
Thalita benar-benar tidak tahu dimana letak kesalahannya. Pikirnya, jika memang Evan menganggap Thalita itu sebagai istrinya, bukankah wajar kalau pria itu menjawab semua pertanyaan Thalita? Terlebih, wanita itu bertanya sesuatu tentang keluarga Evan. Dimana sekarang, dia sudah menjadi salah satu anggota di dalamnya.
Tapi, bukannya menjawab, Evan justru terlihat menghindari dan mendiamkan Thalita seperti ini.
Sudah dua hari sejak percakapan mereka tentang ayahnya Evan. Dan selama itu, suami dari Thalita itu tampak menghindar, dengan melakukan berbagai hal yang jauh dari Thalita. Seakan enggan memberitahu apa yang terjadi dengan ayahnya, Evan juga terlihat seperti melampiaskan kekesalannya pada Thalita yang mengungkit masa lalu.
"Masa lalu apanya? Heh! Lo itu istrinya! Wajarlah kalo lo tau semua hal tentang dia, terutama di masa lalu. Setidaknya kalo ada masalah yang datang di rumah tangga kalian dari masa lalunya dia, lo itu bisa tau gimana cara nanganinya! Gimana, sih?!"
Thalita menolehkan kepalanya ke arah kiri. Bukannya hanya dirinya. Tapi beberapa orang yang ada di dekatnya juga tengah melakukan hal yang sama, dimana mereka melihat ada seorang perempuan yang sedang memarahi perempuan lain di sebelahnya.
"Ssst! Lo apaaan, sih? Berisik banget! Diliatin orang tau!" ujar wanita yang diteriaki oleh temannya itu, membuat si perempuan yang tadi mengomel jadi mendengus.
"Biarin! Biar aja orang tau, kalo gue itu punya temen yang bego kayak lo! Bisa-bisanya lo terima gitu aja semua perlakuan suami lo, cuma karena dia nggak mau menceritakan soal masa lalunya. Dia nganggap lo istrinya apa bukan, sih?!"
"Ih, mulut looo! Gue jambak nih, kalo nggak diam! Bikin malu aja!"
Thalita diam mendengar pertengkaran dua orang itu. Ada dua kalimat dari wanita urakan di belakangnya yang membuat hati Thalita seperti diketuk.
Dia tidak ingin membahas tentang masa lalunya. Apa dia benar-benar menganggapmu sebagai istrinya?
Pelan, Thalita memejamkan mata sejenak. Menarik napas panjang dan membuangnya, sebelum dia akhirnya dia mengambil sekotak susu wanita hamil yang sejak tadi dia lihat.
Dengan langkah tegas, dia meninggalkan lorong tempat jualan aneka susu di supermarket itu. Termasuk dua orang wanita yang tadi di belakangnya, yang sepertinya masih juga bertengkar dengan meributkan satu hal yang sama.
Buk!
"Akh!"
"Oooops, sorry!"
Thalita meringis menyentuh lengannya yang baru saja ditabrak oleh seseorang. Begitu keras, hingga dia pikir baru saja menabrak sebuah batu.
"Kalau jalan, tolong hati-hati. Tangan saya jadi sakit!" omel Thalita dongkol, pada pria berpakaian santai di depannya. Meskipun terlihat seperti orang tua, namun dandanan pria itu cukup necis dengan sebuah kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.
Pelan, Thalita memperhatikan pakaian orang tersebut. Seperti baju orang yang sedang bermain golf. Tapi anehnya, untuk apa orang dengan penampilan itu ada di sebuah supermarket seperti ini?
"Saya sudah berhati-hati. Anda saja yang sepertinya terlalu ceroboh saat berjalan,"
Pria itu menunduk, memungut kotak susu yang ternyata tidak sengaja terjatuh saat Thalita tertabrak tadi.
"Susu hamil?"
Samar, Thalita mendengar pria itu bergumam. Kemudian, saat si pria sudah berdiri, buru-buru Thalita merampas kotak itu dari tangan orang di depannya.
"Maaf, tapi….apakah Anda sedang hamil sekarang?" tanya pria itu tiba-tiba, tak ayal langsung membuat Thalita memasang tampang jijik bercampur dongkol.
"Bukan urusan Anda!" cetus Thalita sama sekali tidak ramah, kemudian berpaling hendak meninggalkan laki-laki aneh tersebut.
"Tunggu!" ujar pria itu pada Thalita, tanpa sengaja menarik tas wanita itu hingga kedua mata Thalita melebar menatapnya.
"Anda mau mencopet?" tuduh wanita itu sarkastik, segera membuat pria itu melepaskan tangannya.
Thalita yang sudah kadung tidak suka, hanya menatap sengit pria yang sepertinya paruh baya tersebut.
"Saya cuma terkejut saja melihat Anda. Sepertinya, dimanapun kita bertemu, sikap Anda akan tetap sinis begini terhadap saja. Seperti ada dendam pribadi, mungkin?"
Lagi-lagi pria itu terlihat agak meringis di ujung kalimatnya. Namun, Thalita yang memang dasar tidak peduli dengan hal itu, semakin mencebik dan memasang tampang muak.
"Anda itu sudah tua, sebaiknya jangan menggoda orang seperti ini. Saya sudah menikah, dan sama sekali tidak tertarik dengan Anda. Paham?!"
Pria itu seperti tidak peduli dengan pandangan orang saat mendengar ucapan keras dari Thalita. Dia malah terlihat senang, dengan menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Bagus. Saya bangga terhadap kamu. Teruslah begitu, dan buat suami kamu bangga punya istri seperti kamu," ucapnya secara acak di telinga Thalita, yang mana bukannya senang dipuji demikian, malah membuat Thalita semakin dongkol.
Tidak ingin membuat dirinya sendiri stress, Thalita pun segera berbalik dan meninggalkan pria itu tanpa kata.
"Hati-hati! Jangan sampai kamu menabrak orang lagi! Kamu nggak boleh sampai terluka!" teriak pria itu pada Thalita, tidak peduli kalau wanita itu mengabaikannya dan orang-orang sekitar memperhatikannya. Dia tampak begitu puas dengan terus memandang Thalita hingga jauh di pandangan.
Begitu melihat perempuan itu menghilang, seorang pria berpakaian hitam pun tiba-tiba datang menghampiri. Setengah berlari, hingga akhirnya berhenti di depan lelaki paruh baya itu yang masih tersenyum di wajahnya.
"Pak," sapa pria berpakaian hitam itu melihat atasannya, yang tampak begitu ceria saat ini.
"Kamu tau, Andre? Sebentar lagi Saya akan mendapatkan cucu."
🍂
Sore ini, mobil sedan Aris kembali terlihat parkir di seberang butik milik Laila, mantan istrinya. Seperti yang sudah-sudah, dia terlihat memperhatikan setiap gerak wanita yang pernah mengisi hari-harinya itu dari dalam mobil. Memandangnya dengan sendu, sambil sesekali tersenyum melihat bayangan Sang Mantan dari balik kaca.
Beberapa hari kedepan, dia akan sangat sibuk. Pasalnya dalam minggu ini, dia harus kembali ke Inggris tempat perusahaan intinya berada. Kehadirannya kembali ke tanah air tempo hari hanyalah untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Sambil menyelam minum air, Aris juga berniat untuk melihat Evan dan Laila sejenak setelah beberapa tahun tidak bertemu.
Teringat Evan, Aris kembali termenung. Sekarang anaknya itu sudah tumbuh menjadi orang yang hebat. Dari rumah sakit tempatnya bekerja, Aris bisa mendengar segala hal baik tentang anaknya itu. Mulai dari sikap serta kualifikasinya sebagai seorang dokter, sudah hampir setara dengan beberapa dokter senior di sana. Betapa hebat anak yang pernah dia sakiti itu sekarang. Meskipun sifatnya yang dingin juga terkenal di sana, tapi tidak bisa menutupi kilau diri Evan yang begitu memancar.
Tanpa sadar, Aris meremas sebuah botol minuman yang tadi dibeli di supermarket. Setelah pertemuan mendadaknya dengan pemilik supermarket yang tadi dia datangi, Aris tidak sengaja bertemu dengan menantu kesayangannya. Wanita galak yang sudah dua kali ditemui itu sedang terburu-buru hingga menabrak Aris yang lewat di depannya. Membuat sekotak susu yang tadi wanita itu bawa terjatuh, dan membuat Aris jadi berpikir sedikit jauh.
Sebentar lagi, dirinya akan menjadi seorang Kakek. Dan anaknya —Evan— tentu akan menjadi seorang ayah. Bocah yang dulunya terlihat begitu menggemaskan dengan pipi merah dan manja itu akan menjadi seorang ayah. Benar-benar anak yang hebat.
"Engh, Pak."
"Hm?"
"Itu…."
Aris yang terlalu fokus dengan lamunannya tentang Evan dan calon cucunya, tidak menyadari dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
Tok! Tok! Tok!
Saat Andre —sopir sekaligus asistennya di kantor— hendak bicara, kaca jendela mobil bagian Aris lebih dulu diketuk oleh seseorang. Memancing perhatian pria itu dari Andre yang duduk di depannya, menjadi ke arah samping tempat dimana Laila ternyata sudah berdiri sekarang.
...Bersambung...