
Sudah berapa menit Thalita menyandarkan kepalanya di atas meja. Matanya pun sudah berkedip lemas beberapa kali, menikmati waktu yang terbuang begitu lambat. Tiba-tiba, dia merasa kalau kehidupannya ini sangat buruk. Rasanya sangat melelahkan. Baru juga senang sedikit, masalah lebih berat kembali datang dan membuat perasaannya menjadi malas.
Dia ingin tidur. Tidur yang panjang agar tidak bisa melihat lagi kekacauan yang sering terjadi di hidupnya. Mungkin, ketidakberuntungan yang diperolehnya pada kehidupan kali ini adalah impact dari kehidupannya di masa lalu. Mungkin, di kehidupan sebelumnya, Thalita adalah seseorang yang hobinya merusak kebahagiaan orang lain. Mungkin, dia adalah seorang pelacur yang merusak hubungan rumah tangga orang lain, atau saudari tiri yang tega membunuh seorang gadis baik seperti cinderella.
Ah, di saat seperti ini, pikiran Thalita jadi pergi entah kemana.
"Apa yang sebenarnya kamu rencanakan dengan pacar ayah kamu sebelum mati ini, hah?!"
Tanpa sadar, Thalita tertawa. Tawa kering dan terlihat cukup sinis. Akhirnya dia tahu, siapa sosok Rosalin yang sebenarnya. Selama ini dia pikir, Rosalin hanyalah seorang teman lama ayahnya yang memiliki hati baik. Tidak ada maksud lain untuk mendekati Thalita hanya karena mempunyai anak yang usianya sama dengan Thalita.
Tapi, ternyata dunia tidak memang tidak pernah semanis gula.
"Lita!"
Di tengah lamunannya, lagi-lagi Thalita dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka. Kali ini bukan Marlia ataupun Rosalin, melainkan Evan — dengan wajahnya yang terlihat panik— berjalan mendekati Thalita dan langsung memeluknya.
"Kak Evan?"
Thalita yang bingung, hanya bisa mengerjakan mata tatkala Evan berlutut di depan kursi yang Thalita duduki dan memeluk tubuhnya erat. Bukan cuma itu, pria tersebut juga mengusap rambut Thalita dari atas hingga bawah dengan cara yang begitu lembut.
"K—Kak?"
Membuat Thalita merasa lebih aneh dan bingung dengan apa yang sebenarnya melandasi sikap Evan saat ini.
"Kamu nggak papa, kan? Apa kepala kamu masih sakit?" tanya Evan tiba-tiba, masih dengan posisi memeluk wanita itu.
Benar-benar tidak mengerti, Thalita hanya tertawa saja mendengar pertanyaan Evan hingga akhirnya pelukan itu dilepas.
"Saras tadi nelpon aku. Katanya kamu dijambak sama Mama kamu yang tiba-tiba datang ke sini," ucap Evan, sukses membuat kedua mata Thalita melebar.
"Saras?!" ulangnya dengan pekikan tertahan, seolah tidak percaya kalau asisten pribadinya itu berani menghubungi Evan karena masalah yang terjadi.
Dan seakan mengerti, Evan mengangguk seraya menjelaskan, "Sejak kejadian Axel datang kemarin, aku minta tolong sama Saras buat selalu menghubungi aku kalau Mama atau keluarga kamu yang lain datang kemari. Terlebih, kalau niat mereka cuma mau cari masalah aja sama kamu."
Sambil mengusap puncak kepala Thalita dengan lembut, Evan kembali berkata, "Tadi aku ada pasien gawat darurat. Jadi nggak tau kalau Saras bolak balik nelpon, makanya datangnya terlambat."
Lantas, tangan Evan turun menyentuh punggung tangan Thalita yang berada di atas paha.
"Maaf, ya? Aku harap sekarang kamu baik-baik aja," ucap Evan lagi, menatap satu per satu mata Thalita yang sarat akan kekhawatiran yang besar.
Namun, melihat niat Evan yang sekarang datang di saat jam kerja, membuat Thalita merasa sedikit sungkan dan tidak enak jika tidak merespons baik kepedulian pria itu. Hingga membuatnya sedikit tersenyum, sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Udah nggak sakit lagi, kok," kilah Thalita yang sebenarnya masih merasakan perih di kulit kepala. Saat menjambaknya tadi, beberapa kuku tajam Marlia juga ikut tertancap di sana.
"Bener? Kita bisa ke rumah sakit, kalo kamu memang masih merasa sakit," seolah tahu kalau Thalita tengah menutupi sesuatu, Evan merubah mimik wajahnya jadi sedikit curiga.
Akhirnya, mau tidak mau, Thalita pun jadi tertawa. Memeluk Evan yang mengerutkan keningnya, sambil mengucapkan, "Makasi, Kak, karena udah peduli. Tapi, aku baik-baik aja."
🍂
Di waktu yang berbeda, Rosalin yang sejak setengah jam lalu duduk di kursi ruang TV nya tampak termenung di tempat. Sesekali tangannya mengusap pipi merah bekas tamparan Marlia yang dia terima siang tadi. Semakin lama, dia merasa bekas tamparan itu semakin panas. Seperti hatinya, yang semakin memikirkan Marlia, menjadi semakin emosi.
"Apa yang sebenarnya dilihat Johan dari perempuan iblis kayak dia, sih?" gumam Rosalin seorang diri, membayangkan kejadian masa lalu dimana dirinya masih berusia sangat muda.
Waktu itu, dia dan Johan adalah sepasang kekasih. Sudah berapa tahun mereka menjalin cinta dengan perbedaan kasta yang ada. Johan dari kalangan konglomerat, sementara Rosalin dari keluarga yang biasa. Tidak ada kisah cinta Cinderella di dalamnya. Yang ada, beberapa tahun telah bersama, tiba-tiba Johan datang dan mengatakan akan menikah dengan wanita dari kalangan keluarganya. Pernikahan bisnis, maksud Johan kala itu.
Rosalin ingat, waktu itu Johan berkata kalau Marlia juga memiliki seorang kekasih, sama seperti mereka. Pernikahan yang akan Johan dan Marlia lakukan hanyalah pernikahan di atas kertas, dimana mereka sepakat untuk berpisah diusia pernikahan mereka yang menginjak satu tahun.
Namun, setelah kian lama menunggu, bukannya perceraian yang Rosalin dengar, Johan malah datang dengan membawa sebuah kabar kalau dia akan menjadi seorang ayah. Memutuskan cintanya bersama Rosalin dan membebaskan wanita itu untuk menikah dengan pria lain yang katanya jauh lebih baik daripadanya.
Merasa dikhianati, Rosalin datang menemui Marlia. Dia menuding Marlia sebagai seorang wanita munafik yang memanfaatkan keadaan dengan mengandung anak Johan. Rosalin yakin, kalau Marlia sengaja menggoda pria yang Rosalin cintai itu agar bisa menguasai semua harta peninggalan keluarga Johan. Karena setahu Rosalin, Johan itu adalah seorang yatim piatu yang diasuh oleh Kakeknya yang sedang sakit parah.
Rosalin tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Lebih tepatnya, dia tidak tahu apa yang sudah dikatakan oleh Marlia kepada Johan hingga membuat pria itu marah kepadanya. Meninggalkannya begitu saja, dan tidak memberikan kesempatan apapun untuk berbicara dengannya.
Rosalin yang kecewa pada keadaan pun menjadi gelap mata. Dia juga ingin berkuasa seperti Marlia terhadapnya. Melakukan apapun yang dia mau, sekalipun dia ingin menghancurkan hidup seseorang. Oleh karena itulah, dengan parasnya yang memang cantik menggoda, dia merayu seorang pria beristri dengan harapan bisa mendapat posisi lebih tinggi dari Marlia. Tanpa dia sadari kalau sebenarnya, dia pun hanya dimanfaatkan sebatas wanita simpanan pada umumnya.
"Mama lagi apa?"
Di tengah lamunan, Rosalin tersadar dengan kehadiran Mila yang ternyata sudah berdiri di sampingnya.
"Eh, kamu udah pulang?" tanya Rosalin basa-basi, dengan raut mukanya yang terlihat masam.
"Muka Mama kenapa? Kok bengkak gitu?" tanya Mila menunjuk pipi Rosalin, yang sontak membuat wanita itu tersadar hingga menyentuhnya.
...Bersambung ...