Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #39



Mila keluar dari rumah sakit tempat Evan bekerja dengan air mata yang mengucur cukup deras. Hatinya terasa sakit, ketika Evan —untuk kesekian kalinya— mengusir dan tidak ingin berbicara dengannya.


"Gimana aku bisa jelasin semuanya ke kamu, kalo kamu aja nggak mau dengerin aku?" lirih Mila seorang diri, duduk di sebuah tembok pembatas yang berukuran cukup rendah.


Mila kembali mengingat tentang sosok Evan di masa dulu. Semasa SMA, Evan memang terkenal dingin dan juga galak. Tidak banyak orang yang berani berdekatan dengannya. Selain pintar, Evan juga jauh lebih dewasa ketimbang anak-anak lain seusia mereka. Membuatnya menjadi murid kesayangan guru, sekaligus idola bagi anak-anak gadis di sekolah.


Mila adalah sosok gadis biasa. Dari segi penampilan maupun ekonomi, tidak ada istimewa dari dirinya. Dia juga tidak tahu, apa yang membuat orang seperti Evan itu mau melirik dirinya dan bahkan menjadikan sosok biasa ini menjadi kekasih. Membuatnya tidak percaya, namun tetap menerima Evan sebagai kekasihnya.


Pikirnya saat itu, biarlah jika memang Evan berniat untuk mempermainkannya. Toh, tidak ada ruginya juga menjadi kekasih dari siswa keren seperti pria itu. Apalagi, sejauh mereka menjadi sepasang kekasih, Evan selalu bersikap baik padanya. Belum pernah Mila menemukan cacat sedikitpun dari karakter seorang Evan. Semuanya sangat mulus, hingga membuatnya semakin yakin kalau pasti ada hal buruk di balik itu semua.


Hampir dua tahun mereka menjalin hubungan. Pada tahun terakhir mereka di SMA, Evan sering mengajak Mila untuk bermain ke rumahnya. Memperkenalkan gadis itu sebagai teman Evan, yang mana tentu saja kedua orang tua pria itu tidak mempercayainya sama sekali.


Sempat Mila merasa kalau Evan terlalu sempurna baginya. Sudahlah tampan, berada di keluarga yang terbilang kaya dan terpandang, dia juga memiliki kedua orang tua yang harmonis. Membuatnya merasa iri, dimana sebenarnya Mila mempunyai seorang ibu yang hobinya membuat kerusuhan.


Mila malu jika harus mengenalkan Evan pada ibunya. Dia takut, jika Evan tahu tentang keluarga Mila yang sebenarnya, pria itu akan berhenti bermain-main dengannya. Bagaimanapun juga, Mila yang masih menganggap Evan itu tidak serius, menikmati hubungan yang dipikirnya mainan tersebut.


Sampai akhirnya, sebuah masalah kembali dibuat oleh Rosalin, ibunya Mila, yang membuatnya mau tidak mau harus mendapatkan uang yang sangat banyak. Karena kalau tidak, bisa saja rumah satu-satunya yang ditinggalkan ayah Mila untuknya, dirampas karena kelakuan buruk ibunya.


Saat itu, dia tidak berani meminta kepada Evan. Meskipun pria itu tampak memiliki banyak yang, dia tidak yakin kalau Evan akan meminjamkannya atau bahkan memberikannya pada Mila begitu saja. Juga, Mila tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada Evan tentang alasannya membutuhkan uang sebanyak itu nanti. 


Lama Mila berpikir untuk mencari uang. Hingga sampai akhirnya waktu yang diberikan untuk melunasi utang yang disebabkan oleh Rosalin tiba, membuat Mila mau tidak mau mendatangi kediaman Evan untuk meminjam uang.


Mila tidak begitu mengerti, kenapa siang itu bisa terjadi. Saat itu, Evan sedang tidak ada di rumah. Di tempat itu, hanya ada ayahnya Evan saja yang katanya sedang beristirahat di rumah karena baru pulang dari luar negeri.


Sedikit banyak mengobrol, tiba-tiba saja Aris menyentuh Mila. Awalnya dia bersikap selayaknya orang tua pada anak perempuannya. Tapi, setelah lambat laun mendengar cerita Mila dan kegundahannya, sikap Aris tiba-tiba berubah menjadi 180 derajat.


Di depan Evan dan Laila, ibunya Evan, hubungan mereka selayaknya perempuan dan calon ayah mertua. Tapi di belakang dua orang itu, keduanya pun seakan lupa daratan dan menikmati apa yang harusnya tidak boleh mereka lakukan.


Semua itu Mila lakukan semata untuk mendapatkan uang. Sementara alasan Aris, tidak pernah Mila tanyakan karena merasa dia tidak membutuhkan hal tersebut.


Di tengah lamunannya, tiba-tiba suara ponsel Mila dari dalam tas terdengar. Membuat si empunya sadar, kemudian mengambil ponsel itu untuk mengeceknya.


Di layar, dia melihat id berupa tanda tanya yang sengaja dia lakukan.


Tanpa berpikir panjang, Mila langsung menjawab panggilan tersebut sebelum berakhir.


🍂


Sepertinya, pria itu sedang bertukar pesan dengan seseorang. Terlihat dari caranya mengerutkan dahi sambil mengetik sesuatu pada layar ponsel pintarnya.


"Gimana dengan apartemen yang saya bilang kemarin?"


Kaki pria yang diperkirakan pertengahan lima puluh tahun itu, pada sosok pria yang sedikit lebih muda di belakangnya itu.


"Semua sudah dibereskan, Pak. Anda bahkan bisa menggunakan apartemen itu hari ini juga," sahut pria paruh baya berkemeja dongker itu, membuat pria berpakaian necis di depannya mengangguk.


Tidak berapa lama, dua orang itu tiba di lobby. Saat akan menaiki mobil yang sudah menunggu mereka, mendadak pria berpakaian necis itu mendapat pesan yang mana gerakannya untuk naik ke dalam mobil pun berhenti.


"Terserah. Aku bisa datang kapanpun, kamu minta,"


Seringai tipis langsung tercetak di bibir segar pria itu. Dia langsung masuk ke dalam mobil, kemudian berkata pada sopir yang saat ini berada di balik kemudi.


"Kita tunda ke kantor. Sekarang, antar saya ke apartemen." Perintah pria itu, yang langsung dibalas anggukan kepala oleh sopir di depannya.


Segera, mobil jenis sedan keluaran terbaru itu pun melesat. Membelah jalan raya yang sore ini terlihat cukup macet. Entah apa yang membuat atasan mereka yang hobi bekerja itu ingin segera tiba di apartemen. Biasanya, mau itu sampai tengah malam sekalipun, dia tetap akan menyempat diri melihat kantor. Alasannya, inspeksi mendadak.


Sementara itu, Aris —pria paruh baya yang merupakan atasan tersebut— tengah menikmati pemandangan sore dari balik jendela mobil.


Sudah berapa lama dia tidak kembali ke tanah air. Terakhir dia menginjakkan kaki di negara itu, ada hati yang kembali dia lukai. Membuatnya sedikit bersalah, dan memutuskan untuk tidak datang dalam waktu yang cukup lama.


"Laila, Evan," gumam Aris mendesahkan napas panjang, semakin jauh menatap jalan raya.


Entah apa yang sedang dilakukan oleh anak kesayangan, Evan, sekarang. Dia tahu kalau sekarang anaknya itu sudah menjadi seorang dokter di sebuah rumah sakit swasta. Padahal, kalau saja Evan mau, Aris bisa membangun sebuah rumah sakit dan menjadikan Evan sebagai pemimpinnya. Namun, kondisi membuat keduanya tidak bisa bersama. Evan sudah menalak dirinya. Tidak ingin berurusan dengan Aris lagi, meski anak itu terseok-seok meniti jalannya yang keras. Dia lebih memilih terjatuh berulang kali hingga kulitnya robek, daripada meminta bantuan yang kecil dari tangan Aris.


Ya, meskipun sebenarnya Aris tahu kalau Evan pasti tidak akan kesulitan, karena dia tahu kalau Evan itu adalah anak yang hebat, tetap saja rasanya merinding mengingat perkataan Evan saat meminta Aris menceraikan Laila tempo dulu.


Suara getar dari saku celana Aris menyadarkan pria itu dari lamunannya. Notifikasi pesan singkat yang dia terima dari inisial 'Gadis itu' membuat senyum tipis Aris perlahan muncul.p


Dengan semangat, dia membaca pesan itu dan mengetik balasan singkat untuknya.


"Tunggu di situ ya, Mila."


...^^^Bersambung ^^^...