Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #56



Pagi ini, Evan terlihat tidak begitu sibuk. Pasiennya tidak begitu banyak seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin, karena pasiennya rata-rata punya jadwal konsultasi di pertengahan bulan, hingga membuatnya jadi tidak begitu banyak pekerjaan di akhir seperti ini. Paling hanya beberapa pasien baru yang berkunjung, untuk melakukan pemeriksaan dengannya.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan di pintu ruangannya, mengganggu konsentrasi Evan yang tengah merangkum sesuatu di atas meja kerjanya. Dia pikir, itu adalah perawat yang ingin memberikan rekam medis pasien selanjutnya. Jadi, dia mempersilakan orang itu untuk masuk.


"Van,"


Mendengar suara yang dia kenal, sontak Evan menoleh. Menatap wanita yang sejak kemarin mengganggu pikirannya, kini tengah berdiri di depan pintu.


"Ada perlu apa kamu kemari?" tanya Evan tenang, memperhatikan Mila dari ujung rambut hingga kaki. 


Wajah wanita itu masih terlihat pucat, dengan beberapa bekas luka di wajahnya. Dimana kata Mila saat berobat kemarin, dia dapatkan sebelumnya saat kecelakaan.


Sambil menyeret tiang infus, Mila menutup sedikit pintu ruangan Evan dan berjalan ke arah meja pria itu.


"Aku mau bicara sama kamu." Kata Mila, dengan berani meminta pada Evan. Padahal dia tahu sebelumnya, pria itu pasti akan menolak permintaan tersebut.


"Maaf, dokter Anda bukan saya. Sebaiknya Anda bicara sama perawat yang berjaga."


Evan terdengar berbicara formal lagi. Padahal tadi dan kemarin, dia berbicara seakan mengenal Mila dengan baik.


"Aku nggak bercanda. Aku mau bicara serius!" ujar Mila tegas, menghentikan gerak tangan Evan yang hendak melanjutkan kegiatannya.


Sesaat, Evan hanya terdiam. Menarik napas panjang dan berpikir dengan jernih.


Baiklah, mungkin dia memang harus meladeni permintaan wanita ini sekali, agar kelak tidak mengganggunya seperti ini lagi.


Setelah meletakkan penanya, Evan melipat kedua tangan di dada dan bersandar di kursinya.


"Jadi, apa yang mau kamu bicarain lagi?" tanya Evan to the point, tanpa mau repot menyuruh Mila untuk duduk di kursi hadapannya.


Sedikit gugup, Mila membuang pandangannya ke arah lain. Mungkin perempuan itu tidak menyangka kalau Evan akan segera menyanggupi permintaannya yang keras kepala itu secepat ini.


"Itu…" menelan ludah susah payah, Mila melirik Evan. Kemudian duduk di kursi yang ada di dekatnya, seakan tidak peduli Evan akan mempersilakan atau tidak.


"Aku… bener-bener mau minta maaf sama kamu. Atas apa yang terjadi sama hubungan kita di masa lalu, aku…."


Mila menggigit bibir bawahnya resah. Seperti mencari kalimat yang pas, dia menatap kedua mata Evan bergantian.


"Aku benar-benar terpaksa ngelakuin hal itu, Van. Banyak hal yang terjadi dalam hidup aku, yang nggak bisa aku ceritain ke kamu." Ujar Mila menatap Evan sendu, yang mana pria itu langsung mendengus tidak percaya.


"Omong kosong."


"Aku serius, Van!" tegas wanita itu, menghentikan senyuman sinis Evan.


"Aku nggak yakin harus ngomong sama kamu atau enggak soal masalahku di masa lalu. Aku perlu bantuan! Dan kamu masih terlalu muda, untuk aku jadikan tumpuan."


"Karena itu, kamu nyari laki-laki yang lebih tua untuk nolongin kamu?" sambar Evan kini tampak emosi, dengan memajukan tubuhnya ke arah Mila.


"Kamu sadar, nggak?! Yang kamu rayu itu Papaku! Kamu bukan hanya menyakiti hati satu orang! Tapi kamu berhasil menghancurkan satu keluarga! Keluargaku!" ujar Evan sudah terpancing emosi, hingga dia berbicara keras pada Mila.


Mila yang awalnya terkejut, hanya bisa memasrahkan diri dengan memejamkan kedua matanya. Dia tahu hal ini pasti akan terjadi andai dia mengungkit masalah mereka di masa lalu.


"Aku tau aku salah, karena itu aku memberanikan diri buat nemuin kamu dan meminta maaf," aku Mila bergetar, menundukkan kepala dalam.


"Hmph! Terus, apa dengan maaf kamu itu semua kembali normal?" sindir Evan sinis, setelah mendengus mendengarnya.


Mila tidak menjawab. Hancurnya rumah tangga orang tua Evan sudah terjadi sejak belasan tahun silam. Tidak mungkin hal itu kembali normal dalam sekejap. Apalagi kesalahan yang sudah dilakukan oleh Mila terbilang cukup fatal. Mustahil baginya untuk mendapatkan maaf Evan dengan begitu mudah.


"Tapi perasaan aku ke kamu nggak pernah berubah, Van. Aku masih benar-benar mencintai kamu."


Mila tahu, ini adalah kalimat yang paling tidak tahu diri yang pernah dia keluarkan. Hanya saja, rasanya Mila tidak ingin menyerah sekarang. Bisa jadi, dia tidak akan mendapatkan kesempatan bicara dengan Evan lagi seperti ini.


Brak!


"Tutup mulut kamu!" bentak Evan kasar, memukul meja kerja di depannya.


"Jangan pernah bicara omong kosong lagi soal perasaan! Orang kayak kamu itu, nggak akan pernah tau apa itu cinta!" tegas Evan menuding, sontak membuat Mila mendongakkan kepalanya yang sempat menunduk.


"Aku tau gimana kamu, Van! Kamu itu bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta! Sekalipun kita pacaran dulu, kamu belum benar-benar mencintai aku, kan?!"


"Apa maksud kamu?"


Mila yang juga terlihat marah, langsung berdiri di hadapan Evan yang mendongak melihatnya.


"Kamu cuma sekedar suka sama aku! Kamu nggak beneran cinta! Buktinya, kamu nggak pernah peduli tentang apa yang terjadi dalam hidupku. Kamu nggak pernah mencari tau lebih dulu tentang masalah apa yang membuat kamu nggak bisa menghubungi aku! Kamu bahkan nggak terlihat berusaha buat mencari aku, meskipun kita udah nggak ketemu berapa hari. Ya kan?!" kata Mila panjang lebar, tak ayal membuat Evan menggeleng dan tersenyum tidak percaya.


"Omong kosong," dengus Evan lagi, mengingat bagaimana dia langsung mencari perempuan itu ke rumah bahkan mengitari sekolah ketika Mila tidak ada di depannya.


"Terus soal istri kamu. Kamu juga nggak benar-benar cinta kan, sama dia? Kamu cuma kasian aja kan, sama dia?!" tuduh Mila kemudian, kali ini membuat Evan menunjukkan ekspresi kaget di wajahnya.


"Apa yang baru aja kamu—"


"Aku udah tau semuanya, Van! Soal istri kamu," ucap Mila, membuat Evan terus menatapnya tanpa putus.


🍂


Evan masih menatap Mila dengan serius. Pandangannya bergantian melihat mata Mila, seakan mencari tahu tentang isi pikiran wanita itu.


"Apa yang kamu dengar?" tanya pria itu serius, meneliti wajah Mila yang terlihat lebih percaya diri dari sebelumnya.


"Kamu menikah sama dia cuma karena kasihan. Dia udah berapa kali masuk rumah sakit ini karena percobaan bunuh diri. Makanya kamu rela nikah sama dia karena kamu kasian ngeliat dia. Iya kan?!"


Tak bisa dipercaya, Evan tertawa mendengar hal itu. 


"Darimana sampah itu kamu dengar?" kekeh Evan terlihat santai, namun membuat Mila bertambah kesal. "Jangan bilang, karena berita itu, kamu jadi mencoba untuk bunuh diri. Biar apa? Biar aku juga kasian sama kamu?"


"Jadi, maksud kamu, itu semua bohong?"


"Menurut kamu?"


Evan menatap Mila dengan sebelah alisnya yang terangkat. Sama-sama tampak serius, hingga akhirnya emosi Mila menjadi meledak.


"Kamu bohong! Aku nggak percaya kamu benar-benar cinta sama perempuan itu! Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau selain Mama kamu, nggak ada satu perempuan pun di dunia ini yang bisa bikin kamu percaya! Jadi, kamu nggak perlu ngelak dan bohongin aku cuma untuk bikin aku sakit hati!" teriak Mila di depan Evan, sambil menggebrak meja yang ada di depannya, dan membuat emosi Evan pun jadi ikut terpancing.


"Ya, terus kenapa?! Apa urusannya sama kamu?! Mau aku nikahin dia karena kasian kek, nafsu kek, atau apa itu nggak ada urusannya sama sekali sama kamu! Kalau aku emang nikahin dia karena kasihan, terus kamu mau apa?!"


Mila yang sama marahnya dengan Evan menatap satu per satu mata menyalang pria itu. Terlihat merah, dan penuh dengan emosi.


"Berarti benar. Kamu nggak bener-bener cinta sama dia. Kamu cuma jadiin dia pelampiasan kamu aja, kan?!"


Brak! 


"Kamu…!"


Evan yang baru saja memukul meja ingin sekali memaki Mila. Namun, suara bisikan yang samar-samar dia dengar dari pintu ruangannya yang sedikit terbuka, membuat Evan menahan emosinya untuk sesaat. Dia ingin memastikan kalau pertengkarannya dengan mantan kekasihnya itu tidak akan menjadi bahan gosip baru di tempat dia bekerja.


Saat hendak menutup pintu, entah kenapa Evan melihat ada bayangan tiga orang di depan sana. Tidak berpikir panjang, dia yang mengira ada orang yang mengintip ruangannya, langsung membuka pintu itu lebar-lebar.


Dan alangkah terkejutnya dia, saat daun pintu itu terayun, sosok Thalita sudah berdiri di depan sana dan menatapnya dengan sorot mata yang begitu datar.


"Tha?"


Mendadak, di mata Evan hanya ada Thalita saja. Suara yang tadi sibuk bergantian memenuhi telinga, seperti hilang entah kemana. Hanya ada dia dan Sang Istri disana, berteman dengan hembusan angin yang entah datang dari mana.


...Bersambung ...


**Mungkin ini adalah part yang tidak menyenangkan. **


**Tapi, boleh dong, tetap dukung cerita ini?**


**Dengan klik suka (👍🏻) dan tinggalkan jejak komentarnya (💬) 😉**


**Terima kasih 🌹**