
Jam sudah menunjukkan angka 10 malam. Dan sampai detik ini, Evan belum juga menunjukkan tanda-tanda kalau dia akan segera pulang. Tadi, saat makan malam bersama Laila, ibu mertuanya itu bilang kalau Evan mungkin tidak akan pulang malam ini. Karena ada tugas jaga malam, yang mana kali ini adalah giliran Evan yang berjaga.
Thalita memeriksa kembali ponselnya di atas nakas. Selain pesan dari grup sosial media restoran miliknya, tidak ada pesan lain yang masuk ke dalam ponsel itu. Termasuk pesan dari Evan.
Pikir Thalita, apakah pria itu sedang sibuk sekarang sampai tidak ada waktu untuk mengabari Thalita kalau dia tidak pulang? Tidak bisakah dia meninggalkan pesan juga pada Thalita sebagaimana dia memberikan pesan pada Laila kalau dia tidak akan pulang malam ini? Padahal, kalau boleh bicara jujur, Thalita sangat membutuhkan Evan malam ini. Atas apa yang sudah terjadi di restoran miliknya siang tadi, dia merasa membutuhkan sebuah sandaran bahu untuk bisa tertidur malam ini.
Menepis segala kenangan buruk yang pernah terjadi, yang kini sudah menjelma sebagai mimpi buruk yang terasa begitu menyakitkan jika sudah hadir.
Ting!
Suara notifikasi pesan masuk di ponselnya membuat Thalita tersentak. Buru-buru mengambil ponsel pintar itu lagi di atas nakas, dan membaca pesan singkat yang dia kira itu dari Evan.
"Kalau sampai terjadi apa-apa sama suami saya, saya akan pastikan kalau kamu akan menyesal!"
"Haaah…,"
Entah kenapa, dari sekian tahun dia merindukan sosok Marlia ataupun segala bentuk pesan singkat dari wanita itu, baru sekarang Thalita merasa bosan dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu. Bukannya mau bersikap kurang ajar, tapi beberapa waktu ini dia seperti menemukan rasa jenuh dari perjuangannya terhadap wanita itu.
Di sisi lain, Evan yang baru saja kembali dari minimarket di samping rumah sakit untuk membeli kopi hangat, tidak sengaja bertemu dengan Bayu dan istrinya di lobby.
Tampak pasangan yang lebih dulu menikah darinya itu sedang berbicara sambil sesekali tertawa dengan tangan Bayu yang mengusap kepala wanita itu.
"Permisi,"
Saat hendak berjalan ke parkiran, Evan dengan sigap mendekati keduanya. Menyela candaan yang tidak Evan ketahui tentang apa tersebut, hingga keduanya menoleh ke arahnya.
"Eh, Van," sapa Bayu tersenyum pada Evan, dimana pria itu langsung melihat ke arah Ricka.
"Maaf sebelumnya, tapi apa boleh kita bicara sebentar?" pinta Evan pada wanita itu, sontak membuat Ricka saling lirik dengan suaminya, Bayu.
Dengan masih memasang senyum, Bayu menoleh lagi pada Evan. "Mau bicara apa?"
Dan tidak berapa lama, mereka sudah duduk di kursi tunggu yang ada di lobby rumah sakit. Evan masih memainkan cup kopi yang masih berisi penuh itu di tangannya, seraya memikirkan pertanyaan mana yang harus dia mulai.
"Waktu itu, Anda bilang mengenal istri saya. Kalau boleh saya tau, sejak kapan Anda kenal dengannya?" tanya Evan tanpa melihat Ricka, yang duduk tidak jauh di sebelahnya.
Sembari berpikir, Ricka menjawab. "Udah agak lama, kayaknya. Lupa dari tahun berapa. Pokoknya waktu itu Ricko bilang, dia mau melamar pacarnya. Nah, sejak itu saya kenal sama perempuan itu."
"Ricko?" ulang Evan menaikkan gerak dahinya.
"Iya. Saya punya Kakak kembar. Salah satunya bernama Ricko," sahut Ricka, secara alami membuat Evan mengangguk.
Pantas dia seperti mendengar nama itu.
"Kamu bilang melamar. Artinya, dia udah pernah menikah sama Kakak kamu itu?" tanya Evan lagi, kali ini dijawab gelengan kepala oleh Ricka.
"Waktu itu emang Ricko niatnya melamar dia untuk langsung dijadikan istri. Tapi, entah kenapa dia nolak. Dia bilang, itu terlalu cepat dan akhirnya Ricko melamar dia buat jadi tunangannya."
"Terus?"
Ricka mengernyit sedikit tidak langsung menjawab. Dia hanya melirik ke arah Evan yang masih enggan melihatnya sama sekali.
"Ya menurut kamu apa lagi? Tentu aja ke jenjang pernikahanlah!" ujar Ricka sedikit keras, sontak membuat Evan membeku.
"Sebenarnya, pernikahan itu cuma tinggal rencana aja, sih. Karena pada kenyataannya, sehari sebelum akad dilakukan, Thalita udah kabur," ungkap Ricka kembali dengan nada bicaranya yang normal dan seakan merenungi masa lalu.
"Kabur?" gumam Evan, mendadak menciptakan suasana sepi di antara mereka.
"Kenapa?"
"Ntah!" sahut Ricka cepat, mengirimkan bahunya sekali. "Apapun alasannya, dia udah buat keluarga kami kecewa. Ditambah dengan sikap keluarganya yang bersikap sok acuh, bener-bener membuat kami merasa muak."
Di akhir kalimat, Ricka seperti menggeram. Tatapan matanya tajam ke arah jauh, seakan menatap wajah Thalita yang dulu dia kenal.
"Memangnya, keluarganya bilang apa? Kalian nggak bertanya, alasan Thalita kabur waktu itu?"
Pertanyaannya Evan itu sontak membuyarkan lamunan Ricka. Namun, semakin membuat wanita itu terlihat emosi.
"Kalo kami sih, enggak! Tapi, Ricko ya jelas mencari taulah! Dan keluarganya itu, sama gilanya sama tuh cewek! Sama-sama nggak beres! Nuduh Ricko udah ngelakuin hal buruk sama dia sampai mutusin buat kabur kayak gitu! Mana pas balik dia malah ngejar-ngejar Gavin, lagi. Dasar nggak tau diri!"
"Gavin?" ulang Evan mengernyitkan dahinya dalam.
"Iya, Gavin itu sepupu saya. Dia udah nikah. Tapi, si cewek gila itu terus-terusan aja ngejar Gavin! Kayak nggak ada harga diri aja! Dia pikir—"
"Ricka," teguran halus yang Ricka dengar dari arah depannya, sukses membuat wanita itu menutup mulut.
Dilihatnya Bayu, suaminya yang sejak tadi berdiri bersandar pada tiang yang tidak jauh darinya menggelengkan kepalanya samar. Mungkin pria itu ingin menyadarkan Sang Istri, kalau yang sedang dimaki-maki oleh Ricka itu adalah pasangan dari pria yang sedang duduk di sebelahnya ini.
"Ah," sedikit mendesahkan napas panjang, Ricka berusaha mengendalikan emosinya lagi.
"Saya rasa, saya cuma bisa bicara soal dia sampai sini. Saya nggak punya kapasitas lebih untuk ngomongin hal lain tentang istri Anda. Kalau Anda benar-benar mau tau tentang dia, bukannya sebaiknya Anda bertanya sendiri sama orang yang bersangkutan?"
Ricka bangkit dari posisi duduknya saat ini. Melihat Evan yang masih terdiam dengan kepala menatap lantai, dia pun berpamitan dan menghampiri suaminya yang sejak tadi sudah menunggu.
"Kamu ni apa-apa, sih? Ngomongnya benar-benar nggak bisa diatur!"
Samar, Evan mendengar Bayu mengomeli istrinya.
"Ya, abis gimana lagi? Dia itu bener-bener nyebelin tau nggak sih, Mas! Kerjaannya ngerusak hubungan orang aja! Nggak cukup apa, dia nyakitin Ricko? Mesti banget gitu, dia mau nyakitin Tante Kalya dengan merebut Gavin?"
Semakin lama, semakin pelan Evan mendengar suara omelan Ricka. Sampai pada titik ini, dia lebih yakin untuk bertanya dengan wanita itu ketimbang bertanya langsung pada Thalita. Karena di mata Evan sekarang, Ricka yang notabenenya terlihat seperti musuh bagi istrinya itu bisa mengatakan hal yang lebih jujur daripada apa yang Evan tanya dan lihat sendiri dari Thalita.
...Bersambung...
Maaf ya, semuanya.... Baru up lagi pagi ini. Kemarin saya ketiduran karena aktivitas berat yang dilakuin dari pagi sampek sore. 😔
Mohon dukungannya terus, ya.... 😊
Klik suka (👍🏻)
Juga komentar (💬) nya....
Terima kasih, 🌹