
Mila merasa kalau ibunya benar-benar gila. Wanita mana yang menyuruh anaknya sendiri untuk merusak kebahagiaan orang lain? Sekalipun dia memang masih ada rasa dengan Evan, belum sekalipun terpikirkan oleh Mila untuk pria itu dari istrinya. Terlebih Mila tahu, kalau istri dari Evan itu jauh lebih hebat dalam segala hal ketimbang Mila sendiri.
“Kamu jangan bodoh! Kalo dulu aja dia bisa jatuh cinta sama kamu, terus apa bedanya sama sekarang? Kamu bahkan udah jauh lebih cantik daripada waktu kalian masih SMA dulu! Jadi, nggak perlu minder, dan rebut lagi Evan dari tangan istrinya!“
Seketika, Mila merinding. Dia refleks memeluk tubuhnya sendiri dan bergidik, membayangkan perkataan Rosalin yang masih terngiang di telinganya.
Walaupun Mila itu adalah seorang wanita ******, alias perusak rumah tangga orang lain demi kelangsungan hidupnya sendiri, bukan berarti dia bisa merusak kebahagiaan Evan seenak jidat. Apalagi Evan itu masih memiliki sebagian dari hati Mila. Yang artinya, Mila juga akan merasa sedih, jika sampai pria itu terluka karena keegoisannya. Cukup dia melihat air mata Evan waktu Mila mengkhianatinya dulu. Bayangan berapa pedih wajah laki-laki itu bahkan belum bisa Mila hilangkan dari pikirannya. Konon lagi dia harus menambah luka Evan, mungkin dia tidak akan pernah bisa hidup tenang selamanya.
Sementara itu di sisi lain, Rosalin yang juga merasa kesal atas sikap Mila yang menurutnya terlalu munafik, membanting pintu kamarnya hingga tertutup. Wajahnya bertekuk suram tatkala kedua tangannya yang bertolak di pinggang dan menatap jauh dengan napas tersengal.
“Kenapa sih, anak itu nggak pernah nurut apa kataku?! Ini semua kan demi kebaikannya!“ rutuk Rosalin jengkel, kemudian melirik sinis ke arah pintu kamarnya yang tertutup.
“Dasar anak nggak tau diri!“ umpatnya kemudian, berjalan ke arah tempat tidur dan membuka laci nakasnya yang ada di samping ranjang.
Dari sana, dia mengeluarkan sebuah foto yang sudah cukup usang, dimana itu adalah gambar Evan dan juga Mila yang kemarin sengaja dia bawa secara diam-diam.
Di foto itu, tampak kedua anak manusia itu tersenyum begitu hangat. Terlihat begitu saling menyayangi, dengan wajah polos keduanya yang saling memandang.
Rosalin yakin, bahwa belum ada satu laki-laki pun yang mampu membuat Mila tersenyum seperti itu lagi, setelah perpisahannya dengan Evan. Hanya lelaki itu yang mampu, dimana sekarang Rosalin bertekad ingin mengembalikan kebahagiaan itu kepada putrinya.
“Maaf, Thalita. Tapi aku nggak punya pilihan lain. Aku nggak mungkin biarin anakku merasakan apa yang aku rasakan dulu karena ulah orang tua kamu,“
Sekarang, Rosalin seolah menyalahkan Thalita atas apa yang terjadi padanya di masa lalu. Kedua orang tua Thalita dijodohkan dan ayahnya yang ternyata mencintai Marlia, membuat Rosalin begitu dikhianati.
Apa bedanya dengan kisah Thalita dan Evan sekarang? Bukankah keduanya juga dijodohkan? Dan jika diperhatikan selama ini, sepertinya hanya Thalita saja yang menyukai Evan, dan belum tentu sebaliknya.
“Jadi, sebelum anak itu jatuh cinta sama istrinya, lebih baik aku mengembalikan apa yang seharusnya dimiliki oleh Mila.“
Pikir Rosalin saat ini, cukup Rosalin yang menderita karena cinta di masa itu. Jangan lagi anaknya merasakan hal serupa, yang mana dia tahu sebenarnya kalau Mila juga tidak pernah merasa bahagia sejak hidup berdua dengannya.
🍂
Semakin ke sini, Evan terlihat semakin peduli terhadap Thalita. Meskipun sikap wanita itu masih terlihat datar, Evan seperti tidak menyerah. Dia terus mendekat, walau terus ditolak oleh wanita itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Evan pulang setelah seharian bekerja dengan dua shift. Karena menggantikan temannya yang hari ini tidak bisa masuk kerja, dia terpaksa harus pulang larut malam ini.
Kalau sebelum masalah ini ada Thalita selalu terlihat resah saat menunggunya pulang, kali ini Evan harus menelan kekecewaan karena Thalita yang kembali terlihat tidak peduli terhadapnya.
Bukannya menyapa, wanita itu bahkan tidak melirik Evan sekalipun yang baru masuk ke dalam kamar. Bahkan ketika pria itu berjalan ke arah meja rias dimana Thalita sedang mengoleskan krim malam di wajahnya, perempuan itu masih bersikap seolah tidak melihat Evan sama sekali.
Tepat saat Evan meletakkan jam tangannya di atas meja rias tersebut, Thalita bangkit dan langsung berjalan ke arah ranjang tempat dia biasa tidur. Dia merebahkan diri di sana, menarik selimut hingga batas dada dengan posisi memunggungi Evan yang masih menatapnya.
Evan tampak seperti ingin bicara. Tapi urung dilakukan, karena dia pun sedang merasa lelah sekarang. Dia tahu, kalau bicara dengan Thalita saat ini pasti akan mengundang pertengkaran. Sejak kejadian di rumah sakit waktu itu, Thalita terlihat sangat berbeda sikap dari biasanya. Seakan-akan menunjukkan, kalau itu adalah sifat Thalita yang sebenarnya.
“Kamu harus hati-hati dan banyak ngalah sama dia! Perempuan hamil itu sensitif. Pokoknya, kamu jangan sampe nyesel kalo sempat terjadi apa-apa sama istri dan anak kamu karena ulah kamu sendiri“
Evan mengingat pesan yang tempo hari Jenna katakan sembari emosi. Katanya, Evan harus terus bersikap baik pada Thalita agar perempuan itu tidak merasa tertekan selama kehamilannya.
Tapi, bagaimana jika Evan yang sudah bersikap baik begini tetap saja dimusuhi oleh perempuan itu? Seperti sekarang, jangankan dilayani dengan baik selayaknya seorang suami yang baru saja pulang kerja, Evan malah diabaikan seperti makhluk yang tidak terlihat.
Benar-benar menyebalkan.
“Kamu nggak kepanasan?“
Agak merenung, Evan yang melihat Thalita diam dengan posisi membalut tubuhnya tebal dengan selimut, memberanikan diri untuk bicara. Meski dia tahu, kalau istrinya itu pasti akan kembali mengomel seperti apa yang sudah terjadi sebelumnya. Yang Evan tahu, orang hamil itu cenderung mudah merasa kepanasan.
“Tha,“
“Apa, sih? Kalo kepanasan kan, tinggal buka aja selimutnya. Kenapa berisik banget?!“ sembur wanita itu masih dengan posisi sama, sukses membuat Evan merasa sedikit kaget.
Semakin kemari, istrinya itu terlihat semakin galak.
Tidak ingin membuat wanita itu semakin kesal, Evan pun kembali mengalah. Dia membuka kancing kemejanya dan berjalan ke arah kamar mandi sambil membawa handuk yang dia tarik kasar dari rak yang ada di dekat pintu.
🍂
Tengah malam, Evan masih setelah terjaga, ketika dia merasa kasur di sebelahnya terus bergerak. Penasaran, dia membuka sedikit matanya dan mengintip apa yang sebenarnya dilakukan oleh istrinya saat ini.
Dalam pencahayaan remang, Thalita terlihat gelisah. Membolak-balikkan tubuhnya ke berbagai arah, seolah tengah mencari posisi nyaman untuk tidur.
Sesekali juga Evan bisa mendengar decakan lidah wanita itu saat bergerak.
“Kamu kenapa, sih?”
Saat tidak sengaja berputar ke menghadap Evan, Thalita terkejut mendengar pertanyaan itu dari mulut suaminya. Pikirnya, pria di sebelahnya sudah tidur sejak tadi. Tapi ternyata, dia malah menatap Thalita dengan dahinya yang berkerut.
“Nggak papa,”
“Nggak papa, tapi kok kayak cacing kepanasan?” tanya Evan lagi, malah disalah tanggap oleh Thalita yang mengira lelaki itu memarahinya.
“Kenapa? Kamu terganggu?” tanyanya balik, menahan ludah yang menyangkut di tenggorokannya.
“Maaf, kalo gitu! Aku nggak bakal ganggu kamu lagi,”
Evan refleks menangkap tubuh Thalita yang berputar membelakanginya. Pikirnya, wanita itu akan marah dan langsung meninggalkannya begitu saja.
“Tunggu!” ujar pria itu langsung merapatkan tubuhnya pada Sang Istri yang mana dia langsung merasakan perut wanita itu bergetar cukup kuat.
Dia yang merasa kaget sempat menjauhkan tangannya yang tadi menyentuh perut wanita itu. Menatap wajah Thalita yang bertekuk dongkol, sebelum akhirnya bertanya dengan hati-hati.
“Kamu… lapar?” tanya pria itu, yang entah kenapa malah melihat istrinya menitikkan air mata.
“Tha!”
Evan yang kembali kaget, langsung melepaskan pelukannya dari wanita itu. Pikirnya, Thalita sangat benci dengan kehadiran Evan hingga membuatnya menangis.
Namun, prasangka Evan kembali salah, ketika dia mendengar isak tangis wanita itu yang berbalik ke arahnya.
“Kak….” panggilnya serak. “Aku lapar,” sambungnya kemudian, menangis yang entah kenapa malah membuat Evan semakin bingung.
Sesaat, Evan hanya diam menatap Thalita. Pikirnya, apakah lapar bisa membuat orang sesedih ini?
Kemudian, dengan gerakan halus, pria itu mendekat ke arah Thalita dan menarik wanita itu untuk duduk. Menatapnya sejenak, lalu memeluk tubuh perempuan itu sambil menepuk-nepuk punggungnya pelan.
“Yaudah, kita makan sekarang, ya?” bujuk Evan masih memeluk Thalita, yang samar merasakan anggukan perempuan itu di bahunya.
“Kamu mau makan apa?” tanya Evan lagi lembut.
“Terserah Kakak aja,” jawab Thalita seperti anak kecil, membuat Evan sedikit mengangguk.
Setidaknya, tidak sulit mencari makanan yang ingin dimakan oleh Thalita.
“Yang penting, Kakak yang masakin,” sambung wanita itu, sontak saja membuat usapan tangan Evan di punggung Thalita berhenti.
Tunggu! Siapa yang memasak?
“Aku pengen makanan yang Kakak masak sendiri,”
Seakan memperjelas keadaan, Thalita berbicara dan membuat Evan membeku.
Demi apa? Evan tidak bisa memasak!
Dengan gerakan kaku, pria itu melepaskan pelukannya dari wanita hamil tersebut dan menatapnya tidak yakin.
“Jangan bercanda. Kamu nggak lagi berniat nyakitin anak kita, kan?” tanya Evan hati-hati, malah membuat Thalita mengerutkan dahinya dalam.
“Sejahat apapun aku, sampai detik ini nggak pernah mikirin hal itu! Kenapa Kakak bisa ngomong kayak gitu?!” sembur Thalita emosi, juga membuat Evan menaikkan sedikit suaranya.
“Ya, kamu minta aku buat masakin makanan! Aku itu nggak bisa masak, Tha!” kata Evan menekan kalimatnya, membuat Thalita memberengutkan wajah.
“Ya, terus gimana? Aku pengennya Kakak yang masak! Ya, kali aku minta sama orang lain? Emang anak ini bakal percaya, kalo nasi goreng buatan Abang-abang di depan itu, nasi goreng buatan Papanya?”
“Tha!”
Dongkol dengan ucapan Thalita, Evan memijat kepalanya pelan. Rasa kantuk yang samar-samar dia rasakan tadi, mendadak hilang karena keributan mereka malam ini.
“Ya udah, kamu minta aku buatin makanan. Terserah aku kan, mau buat apa?”
Setelah berpikir beberapa saat, Evan kembali mengalah, melihat Thalita yang mengangguk cemberut.
“Oke, kalo gitu, tunggu di sini!”
“Ikuuuut!”
Evan yang baru saja akan turun dari tempat tidur, kembali menoleh saat istrinya itu menahan lengan Evan dan menatap melas padanya.
“Ngapain? Di sini aja! Ntar kamu capek, ikut ke dapur,” kata Evan meminta Thalita untuk tinggal, yang mana jawaban wanita itu malah membuat Evan semakin kesal.
“Aku pengen mastiin aja, kalo makanan itu emang bener buatan kamu. Siapa tau, kamu mau bangunin Mama buat masakin makanan buat aku,” tuduh Thalita sekonyong-konyong, tak ayal membuat Evan langsung terbengong menatapnya.
“Emang aku keliatan selicik itu, ya?” pancing Evan dongkol, yang mana Thalita malah mengangguk dengan sangat entengnya.
“Kamu lebih licik daripada itu,” imbuh wanita itu, sekarang benar-benar membuat Evan menjadi diam.
...Bersambung ...