
Suasana makan malam di kediaman Evan terasa lebih hangat dari biasanya. Meskipun hanya ada mereka bertiga, baik Evan, Thalita maupun Laila tampak begitu akur dengan percakapan ringan yang mereka lakukan saat makan. Pembahasan-pembahasan kecil serta candaan usil Evan yang menggoda Thalita dengan wajah datarnya, membuat Laila hanya bisa tertawa pelan sambil sesekali menggelengkan kepalanya.
"Jadi, kapan rencananya Mama dikasi cucu? Udah ada tanda-tanda, belum?"
Pertanyaannya templet para orang tua yang pantang melihat anaknya yang baru menikah sedang akur, pasti begitu. Membuat suasana menjadi canggung, terlebih pihak perempuan yang saat ini hanya berdeham malu sambil melirik ke arah samping.
Sadar dengan hal itu, Laila menolehkan kepalanya ke arah Evan.
"Van," panggilnya menaikkan alis, melihat Evan juga menaikkan pandangan yang semula menatap piring makan menjadi ke arahnya.
Tanpa bicara, Evan yang sepertinya tahu arti tatapan Laila hanya mengunyah makanan di mulutnya tanpa bicara. Menoleh sekilas ke arah Thalita yang meliriknya dengan wajah seperti anak kecil.
"Yang bakal hamil kan bukan aku. Tanya dia, dong," sahut Evan datar, khas dirinya, kembali menundukkan kepala ke arah makanannya.
Beberapa saat, Thalita dan Laila saling menatap. Bertukar kalimat tanpa bicara, sampai akhirnya Thalita menggerakan bola matanya ke atas seolah berpikir, sebelum akhirnya menggelengkan kepala pelan.
"Belum?" tanya Laila agak kecewa, membuat Thalita sebenarnya agak kaget dan menipiskan bibirnya.
Pikirnya, mungkinkah Laila sedang berharap besar terhadapnya?
Kegiatan makan malam yang tadi sempat terasa begitu nyaman, seketika berubah menjadi dingin. Kaku dan juga canggung bagi Thalita yang seperti diselimuti es. Terlebih, saat dia melihat ke arah Evan yang tampak tidak memberikan respons apapun padanya. Seakan tidak peduli dengan apa yang tengah terjadi saat ini. Apakah ini suatu masalah yang besar, atau mungkin hanya Thalita saja yang merasa demikian?
"Ya udah, gak papa. Mungkin, belum rezeki kita aja," ucap Laila, meskipun terdengar seperti kalimat yang membesar hati, namun tidak bagi Thalita yang sudah lebih dulu merasa tidak enak di hati.
"Maaf, Ma," ucap Thalita pelan, menatap sedih Laila yang hendak melanjutkan makannya lagi, untuk kembali menoleh ke arahnya.
Sambil tetap tersenyum lembut, Laila mengangguk dan melanjutkan makan malamnya.
Suasana yang terjadi sudah tidak seperti tadi. Kini hanya keheningan yang tersisa, dimana raut wajah Laila juga seperti orang yang memiliki beban pikiran, persis Evan yang juga diam di tempatnya seperti fokus pada dunianya sendiri.
🍂
Beberapa menit suasana seperti itu terlewati juga. Setelah mencuci piring bekas makan malam, Thalita yang sejak tadi sudah berdiam diri berniat untuk langsung masuk ke dalam kamar. Saat melewati ruang TV dimana ada Evan dan juga Laila yang kini sedang asyik menonton berita, dia menoleh untuk berpamitan.
"Ma, Kak Evan, aku ke kamar duluan, ya?" ucap Thalita tersenyum tipis, langsung berbalik tanpa menunggu balasan apapun dari dua orang tersebut. Padahal, sampai dia masuk ke dalam kamar pun, dua orang itu masih juga memperhatikan punggungnya dari belakang.
"Eh!"
Evan mengerjap tatkala punggungnya didorong sedikit oleh Laila.
Menolehkan kepala ke belakang, pria itu melihat ibunya sedang menggerak-gerakkan dagunya ke arah pintu kamar Evan yang tertutup.
"Apaan sih, Ma?" tanya Evan bingung, malah membuat Laila mendecak dongkol.
"Susulin sana! Malah nanya apa!?" sewot wanita paruh baya itu, makin membuat Evan mengerutkan dahinya.
"Dia pasti tersinggung karena masalah anak tadi. Jadi, kamu bujuk, gih! Kasian dia kalo murung gitu," ujar Laila, membuat Evan menundukkan pandangannya.
Pikirnya, mungkin memang Thalita sedang tersinggung. Dari sikapnya saat menghabiskan makan malam tadi, terlihat kalau istrinya itu hanya diam tanpa kata.
"Mama sih, pake bahas anak segala. Jadi sedih kan dia," tuduh Evan sekonyong-konyong sambil berdiri, tak ayal membuat Laila langsung mendelikkan matanya tidak percaya.
"Ih, segala pake nyalahin Mama lagi. Emang dasar kamunya aja tuh yang nggak mampu! Malah nuduh Mama," ujar Laila mengomel, sontak saja membuat Evan yang sudah beranjak beberapa langkah jadi kembali menoleh.
"Ma!"
Bersikap masa bodoh, Laila hanya mendesis jengkel sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke udara. Seakan mengusir Evan untuk segera enyah dari pandangannya.
Sementara itu, di dalam kamar, Thalita bersiap ingin mengganti kaos yang saat ini dia pakai dengan dress tidurnya yang bertali satu.
Evan yang masuk dengan wajah kusutnya langsung bertabrakan mata dengan wanita itu. Namun hanya beberapa detik, sampai akhirnya mereka berdua sama-sama memutuskan pandangan dengan Evan yang menutup dan mengunci pintu.
Thalita yang tadinya ingin mengganti baju di kamar, sepertinya urung dia lakukan. Dia justru berjalan ke arah kamar mandi sambil membawa sepotong gaun tidur pendeknya.
Evan yang melihat itu tidak ambil pusing. Dia hanya diam, berjalan ke arah bagian ranjang tempat biasa dia tidur dan duduk di sana dan mulai memeriksa ponsel pintarnya.
Dalam waktu sekejap saja, sudah banyak pesan yang masuk di grup rumah sakit tempat dia bekerja, maupun beberapa pesan yang masuk secara pribadi.
Ada dua pesan dengan satu nama kontak yang tidak Evan simpan sama sekali. Membuat keningnya berkerut dalam, dan tanpa curiga membuka pesan itu sama sekali.
"Van, ini aku Mila." Isi pesan pertama, yang membuat Evan langsung memasang tampang malasnya.
"Sekali lagi, aku mau bicara sama kamu."
Klek!
Suara pintu kamar mandi yang terbuka langsung mengalihkan perhatian Evan. Untuk kedua kalinya, dia saling pandang lagi dengan Thalita, yang mana kali ini hanya wanita itu membuang pandangan lebih dulu ke arah lain.
Terlihat mengabaikan tatapan Evan, Thalita berjalan ke arah ranjang dan merebahkan dirinya di sana. Mengecek sebentar ponselnya dari atas nakas, sebelum akhirnya benar-benar memasang posisi orang yang hendak tidur.
"Kamu mau tidur?" tanya Evan basa-basi, yang mana Thalita tidak menjawabnya sama sekali.
"Tha?"
"Enggak! Mau nyuci motor!” sahut Thalita ketus, tak ayal membuat Evan menaikkan kedua alisnya.
"Emang kamu punya motor?" tanya pria itu terdengar meledek, yang mana Thalita hanya mencebik di balik posisi tidurnya.
"Tha,"
"Apaan sih, Kak? Aku mau tidur!" ujar Thalita sewot tidak membalikkan tubuhnya sama sekali.
"Iya, sama. Aku juga mau tidur," sahut Evan, lantas disambar cepat oleh istrinya itu.
"Yaudah, kalo mau tidur, tidur aja! Nggak ada yang larang kok!" sengitnya tajam, masih dengan membelakangi Sang Suami.
"Tha,"
"Apa sih, Kak?"
"Aku mau tidur,"
"Iya, terus kalo mau tidur kenapa? Kakak mau minum susu dulu gitu?!"
Entah kenapa, Thalita yang terlihat emosi langsung duduk dan menoleh ke arah Evan. Saling memandang dengan pria itu, sampai akhirnya Evan tersenyum menatapnya.
"Emang boleh?" tanya pria itu menggoda, yang entah kenapa juga tiba-tiba membuat Thalita jadi berpikir yang tidak-tidak.
"Bo—boleh apa?" tanya wanita itu tergagap, semakin membuat Evan tersenyum senang.
"Tadi, katanya mau kasih aku minum susu. Emang boleh?" goda pria itu lagi mendekat, kali ini berhasil membuat wajah Thalita terlihat tegang.
Beberapa kali wanita itu mengedipkan kedua mata tanda panik, sampai akhirnya Evan mendaratkan ciumannya di kening wanita itu dan menatapnya dengan sendu.
"Kenapa? Dari tadi kamu kelihatan resah,"
......Bersambung ......