Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #53



Seperti apa yang sudah diduga oleh Mila sebelumnya, di ruang TV dia melihat Rosalin yang sedang termenung. Dengan dahi sedikit berkerut, seolah tengah memikirkan sesuatu yang lain tanpa mengindahkan acara TV yang saat ini tengah berputar di depannya.


"Aku pulang,"


Mila sudah berpaling menuju kamar tidurnya yang tidak jauh dari ruang TV. Rencananya, dia ingin menghindar dari pandangan Rosalin tentang keadaannya.


"Eh, Mila tunggu!"


Sontak, kaki Mila berhenti. Namun di detik kemudian, dia berjalan lagi hendak meninggalkan Rosalin yang terdengar seperti menghampirinya.


"Eh, Mama bilang tunggu!"


Dengan cepat, Rosalin menangkap lengan Mila hingga membuat anaknya itu resah dan menggigit bibir bawahnya geram.


Tidak butuh waktu lama, Rosalin sudah berdiri di depan Mila dengan sorot mata yang begitu dalam. Memperhatikan wajah Mila dari atas hingga bawah, sebelum akhirnya memeriksa lengan Mila yang tadi sempat dia lihat memakai perban.


"Kenapa kamu? Kok—?"


Rosalin tidak perlu melanjutkan kalimatnya. Dia yakin, kalau Mila paham dengan arti pertanyaan yang barusan.


"Aku…." Sambil memutar otak, Mila membuang pandangannya ke arah lain.


"Aku tadi abis jatuh, Ma."


"Jatuh?" ulang Rosalin agak terpekik, melihat Mila menganggukkan kepalanya. "Jatuh dari mana? Lantai 13?!" sindir Rosalin kemudian, seolah tidak percaya dengan apa yang Mila katakan.


"Ih, ya enggaklah! Udah langsung mati kali, kalo jatuh dari lantai 13!" ujar Mila sedikit dongkol, membuat Rosalin menaikkan sebelah alisnya.


"Kamu kira penampilan kamu sekarang itu kayak apa? Mama kira kamu itu zombie, tau?!" semprot Rosalin lagi, hanya membuat Mila memberengutkan wajahnya.


Rosalin kemudian menatap wajah Mila lagi, sambil menerka-nerka dengan raut yang curiga.


"Jangan bilang, kamu ketemu sama istri pengusaha itu?" ujar Rosalin, sontak membuat Mila mendongak dan menatap ibunya balik.


"Apa?" tanyanya terlihat agak terkejut. "Siapa?" 


Rosalin hanya mendesahkan napas panjang. Membalikkan badan ke arah lain, dan melihat kedua tangannya di dada.


"Mama nggak tau, pengusaha besar mana yang sekarang lagi kamu dekati. Tapi yang jelas, Mama tau kalau kamu lagi jadi simpanan orang kaya sekarang. Benar, kan?"


Rosalin menolehkan kepalanya sejenak, melihat ekspresi wajah Mila saat ini.


"Mama ngomong apa, sih?! Buat apa aku ngelakuin hal itu?! Mama tau sendiri kan, aku ini kerja!?"


"Kerja kamu itu cuma kedok! Kamu pikir, Mama nggak tau?!" bentak Rosalin kembali melihat Mila, dengan tangan yang sudah terkepal di kedua sisinya.


"Jangankan Mama, semua teman-teman Mama yang ada di perkumpulan juga udah pada tau! Berapa kali mereka ngaku ngeliat kamu keluar masuk hotel sama laki-laki yang lebih tua! Kamu pikir, Mama ini bodoh apa?!" ujar Rosalin lagi kuat, sambil melotot pada Mila.


"Kamu tau, kenapa sekarang itu Mama jarang banget pergi ke perkumpulan teman-teman Mama? Itu karena Mama malu! Mama malu, setiap kali mereka membahas tentang anak mereka yang hebat dan juga anak Mama yang merupakan simpanan dari laki-laki hidung belang!”


Mila yang terkejut, mengerjakan matanya beberapa kali menatap Rosalin.


"Terus, kenapa Mama marah? Bukannya Mama udah tau dari dulu soal kerjaan aku yang satu itu? Terus, kenapa baru sekarang malunya? MAMA KIRA KARENA SIAPA AKU KAYAK GINI?!"


Plak!


"SEKALINYA BRENGSEK, TETAP AJA BRENGSEK! KENAPA KAMU HARUS NYALAHIN MAMA SEGALA?!" bentak Rosalin kasar, setelah memberikan sebuah tamparan ke pipi bengkaknya Mila.


Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara di antara mereka. Keduanya hanya diam dengan balutan emosinya masing-masing.


"Bukannya Mama yang nyuruh aku buat deketin Evan?" gumam Mila tiba-tiba, membuat Rosalin intens menatapnya.


"Dia itu udah punya istri. Siapa yang nyuruh aku deketin laki-laki yang udah punya istri, hah?!" 


Mila yang tadinya menunduk habis dipukul oleh ibunya,  kini mendongak kembali dan membalas tatapan Rosalin dengan tajam.


"Nggak usah bersikap sok suci! Mama sendiri kan yang ngajarin aku buat ngerebut apa yang awalnya bukan punyaku? Bahkan Papa sendiripun, Mama rebut dari keluarga! Terus, kenapa sekarang Mama bersikap seolah-olah jadi orangtua yang baik buat aku?"


Mila tersenyum sinis melihat Rosalin yang membeku.


"Laki-laki yang kamu maksud itu…. Temen kamu yang dokter itu?" Rosalin bertanya dengan nada kaku seolah tidak percaya.


"Dia… udah nikah?" ujarnya lagi tergagap, kali ini membuat Mila mendengus.


"Ya udah kalau gitu."


Di ujung pintu kamarnya, Mila yang siap membuka handle pintu, berhenti sejenak mendengar ucapan Rosalin.


Sedikit menoleh, dia melihat Rosalin sudah membalikkan tubuh ke arahnya.


"Kalau memang udah terlanjur, lanjutin aja. Daripada sama laki-laki tua, lebih baik sama orang yang lebih jelas seperti dia."


Sudut bibir Rosalin bergetar seakan memaksakan senyum pada Mila.


"Evan…." Ucapnya dengan air muka yang terlihat resah namun ada dendam di dalamnya. "Anak itu pasti jauh lebih cocok sama kamu daripada perempuan lain."


🍂


Selesai membersihkan diri, Thalita keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyama tidurnya yang tipis. Hari ini dia pulang sedikit lebih awal dari biasanya. Karena masalah yang sedang dialami bersama Evan, perasaan Thalita jadi sedikit tidak menentu. Hal itu membuatnya jadi lebih sering mual dan pusing luar biasa. 


"Mungkin, Bu Lita lagi hamil, kali…." Terka Saras, ketika mendapati Thalita yang berlari ke arah kamar mandi untuk kesekian kalinya.


"Hamil?" batin Thalita sekali lagi, menyentuh perutnya yang rata.


Buru-buru Thalita berjalan ke arah tas jinjing yang tadi dia pakai bekerja. Dengan cepat, dia mengambil sebuah bungkusan kecil dari dalam tas itu dan mengeluarkan isinya.


Tiga buah alat tes kehamilan, yang tadi sempat dibeli di apotek dekat rumah Evan, bersama dengan obat pereda nyeri lambung.


"Hasil tesnya akan lebih akurat jika dilakukan di pagi hari," 


Thalita ingat pesan dari apoteker itu, ketika memberikan alat tes kehamilan itu yang sudah dibungkus di dalam plastik.


Cepat Thalita memasukkan tiga alat tes kehamilan itu ke dalam kamar mandi. Meletakkannya di atas kabinet yang ada di sudut ruangan, lalu keluar dari sana. Niatnya akan menggunakan tiga benda itu sekaligus besok pagi.


"Kak Evan?"


Thalita yang baru menutup pintu kamar mandi dari luar, terfokus pada Evan yang bersamaan masuk ke dalam kamar.


Untuk sesaat, keduanya saling memandang, sampai akhirnya Evan mengerjap, dan memutuskan pandangan mereka.


Dalam diam, pria itu berjalan ke arah meja rias Thalita sambil melepaskan jam tangan yang melingkar di lengannya. Kemudian, setelah meletakkan benda mahal itu di sana, dia berjalan ke arah lemari dan mencari pakaian yang akan dia kenakan.


"Kak, gimana pekerjaan Kakak hari ini? Lancar?"


Tidak seperti malam biasanya, Thalita yang mungkin sudah merasa jenuh dengan sikap Evan dua atau tiga hari ini, memutuskan untuk sedikit agresif. Dia menghampiri suaminya itu, kemudian melepaskan satu per satu kancing kemeja Evan dan membuat pria itu merasa kaget.


"Kamu ngapain?" tanya Evan refleks, mundur satu langkah menghentikan gerakan tangan istrinya.


Walaupun sempat terpaku sejenak, Thalita mencoba untuk tersenyum dan kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Membantu ngelepasin kemeja Kakak? Emang ngapain lagi?" sahutnya tersenyum, baru melepaskan satu kancing kemeja lagi saat Evan menjauh.


"Nggak usah. Aku bisa sendiri," tolak pria itu halus, hendak membelakangi Thalita.


"Sini aku bantu!" ujar wanita itu menahan lengan Evan, yang secara refleks ditepis oleh pria itu sedikit kasar.


"Aku bisa sendiri!" katanya terlihat agak kesal, dimana hal itu langsung membuat Thalita terdiam di tempatnya.


Satu detik, dua detik, Thalita yang tidak menyangka akan mendapat perlakuan demikian dari Evan, hanya diam menahan nyeri yang mendadak muncul di hatinya. Pikirnya, apalagi kesalahannya kali ini?


Sementara itu, Evan yang sepertinya juga baru sadar dengan apa yang dia lakukan, hanya bisa menarik napas panjang dan membuangnya.


"Maaf, aku capek. Sebaiknya kamu tidur aja duluan,"


Lalu, tanpa menatap wajah Thalita sama sekali, Evan yang memang wajahnya terlihat sangat lelah, langsung meninggalkan Thalita begitu saja. Masuk ke dalam kamar mandi, seakan tidak tahu kalau apa yang baru saja dilakukannya membuat Thalita merasa sedih luar biasa.


...Bersambung ...


Maaf, atas keterlambatan update-nya, ya....


Banyak sekali hal yang nggak bisa diutarakan.


Yang pasti, saya tetap berharap dukungan dari kalian semua terhadap cerita ini.


Bagi yang sudah like (👍🏻) cerita ini dan meninggalkan komentar (💬), terima kasih banyak..... 🌹