
"Huft…. Hah…. Huh…."
Cuaca pagi menjelang siang ini terasa cukup hangat. Mesin pendingin ruangan yang bekerja maksimal pun rasanya tidak begitu mempan, mendinginkan tubuh dua manusia yang saat ini sedang menempelkan tubuh mereka satu sama lain.
"K—Kak Evan, tunggu. Tu—tung—akh!"
Thalita menjerit kecil ketika Evan menggigit lehernya dan menjilat bagian itu sensual. Tubuhnya terasa merinding, hingga dia bergidik beberapa kali.
"Kamu pernah pacaran?" tanya Evan di sela-sela aktivitasnya.
Thalita yang perasaannya sudah campur aduk, antara sadar dengan tidak sadar hanya menggangguk mendengarnya.
"Berapa kali?"
"Se—sekali," sahut Thalita terbata, menahan desahannya.
"Pernah kayak gini?" tanya pria itu lagi, hanya dibalas 'hah?' sama Thalita, yang pikirannya semakin lama semakin terasa kabur.
"Pernah dipegang gini, nggak?" ulang Evan bertanya, kali ini menyentuh dada Thalita tanpa ragu, hingga wanita itu kembali terpekik dan hendak memukul Evan.
"Ups!"
Dengan refleks yang bagus, Evan segera menangkap tangan Thalita dan menjauh dirinya dari wanita itu.
Sekilas, Evan menangkap kecemasan dari wajah istrinya tersebut sebelum akhirnya dia bangkit dan benar-benar memberi jarak antara mereka.
"Kayaknya belum pernah," Evan seperti mendesis, kemudian menoleh sedikit pada Thalita. "Atau udah?"
Seketika, tubuh Thalita menegang. Refleks dia bilang, "Enggak!" sampai membuat Evan tersenyum dengan alis yang terangkat.
"Kenapa teriak? Aku kan cuma nanya baik-baik," kekeh pria itu, berjalan menuju meja kecil yang ada di sudut kamar dan mengambil segelas air di sana.
"Tapi, cara bicara Kakak kayak nuduh aku," rajuk Thalita pelan, sedikit menundukkan kepalanya.
"Aku nanya, bukan nuduh. Itu beda, Ta," kata Evan memunggungi Thalita, duduk di kursi kayu yang ada di dekat meja itu dan minum air yang tadi dia ambil.
"Tapi, nadanya beda. Kayak nuduh," ujar Thalita lagi, kali ini lebih pelan, namun masih bisa Evan tangkap meskipun dengan jarak beberapa meter.
"Emang, kamu pernah dituduh?" tanya Evan meletakkan gelasnya, lantas bangkit dan berdiri menghadap Thalita lagi.
Tidak menjawab, Thalita hanya diam, sambil mencoba memutar pikiran.
Ayolah, ini bukan sesuatu yang harus mereka bahas sekarang.
"Tadi, Kakak bilang mau bicara sesuatu. Tapi, kenapa tiba-tiba Kakak malah bikin kayak gitu sama aku? Kak Evan bohong, ya?" tuding Thalita pada Evan, yang mana dia mengingatkan lagi pembicaraan mereka saat masih di restoran bawah.
Katanya, Evan ingin menunjukkan sesuatu pada Thalita terkait luka yang sedang Thalita rasakan saat ini. Dan dengan polosnya, Thalita mengikuti perkataan Evan untuk kembali ke kamar tidur mereka di hotel itu. Lalu, dengan tidak berpikir pula, Thalita menerima perlakukan Evan tiba-tiba memeluknya, membelai punggungnya, menyibak rambut hingga berakhir mencium leher wanita itu.
Tentu dari semua itu, hal yang mengejutkan Thalita adalah saat tangan Evan menyentuh dadanya tanpa bicara sama sekali.
"Aku emang lagi meriksa, kok. Dan aku udah tau, luka kamu ada di sebelah mana," jawab Evan enteng, tak ayal sontak membuat Thalita menaikkan alisnya.
"Apa? Masak?" kernyit wanita itu kemudian, menatap Evan dengan seksama.
Dari kilat matanya, Evan bisa menebak kalau Thalita pasti sedang takut saat ini.
Terlihat ingin menghindar, Evan menarik napas panjang dan memutar tubuhnya membelakangi Thalita. Kini, dia sudah menghadap ke arah luar jendela, yang mana hal itu langsung memberikan ide pada Evan untuk keluar dari situasi ini.
"Gimana kalo kita jalan-jalan sekarang?"
🍂
Setelah berjalan-jalan dan tidur siang, sore ini Evan mengajak istrinya itu untuk turun ke kolam renang yang ada di hotel itu. Meskipun tidak begitu ramai, ada beberapa orang dewasa dan juga anak-anak yang tengah menikmati sore mereka disana, persis apa yang dilakukan oleh Evan dan Thalita saat ini.
"Benar nggak mau masuk?"
Thalita duduk di kursi santai yang tidak jauh dari kolam, dimana Evan sudah berdiri mengajaknya untuk berenang bersama.
"Enggak. Kakak aja," tolak Thalita kesekian kalinya, pada Evan yang hanya mengangguk mengiyakan.
Dengan sikapnya yang biasa, Evan terlihat begitu masa bodoh saat melepaskan kaos putih polos yang sejak tadi dia pegang. Meletakkannya di atas paha Thalita, kemudian berjalan ke arah kolam tanpa menghiraukan riuh suara yang tiba-tiba saja berombak terdengar.
"Bukankah pria itu terlihat sangat seksi?"
"Dia hanya tinggal menggelapkan sedikit tubuhnya agar terlihat lebih panas,"
"Dengan tubuh seperti itu rasanya aku ingin sekali menyentuhnya,"
Thalita menolehkan sedikit kepalanya ke arah belakang. Di sana ada sekumpulan wanita dengan wajah Eropa yang tengah memandang Evan dengan tatapan memuja.
"Aku bahkan ingin sekali menggigit perutnya yang kotak itu,"
Thalita hanya menaikkan alis mendengar kalimat vulgar seperti itu. Meskipun dia bukanlah tipe wanita yang baik, tapi dia tidak pernah bersikap ataupun berbicara seliar itu tentang tubuh seorang pria. Sekalipun pria itu sudah menjadi suaminya.
"Kamu beneran nggak mau masuk? Airnya segar loh,"
Thalita tersentak, mendengar suara Evan di dekatnya. Refleks dia memutarkan pandangannya lagi, dan melihat Evan yang tengah menyandarkan dadanya di tepi kolam.
Posisi kursi yang diduduki Thalita memang berada sedikit menjorok ke kolam. Dan itu membuatnya bisa sedikit leluasa melihat Evan yang berbicara dengannya.
"Enggak, deh. Kakak aja," tolak Thalita lagi, menggunakan kalimat yang sama dan senyum datar yang sama pula.
"Kenapa? Nggak bisa berenang?" tanya Evan lagi, kali ini menghilangkan senyum Thalita yang mengangguk.
"Aku bisa ngajarin," ajak Evan tidak menyerah, kembali membuat Thalita tersenyum sedikit dan menggeleng.
Perlukah dia ingatkan pria itu kalau dia masih datang bulan sekarang?
"Ya udah, kalo gitu. Berapa putaran lagi, kita balik ke kamar," kata Evan hendak berenang kembali, sontak membuat Thalita mencegahnya.
"Kok cepat banget? Kakak bilang tadi pengen sekalian olahraga," sergah Thalita agak bingung, melihat Evan memandangnya sambil bergidik.
"Sendirian gini mana enak. Lagian kamu bisa bosan kalo diam gitu terus,"
"Lah, terus, kalo di kamar terus emang nggak bosan?"
"Berarti kamu ngerasa bosan?" balas Evan cepat, membungkam mulut Thalita.
"Harusnya bilang. Aku kira, kamu emang masih kecapekan aja, makanya nggak mau diajak kemana-mana. Tapi, kayanya kamu emang nggak mau dimanapun,"
Tidak menyelesaikan putaran renang seperti apa yang dia katakan tadi, Evan langsung keluar dari dalam kolam dan berjalan ke arah Thalita.
"Aku udah siap," ujar pria itu datar, mengambil kaosnya yang tadi dia titipkan pada Thalita.
"Kakak nggak ganti celana dulu?" tanya Thalita agak kaku, menghentikan langkah kaki Evan yang sudah berjalan di depannya.
"Emang kamu liat aku ada bawa celana ganti?"
Seperti tersindir, Thalita mendadak sadar kalau dia tidak menyiapkan apapun untuk kegiatan renang suaminya. Padahal, tugasnya sebagai istri sudah dimulai sejak kemarin, dimana menyiapkan keperluan Evan adalah yang utama.
Merasa bodoh sendiri, Thalita hanya mampu mengutuk dirinya sendiri dengan kepala yang menunduk.
Mendengar suara desah napas panjang, Thalita mengangkat kepalanya pelan dan melihat Evan yang sedikit membelakanginya.
"Aku emang sengaja nggak bilang, karena celana ini juga bisa dipakai buat renang. Jadi, nggak usah dipikirin."
Lalu, Evan pun mengenakan kaosnya kembali dan berjalan meninggalkan Thalita di belakangnya.
Sadar dengan hal itu, Thalita pun buru-buru membuntuti Evan yang sudah berada sedikit jauh di depannya. Dia berusaha menghindari tiga orang anak kecil yang tengah berlarian di sekitar kolam renang tersebut.
"Boby, awas! Jangan berlari seperti itu! Bahaya!"
Tanpa sengaja, seiring dengan teriakan seorang wanita yang sedikit jauh di belakang Thalita, salah satu dari tiga anak itu menabrak lengan Thalita cukup keras hingga membuatnya terpental langsung ke dalam kolam.
Byuurrr!
Thalita yang kaget, berusaha untuk mencecahkan kakinya. Pikirnya, itu hanyalah kolam renang dengan kedalaman setidaknya satu setengah atau dua meter saja. Namun, saat berusaha mencecahkan kaki, dia baru menyadari kalau kolam itu setidaknya punya kedalaman 3 meter.
......Bersambung......