
Evan yang merasa tidak sanggup lagi menyelesaikan kerjaannya hari ini, memutuskan untuk pulang lebih awal. Dia meminta tolong pada salah satu temannya yang sesama dokter untuk menggantikan dirinya yang beralasan sakit siang ini.
Dia tiba di rumah, saat tiba waktunya untuk makan siang. Pikiran yang berat atas kejadian sesaat lalu membuat Evan merasa lapar.
"Aku pulang,"
Sapa Evan masuk rumah, dan hanya mendapati ibunya yang sibuk menata makanan di meja makan dengan bantuan Bik Asih.
"Eh, Van. Kamu juga pulang cepat hari ini?"
Terlihat agak kaget, Laila yang baru saja meletakkan semangkuk sayur di atas meja makan, menoleh dan mengerutkan dahi melihat anaknya.
"Juga?"
Dalam hati Evan menduga, kalau istrinya pasti sudah ada di rumah sekarang. Meskipun tadi dia memang sempat melihat mobil Thalita di depan rumah, tapi dia ingin memastikan, mengingat kadang istrinya itu mau menggunakan taksi kemanapun.
"Iya, Ma. Lagi nggak enak badan aja," sahut Evan seadanya, tentu membuat Laila terlihat panik.
"Astaga! Kalian kok bisa sakit barengan gitu, sih? Lita juga tadi katanya begitu."
Laila menghampiri putranya tersebut, kemudian menyentuh dahinya.
"Udah minum obat?" tanya Laila, kali ini terpaksa membuat Evan harus berbohong.
"Udah," angguknya, malas jika harus dipaksa minum obat sungguhan, padahal yang membuatnya merasa tidak enak itu adalah masalah yang tengah dihadapi.
"Ya udah kalo gitu. Kamu belum makan siang, kan? Panggil istri kamu, gih! Kita makan siang bareng. Tadi kayaknya dia emang kecapekan banget. Mama jadi nggak tenang mau ninggalin dia ke butik," ujar Laila, sejenak membuat Evan memperhatikan penampilan ibunya.
Rapi, layaknya Sang Mama yang ingin pergi bekerja.
"Oh, iya. Nanti abis makan Mama bisa pergi, kok. Kan ada aku. Biar aku aja yang jagain dia," kata Evan, dibalas Laila dengan sebuah anggukan kepala.
Evan pun berjalan menuju kamar tidurnya. Sebelum masuk, dia tampak menarik napas panjang dulu dan membuangnya perlahan.
Sementara itu, di dalam kamar, Thalita yang masih dengan penampilan kacau sejak pulang dari rumah sakit tampak termenung di dekat tempat sampah. Tatapannya terus tertuju pada secarik kertas hasil pemeriksaan yang dia lakukan tadi pagi dengan Jenna. Sejak di rumah sakit tadi, dia yang marah tidak sadar sudah meremas kertas itu begitu kuat. Sangat kusut hingga bentuknya terlihat seperti kertas yang tidak berguna.
Thalita berpikir apakah dia harus membuang kertas itu atau tidak. Hasratnya yang tadi membara ingin memamerkan kertas itu pada Evan dan juga Laila kini padam berganti dengan rasa hambar yang entah darimana datangnya. Rasa senangnya yang menggebu seolah terbang dibawa angin kebahagiaan yang sudah berlalu dari kehidupannya.
Cklek!
Pintu kamar tidurnya yang tiba-tiba saja dibuka oleh Evan, sontak mengagetkan Thalita yang termenung. Dengan cepat dia membuang kertas hasil pemeriksaan itu ke dalam tempat sampah, kemudian berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengambil piyamanya.
Wajah wanita itu tampak begitu datar, ketika dia melewati Evan yang berjalan ke dalam kamar.
Sedangkan Evan, yang tampak canggung hanya bisa diam menerima sikap dingin Thalita yang masuk ke dalam kamar mandi.
Ingin Evan bersikap acuh tak acuh, sembari membiarkan Thalita tenang dengan apa yang terjadi siang tadi. Namun, saat matanya tidak sengaja melihat ke arah tempat sampah, sontak dia terdiam dan menatap apa yang ada di dalamnya.
Kebetulan, tadi dia ingat Thalita tampak buru-buru membuang kertas putih yang berada di paling atas tempat sampah itu. Membuat Evan sedikit berpikir, tentang apa yang membuat istrinya itu terlihat panik saat melihatnya.
Tanpa berpikir panjang, Evan menunduk mengambil kertas tersebut. Membacanya dengan pikiran yang tenang, sebelum akhirnya apa yang tertulis disana membuatnya kembali sadar dengan kalimat yang ditangkap saat perawat yang bertugas bersama Jenna datang menemuinya di ruang kerja.
"Ini dari dokter Jenna. Katanya, hasil pemeriksaan istri dokter ketinggalan,"
Seketika, Evan menautkan kedua alisnya tajam. Meskipun bukan seorang spesialis kandungan, tapi dia cukup bisa mengartikan isi dari hasil pemeriksaan yang Jenna berikan pada Thalita.
Apa mungkin hasilnya itu persis dengan apa yang Evan pikirkan?
🍂
Merasa cukup lama di kamar mandi, akhir Thalita menyerah untuk berada di sana. Setelah sekian lama menunggu suara pintu kamar tidur yang terbuka —menandakan Evan mungkin sedang keluar dari kamar tidur—, Thalita akhirnya mengalah dengan berusaha bersikap masa bodoh.
Dia cukup kaget saat membuka pintu, orang yang diharapkannya tidak ada di sana malah duduk di atas ranjang bagiannya dan menatap tajam ke arah dirinya. Seperti ingin menuntut sesuatu, Evan yang biasa terkesan dingin, kini terlihat seperti orang yang tengah menahan marah.
Thalita berusaha bersikap abai. Dia berjalan ke arah meja rias dan mengambil salah satu produk kecantikan miliknya yang rutin digunakan setelah mandi.
"Kamu hamil?"
Dua kata yang keluar dari mulut Evan itu tanpa tedeng aling-aling langsung membuat Thalita membeku. Sambil memegang tutup botol skincare-nya, Thalita tampak mematung tanpa berkedip sekalipun.
Melihat istrinya itu tidak menjawab, Evan segera bangkit. Menghampiri Thalita yang masih juga bersikap sama, sambil membawa kertas yang tadi dia pungut dari dalam tempat sampah.
"Kenapa nggak bilang? Kamu tadi ke ruangan aku, kan?!" tuntut Evan sudah berdiri di samping Thalita, yang mana wanita itu bisa langsung melihat kertas di tangan suaminya dari kaca di depannya.
"Sial. Perasaan tadi itu udah dibuang, deh," gumam Thalita seorang diri, terdengar datar dan cukup mampu didengar oleh Evan yang berdiri di sebelahnya.
"Apa? Apa maksud kamu?!" sentak pria itu tidak percaya, melihat Thalita memutar bola matanya dengan malas.
Sambil melanjutkan aktivitasnya merawat kulit wajah, Thalita memaki Evan dengan cara yang begitu tenang.
"Dokter Evan bodoh," ucap wanita itu, membuat pria di sampingnya semakin tidak percaya.
"Tolol,"
"Lita!"
"Brengsek,"
Evan menggeleng karena tidak paham dengan apa yang dilakukan oleh istrinya.
"Nggak tau malu! Dungu! Bajingan! Monyet! Buaya! Siluman! Monster—"
"Thalita!"
"DAN NGGAK BISA DIPERCAYA!"
Brak!
Deru napas Thalita tampak kacau setelah memukul meja rias di depannya. Saking kerasnya, pukulan itu mampu membuat beberapa alat kosmetiknya yang tersusun di atas meja itu bergetar hingga jatuh terkulai.
Sambil menatap wajahnya sendiri di pantulan cermin, Thalita bisa melihat dari sudut matanya kalau Evan juga terus menatapnya tanpa putus.
"Aku udah berusaha untuk terlihat baik-baik aja. Aku juga udah berusaha untuk bersikap seolah tidak terjadi apapun di antara kita. Tapi, kenapa kamu terus mancing-mancing aku dan mengungkit apa yang nggak seharusnya kamu bicarakan?"
Sekarang, Thalita menatap Evan dari cermin di depannya. Sama seperti Evan yang sesaat balas memandangnya, sebelum berpaling melihat langsung ke arah wajah Thalita.
"Ini kamu bilang nggak penting?"
Brak!
Evan meletakkan kertas yang tadi dia temukan ke atas meja rias yang ada di depan Thalita.
Namun, bukannya kaget, istrinya itu malah terlihat santai dengan memiringkan sedikit kepalanya.
"Emang. Surat itu memang nggak penting," sahutnya, kontan membuat Evan merasa kesal dan tambah tidak percaya.
"Gimana bisa kamu bilang kehamilan kamu itu nggak penting?! Kamu udah gila, ya?!" bentak Evan marah, malah mendapat dengusan sepele dari wanita tersebut.
"Waw, sangat mengejutkan sekali kalau dokter Evan menanyakan hal itu lagi sama saya. Bukannya dokter emang udah tau kalau saya ini gila? Dokter sendiri 'kan yang bilang kalau otak saya ini rusak?" tantang Thalita enteng, melipat kedua tangannya di dada dan memangku sebelah pahanya.
Evan seperti disiram dengan air dingin. Dia tidak menyangka, kalau Thalita yang sejak awal ditemuinya selalu bersikap menyalah dan enggan mendebatnya, kini melawan dengan wajah angkuh khas miliknya di luar sana.
"Aku nggak bermaksud kayak gitu. Cuma kamu—
Mendadak, kepala Evan terasa pusing. Dia diam, kemudian memijat kepalanya yang berdenyut.
Hal itu malah dianggap Thalita sebagai alasan Evan yang memang tidak punya bisa menjelaskan apa yang sudah wanita itu dengar di rumah sakit tadi.
Lalu, dengan perasaan emosi, Thalita pun bangkit dan meninggalkan Evan menuju pintu kamar.
"Tha, bentar! Mau kemana? Aku belum selesai bicara!"
Evan berusaha mengejar istrinya yang sudah mencapai pintu kamar dan membukanya secara kasar.
"Ah, Lita?"
Saat pintu terbuka, semua terdiam karena mendapati Laila yang ternyata sudah berdiri beberapa jarak di depan pintu.
Terlihat kaku, Laila melirik ke arah Evan dan juga Thalita secara bergantian.
"Ma—Mama udah nyiapin makanan untuk kalian. Kalian…. Makan dulu, ya?"
Dari wajah Laila yang kikuk, baik Thalita maupun Evan bisa menduga kalau wanita paruh baya itu pasti mendengar pertengkaran mereka di kamar tadi. Apalagi saat berbicara tadi, mereka menggebrak meja rias hingga terdengar cukup menggema. Hanya saja, Laila pasti tidak akan bertanya karena takut dianggap terlalu mencampuri urusan rumah tangga anaknya.
"Ma, tunggu!"
Baru juga melangkah dua kali ke arah dapur, Laila yang mendengar suara Thalita sontak menghentikan gerak kakinya.
"Sebentar, ada yang mau aku kasih tau ke Mama,"
Evan mengerjap, ketika Thalita tiba-tiba kembali masuk ke dalam kamar dan melewatinya begitu saja dengan lirikan matanya yang begitu sinis.
Dalam waktu singkat, Evan merasa kalau Thalita sudah berubah sepenuhnya.
...Bersambung...
Mohon untuk dukungannya terus ya, semua.... 😉
Klik suka (👍🏻) dan boleh meninggalkan jejak komentarnya (💬)
Terima kasih 🌹