Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #67



Thalita menaikkan pandangannya ke arah Evan yang berdiri di depannya, dan telur mata sapi di atas piring yang ada di depannya.


Tadi, saat Evan bilang akan memasak makanan sederhana, Thalita benar - benar tidak menduga kalau makanan itu akan benar-benar sederhana.


“Cuma ini?“ tanya Thalita menatap Evan, sambil menunjuk dua telur mata sapi di depannya.


“Cuma itu yang bisa aku buat,“ kata Evan setengah malu, dengan melihat ke arah lain.


“Nasi goreng?“


“Pernah coba, tapi nggak enak,“


“Mie instan?“


“Kamu lagi hamil. Harus jaga kesehatan!“


Thalita pun kembali cemberut mendengar ucapan itu. Dilihatnya lagi telur mata sapi di atas piring itu, kemudian melirik ke arah Evan.


“Nggak mungkin cuma bisa masak ini, kan?“ pancing Thalita, berharap suaminya itu punya sedikit bakat dalam urusan memasak.


“Masak air, telur rebus, telur dadar, mie instan—“


Evan seperti berpikir keras. Dia bahkan sampai menaikkan pandangan ke arah lain dan mengerutkan dahi dalam.


Sementara itu, Thalita yang menunggu pun ikut mengerutkan dahi, berharap Evan menemukan hal yang pernah dia masak selain deretan makanan tersebut.


Namun, setelah beberapa saat menanti, bukannya mendapat jawaban, suasana hening pun kian terasa di antara keduanya. Menandakan kalau tidak ada hal lain yang bisa Evan lakukan terkait kemampuannya memasak makanan.


“Ah, udahlah! Capek juga nungguin kamu ngomong. Kayaknya emang cuma ini yang bisa kamu lakuin buat aku,“ ujar Thalita seperti kecewa, bercampur dongkol yang membuat Evan hanya bisa menipiskan bibirnya.


“Bakat orang kan beda-beda, Ta…. Kalo aku jago masak, udah dari dulu aku jadi koki. Bukannya dokter kayak sekarang“ ucap Evan membela diri, bukannya mendapat pembenaran dari istrinya, malah mendapat decakan jengkel oleh wanita itu.


“Suami orang lain, kok bisa?“


“Ya, jangan samain sama suami orang dong! Emang suami mereka bisa kayak aku juga?“


“Ngapain? Masak telur?“


“Bukan!“


Evan menatap Thalita dengan sorot mata sedikit kesal. Ada-ada saja kelakuan wanita itu malam ini. Dari mulai mengganggu Evan untuk membuatkannya makanan, kini wanita itu malah sekonyong-konyong membandingkan dirinya dengan pria lain di luar sana.


Apa dia tidak bersyukur punya suami seperti Evan?


“Oh, iya. Maksud kamu, menikahi orang cuma karena kasihan? Gitu?“


Thalita menganggukkan kepalanya beberapa kali, melihat Evan sambil merapatkan bibirnya.


“Kok kamu jadi bahas itu lagi, sih?“


“Ya karena cuma itu yang ada di dalam pikiran aku sekarang,“


Sekarang, giliran Evan yang menatap wanita itu kesal.


Beberapa saat, Evan tampak terdiam. Mencoba menenangkan hatinya dengan melihat ke arah lain. Andai saja dia tidak ingat kalau sekarang dia sedang berusaha mengambil hati Thalita agar tidak terus bermusuhan dengannya, dia pasti sudah akan meninggalkan wanita itu di sana.


Lalu, setelah mendapatkan sedikit ketenangan lagi, Evan yang sudah memutuskan untuk kembali mengalah pun menarik kursi yang ada di depan Thalita. Duduk berseberangan dengan wanita itu, yang mana Thalita langsung memasang ekspresi aneh menatapnya.


“Kenapa? Apa aku juga nggak boleh duduk di sini?” tanya Evan masih sedikit dongkol, melihat Thalita yang menaikkan sebelah alisnya.


Tidak mau ambil pusing, Thalita yang sebenarnya diam-diam hampir meneteskan air liur melihat telur mata sapi buatan Evan, langsung mengambil sendok yang ada di depannya. Mencicipi sedikit telur mata sapi setengah matang tersebut, yang ajaibnya terasa begitu nikmat di lidah wanita tersebut.


“Mau pake nasi?” tawar Evan yang sadar dengan ekspresi wajah istrinya, dimana secara malu-malu juga Thalita menganggukkan kepala.


“Dikit aja tapi,” ucap wanita itu mencicit, sambil menyerahkan piring makanannya ke arah Evan.


“Nih,“


Evan kembali dengan satu gundukan kecil nasi di atas piring Thalita, dan menyerahkannya kembali pada wanita itu.


Sambil tersenyum malu, Thalita mengucapkan terima kasih, dan menerima nasi yang kini sudah menemani dua telur mata sapinya.


Dalam diam mereka berdua, ada interaksi yang terjadi. Di balik sikap Thalita yang seperti menjaga jarak, ada kelembutan yang Evan berikan tatkala dia merapikan sedikit rambut Thalita ke belakang telinga. Keduanya sempat saling menatap, yang mana secara tidak sadar malah tersenyum seakan tengah melakukan pembicaraan lewat dua mata mereka yang bersinar.


🍂


Sejak hari itu, hubungan antara Thalita dan Evan terasa seperti membaik. Hampir setiap malam Thalita meminta dibuatkan makanan oleh Evan. Kali ini, bukan hanya kreasi telur saja yang bisa pria itu sajikan. Saat tahu kalau Thalita sangat menginginkan masakan buatannya, diam-diam Evan selalu meluangkan waktu paginya untuk melihat Sang Ibu, Laila, memasak. Bertanya beberapa hal secara samar, namun terus memperhatikan dengan baik detil cara ibunya itu membuatkan makanan.


“Akhir-akhir ini, Mama perhatikan kamu lebih sering ke dapur deh, tiap pagi. Kenapa? Kamu mau belajar masak juga?”


Evan kaget, ketika suatu pagi Laila bertanya demikian padanya. Meski tidak terlihat serius saat bertanya, alias sambil memasak, tapi Evan merasa ibunya bisa membaca niat halus Evan ke dapur.


Seperti biasanya, malam ini Evan akan kembali memamerkan hasil karyanya dalam memasak. Nasi goreng sosis yang sudah dipelajari dengan sungguh-sungguh dari Sang Mama tadi pagi.


Untung Laila bisa memahami keadaan Evan yang sekarang. Meski tidak mendapat penjelasan oleh anaknya itu, Laila sepertinya tahu apa yang dilakukan oleh pasangan itu di malam hari, ketika Laila sudah mulai terlelap di kamarnya.


“Umh, aromanya kayaknya enak! Belajar dari mana?”


Begitu piring nasi goreng itu Evan letakkan di depan Thalita, sontak perempuan itu memuji. Mengambil sendok yang ada di dekatnya, kemudian langsung menyantap satu suapan nasi itu ke dalam mulutnya.


“Tadi pagi. Gimana? Enak, nggak?”


Evan yang sudah duduk di kursi depan Thalita, menaik turunkan alisnya menatap wanita itu. Tidak lupa senyum sombongnya yang terlihat begitu yakin kalau Thalita sangat menyukai masakan tersebut.


Tidak berpikir panjang, Thalita yang merasa kalau masakan Evan malam ini terasa begitu enak pun, segera menganggukkan kepalanya.


“Harusnya Kakak tiap malam masakin gini. Aku kan jadi senang,” kata Thalita tanpa malu, benar-benar mengagumi hasil usaha Evan membuatkan makanan untuknya.


Evan yang tadinya tersenyum puas, seketika kehilangan tawa dan menatap sedikit tajam pada wanita tersebut.


“Biarpun enak, kamu nggak bisa juga makan nasi goreng terus menerus! Nggak baik buat lambung kamu!” ujar pria itu tegas kali, kali ini membuat Thalita sedikit cemberut.


“Tapi kan enak, masa aku nggak boleh makan tiap hari? Ini permintaan anak kamu, loh!”


Ha, mulai lagi. Pikir Evan. Selain sudah mulai mendekat kembali, Evan juga melihat Thalita seperti punya kepribadian yang ketiga. Yaitu, suka memfitnah anak mereka yang masih berada dalam kandungan. Bagaimana bisa, dia mengatakan kalau segala makanan tidak sehat yang Thalita inginkan itu adalah permintaan anak mereka?


“Malah nuduh si baby,” keluh Evan agak mencebik, melihat Thalita yang masih memberengutkan wajahnya.


“Emang iya, kok! Baby yang minta! Kalo nggak, mana mungkin aku maksa kamu!”


“Oh, jadi cuma karena si baby aja? Terus, kamu nggak bener-bener suka gitu, masakan aku?” balas Evan terdengar agak sengit, tak ayal pula membuat Thalita langsung terdiam mendengarnya.


“Ya nggak gitu juga, sih…. Aku—”


“Ck! Kamu ini, makin lama makin pinter aja cari alasan!”


Tuk!


Sambil mengomel, Evan mengetuk pelan dahi Thalita dengan telunjuknya. Membuat wanita itu kian cemberut, namun lama kelamaan tersenyum dan akhirnya tertawa.


Entah apa yang terjadi dengan keduanya. Mereka tampak lupa dengan permasalahan mereka sebelumnya, yang mana hubungan mereka sekarang kian terasa begitu hangat. Sampai-sampai, tidak ada yang menduga, kalau mungkin sebentar lagi kebahagiaan itu akan pudar dengan sendirinya.


...Bersambung...


Mohon maaf untuk sebelumnya. Akhir-akhir ini kegiatan saya sangat banyak. Jadi agak kurang fokus untuk membuat cerita.


Tapi, saya tetap mengharapkan dukungan dari kalian semua.


Terima kasih🌹