
Thalita menyisir ruangan tempat Evan biasa menerima tamu dengan pandangannya. Ruangan bernuansa putih bersih bercampur biru langit itu terasa tenang dan juga teduh. Aroma desinfektan tercium bersamaan dengan pengharum ruangan yang sepertinya memang sengaja ditaruh di sana. Mungkin aroma lemon, atau jeruk nipis.
"Kamu udah makan?"
Evan yang sejak tadi melirik Thalita yang mengamati ruangannya bertanya hingga wanita itu menoleh.
"Udah, tadi di rumah."
"Bener?"
Thalita mengangguk dan tersenyum sekilas.
"Kalo gitu, aku makan, ya."
Thalita memperhatikan Evan yang mulai menyantap makan siangnya. Sambil menunggu pria itu selesai, Thalita berdiri dari tempat duduknya mendekati jendela ruangan Evan yang sedikit tertutup tirai berwarna biru muda.
"Belakangan ini, cuaca di luar cukup ekstrim. Kalo bisa, kamu kurangi aktivitas di luar ruangan kayak gini. Nanti, kesehatan kamu bisa terganggu."
Evan menasihati Thalita sambil terus menyantap makan siangnya.
"Aku kan nggak sering keluar rumah. Sejak pulang dari Singapur kemarin, baru kali ini aku menginjakkan kaki di luar," beritahu Thalita, lantas kembali duduk di depan pria itu.
"Oh ya, Kak. Aku mau bilang, kalau besok aku udah balik kerja di restoran," ujar wanita itu, sekilas mendapat lirikan sekali dari Sang Suami.
"Oh," gumam Evan, lantas kembali melihat ke arah makanannya.
"Kemarin, pas kita menikah, karyawan kamu dari restoran pada nggak datang, ya?" tanya Evan tiba-tiba, mengangkat pandangannya.
"Bukannya kalo atasan itu pesta, para karyawan setidaknya diundang, karena itu kan hari istimewa atasan mereka? Malah nggak jarang, tempat usaha mereka diliburkan sehari cuma untuk merayakan hari spesial si pemilik usaha,"
Thalita diam melihat Evan yang seolah menuntut jawaban dari pertanyaannya.
"Ya, nggak semua begitu kan, Kak."
"Tapi, rata-rata memang begitu," tandas Evan, kontan membuat Thalita terdiam.
"Minimal perwakilan aja, deh. Kayaknya aku nggak ingat, kamu ada ngenalin mereka waktu resepsi pernikahan mereka. Ini mereka yang nggak datang, atau kamu yang nggak ada undang mereka?"
Sekarang, Evan sudah menyelesaikan makan siangnya. Dia menutup bekal makan siangnya dengan tenang, kemudian merapikannya kembali ke dalam tas bekal.
Sementara itu, Thalita hanya diam saja di tempat, seperti enggan untuk menjawabnya.
"Ta," tegur Evan menatap bingung, Thalita yang malah terlihat sedang melamun.
"Kayaknya itu nggak perlu dibahas deh, Kak. Nggak penting juga kan, mereka datang atau enggak. Toh, pernikahan kita tetap berjalan lancar, kan?"
Mendengar jawaban itu, sontak Evan pun menaikkan sebelah alisnya. Menyandarkan bahunya di kursi, dan mengambil botol berisi air untuk dia minum.
Sambil meneguk air mineralnya, Evan terus memperhatikan Thalita yang melihat ke arah lain.
"Aku nggak paham sama kamu. Kelihatan butuh teman, tapi kamu sendiri bersikap seolah nggak butuh mereka. Sebenarnya, yang kamu mau itu apa?" tanya Evan kali ini membuka salah satu wadah berukuran sedang yang berisikan pie susu kering.
Thalita hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Evan. Kalau ditanya pun, dia juga tidak tahu harus menjawab apa. Karena sebenarnya, dia sendiri pun tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh hatinya.
"Papa?" gumam Thalita tanpa sadar, dimana matanya tiba-tiba terlihat mendung, yang seketika menghentikan tangan Evan memasukkan sebuah pie susu kering berukuran kecil ke mulutnya.
"Eh? Apaan, sih? Kok jadi itu?"
Thalita yang sadar sendiri dengan kesalahannya, malah tersenyum canggung. Mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba menghalau kabut.
Sementara itu, Evan yang dasarnya memang sudah merasa ada yang tidak beres dengan keluarga istrinya sejak pertama jumpa, mengedipkan kedua matanya pelan.
Ditatapnya wanita itu lekat, sebelum akhirnya mengambil pie susu yang tadi ingin dia makan dan mengarahkannya pada mulut Thalita.
Tanpa berpikir panjang, Thalita pun menerima suapan Evan itu dan membuang pandangannya ke arah lain.
Akhirnya, acara makan cemilan pun dilakukan dalam diam, dengan cara Evan yang menyuapi dirinya sendiri dan Sang Istri.
🍂
Setelah cemilannya habis, Thalita pamit pulang pada suaminya. Saat menuju pintu keluar, tidak sengaja bahunya ditabrak oleh seseorang yang membuat Thalita tidak sengaja terpekik dan menoleh.
"Aauu!"
"Eh? Ma—maaf, Mbak! Maaf! Mbak nggak papa, kan?"
Thalita mengernyit kesal melihat pria yang tadi menabraknya. Dengan wajah bertekuk, dia menjauhkan lengannya dari pria itu sambil berdecak.
"Kalau jalan hati-hati dong, Mas! Sakit, tau!" omel Thalita jengkel, yang mana pria itu hanya bisa menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Iya, Mbak. Maaf, saya salah. Soalnya saya lagi buru-buru. Sekali lagi, maaf ya Mbak," ucap pria itu sopan, memang tampak seperti tergesa-gesa kemudian meninggalkan Thalita yang kembali berdecak.
Ketika ingin berjalan lagi, tiba-tiba dia berhenti tatkala seorang wanita muda bertubuh kurus dan tidak lebih tinggi darinya tengah berdiri di depan Thalita dengan sorot mata tajam dan penuh kebenciannya.
"Cewek sinting?" ujar wanita muda itu pelan, lalu menaikkan nada suaranya.
"Eh! Ngapain lo di sini?" kata wanita itu kemudian, tak ayal membuat Thalita membeku sampai terdiam untuk sesaat.
"Ri—Ricka?"
Ricka, adik dari mantan tunangan Thalita sudah berdiri di sana dengan sorot yang tidak bersahabat.
"Ngapain lo ada di rumah sakit ini lagi? Jangan bilang, lo ada di sini karena percobaan bunuh diri lagi?" tuduh Ricka sekonyong-konyong, membuat Thalita menelan ludahnya susah payah, karena beberapa orang sudah mulai memperhatikan mereka.
"Bukannya udah kemarin, ya? Apa sekarang lo mau coba lagi? Lo mau ganggu Kakak gue lagi?" decak Ricka melipat kedua tangannya di dada, menatap Thalita begitu muak.
"Apaan sih, Rick!? Siapa juga yang mau ganggu Ricko?! Gue ke sini itu karena ada urusan, tau!" seru Thalita tidak terima, langsung mendapat respons dari wanita di depannya.
"Oh, ya?! Urusan apa!?" debat wanita itu tidak percaya.
"Nggak perlu tau! Itu bukan urusan lo!"
"Urusan gue, karena setiap masalah yang lo buat itu selalu berimbas di keluarga gue, terutama Kakak gue!" tandas Ricka emosi, tak kuasa membuat wajah Thalita memerah.
Bersamaan dengan itu, bisikan yang tadi terdengar sayup di sekitar mereka secara perlahan pun mulai terdengar jelas.
"Loh, itu kan istri dokter Evan? Kok—?"
"Kenapa, sih?"
"Apaan sih, mereka? Ini kan rumah sakit."
"Eh, bukannya itu istri dokter Bayu?"
Bla…bla…bla….
Semua Thalita dengar dari telinga kanan dan juga telinga kiri. Membuatnya merasa tidak nyaman, hingga rasanya ingin lari sekarang juga.
"Dengar ya, Ricka! Aku itu nggak pernah lagi gangguin Kakak kamu. Emang, kamu pernah dengar kabar tentang aku lagi selama beberapa bulan ini?" tanya Thalita mencoba menenangkan diri dan mengubah kalimatnya menjadi lebih halus, karena takut pertengkarannya ini akan membawa pengaruh buruk bagi reputasi Evan.
"Hmpt, belum aja!" ujar Ricka masih dengan melipat tangan di dada, kemudian maju dua langkah lebih dekat ke arah Thalita.
"Bukannya lo emang gitu, orangnya? Terakhir kali lo menghilang, suasana berubah tenang untuk sementara. Sekalinya muncul, lo malah bawa gelombang masalah yang besar. Lo itu kan bom waktu. Yang nggak pernah diharapkan sama siapapun. Sama kayak—"
Plak!
"Lo harusnya paham, kalo gue nyuruh lo buat diam."
Tangan Ricka gemetar menyentuh pipinya yang baru saja ditampar oleh Thalita. Sementara yang melakukan hal itu, hanya memandang murka Ricka yang ada di depannya.
"Sssssk, cewek sialan!"
Dengan emosi, Ricka juga mengangkat tangannya cepat hendak membalas tamparan Thalita.
"Lita!"
Pukulan yang Ricka niatkan untuk mendarat di pipi Thalita, malah terhalang oleh sebuah lengan yang tiba-tiba saja muncul dari arah belakang Thalita dan menghentikan pukulan tersebut.
Sambil memasang tampang garang sekaligus kaget, Ricka mundur satu langkah, memberikan ruang pada Evan yang sudah berdiri di depannya.
"Mau apa kamu sama istri saya?"
......Bersambung......