Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #70



Sekarang perasaan Thalita menjadi campur aduk. Kini dia tahu siapa wanita yang tempo hari Evan bela di rumah sakit. Orang yang berada di foto itu memang sepertinya punya hubungan khusus dengan Evan di masa lalu. Mungkin seperti teman dekat, atau bisa saja kekasih Evan.


Meskipun berat, Thalita sadar dengan apa yang dikatakan oleh Rosalin tentang foto itu. Belum pernah sekalipun Thalita melihat Evan tersenyum seperti itu. Semacam ada perasaan cinta dari ukiran bibirnya serta tatapan matanya saat di foto. Walau Thalita pernah melihat senyum lembut Evan, bukan berarti dia juga mendapatkan tatapan penuh perasaan yang seperti itu. Evan bersikap lembut juga, karena dia tahu kalau Thalita tengah mengandung anak mereka.


Nyut!


Thalita yang baru saja masuk ke dalam kamar, tiba-tiba terduduk di atas ranjang. Perutnya terasa sakit hingga membuatnya tidak sengaja meringis.


"Kamu kenapa? Apa ada yang sakit?'


Evan yang ternyata juga mengikuti Thalita ke dalam kamar, tampak sedikit panik dengan istrinya yang tiba-tiba jatuh saat berjalan.


Menolak untuk disentuh, karena sebenarnya masih merasa begitu kesal, Thalita menepis tangan Evan dari bahunya.


"Nggak papa.'


"Nggak papa gimana? Kamu kelihatan pucat!' ujar Evan, kali ini mendapat perhatian dari Thalita.


"Kalo aku bilang nggak papa, ya nggak papa! Kamu nggak bisa ngerti, ya?' bentak wanita itu pada Sang Suami, hingga membuat Evan memasang tampang kesal.


Diam beberapa saat, Evan pun benar-benar menjauhkan tangannya dari wanita tersebut.


"Terserah! Diperhatiin juga, kayaknya salah di mata kamu,' rutuk Evan sebentar, sebelum akhirnya keluar dari dalam kamar meninggalkan Thalita dengan raut wajahnya yang bertekuk.


Sempat Thalita melihat pria itu menjauh. Menutup pintu kamar dari luar, kemudian kembali menyentuh perutnya yang terasa nyeri.


"Sebentar ya, Nak. Mama lagi bingung sekarang,' gumam Thalita mengusap perutnya, sambil menahan sakit menundukkan kepala.


Thalita tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya. Dia marah pada Evan. Tapi, dia juga sedih saat Evan meninggalkannya seperti itu. Padahal, dia yang meminta pria itu untuk menjauh. Dia juga menjaga jarak dari lelaki itu. Terus, kenapa dia harus merasa sedih sendiri?


Benar-benar perempuan yang banyak tingkah.


Sementara itu, Evan yang baru saja keluar dari kamar, tidak sengaja langsung bertemu dengan Laila yang seperti hendak ke kamar tidur Evan dan Thalita.


"Eh, kebetulan. Yuk, makan! Ajak Thalita sekalian. Makanannya udah siap,' ajak Laila enteng, tidak menyadari kalau anaknya keluar dari dalam kamar itu karena baru saja bertengkar dengan menantunya.


"Van?'


Melihat Evan yang tidak menjawab, Laila menegur pria itu. Menaikkan kedua alisnya, saat Evan tampak agak enggan untuk mengangguk.


Astaga, jangan bilang, dua anak ini bertengkar lagi?


🍂


Apa yang dipikirkan oleh Laila ternyata benar adanya. Thalita dan Evan pasti sudah kembali bertengkar. Terlihat dari gaya makan dua orang tersebut, suasana ruang makan jadi terasa begitu sepi dengan hanya ada suara denting peralatan makan yang berbunyi.


"Eum, Evan, Thalita,' panggil Laila hati-hati, melihat anak serta menantunya itu perlahan mengangkat pandangan ke arahnya.


"Besok malam, Mama diundang ke acara peresmian kantor barunya anak teman Mama. Kalian mau nggak, menemani Mama besok malam?' 


Laila memperhatikan wajah Evan dan Thalita secara bergantian, meneliti ekspresi anak serta menantunya tersebut.


"Hotel Chrysant. Tempat kalian waktu itu nikah,' ujar Laila, kembali melihat ke arah Thalita 


Tapi sayang, wanita yang menjadi menantunya itu masih setia menunduk sambil menyantap makanannya dalam diam.


"Tapi, besok aku kerja,'


"Kan acaranya malam. Emang kamu bakal kerja dari pagi sampai malam?' tuntut Laila agak tegas, kali ini membuat Evan terdiam di tempat.


Secara samar, dia melirik Thalita yang berada di sampingnya. Namun lagi-lagi, sama seperti Laila, dia sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari wanita tersebut.


Sadar dengan tatapan anaknya, Laila pun kembali menoleh pada Thalita. Kali ini, dia mengambil inisiatif untuk bertanya.


"Gimana, Tha? Kamu mau kan, nemenin Mama ke acara besok? Mama belum pernah ngajak kamu sama Evan ke acaranya temen Mama. Mama kan juga pengen pamer anak sama menantu ke acara-acara kayak gitu. Masa biasanya Mama cuma bisa sendiri. Paling banter juga ditemenin sama Rena,' keluh Laila agak cemberut di akhir kalimatnya, membawa-bawa nama asistennya di butik.


Meski awalnya terlihat kaget, Thalita buru-buru menguasai dirinya. Dia mengerjap dan melihat beberapa kali ke arah Evan yang juga terus memperhatikannya.


"Eungh, itu…. Gimana, ya….?'


"Kenapa? Kamu nggak mau?'


Laila terlihat kecewa. Entah dibuat-buat atau tidak, Thalita tidak kepikiran untuk menduganya.


"Ah, bu—bukan gitu, Ma! Be—besok kan Kak Evan kerja, jadi—'


"Dia emang kerja tiap hari. Emang apa istimewanya?' sambar Laila terdengar agak malas, kemudian membuang napas berat.


"Dia itu kerjanya cuma sampai sore, Lita. Kalo pun dia masuk malam, itu kan karena gantian sama temennya. Kalo enggak, dia juga bisa tiap hari pulang sore. Ya kan, Van? Kamu bisa nemenin Mama besok, kan?'


Sembari melemparkan lirikan mata mengancam, Laila memberikan kode pada Evan untuk menyanggupi ucapannya.


Maka, dengan gerakan kepalanya yang kaku, Evan pun lantas mengangguk dan menjawab begitu enggan.


"Heum,'


Mendengar itu, Laila langsung bersemangat.


"Nah, suami kamu udah nggak keberatan. Gimana sama kamu?' tanya Laila sekarang, membuat Thalita merasa tidak enak di hati.


Maksudnya, sebenarnya dia sangat malas dan tidak ingin menemani Laila. Tapi, sikap Laila sekarang terhadapnya seolah memaksa Thalita untuk ikut dengan cara yang begitu halus. Membuatnya seakan tidak punya pilihan, dimana jika dia menolaknya, tentu akan membuat Thalita terlihat seperti seorang menantu yang jahat.


"Ya udah, Ma. Iya,' angguk Thalita akhirnya pasrah, yang mana lagi-lagi membuat Laila terlihat begitu senang hingga bertepuk tangan sekali.


"Nah, gitu dong! Mama kan jadi senang kalo begitu…." Ujar Laila, yang tidak perlu dijelaskan lagi memang sudah terlihat senang dari wajahnya.


"Soal baju, kamu nggak usah cemas. Mama udah menyiapkan gaun yang bagus dari butik Mama,' imbuhnya kemudian, semakin membuat Thalita merasa kalau memang Laila sudah memaksanya untuk ikut.


Di tengah kegundahan hatinya, tidak sengaja mata Thalita bertabrakan dengan suaminya yang masih setia menatapnya. Terlihat canggung, wanita itu pun berusaha untuk menghindar dengan melanjutkan kegiatan makannya yang sempat tertunda.


...Bersambung ...