Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #36



Sore ini, Evan pulang ke rumah seperti biasanya, agak terkejut mendapati Thalita sudah berada di kamar tidur mereka dengan posisi membelakangi dirinya.


Biasanya, perempuan itu akan pulang ke rumah di atas jam 10 malam. Tumben, sekarang dia ada di rumah?


Sebenarnya, Evan ingin menanyakan hal itu pada Thalita. Tapi, mengingat saat ini mereka sedang dalam posisi habis bertengkar, dia jadi berpura-pura tak acuh sambil berjalan menuju lemari pakaian.


"Udah pulang, Kak?" tanya Thalita, tepat saat Evan melintas di depannya.


Sedikit berbalik, Evan bisa melihat raut wajah Thalita yang datar memandang lurus ke depan. Alias, tidak ke arahnya.


Sebentar, perempuan itu tadi bicara kepadanya, kan?


Merasa agak bingung, Evan masih bersikap tenang, sambil menjawab, "hm," dan kembali membelakangi istrinya itu.


"Tadi, Mama datang ke restoran. Dia ngamuk-ngamuk, karena ternyata tadi pagi Kak Evan datang ke rumah mereka sambil bawa polisi untuk nangkap Axel,"  cerita Thalita dengan nada biasa, sontak membuat Evan terdiam untuk sesaat.


Iya, sih. Evan sudah tahu kalau hal ini pasti terjadi. Mana mungkin ibu mertuanya yang seperti penyihir itu tidak akan mendatangi mereka terkait Axel yang ditahan tadi pagi. Pasti wanita itu akan langsung sibuk mencari pembenarannya dari Thalita.


"Kenapa Kakak ngelakuin hal itu? Kakak bahkan nggak pernah disakiti sama sekali oleh mereka," kata Thalita, yang saat Evan berbalik sudah memandangnya cukup sendu.


"Kalau Kakak masih mempermasalahkan soal keperawanan itu, biar aku yang tanggung jawab. Aku akan lakuin apapun yang Kakak minta. Termasuk kalau Kakak mau, aku bakal cari perempuan yang masih gadis untuk bisa Kakak nikahi,"


Evan cukup terkejut mendengar kalimat itu. Bagaimana bisa seorang istri, yang notabenenya masih terbilang baru menjadi istrinya Evan berkata demikian? Usia pernikahan mereka bahkan belum mencapai dua bulan, dan Thalita dengan sangat tenangnya bicara akan menjadi seorang gadis untuk Evan nikahi?


"Kamu dah gila, rupanya." Komentar Evan tidak sadar, membalikkan tubuhnya ke arah Thalita secara utuh.


Wanita itu tidak menjawab. Dia hanya terus menatap Evan dengan sorot mata lemah namun tidak tentu arahnya kemana.


"Kamu pikir, ini soal keperawanan itu aja? Kalau memang aku mau, aku bisa mendapatkan kegadisan seorang perempuan. Tapi, masalahnya bukan itu sekarang!" tegas Evan, sedikit tersulut emosi.


"Kakak merasa dibodohi, kan? Makanya dari itu aku bilang, Kakak boleh melampiaskannya ke aku. Kakak boleh marah dan kalau mau pukul aku sepuas hati Kakak. Aku dah biasa kok, asal jangan ganggu keluarga Mama!" ujar Thalita tegas, kali ini tidak ada unsur takut lagi di matanya.


"Mama itu udah capek merawat aku. Dia udah susah payah membesarkan aku dan membiarkan aku hidup seperti ini. Jadi, aku mohon sama Kakak, berhenti menganggu keluarga Mama dan lepaskan Axel sekarang juga!" ujar Thalita lagi, kali ini dengan pandangan yang semakin redup hingga membuat Evan nyaris tidak percaya dengan kalimat itu.


"Merawat apa sih, yang kamu bilang? Mama kamu itu merusak kamu! Kamu nggak sadar dengan pikiran kamu yang bermasalah itu?!" tuding Evan emosi, menatap lekat wajah Thalita yang seperti orang kebingungan.


"Nggak ada seorang ibu yang tega biarin anaknya disiksa sama anaknya yang lain! Dan apa kamu bilang tadi? Kamu udah terbiasa?" Evan tampak semakin kesal dengan diamnya Thalita menatap Evan.


"Hah, kamu serius, bilang kalau Mama kamu itu merawat kamu?!" tuding Evan lagi, setelah mendengus dengan kasar. "Aku bahkan yakin, kalau pun kamu sampai mati, dia pasti nggak bakal peduli," sambung Evan kemudian, membuat Thalita refleks menatap wajahnya.


"Kenapa? Bener yang aku bilang, kan?"


Entah kenapa, Evan tahu kalau Thalita itu sebenarnya sadar kalau Marlia itu tidak peduli terhadapnya. Atau bahkan sebenarnya Marlia itu tidak punya kasih sayang sedikitpun terhadap dirinya. Terlihat dari tindakan Thalita yang berusaha untuk mengakhiri hidupnya beberapa kali, Evan bisa yakin kalau perempuan itu juga tahu kalau Marlia sangat terganggu dengan kehadiran Thalita di kehidupannya.


"Bukan kayak gitu. Kakak nggak ngerti!"


"Apa yang nggak aku ngerti, Ta!?" serang Evan cepat, merasa gemas dengan tingkah Thalita yang terus membela ibunya.


"Aku melaporkan Axel ke polisi, itu karena dia udah berani nyentuh kamu!" ujar Evan lagi, lantas mendekat dan mencengkram bahu Thalita kuat.


Sejenak, wanita itu tampak terkejut menatap Evan.


"Sekarang, jawab dengan jujur. Apa dia pernah nyentuh kamu secara paksa? Maksud aku…." Di balik emosinya, tiba-tiba Evan merasa ragu untuk bertanya. Dan entah kenapa juga, dia merasa takut mendengar jawaban yang mungkin akan keluar dari mulut istrinya itu.


Menunggu pertanyaan Evan, Thalita hanya diam sambil terus menatap lekat wajah bimbang pria tersebut.


"Apa dia pernah memperkosa kamu?"


"Apa?"


Evan mengedipkan kedua matanya berulang kali. Dia seperti sadar dengan kalimat yang selama ini dia tahan, akhirnya keluar juga.


Pria itu melepaskan cengkramannya di bahu Thalita. Dia berdiri, kemudian membuang pandangannya ke arah lain.


"Aku capek. Aku harap pembicaraan ini bisa sampai di sini aja. Dan kamu!" tuding Evan tiba-tiba ke depan wajah Thalita, hingga membuat wanita itu sedikit terlihat kaget.


"Jangan membahas hal ini lagi, atau aku bakal marah."


🍂


Thalita belum merasa tenang dengan jawaban Evan. Sejak tadi, ponsel Thalita tidak pernah sepi dari notifikasi pesan yang dikirimkan oleh Marlia kepadanya. Isinya? Tentu saja ancaman-ancaman serta makian terhadap anaknya itu karena sudah berani menjebloskan Axel ke dalam penjara.


Sesekali, Thalita menoleh ke arah kiri. Di sampingnya, Evan sudah terlelap. Terlihat dari gerak dadanya yang halus serta wajah tenang pria itu, membuat Thalita takut untuk mengganggunya. Apalagi, saat pembicaraan sore mereka tadi, yang katanya Evan akan marah jika Thalita mulai membahas hal tidak berguna lagi tentang keluarganya.


Sedikit menarik napas panjang, Thalita memejamkan matanya sejenak dan membuang napas berat.


Sebenarnya, dia tidak ingin membuat Evan merasa tidak nyaman dengannya. Apalagi terus menerus membuat Evan marah. Rasanya, hati Thalita menjadi tidak enak. Karena bagaimanapun juga, Evan termasuk korban di sini. Korban dari keegoisan Marlia yang ingin membuang Thalita, dan korban dari keegoisan Thalita yang ingin Evan diam dan terima saja dengan apa yang sudah dilakukan oleh keluarganya terhadap pria itu.


Thalita mengerjap kaget, saat mendengar suara Evan, dan melihat pria itu menolehkan kepala ke arahnya dengan sorot mata yang sedikit tajam.


"Kakak belum tidur?" tanya Thalita bodoh, yang tentu saja tidak memerlukan jawaban sama sekali.


"Aku nggak bisa tidur, karena kamu terus natap aku dari tadi," semprot pria itu, kembali membuat Thalita terlihat kaget.


"Ka—Kakak sadar?" tanya Thalita konyol, malah membuat Evan menggeleng pelan tidak percaya.


"Muka aku risih. Gimana aku nggak sadar?" rutuk Evan, membuang pandangannya ke arah lain.


Sesaat, keduanya terdiam. Tidak saling bicara, dan hanya fokus dengan pikiran masing-masing.


"Sebenarnya, aku masih mikirin tentang Axel yang Kakak laporin tadi pagi," ucap Thalita sangat halus, refleks membuat Evan mendecakkan lidah sebal.


"Dia lagi?" ujar pria itu tampak begitu muak, mengalihkan pandangannya kembali ke arah Thalita.


Dan dengan raut wajahnya yang polos, Thalita hanya diam memandangi wajah Evan.


"Kamu serius, ngomongin dia lagi? Kamu nggak dengerin omongan aku yang bilang untuk jangan membahas anak itu lagi?" kata Evan lagi, mulai terdengar seperti mengomel.


"Kamu bener-bener sayang banget sama dia, ya? Atau sebenarnya, kamu jatuh cinta sama dia?!" tuduh Evan kemudian, kali ini membuat Thalita terkejut.


"Apaan sih, Kak?! Itu nggak mungkin! Aku bahkan nggak punya perasaan apapun sama dia!" 


"Nggak punya?"


"Iya! Aku nggak punya perasaan apapun sama anak itu! Kenapa Kakak tega sih, bilang aku cinta sama dia?!"


"Ya, itu karena kamu terus aja membela anak itu! Apalagi namanya kalau kamu nggak ada perasaan khusus sama dia?!"


Sekarang, keduanya kembali berdebat. Posisi mereka yang tadi sama-sama berbaring, kini sudah duduk dengan ekspresi wajah keras khas dua orang yang bertengkar.


"Ya bagaimanapun juga kan, Kak, dia itu keluargaku! Aku nggak bisa diam aja gitu ngelihat Mama sedih dan tertekan karena ngeliat dia ditahan."


"Keluarga, kamu bilang?"


Tiba-tiba, Evan mendengus. "Aku baru tahu, kalau keluarga yang kamu bilang itu, bahkan nggak pernah menjenguk kamu yang udah berapa kali hampir mati di rumah sakit. Dan sekarang, kamu bersikap seolah-olah keluarga kalian itu adalah keluarga bahagia yang saling menyayangi satu sama lain?"


Evan kembali tertawa, dengan mimik wajahnya yang sinis.


"Aku bener-bener nggak percaya, menikah sama perempuan yang bodohnya nggak ketulungan."


"Kak!"


Greb!


Thalita baru saja hendak protes mendengar cercaan Evan terhadapnya, saat pria itu dengan cepat menarik lengan Thalita yang dekat dengannya dan menatap tajam perempuan itu.


Dalam hitungan detik, keterkejutan Thalita berubah semakin kuat, tatkala suaminya itu dengan mudahnya menarik Thalita hingga berpindah duduk menjadi di pangkuan pria tersebut.


"Kamu udah bikin aku kesal. Kamu tau?" bisik Evan, menekan setiap kalimatnya di telinga kanan Thalita.


Posisi duduk yang rapat dan tempat yang kurang nyaman, membuat Thalita bisa merasakan hangatnya hembusan napas pria itu yang basah di telinganya.


Tanpa sanggup melawan, Thalita hanya bisa terdiam saja, ketika tangan Evan mulai menjalar di sekitar pinggang dan secara perlahan naik ke punggung.


"K—Kak!"


Thalita sontak bergidik geli, waktu jari jemari Evan yang panjang itu menyentuh tulang selangkanya dengan begitu lembut. Membuatnya merasa tidak tahan, dan hendak menjauh sebelum akhirnya Evan menahan pinggang Thalita dengan sebelah lengan kokohnya.


"Kamu mau membebaskan anak kurang ajar itu?" bisik Evan di telinga Thalita, demikian membuat wanita itu terdiam.


"Kalau gitu, kamu juga harusnya tahu gimana caranya membujuk laki-laki seperti aku," kata Evan lagi, entah kenapa di pendengaran Thalita kali ini dengar serak dan begitu sensual.


Wanita itu bahkan hampir salah paham dengan maksud kalimat Evan yang dia dengar barusan.


"Maksud Kakak?" balas Thalita mencoba berpikir positif, meski sekarang pikirannya sudah dipenuhi dengan hal yang berbau negatif.


Sambil menahan napas, wanita itu kembali merasakan sensasi getar halus dari tangan Evan yang menjalar dari pinggang menuju pangkal pahanya.


"Masa gitu aja, harus dijelasin lagi,"


......Bersambung......