
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Mila yang baru saja tiba di rumahnya berniat untuk segera mandi dan masuk ke dalam kamar.
Hari ini, perasaannya sudah cukup lelah. Setelah siang tadi rencananya untuk bertemu dengan Evan gagal, pekerjaannya malam ini pun terasa begitu melelahkan.
"Darimana aja kamu? Kok baru pulang jam segini?"
Tangan Mila sudah memegang handel pintu kamarnya, ketika dia mendengar suara Sang Ibu yang berasal dari arah dapur.
Saat menoleh, ternyata Rosalin sudah memegang segelas air mineral di tangan kirinya dan berjalan sedikit ke arah Mila.
"Banyak kerjaan," sahut Mila datar, hendak masuk lagi ke dalam kamar.
"Kerjaan yang mana?"
Kembali, Mila berhenti. Menatap Rosalin dengan dahi yang berkerut samar.
"Di cafe lah. Mama kan tahu aku kerjanya disitu!" ujar Mila aneh, masih menatap Rosalin dengan dahinya yang berkerut.
Apa mungkin Mamanya sudah hilang ingatan? Masa tempat kerja Mila saja dia sudah lupa.
"Oh, yang di cafe…. Kirain,"
Seolah menyindir, Rosalin melirik Mila sejenak sebelum akhirnya berpaling hendak meninggalkan anak itu.
"Maksud Mama apa?" tanya Mila keras, sontak menghentikan langkah kaki Rosalin yang sudah berdiri membelakanginya.
Sejenak, wanita itu tidak berbicara. Dia hanya diam, sampai akhirnya Rosalin menarik napas panjang, dan berbicara dengan suara yang amat pelan.
"Kamu udah putus sama pacar kamu yang itu?" tanya Rosalin, jelas tidak begitu bisa didengar oleh Mila.
"Hah? Apa?" tanya wanita itu balik, sesaat membuat Rosalin kembali terdiam.
Di balik punggung itu, Rosalin merasa ragu. Seakan berat untuk bicara, namun ada sesuatu yang terus mendorongnya.
"Pacar kamu yang tua bangka itu," kata Rosalin berpaling, langsung menatap Mila. "Kamu dah putus sama dia?"
Pertanyaan Rosalin yang tidak pernah disangka oleh Mila pun, sukses membuat wanita itu terdiam.
Bicara apa Mamanya ini?
"Akhir-akhir ini, kamu keliatan bekerja keras sekali. Apa mungkin, kamu udah putus sama pacar kamu yang tua bangka itu? Terus, gimana soal dokter temen kamu itu? Kamu belum bisa dapatin dia juga?"
Mila pun tanpa sadar melongo mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Rosalin kepadanya. Tiba-tiba ibunya mengatakan hal yang selama ini tidak pernah mereka bicarakan sebelumnya.
"Ma," panggil Mila tidak percaya. "Mama ini bicara apa, sih? Aku nggak ngerti!"
Berusaha mengelak, Mila tersenyum canggung. Pikirnya, apa yang selama ini Rosalin pikir tentang dirinya?
Kemudian, dengan jawaban yang tidak Mila duga sebelumnya, Rosalin dengan santai mengibaskan sebelah tangannya ke udara.
"Mama udah tau kok, apa yang kamu lakuin selama ini. Kerja di kafe itu cuma alasan kamu. Sebenarnya, kamu itu simpanan dari om-om kaya raya, kan?" ujar Rosalin enteng, sontak saja membuat kedua mata Mila melebar.
"Apa—gimana—?"
Mila yang tergagap mendengar kalimat itu, terlihat seperti memberikan jawaban kepada Rosalin. Dan anehnya lagi, bukannya marah, ibunya itu malah menarik napas panjang dan membuangnya secara perlahan.
"Kenapa sih, aku harus punya anak yang lamban seperti kamu," keluh Rosalin pelan, yang belum dimengerti sama sekali oleh Mila.
"Mama tau apa yang udah kamu lakuin selama ini. Cuma, Mama nggak mau ambil pusing, karena apa yang kamu kerjakan, semata juga untuk membantu Mama."
Rosalin berbicara dengan sangat tenang, sambil berjalan menuju ruang TV yang hanya berjarak 4 meter dari depan kamar Mila.
"Cuma, ada saatnya juga Mama merasa muak mendengar omongan-omongan orang di luar sana tentang kamu dan juga pekerjaan kamu itu."
Rosalin mendaratkan tubuhnya di atas sofa, dan mengambil remote TV yang ada di atas meja.
"Mama pikir, apa kehidupan kita bakal selamanya jadi sampah nggak berguna kayak gini? Atau, bisa nggak sih, salah satu dari pacar kamu itu benar-benar mau menikah sama kamu, biar derajat keluarga kita itu bisa sedikit terangkat?"
Dalam cahaya remang, Mila bisa melihat wajah ibunya berubah menjadi sendu menatap layar datar tersebut.
"Setidaknya, kehidupan anak Mama nggak benar-benar kalah telak dari anak perempuan itu,"
Meski tidak dikatakan dengan suara lantang, tapi Mila tahu kalimat apa yang baru saja Rosalin katakan dengan tatapan yang kosong itu.
"Jadi, gimana soal dokter teman kamu itu?"
Dalam hitungan detik, Mila mengerjap sekali tatkala Rosalin berpaling dan menatapnya cukup semangat.
"Maksudnya Evan?" tanpa sadar, Mila menjawab.
Senyum lebar yang tadi terbentang di bibir Rosalin, kini berubah menjadi tawa yang renyah, mendengar nama itu keluar dari mulut anaknya.
"Jadi, namanya Evan?" ulang Rosalin, kembali membuat Mila mengerjap.
"Dari namanya aja udah bagus," gumam Rosalin seperti tengah memikirkan sesuatu. "Dia benar-benar pria yang sempurna untuk dijadikan seorang menantu." lanjut Rosalin lagi, kemudian mengambil remote TV di depannya dan mematikan alat elektronik tersebut.
"Sekarang kamu istirahat. Kamu nggak boleh kecapekan, biar muka kamu nggak kelihatan kusam."
Mendadak, Rosalin terlihat semangat. Dia menghampiri Mila dan menyentuh kedua pipi anaknya itu lembut.
"Kamu itu cantik. Mama yakin, kamu pasti bisa mendapatkan hati Evan untuk mau menikahi kamu."
🍂
Sementara itu, Evan dan Thalita di kamar tidur mereka berdua tampak fokus dengan apa yang sedang mereka lakukan.
Evan menatap Thalita, dan Thalita yang berusaha keras untuk melakukan sesuatu yang Evan sebut dengan 'menggoda seorang pria'.
"Aku…. Aku nggak pandai, Kak…," keluh Thalita ke sekian kalinya, menatap Evan dengan wajah yang nelangsa.
Berbeda dengan Evan, yang wajahnya sudah merah menahan gejolak di tubuhnya yang ingin segera mendorong tubuh istrinya itu untuk berbaring di atas ranjang.
Sekarang posisinya, Thalita sudah berada di atas pangkuan Evan yang menyandar di kepala ranjang. Kedua tubuh mereka yang sudah polos tanpa sehelai benang pun, tampak mengkilap dengan butir keringat yang dihujani oleh sinar lampu kamar.
Pinggul Thalita bergerak canggung menggerakkan tubuhnya dan Evan yang sudah menyatu. Sesekali desah napas yang tidak tertahan lolos dari bibir tipis wanita itu yang segera dia tahan dengan menggigit bibirnya sendiri.
Evan masih terdiam. Menahan napas dan diri dengan terus menatap wajah istrinya. Entah kenapa, sejak awal menikah, wajah merah Thalita yang malu dan takut ini membuatnya seperti candu.
"Agak diputar dikit. Biar—akh!"
Evan yang geram dengan tingkah Thalita, tidak sadar mencengkram pinggul wanita itu dan mendorongnya untuk memutar. Namun, tidak terasa ternyata hal itu malah membuatnya terpekik dengan inti tubuhnya yang berada di dalam pusat tubuh istrinya merespons.
"K—Kak? K—Kakak kenapa?" tanya Thalita cemas, menatap wajah Evan yang terpejam.
Dengan lembut, wanita itu menyentuh pipi Evan yang semakin keringat dingin.
Sambil terus menahan ******* dari bibirnya, Evan menangkap tangan Thalita yang menyusuri tulang pipinya.
"Kamu sengaja, mau nyiksa aku kayak gini?" tanya Evan membuka kedua matanya tajam.
Thalita yang kurang paham, hanya mengerjap sekali dan menatap tangannya yang dipegang oleh Evan.
Saat ingin menarik, Evan yang sadar akan hal itu, lebih cepat menahannya. Dan malah semakin menariknya. Mendekat, terus mendekat hingga hidung keduanya saling bersentuhan.
Thalita yang ditatap begitu intens oleh Sang Suami, merasa jengah hingga wajahnya memerah. Ingin menghindar, dari desah napas suaminya itu pun terdengar begitu hangat hingga tubuh Thalita jadi merinding.
"Aku kasi tau satu clue yang bagus," bisik Evan sensual, di telinga Thalita yang pelan-pelan kembali menundukkan kepalanya.
"Kalo kamu geraknya kayak tadi," suara Evan semakin pelan, namun terdengar semakin serak. "Aku bisa keluar dalam waktu yang singkat."
...Bersambung...