu kamu juga hati-hati. Jangan nabrak-nabrakin orang lagi, oke?" nasihat Evan tiba-tiba, tak ayal langsung membuat Thalita terlihat kesal dan sewot mendengarnya.


"Ih, Kakak! Emang siapa yang nabrak siapa, sih?!" rengek wanita itu sebal, hanya bisa membuat Evan tertawa mendengarnya.


Kalau sudah begini, rasanya jantung Evan berdebar karena sikap Thalita yang terdengar manja kepadanya.


"Udah, pulang sekarang. Aku juga mau pulang nih," ujar Evan yang tidak bisa melihat bibir cemberut istrinya.


"Pulang? Kok cepat?" tanya Thalita bingung, mengambil pelembab muka yang sejak tadi sudah ada di depannya.


"Emang kenapa? Nggak boleh?" tanya Evan balik, terdengar serius hingga Thalita tidak bisa berkata apapun lagi.


"Ya, boleh sih. Boleh banget lagi," sahut wanita itu, mengecilkan suaranya di akhir kalimat.


Tanpa sadar, kedua orang itu diam-diam menahan kalimat rindu yang ada di hati mereka. Seolah tidak ingin memberitahu, tapi ingin segera saling bersatu.


Sementara itu, Thalita yang sudah tidak fokus dengan sekitar, tidak sadar sudah melewati pria yang tadi menabraknya saat memilih kosmetik. Dengan senyum tipis yang terus terukir, dia tidak memperhatikan kalau pria paruh baya itu terus saja menatapnya tanpa putus. Menatapnya yang kian menjauh, dengan wajah sendu yang lambat laun berubah menjadi senyum.


"Cantik," pujinya lantas mengenakan kacamata hitam yang sejak tadi dia pegang. "Evan benar-benar beruntung mendapatkan dia."


......Bersambung......


Maaf ya, semua, atas ketidakhadiran bab barunya tadi malam. Karena kecapekan, tadi malam saya ketidurannya cepat. Dan pasti pagi malah buru2 jadi gak sempat update.


Sekali lagi maaf, dan terima kasih sudah mendukung cerita ini 🙏🏻