
Sampai di kediaman Evan dan ibunya, yang mana sekarang rumah itu juga mungkin akan menjadi tempat tinggal Thalita selanjutnya, dia langsung digiring memasuki sebuah kamar yang ada tidak jauh dari ruang tamu.
Begitu dibuka, kedua mata Thalita melebar dan terlihat cukup kagum dengan interior yang ada di ruangan itu. Meskipun kertas dinding dan segala atributnya berwarna putih, tapi tidak menghilangkan kesan manly yang terpancar dari kamar tidur tersebut.
"Rencananya, baru besok pagi kamar ini mau dihias. Karena Mama mikirnya kita bakal tidur di hotel malam ini. Jadi…,"
Evan yang tadi berjalan di belakang Thalita masuk ke dalam kamar, kini sudah berada di depan wanita itu sambil meletakkan jasnya di bahu kursi yang ada di depan sebuah meja kerja.
"Maaf, kalau kamarnya berantakan," ucap Evan datar, membalikkan badan mengambil remote AC yang ada di atas meja dan menghidupkan mesin pendingin ruangannya.
Sejenak, Thalita lagi-lagi terdiam. Yang rapi begini saja dibilang berantakan oleh pria itu? Lantas, apa kabar kamar tidur Thalita yang ada di apartemen? Mungkin Evan bisa langsung terkejut batin jika melihatnya.
Tlek!
Suara pintu yang dikunci mengagetkan Thalita yang terbengong. Dia sedikit berjangkit, lalu menoleh ke arah Evan yang ternyata sudah mengunci pintu kamar tidur tersebut.
"Kamu nggak mau buka gaunnya?" tanya pria itu masih dengan gaya yang begitu santai dan tenang sambil berjalan ke arah Thalita.
"Emh?"
Thalita yang pikirannya sudah berantakan dan sulit untuk memahami sesuatu malam ini, tampak menaikkan alis. Meski tidak mengerti, entah kenapa respon tubuhnya memilih untuk mundur tatkala Evan semakin mendekat ke arahnya. Apalagi, pria itu juga tengah membuka satu per satu kancing kemeja putih yang saat ini dikenakannya.
"Ini malam pertama kita. Kenapa kamu belum lepas gaun kamu?"
"Hah?!"
Tanpa sadar, Thalita sudah tersandung ranjang tidur yang memang tidak jauh dari tempat dia berdiri, hingga terduduk di atasnya.
Tidak lama, Evan pun tiba di depan Thalita yang membeku dan menundukkan tubuh jangkung itu tepat di hadapan mukanya.
"Kamu nggak mau mandi dulu?" tanya Evan begitu pelan, seperti berbisik, hingga membuat darah Thalita seakan berhenti mengalir.
Bukan karena AC, tapi Thalita yakin kalau wajah serta tubuhnya mendadak beku karena sikap Evan yang tiba-tiba seperti ini.
Pikir Thalita, jangankan untuk bermalam pertama, Evan mungkin tidak akan mau berbagi kamar dengannya untuk alasan apapun, mengingat hubungan mereka memang sudah tidak baik sejak awal.
"K—Kak Evan," mengigil ketakutan, Thalita berusaha mencari celah untuk kabur. Tapi, tatapan Evan yang begitu intens, membuat Thalita sulit untuk melepaskan pandangan, terlebih sekarang tubuhnya sudah dikurung oleh kedua lengan kokoh pria itu.
Sadarlah! Mana mungkin Evan benar-benar serius ingin melakukan malam pertama dengannya, kan? Bisa saja, dia sedang bercanda saat ini.
Belum juga selesai Thalita berdebat dengan dirinya sendiri, Evan —dengan tenang dan lembut— langsung meraup dagu Thalita dan menyecapkan bibirnya di atas bibir wanita itu.
Sikapnya yang begitu santai, seolah tengah mengambil makanan manis di atas meja, tanpa ada ketegangan ataupun sikap kaku apapun. Semua terasa lugas, seakan dia memang sudah biasa melakukan hal tersebut.
"Ka—Kak Evan!"
Thalita yang beberapa saat tidak menemukan kesadarannya, langsung mendorong bahu Evan keras. Namun, itu tidak terlalu berhasil, karena dorongan itu hanya mampu membuat Evan melepaskan ciumannya dari Thalita.
Dengan tatapan mata yang tidak bersalah sama sekali, Evan justru menatap Thalita bingung seolah tengah mempertanyakan sikap wanita itu saat ini.
"Kenapa?" tanya Evan dengan dahinya yang mengernyit dalam, seolah tidak sadar kalau dia baru saja mencuri ciuman dari seorang wanita.
Tidak menjawab, Evan merasa yakin kalau Thalita bukan orang bodoh yang tidak tahu kalau dia baru saja dicium oleh Evan.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Evan datar, lagi-lagi membuat Thalita merasa terancam.
Wajahnya kembali terlihat tegang, meski dia tutupi dengan begitu rapat sambil menggelengkan kepalanya kaku.
Kemudian, tidak berkata apapun lagi, Evan kembali memegang dagu Thalita dan mencium wanita itu untuk yang kedua kalinya.
Sekarang, bukan hanya menyentuhnya saja, Evan justru mulai meningkatkan kemampuannya dengan ******* bibir ranum wanita itu. Seakan tidak peduli, tubuh wanita dalam dekapannya itu bergetar hebat yang dianggap sebagai respon pertama seorang gadis yang akan bermalam pertama dengan suaminya.
Tangan yang tadinya sibuk meraba tengkuk hingga dada, kini berubah haluan ke arah wajah Thalita. Dia mengusap paha, hingga ke arah dalam dan membuat wanita itu menjerit karena terkejut.
"Kak Evan!" peliknya mendorong pria itu kedua kalinya, dan melihat raut wajah Evan yang kebingungan dua kali lipat.
"Kenapa? Ada apa?" tanya pria itu ikut panik, karena dia pikir dia salah menyentuh sesuatu hingga membuat wanita itu menjerit seperti itu.
"I—itu. A—aku baru ingat, ka—kalau aku…."
Evan mengernyitkan dahi tidak sabar melihat Thalita yang geragapan ingin mengatakan sesuatu.
"E—ngh, i—itu…. Aku—"
Gemas dengan kelakukan Thalita yang terlalu membuang waktu, membuat Evan buru-buru memutar otak. Kira-kira apa yang membuat mereka bisa batal melakukan hubungan malam ini, ya? Entah kenapa Evan jadi punya firasat kalau Thalita pasti ingin mengatakan sesuatu terkait masalah itu.
Cermat memperhatikan tubuh Thalita, tiba-tiba Evan yang mendapatkan insting langsung meletakkan tangan kanannya di pangkal paha Thalita hingga membuat wanita itu terkejut luar biasa.
"K—Kak Evan!?" teriak Thalita tanpa sadar, menahan tubuhnya dengan kedua tangan, karena kaget Evan menyentuh inti tubuhnya begitu tiba-tiba. Ya, meskipun dari luar karena nyatanya Thalita masing mengenakan gaun pengantin yang lengkap di tubuh itu.
"Ini tebal," gumam Evan, menatap tangannya yang tengah meraba tubuh bawah istrinya.
"Kamu pakai pembalut?" tanya pria itu kemudian, dengan mimik wajah seperti kecewa namun juga penasaran.
Merasa kalau wajah begitu panas, Thalita pun hanya bisa mengangguk sambil menghindari tatapan pria itu.
"Udah berapa hari?" tanya Evan, yang dijawab begitu pelan oleh Thalita.
"Dua,"
"Biasanya berapa hari?" tanyanya kemudian, tidak langsung dijawab oleh Thalita.
"Tujuh sampai delapan hari," jawabnya begitu pelan, nyaris tidak terdengar.
Sesaat, hanya suara denting jam dinding dan mesin pendingin udara saja yang terdengar. Hingga beberapa waktu, desah napas Evan berhembus kasar, seiring dia bangkit dari posisinya dan berdiri di depan Thalita.
"Sebaiknya kamu mandi sekarang. Aku bisa pakai kamar mandi yang ada di dapur,"
Tanpa mendengar jawaban apapun lagi dari wanita itu, Evan langsung berbalik dan keluar dari kamar tidurnya. Meninggalkan Thalita yang masih menundukkan kepala dalam, sampai tidak terlihat kalau dia baru saja meneteskan air matanya.
......Bersambung......