Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #45



Sejak tadi yang dilakukan oleh Thalita hanyalah menyandarkan kepalanya di kursi kerja. Menatap kosong ke arah pintu ruangan yang  tertutup sambil mengingat kembali pembicaraannya dengan Evan tadi malam.


Sejauh pernikahannya dengan pria itu, baru kemarin Thalita merasakan nyaman yang luar biasa. Terus memeluk pinggang Evan yang sangat pas di tangannya sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang pria tersebut. Dia bahkan tidak sadar telah menumpukan seluruh tubuhnya pada lelaki itu hingga matahari menjelang.


"Harusnya kamu bilang itu dari awal. Jadi aku bisa ngerti.”


Mata Talita terlihat sayu, tatkala dia mengingat kalimat Evan saat membelai rambut panjangnya.


"Kamu cuma perlu bicara. Aku nggak suka, kalau harus salah paham sama kamu."


Saat itu, Thalita semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Evan. Terlihat manja, yang menandakan hatinya sedang hangat malam itu.


"Makasih ya, Kak.”


Tanpa sadar, Thalita tersenyum. Saat ini dia benar-benar hanyut dalam lamunannya tentang malam tadi. Begitu indah, dan begitu hangat hingga rasanya berat untuk pindah dari kenangan itu sekarang.


"Selamat siang,"


Di tengah kebahagiaannya, Thalita terkejut dengan pintu ruangannya yang terbuka, dan menampilkan seorang yang sudah cukup akrab dengannya.


"Tante?"


Melihat Rosalin, refleks Thalita berdiri dari kursi kekuasaannya.


Sembari tersenyum, Rosalin yang memang sudah biasa datang ke tempat itu dan di waktu yang sama, langsung menutup pintu dan berjalan ke arah Thalita.


"Kamu lagi apa? Kayaknya serius amat. Tante ketuk-ketuk pintunya dari tadi tapi nggak didengar," ujar Rosalin lembut, menatap Thalita penuh godaan yang membuat wanita itu terlihat semakin bersemangat.


"Ah, itu…." 


Agak merasa malu juga, Thalita hanya tersenyum dan berjalan ke arah Rosalin. Memeluk lengan wanita itu manja, dan menyandarkan kepalanya di sebelah bahu wanita tersebut.


"Nggak papa, kok. Cuma lagi mikirin sesuatu aja," ucap Thalita seperti anak kecil, kontan membuat Rosalin semakin ingin menggodanya.


"Eum…mikirin apa, hayo? Udah baikan sama suaminya, ya?" kata wanita paruh baya itu mejawil sedikit hidung Thalita, hingga wanita itu mengeluarkan tawa kecil.


"Ah, Tante…." rajuk Thalita kekanakan, hanya membuat Rosalin tertawa mendengarnya.


Jika dipikir-pikir, sekarang Thalita sudah terlihat lebih seperti seorang anak terhadap Rosalin. Berbeda jauh dengan sikap defensifnya di awal, kini Thalita terlihat layaknya orang yang tidak mempunyai sikap awas sama sekali. Andai Rosalin memang mempunyai niat jahat terhadap dirinya, pasti sekarang adalah saat yang tepat untuk melakukan hal tersebut.


Rosalin jadi berpikir, bagaimana cara Marlia membesarkan anak dari mantan kekasih Rosalin itu? Kenapa dia tumbuh jadi anak yang seperti kekurangan kasih sayang begini?


"Tante bawa makanan apa hari ini?"


Pertanyaannya Thalita yang melihat ke arahnya rantang yang dipegang oleh Rosalin, menyadarkan wanita itu dari lamunannya.


"Ah, ini…."


Rosalin mengangkat sejenak rantang susun tiga yang biasanya dibawa untuk menyimpan makanan yang akan diberikan pada Thalita.


"Hari ini Tante buatin capcay untuk kamu. Cemilannya juga ada pie susu," ujar Rosalin, melihat raut wajah Thalita yang kian bersemangat.


"Wah, pie susu! Itu makanan kesukaan Kak Evan," ceplos Thalita tanpa sadar, sontak kaget dan menatap ke arah Rosalin yang tersenyum.


"Aduh, duh, langsung ingat sama makanan kesukaan suami," goda Rosalin lagi, kali ini benar-benar membuat Thalita merasa malu.


"Tapi, Tante rasa, suami kamu itu pasti lebih suka sama kamu deh, ketimbang sama kue pie susu. Karena, kamu itu kan jauh lebih manis," kata Rosalin lagi, berhasil membuat wajah Thalita memerah dan juga salah tingkah.


"Tante apaan, sih…? Bikin malu aja," rungut Thalita seperti bocah lima tahun, menyenggol lengan Rosalin.


Puas bermain-main dengan wanita yang sudah dianggap sebagai anak itu, Rosalin lantas mengajak Thalita untuk duduk di sofa ruangan dan menikmati makanan yang dia bawa.


Namun, belum juga sempat dia membuka rantang makanannya, tiba-tiba suara gaduh yang awalnya samar terdengar dari luar, mendekat hingga akhir gebrakan pintu Thalita yang terbuka kasar berhasil mengagetkan mereka berdua.


Brak!


"Bu! Ibu jangan—!"


Sontak, orang orang itu menoleh ke arah pintu, dimana ada Sekar yang panik berdiri di belakang Marlia yang menatapnya Thalita dengan sorot mata yang menyalang.


🍂


"Oh, ternyata ini alasan kamu menolak permintaan saya untuk membebaskan Axel?!"


Tanpa tedeng aling-aling, Marlia langsung mendekati Thalita dan merenggut rambunya.


Seketika suasana di ruangan itu menjadi ribut. Baik Sekar maupun Rosalin yang terkejut terpekik melihat Thalita yang dijambak seperti itu.


"Bu Lita!"


Dua wanita itu berusaha untuk mendekat, namun Marlia yang tampaknya sudah kadung emosi, langsung menyeret rambut anaknya itu menjauh ke arah berlawanan dengan Rosalin.


"Heh! Kamu perempuan brengsek! Nggak ada puasnya ya, kamu merusak hubungan keluarga saya?! Buat apa lagi kamu datang ke tempat ini?!" bentak Marlia pada Rosalin, yang meringis melihat Thalita yang diperlakukan kasar oleh Marlia.


"Marlia! Kamu ini apa-apaan, sih?! Dia itu anak kamu! Kenapa kamu bisa sekasar ini sama dia!?" tegur Rosalin terlihat marah, melihat Marlia yang tampak masa bodoh dengan ucapannya.


"Apa peduli kamu, hah?! Dia anak saya! Saya yang melahirkan dia! Kenapa kamu mau ikut campur?!" ujar Marlia pada wanita itu, kontan membuat Rosalin menggeleng tidak percaya.


Bisa-bisanya di depan mata Rosalin, Marlia memperlakukan Thalita seperti hewan.


"Kamu!"


Sekarang, giliran Thalita yang mendapatkan amukan dari ibunya.


"Apa yang udah kamu lakuin sama perempuan ini di sini?! Sejak kapan kamu kenalan sama dia?! Sejak kapan?!"


"Akh! Akh! Sakit, Ma! Sakit!"


"Lia!"


"Diam!"


Rosalin yang berusaha membela Thalita, lagi-lagi dibentak kasar oleh Marlia.


Dengan mata melotot garang, Marlia menatap Rosalin dan juga Thalita secara bergantian.


"Apa yang sebenarnya udah kalian lakuin? Kenapa kalian bisa bersama di tempat ini? Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?!" seru Marlia lagi sambil terus menarik-narik rambut Thalita, tidak peduli kalau anaknya itu terus merintih kesakitan.


"Apa yang kamu bicarakan, Lia? Aku dan Lita itu nggak ada merencanakan apapun! Kenapa kamu malah nuduh orang sembarangan begitu, sih?!" ujar Rosalin membela diri, yang bukannya percaya, Marlia malah tampak semakin bengis menatap wanita itu.


"Halah…. Kamu pikir saya percaya?" desisnya, lantas menoleh ke arah Thalita.


"Heh, kamu!" sentaknya sekali, menarik rambut Thalita mendekat. "Apa yang sebenarnya kamu lakuin sama pacar ayah kamu ini, hah? Kalian merencanakan apa di belakang saya? Kenapa kamu nggak menuruti permintaan saya untuk melepaskan Axel dari penjara!?" bentak Marlia lagi di telinga Thalita, sontak membuat Thalita terkejut dan mengerjap.


"Pa—pacar?" ulang Thalita tidak percaya, menyadarkan Rosalin dengan kata-kata Marlia barusan.


"Lia!"


"Diam kamu!" bentak Marlia pada Rosalin, lantas melihat lagi ke arah Thalita.


"Kenapa? Jangan bilang, kamu pura-pura nggak tau kalau perempuan laknat ini adalah pacar ayah kamu sebelum mati!" kata Marlia kasar, kembali menyentak rambut Thalita.


"Pa—pacar Papa?" dengan perasaan gamang, Thalita mengulangi perkataan Marlia di telinganya.


"Iya, pacar! Karena itu kan, berapa hari ini kamu mengabaikan permintaan saya untuk membebaskan Axel dari penjara! Iya, kan?! Kamu mau balas dendam sama keluarga saya, kan?!"


"Lia, cukup!"


Rosalin yang tidak sanggup melihat Thalita diperlakukan kasar begitu oleh ibu yang telah melahirkannya, mencoba untuk melerai emosi wanita itu.


Namun, bukannya berhasil, dia malah membuat Marlia yang masih diselimuti emosi kian mengamuk hingga tidak sadar melayangkan sebuah tamparan di pipi kiri Rosalin.


"Lepaskan saya!"


Plak!


Rosalin yang kaget diperlakukan demikian pun ikut terdiam dengan apa yang baru saja dia terima.


"Kalian berdua sama saja! Sama-sama perempuan brengsek yang nggak tau diri sama sekali! Dasar ular! Saya muak dengan kalian! Saya jijik dan rasanya mau muntah melihat muka kalian!" maki Marlia kasar, pada Rosalin dan juga Thalita, yang hanya bisa membeku terdiam kaku di tempatnya.


Setelah mengatakan hal menyakitkan itu, Marlia pun kemudian pergi, meninggalkan kesunyian yang menghantam Rosalin dan juga Thalita di ruangan tersebut.


"Lita," panggil Rosalin pelan, pada Thalita yang memandang kosong pada sudut meja kerjanya.


"Thalita,"


"Stop, Tante!" ujar Thalita tiba-tiba, menjauhkan tubuhnya satu langkah, tatkala dia menyadari Rosalin akan mendekat ke arahnya.


"Sebaiknya Tante pulang. Dan maafkan sikap kasar Mama barusan yang udah berani menampar Tante," ucap wanita itu pelan, terdengar cukup datar dan juga dingin.


"Lita, apa yang dibilang Mama kamu itu nggak bener! Tante—"


"Tolong, Tante." Potong Thalita cepat, masih dengan gaya bicara yang sama. "Aku mau istirahat dengan tenang."


......Bersambung ......