Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #34



Tubuh Thalita bergetar hebat mendengar teriakan Evan yang cukup menggelegar. Tiba-tiba, air matanya berkumpul di pelupuk mata dan siap tumpah di kedua pipinya. 


"Jadi…. Kakak masih mempermasalahkan soal itu?" tanya Thalita gemetar, menahan tangis dan juga sakit hatinya. 


"Memangnya kamu enggak?"


Tak kuasa, akhirnya Thalita menghembuskan napas yang tadi dia tahan. Seiring dengan itu air matanya juga ikut jatuh bersamaan Thalita yang menundukkan kepalanya dalam. 


Memang benar. Harusnya Thalita tidak menikah dengan Evan. 


Suasana kamar mendadak terasa hening. Baik Evan maupun Thalita sama-sama diam di posisinya dengan emosi yang saling berlawanan. 


Evan yang sudah suntuk dengan masalah yang terjadi di tempat kerjanya tadi seakan tidak diberi ruang untuk berpikir oleh Thalita. Belum selesai Evan dengan emosinya yang satu, Thalita malah menambah emosi Evan dengan membahas peristiwa kemarin pagi di kediaman keluarga Marlia. Membuat Evan mau tidak mau harus mengingat lagi sikap pongah Axel yang mengaku andil dalam hilangnya kesucian istri Evan.


"Sialan," maki Evan pelan, kini tidak fokus memandang hal lain. 


Di sisi lain, Evan tahu kalau Thalita pasti sudah menangis lagi. Tapi, dia sedang tidak dalam posisi bisa membujuk wanita itu. Membuatnya yang masih marah memutuskan untuk keluar dari kamar dan meninggalkan wanita itu. 


Di depan pintu, dia berpapasan dengan Laila. Ibunya itu tampak kaget sambil melihat cemas ke arahnya. 


Tidak sempat saling bicara, Evan yang dasarnya sedang emosi pun langsung melengos meninggalkan Laila juga. 


Melihat tingkah anaknya tersebut, Laila yang khawatir karena tiba-tiba mendengar suara teriakan Evan dari dalam kamar, jadi terlihat semakin cemas. Apalagi, dari pintu, dia melihat Thalita yang meringkuk di atas ranjang dengan punggungnya yang bergetar. 


Awalnya, Laila ingin bersikap abai dengan kejadian itu. Dia tidak ingin dianggap ikut campur dengan permasalahan rumah tangga anaknya. Namun, saat memperhatikan Thalita yang sepertinya menahan tangis dengan dua tangannya, mau tidak mau hati Laila menjadi goyah. Dia mendekat, dan berusaha untuk menggapai bahu Thalita yang bergetar. 


"Lita," panggil Laila masih dengan tangan berulur, belum menyentuh bahu Thalita sama sekali. 


Dia takut, kalau sempat dia menyentuh wanita itu secara tiba-tiba, malah akan membuat Thalita kaget dan juga panik. 


Sejenak, Thalita tidak bergerak. Tubuhnya yang tadi gemetar, tampak tenang seakan membeku untuk sesaat. 


Lalu, dibalik rambutnya yang tergerai menutupi wajah, Thalita seperti mengusap matanya cepat. 


"Ma,"


Dengan suara serak khas orang habis menangis, Thalita bangkit dari posisi rebahnya. Menatap Laika dengan ekspresi wajah seolah tidak ada apa-apa, meski kenyataannya mata wanita itu terlihat merah dan masih ada jejak airnya. 


"Kamu nggak papa?" 


Laila tahu, itu adalah pertanyaan yang bodoh. Sudah jelas kalau Thalita itu menangis. Dan apa yang ditanyakannya sekarang tentu bukanlah jenis basa-basi yang bisa dianggap normal. 


Sedikit tersenyum, Thalita malah bertanya. "Baik. Memangnya kenapa, Ma?"


Nah, aneh Laila, ternyata lebih aneh lagi sikap Thalita. Bisa-bisanya dia mengaku baik, sementara sesaat lalu dia bertengkar dengan Evan dan menangis menggigit bibirnya sendiri. 


Sadar dengan sikap Thalita yang mungkin tidak ingin terbuka, Laila hanya diam. Memandang wajah merah menantunya itu dan menyentuhnya perlahan. 


Laila masih tidak bicara. Dia hanya memandang wajah sendu Thalita dengan perasaan sedih. Ingin bertanya, tapi dia tidak ingin Thalita merasa terganggu dengan pertanyaannya. 


Akhirnya, sedikit menunduk, Laila memeluk perempuan itu. Mengusap punggungnya pelan, kemudian berbisik. 


"Kalau mau cerita, Mama siap mendengarkan kamu,"


Sebenarnya, Thalita ingin bercerita kepada Laila. Dia butuh sosok ibu yang memeluknya seperti ini. Dia sedang kembali goyah. Pikirannya sekarang kosong, yang mengingatkan Thalita bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa memahami dia dan berada di pihaknya. 


Namun, bercerita pada Laila pasti tidak akan ada baiknya. Malah, bisa saja wanita yang memeluknya saat ini langsung mendorong Thalita atau bahkan memukul wajahnya, kalau tahu apa yang menjadi bahan keributan Evab dan Thalita sesaat lalu. 


🍂


Di sebuah toko roti yang masih buka, Marlia tampak sedang menghubungi seseorang. Saat panggilannya tidak diangkat juga, dia mendecak dan mematikan ponsel tersebut dengan raut wajah kesal. 


Wanita itu menoleh, menarik napas panjang dan mengangguk mengiyakan. 


Tadi, dia sedang memesan beberapa jenis kue untuk di rumahnya. Tapi, karena resah memikirkan kejadian kemarin, dia memutuskan untuk menghubungi Thalita lagi. Memastikan apakah dia sudah berhasil membujuk Evan untuk tidak membawa polisi dalam urusan mereka atau tidak. 


Tapi, alih-alih mendapat jawaban, anak sialannya itu malah tidak bisa dihubungi. Panggilannya memang tersambung. Tapi anak kurang ajarnya itu malah dengan bodohnya mengabaikan panggilan dari Marlia. Membuat wanita itu menyangka, kalau Thalita pasti sengaja melakukan hal itu. Paling, dia ingin mencari perhatian Marlia lagi agar mau menghubunginya. 


Ch! Sekalinya diberi hati, anak itu malah melunjak ingin minta jantung. 


"Permisi, apa benar Anda ini Marlia?"


Masih dengan wajah masam, Marlia menoleh ke arah kiri. Tepat sedikit di belakangnya, seorang wanita paruh baya bertubuh amat kurus sedang menatapnya dengan seksama. 


Tidak menjawab, Marlia malah terus menatap wanita itu dengan datar. 


"Benar, kamu Marlia kan?" tunjuk wanita paruh baya itu tersenyum, menatapnya sedikit takjub. 


Marlia yang masih tidak mengenali wanita itu, hanya diam sambil terus memperhatikannya dalam-dalam. 


"Oh, tidak. Jangan bilang, kamu nggak mengenali aku lagi," ucap wanita itu, melipat kedua tangannya di dada. 


Lambat-lambat, Marlia yang tadinya malas untuk berpikir, jadi mengambil minat atas perempuan itu. Dia kembali memperhatikan wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, sampai akhirnya kedua mata Marlia melebar tidak percaya. 


"Rosalin?" 


Nama itu keluar begitu saja dari mulut Marlia. Dengan ekspresi wajahnya yang kaget, bercampur kaku tatkala wanita di depannya lantas tersenyum dengan cukup lebar. 


"Akhirnya, kamu ingat juga ya, Lia," kekeh Rosalin, wanita yang kemarin berobat di rumah sakit tempat Evan bekerja, yang tak lain adalah ibu kandung dari Mila. 


"Bagaimana kabar kamu? Apa baik-baik aja?" tanya Rosalin akrab, yang mana Marlia tentu langsung membalasnya dengan begitu dingin. 


"Sepertinya kita tidak cukup dekat, untuk saling bertanya kabar seperti ini," ujar Marlia, sontak membuat Rosalin mendelik dan tertawa mendengarnya. 


"Astaga, Lia. Kamu ini masih aja sombong, ya? Apa karena kamu udah berhasil merebut Johan dariku, makanya kamu bersikap kayak gini sama aku?" balas Rosalin enteng, namun tatapan matanya seolah tengah mencemooh Marlia. 


Seketika, Marlia terlihat marah. Wajahnya seakan menggelap, menatap Rosalin yang masih terlihat santai memandangnya. 


"Berhenti bicara omong kosong. Dan berhenti membicarakan laki-laki brengsek itu di depanku, karena aku nggak ada urusan lagi dengannya."


Marlia seperti ingin menghindar. Tapi Rosalin dengan cekatan langsung menahan lengan wanita hingga berhenti. 


"Laki-laki brengsek?" ulang Rosalin kini beralih ekspresi, dari yang tadinya santai menjadi penuh penekanan. 


Sorot mata dingin yang tak kalah dengan Marlia, juga dia tunjukkan untuk melawan perempuan itu. 


"Kamu bahkan punya anak darinya. Bisa-bisanya kamu nyebut dia brengsek sekarang," ujar Rosalin pada Marlia, yang mana wanita itu langsung menepis tangan Rosalin dengan kasar. 


"Dari awal aku memang udah tau kalau kamu dan dia itu sama aja! Kamu bodoh, dan dia brengsek! Kalian itu cuma bisa menghancurkan hidupku. Dan sekarang, saat dia udah masuk ke liang lahat, kamu masih sanggup untuk membahasnya?"


"Lia!"


"Berhenti menyebut namaku seperti itu!" tegas Marlia, membuat mereka menjadi pusat perhatian. 


Suasana toko roti memang sedang tidak ramai malam ini. Hanya saja, tatapan beberapa orang yang ada di sana membuat Marlia yang sesaat tadi emosi menjadi tidak nyaman. 


Tanpa bicara sama sekali, Marlia langsung bergeser menuju meja kasir. Membayar beberapa roti dan kue yang tadi dia beli dan segera pergi meninggalkan Rosalin yang masih setia menatapnya dengan sorot mata tidak terbaca. 


...Bersambung...