Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #59



Thalita masuk kembali ke dalam kamar dan mengambil lembar hasil pemeriksaan kandungannya yang tadi Evan banting ke atas meja rias. Berjalan kembali ke luar kamar dan menunjukkan lembar tersebut kepada Laila yang tengah menatap heran padanya.


"Ini, Ma. Aku hamil," beritahu Thalita enteng, sontak membuat Laila menatap kaget ke arahnya.


Dengan kerutan dahi yang dalam, dia memandang Thalita lekat.


"Hamil?" ulangnya sedikit terbata, jelas sekali kalau dia tidak percaya.


"Iya. Kenapa? Apa Mama juga nggak senang dengarnya?"


Dengan ekspresi wajah datar, Thalita menuduh Laila. 


Namun, bukannya tersinggung, Laila malah menggeleng, dan tersenyum dengan air muka yang terharu.


"Senang…. Mama senang dengarnya,"


Lalu, tanpa aba-aba, wanita paruh baya itu langsung memeluk erat tubuh Thalita. Mengusap punggungnya beberapa kali, sambil mengucapkan selamat pada menantunya tersebut.


"Mama senang dengar kabar bahagia ini. Memang inilah yang paling Mama tunggu-tunggu selama ini." 


Laila melepaskan pelukannya dari Thalita, tanpa menyadari kalau menantunya itu menatap aneh kepadanya.


"Sebentar. Mama bakal nyiapin lebih banyak makanan lagi buat kamu. Kamu harus banyak makan makanan sehat dan bergizi agar calon anak kamu tumbuh dengan baik,"


Laila tampak bergetar saking semangatnya. Dia menoleh ke arah Evan sejenak yang masih setia berdiri di belakang Thalita, dan menghampiri anaknya itu untuk mengucapkan selamat.


"Kerja yang bagus! Mama bangga sama kamu!" bisik wanita itu senang, setelah memeluk Evan dan memukul pundaknya kecil sebelum berlalu menuju ke arah dapur.


Melihat ibunya begitu sumringah, Evan mendekati Thalita.


"Kenapa kamu bilang ke Mama?" tanya pria itu pelan, lantas membuat wanita di depannya menoleh.


"Emang nggak boleh?"


Dari raut wajahnya yang datar dan tajam, Evan sadar kalau Thalita pasti merasa kesal terhadapnya.


"Bukan gitu. Tapi, aneh aja kamu bilang secara langsung ke Mama, sementara ini kamu rahasiakan dari aku."


"Aku nggak merahasiakan hal ini!" suara Thalita yang meninggi sontak membuat Evan melirik ke arah dapur. 


Samar, dia melihat bayangan Laila seperti menoleh ke arah mereka yang masih berdiri di depan pintu kamar.


Segera pria itu menarik tangan Thalita untuk masuk. Menutup pintu kamarnya rapat dan melanjutkan percakapan mereka yang kembali tidak enak.


"Aku nggak merahasiakan hal ini dari kamu. Aku ke rumah sakit itu bukan karena gabut. Tapi, ada hal penting yang mau aku sampaikan ke kamu. Dan itu soal kehamilan aku ini!" jelas Thalita tegas, kemudian melipat kedua tangannya di dada.


"Tapi, siapa sangka, bukan aku yang ngasih kejutan ke kamu, tapi malah sebaliknya. Kalau bukan karena niat aku yang mau ngabarin kamu soal ini, mungkin aku nggak bakal tau gimana sifat kamu yang sebenarnya."


Evan memejamkan kedua matanya sejenak dan menundukkan pandangan. Mendadak, dia merasa jengkel dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.


"Aku minta maaf sama kamu. Tapi, itu semua salah paham. Aku nggak bermaksud untuk bilang kalau aku—"


"Menikahi aku cuma karena kasihan?" sela Thalita datar, menghentikan perkataan Evan.


"Berarti Kakak mau bilang, kalau apa yang Kakak bilang sama cewek itu semuanya bohong?" tanya Thalita seakan mengendurkan tatapannya, namun tetap menunjukkan sikap waspada.


"Kalau gitu aku tanya, apa Kakak menikahi aku karena cinta?" tanya Thalita lagi, kali ini membuat Evan terlihat sedikit tersenyum aneh.


"Itu jelas bohong, kalau waktu itu aku bilang menikahi kamu karena cinta. Aku—"


"Berarti benar, kalau Kakak cuma kasihan?" sambar Thalita lagi, kembali membungkam mulut Evan.


Beberapa saat, keduanya saling memandang satu sama lain.


"Aku serius. Aku bilang, aku nggak menikahi kamu karena kasihan. Apa itu susah untuk kamu masukkan ke dalam hati?"


"Kalo gitu, gimana dengan sekarang? Kakak bilang, Kak Evan menikahi aku bukan karena kasihan. Tapi terlalu naif juga kalo bilang itu karena cinta. Terus, gimana dengan perasaan Kakak yang sekarang? Apa masih sama dengan awal pernikahan, atau udah berubah?" 


"Berubah apanya? Maksud kamu—"


"Cinta." Potong Thalita tegas, menarik napas panjang sejenak. "Apa Kakak udah bisa mencintai aku sekarang?"


Untuk beberapa saat, Evan tidak menjawab. Dia diam memandang wajah Thalita, yang dia rasa makin lama makin tajam menatapnya.


"Apa itu penting?"


"Penting."


"Itu artinya Kakak nggak mencintai aku."


Evan kembali terdiam, melihat kedua mata Thalita yang tidak takut sama sekali membalasnya.


Terlihat agak frustasi, Evan membuang napas panjang dan melihat ke arah lain untuk sesaat.


"Kalo gitu, aku juga mau tanya hal yang sama ke kamu," kata Evan terlihat kesal, dengan tersenyum sinis pada istrinya.


"Apa kamu cinta sama aku?"


"Cinta."


"Apa?"


Thalita hanya diam menatap Evan dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca. Satu detik, dua detik, wanita itu pun memutus pandangannya dari pria tersebut.


"Aku ini perempuan yang selalu kekurangan kasih sayang. Dimana begitu ada orang yang bersikap baik sama aku, melindungi aku, memperhatikan aku, entah dia tulus atau enggak, hatiku terasa buta dan akan tergerak ke arah dia. Biarpun dia bersikap kasar sama aku, tapi kalau aku merasa dia ada di pihakku, aku akan terus mengikutinya."


Thalita menaikkan pandangannya lagi ke arah Evan yang sempat tidak dia perhatikan beberapa saat.


"Begitulah pentingnya Kak Evan dalam kehidupanku. Nggak sulit buat aku bilang cinta sama Kakak, selama itu bisa bikin Kakak nyaman sama aku. Cuma…."


Entah kenapa, pandangan Thalita makin lama terlihat makin redup, dimana ada bening-bening kristal yang memenuhi pelupuk matanya yang bening dan juga teduh.


"Kayaknya aku salah lagi dalam menempatkan hati," gumam Thalita begitu lesu, menundukkan pandangannya seperti orang yang termenung.


"Aku malah berdiri, dimana sebenarnya tempat itu bukan diperuntukkan buat aku."


🍂


Rasanya begitu kacau. Akibat pembicaraan tadi sore, Evan jadi tidak bisa tidur malam ini. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tapi matanya, masih saja setia terbuka dengan pikiran yang melayang-layang entah kemana.


"Aku cinta sama Kakak. Tapi sayangnya, sisi Kakak itu bukan ada buat aku,"


Untuk kesekian kalinya, Evan memutar tubuh. Kasarnya gerakan Evan yang berbalik, ternyata sukses mengganggu Thalita yang sejak tadi berbaring tenang di sisinya dengan posisi memunggungi.


"Jangan lasak, Kak. Aku mau tidur," tegur Thalita mengagetkan Evan, yang sontak menoleh ke arahnya.


"Kamu belum tidur?" tanya Evan bodoh, yang mana malah membuat Thalita membuang napas kasar.


"Gimana mau tidur, kalo Kakak dari tadi kerjaannya cuma mutar-mutar kayak gitu. Aku terganggu, tau!" jawab wanita itu ketus, kembali membuat Evan merasa bersalah.


"Maaf," ucap pria itu lesu, tidak mendapatkan jawaban apapun dari Thalita.


Lama Evan memandangi punggung istrinya. Pikirnya, mungkinkah istrinya itu sedang banyak pikiran juga seperti dirinya?


"Kamu udah tidur?" tanya Evan pelan, tidak dijawab sama sekali oleh Thalita.


"Tha?"


"Aku bener-bener nggak akan bisa tidur kalau Kakak panggilin terus kayak gitu. Kakak bisa tenang dikit, nggak?" sembur Thalita lagi, masih dengan posisi membelakangi suaminya.


Sesaat kembali, Evan terdiam. Masih menatap punggung Thalita yang terlihat seperti bergerak tidak beraturan. Bisa ditebak, wanita itu pasti kembali merasa kesal.


Dengan gerakan lambat, Evan mendekat. Menyentuh bahu Thalita lembut, yang mana dia langsung mendengar suara dengusan wanita itu yang kasar.


"Apa lagi?" tanya wanita itu jelas sekali terdengar sebal.


"Engh, itu…." 


Agak ragu, Evan menempelkan tubuhnya secara perlahan ke punggung wanita tersebut.


"Aku peluk, ya?" tawar Evan semakin merentangkan tangannya pada tubuh Thalita yang langsung dibalas ketus oleh wanita itu.


"Nggak usah!"


Namun, seperti tidak menerima penolakan, bukannya menjauh, Evan malah semakin merapatkan tubuhnya. Melingkarkan kedua tangannya di tubuh Thalita dan mulai memejamkan kedua matanya.


...Bersambung...


Sebelumnya maaf semuanya, akhir-akhir ini saya lagi agak sibuk di kerjaan karena mau persiapan tahun ajaran baru. Jadi, serba-serbinya harus segera disiapin dan membuat saya agak kekurangan waktu buat update cerita mereka setelahnya.


Tapi, saya usahakan akan terus up cerita ini meskipun agak telat 1 atau 2 hari, insya Allah.


Terima kasih, 🌹